Aku Laila, santriwati hafizah yang dianggap calon ustadzah. Malam itu, tangan yang biasa memegang tasbih merobek kerudungku di ruang khusus pondok. Aku lapor, aku malah diusir dan dibilang fitnah kyai.
Aku kabur ke Seruyan, melepas hijabku, dan menyamar jadi cewek nakal demi satu tujuan: membongkar topeng Kyai Rahman, sugar daddy berkedok agama yang sudah menghancurkan banyak santriwati.
"Tuhan, izinkan aku berdosa sekali saja, untuk membuka dosa orang suci."
Dengan HP jadul dan nyali yang tersisa, ia masuk ke dalam lingkarannya. Ia merekam, mengumpulkan bukti transfer, chat mesum berkedok dalil, dan daftar korban lain yang jumlahnya belasan.
Tujuannya cuma satu: naik ke panggung pengajian akbar yang dihadiri ribuan orang, dan memutar semua kebusukan itu di depan mata sang kyai.
Mampukah seorang santriwati yang sudah dilepas hijabnya mengalahkan seorang kyai yang dianggap wali?
Atau justru Laila yang akan hancur untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulva k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 31
Jam 5 pagi,
Aku sudah rapi. Baju putih kerja, kerudung coklat susu, tas ransel hitam. Di dalamnya ada Al-Quran kecil, buku harian, dan map denah Bekasi yang ujungnya masih agak basah.
Jam 7.30 tidak ada klakson tin! di depan gang. Karena arpan tidak jemput. Aku naik angkot sendiri ke ruko. Bayar Rp 5.000.
Jam 7.55 sampai ruko HIJAB BAROKAH. Pintu sudah buka.
Ternyata Mbak Sari sudah paling dulu datang. Tumben. Biasanya aku yang pertama.
Mbak Sari pakai kerudung merah, lipat mukena putih cepat, wajahnya datar.
"Tumben si Laila gak dijemput sama Pak Manager?" katanya sambil lipat, tidak lihat aku. Nada sindiran. "Kemarin kan pulang bareng sampai larut, sekarang naik angkot sendiri."
Aku tidak jawab Mbak Sari. Aku langsung mengerjakan tugas ku di ruko. Buka buku stok halaman depan, cek stok 100 pcs mukena putih yang kemarin. Hitung, tulis, tidak ada selisih. Seperti biasa, mata jeli.
Mbak Sari lihat aku sibuk, dia makin sok sibuk. Geser karung keras-keras, banting gunting lipat. Suara jadi berisik.
Aku tau. Dia iri. Dari kemarin dia lihat aku dijemput jam 7.30, diajak makan di warteg, ditawarin pindah ke Bekasi gaji 5 juta jadi kepala admin, padahal dia sudah 2 tahun kerja. Wajar dia iri. Kalau aku di posisi dia, mungkin iri juga.
Tidak lama, Arpan datang dengan motor hitamnya. Parkir. Masuk ke dalam ruko sambil menyapa ku. Kemeja putih, celana hitam, helm di tangan.
"Laila, gimana kamu udah siap? Kita hari ini pergi ke Bekasi untuk survei. Kalau sudah siap kita tinggal berangkat biar sampainya gak kesiangan soalnya takut macet," katanya.
Aku angguk. "Oh iya Kak, Laila sudah siap."
Mbak Sari yang dari tadi sok sibuk langsung nyaut keras.
"Oh jadi yang ke Bekasi cuma Laila doang? Saya yang 2 tahun kerja disini ditinggal jaga ruko terus? Laila yang baru 19 hari langsung gaji 5 juta jadi kepala admin di Bekasi?" kata Mbak Sari. Suaranya tinggi, semua karyawan lain yang belum datang tidak ada, hanya kami bertiga.
Ruko hening.
Aku taruh buku stok. Jantungku deg-degan lagi, beda dari deg-degan pas di warteg.
Arpan mau jawab, tapi aku duluan.
"Mbak Sari, bukan begitu Mbak," kata ku pelan. "Saya juga bilang ke keatasan kita kemarin, kalau saya pindah Bekasi, Mbak Sari harus jadi wakilnya.tapi tidak disetujui oleh atasan kita.kalau mbak sari ikut pindah yang jadi ketua di roko ini kemungkinan besar tidak akan ada.
Mbak sari cuma diam dengan sinis
Jam 8.15 kami berangkat. Aku dan Arpan naik motor hitam ke Bekasi karena atasan sudah menunggu di Bekasi.
Arpan melaju sedikit kencang hari ini. Jakarta pagi macet, dia salip kiri kanan. Beda dari kemarin yang pelan-pelan karena aku ngantuk.
Di perempatan Kuningan, motor agak oleng karena jalan berlubang habis hujan.
"Laila pegangan ke pinggang saya, kita harus buru-buru karena atasan kita udah nunggu takut telat sampai Bekasi," kata Arpan cepat dari depan.
