NovelToon NovelToon
Menukar Takdir Untuk Bellona

Menukar Takdir Untuk Bellona

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:459
Nilai: 5
Nama Author: BUNGA LYONA

Selama bertahun-tahun, Bellona terbiasa menjalani hidup tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir. Sampai suatu hari, keadaan memaksanya untuk tinggal bersama lelaki yang selama ini hanya ia kenal dari cerita orang lain.

Pertemuan mereka tidak berjalan seperti yang Bellona bayangkan.

Ada banyak pertengkaran, kecanggungan, dan hal-hal yang terlalu sulit untuk dibicarakan. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi keluarga setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Benci

Bellona membeku. Sendok di tangannya terlepas pelan, berdenting menyentuh dasar piring. Rasa panas yang membakar tenggorokannya sejak beberapa hari lalu mendadak naik ke permukaan.

"Lo pikir dengan ngomong gitu, semuanya jadi baik-baik aja?" bisik Bellona, suaranya bergetar menahan amarah dan sakit hati yang bertumpuk.

Devan terdiam, menatap gadis di hadapannya yang kini mengepalkan tangan rapat-rapat di atas paha.

"Gue sakit hati banget sama Mama," lanjut Bellona dengan mata berkaca-kaca, menatap Devan penuh kebencian yang mendalam. "Tapi gue juga masih kagak terima harus tinggal sama lo! Orang yang katanya papa gue!"

Devan merapatkan bibirnya, tidak memotong sepatah kata pun.

"Muka kita emang mirip! Semua orang juga bisa ngeliat itu!" desis Bellona, air matanya akhirnya menetes membasahi pipi. "Tapi mau beneran kita ada hubungan darah atau kagak, gue tetep kagak sudi ngakuin lo sebagai bapak gue! Gue terlanjur benci sama lo, Devan... lo biarin gue tumbuh besar belasan tahun tanpa pernah ada sosok ayah di hidup gue!"

Suara Bellona bergetar hebat di akhir kalimatnya. Ruang tamu itu mendadak tenggelam dalam keheningan yang tajam, menyisakan napas Bellona yang memburu dan tatapan Devan yang perlahan meredup penuh penyesalan.

Devan tertegun cukup lama. Ia menundukkan kepalanya, membiarkan kemarahan dan rasa sakit Bellona menggantung tebal di udara ruang tamu. Pria itu meremas tangannya sendiri yang gemetar tipis di atas paha.

"Gue minta maaf, Bellona..." bisik Devan, suaranya terdengar sangat pelan, serak, dan pecah.

Ia mendongak, menatap mata Bellona yang memerah dan tergenang air mata.

"Mungkin emang sepenuhnya salah gue," Devan menghembuskan napas panjang yang gemetar. "Gue salah karena selama belasan tahun ini kagak pernah tahu lo ada di dunia ini."

Bellona menyapu air matanya kasar memakai punggung tangan, tetapi ia tetap diam, mendengarkan dengan napas yang masih tersengal.

"Jujur... beberapa hari belakangan ini gue terus-menerus coba mengingat masa lalu," kata Devan pelan, menatap lurus pada lantai semen di antara mereka. "Dulu... pas zaman gue masih aktif ngeband, ada satu malam di mana minuman gue dimasukin obat sama orang di backstage. Gue kagak sadar penuh malam itu, dan gue... gue sempat ngelakuin hubungan itu sama Sarah."

Bellona tersentak pelan, tangannya yang mengepal di atas paha makin merapat.

"Besok paginya pas gue sadar, gue panik setengah mati," lanjut Devan dengan nada bicara yang amat berat. "Tapi waktu itu... Sarah bilang ke gue kalau dia gak apa-apa. Dia minta gue lupain kejadian malam itu dan kagak usah dibahas lagi. Karena Sarah itu dari keluarga berada dan pergaulannya beda sama gue yang gembel ini, gue pikir dia beneran santai dan mau melupakan semuanya."

Devan mengepalkan tangannya rapat-rapat, mengusap wajahnya yang lelah.

"Enggak lama habis kejadian itu, Sarah mendadak hilang tanpa kabar. Dia pindah dan kagak pernah bisa dihubungin lagi. Gue pikir dia sibuk sama urusan keluarganya yang kaya raya itu. Gue kagak pernah tahu kalau dia hamil... gue kagak pernah tahu kalau dia mengandung lo, Bellona."

Devan menatap Bellona lekat-lekat, menyunggingkan senyum pahit yang dipenuhi rasa bersalah.

"Gue kagak minta lo buat memaafkan gue sekarang. Gue juga kagak memaksa lo buat manggil gue 'Papa' atau ngakuin gue sebagai orang tua lo. Benci gue sepuas lo... karena emang gue yang udah gagal bikin lo tumbuh tanpa sosok bapak. Tapi izinin gue tetap ada di sini buat menjaga lo dari jauh, sebagai ganti dari belasan tahun yang udah hilang itu."

Isakan Bellona berubah menjadi tawa pahit yang bergetar hebat. Ia menatap Devan dengan tatapan tajam yang dipenuhi penderitaan mendalam, air matanya menetes tanpa henti membasahi pipi.

"Gila..." desis Bellona ketus, suaranya melengking menahan emosi yang meluap. "Kalian berdua beneran gila!"

Devan hanya bisa mematung, menerima setiap tatapan penuh kebencian dari gadis