Aku yang semalam trauma ketiduran dan tidak sengaja pegang jaket, hari ini pegangan lagi untuk kesekian kalinya.tapi aku tetap jaga jarak, walau motor kencang.
Aku jawab kencang biar kedengaran helm: "Iya Kak,"
Arpan angguk dan pelanin motor sedikit. Dia ngerti, aku tetap mau jaga batas.
Jam 9.45 sampai Bekasi. Ruko cat putih sudah buka, atasan sudah tunggu di dalam pakai kemeja hitam, bukan peci bersih. Di depan ruko ada karung mukena anak kecil putih 20 pcs yang kemarin kami lipat segi tiga.
"Telat 15 menit! Macet ya?" kata Pak atasan.
"Macet Pak , Laila takut dimotor terlalu cepat ,jadi saya tidak berani kencang," jawab Arpan jujur.
Kami survei sampai selesai. Ukur 4x12 meter, cek jendela 2, cek kos hijau depan ruko yang tidak becek, cek air. Semua aku catat di buku stok halaman belakang.
Jam 12 siang Pak Haji umumkan: "Mulai Senin depan, Laila resmi pindah ke Bekasi dengan Arpan sebagai kepala admin Bekasi gaji 5 juta. Mbak Sari jadi ketua admin di roko lama.
Resmi. Tidak ada tulisan sengketa. Tidak ada settingan. Ruko bersih.
Namun ditengah kita mau kembali pulang jam 1 siang, hujan deras pun tiba. Hujan Jakarta yang tiba-tiba, angin kencang, air selokan depan ruko naik cepat. Gang depan ruko yang tadi becek sedikit, sekarang banjir 10 cm.
Kita tidak bisa pulang.
Terpaksa kita berteduh lama di ruko. Atasan kita sudah pulang duluan sebelum hujan deras karena ada rapat di pusat. Tinggal aku dan Arpan di ruko kosong yang bau apek tapi sekarang wangi mukena baru.
Kami duduk di dalam ruko, menyandar di dinding. Berjarak 1 meter, tidak berdekatan. Di antara kami ada karung mukena jadi pembatas. Hujan di luar deras, suara krotok-krotok di atap seng ruko baru.
Lama tidak ngomong. Hanya suara hujan.
Arpan buka suara duluan.
"Laila, hujan tak kunjung reda. Boleh saya tanyakan jawaban yang kemarin kamu tunda di warteg?" katanya pelan, tidak lihat aku, lihat hujan di luar jendela.
Jantung ku deg-degan lagi. Bukan karena rem mendadak, bukan karena motor kencang. Tapi karena pertanyaan ini di ruko sepi pas hujan deras.
Aku yang terlanjur nyaman juga dengan Arpan 20 hari ini. karena dia pelanin motor di Kuningan, karena dia jelasin kenapa senyum bahagia semalam pas aku ketiduran bukan karena mesra tapi karena lihat aku capek jadi manusia.
Aku tarik napas panjang.
"Aku bilang iya aku mau Kak," jawab ku pelan. Hampir tidak kedengaran sama hujan.
Arpan kaget, noleh. "Iya mau apa, Laila? Mau Bekasi gaji 5 juta atau..."
"Iya mau coba kenal Kak Arpan lebih serius," jawab ku cepat, mukaku panas. "Tapi..."
Arpan terharu. Matanya berkaca-kaca. Pertama kali lihat manager yang selalu rapi nangis dikit di ruko bau apek pas hujan deras.
Namun aku memberi satu syarat kepada Arpan.
"Kalau Laila tidak mau berlama-lama pacaran, Kak. Laila ingin menjalin hubungan yang halal. Kalau Kakak suka sama Laila karena Laila cantik, baik, sederhana, apa adanya seperti yang Kakak bilang di warteg,
datang ke kampung, Laila kenalkan ke orang tua Laila.
Jangan bonceng-boncengan keliling Jakarta lagi, jangan warteg berdua lagi. Langsung halal," kata ku. Kalimat yang dari hari ke-18 aku simpan sejak trauma peci bersih Kyai Rahman.
Hujan masih deras. Atap seng masih krotok-krotok.
Arpan diam lama, lalu angguk mantap.
"Laila, apakah Arpan sanggup dengan syarat dari Laila dalam waktu dekat?" tanyaku dalam hati, tapi aku tanya langsung juga.
Arpan jawab, "Sanggup, Laila. Sangat sanggup. Justru itu yang saya tunggu. Saya tunggu jawaban iya mau kenal halal, bukan iya mau pacaran. Minggu depan, setelah kamu resmi pindah Bekasi, saya akan minta izin keatasan buat cuti 2 hari ke kampung kamu. Boleh?"
Aku angguk. Air mata ku netes lagi, jatuh ke karung mukena putih.
Di luar hujan deras tak kunjung reda, di dalam ruko kosong bau apek, aku dan Arpan duduk berjarak 1 meter, ada karung mukena jadi pembatas, menyandar di dinding, menunggu hujan reda dan menunggu jawaban halal.
Besok hari Lusa pindah resmi ke Bekasi.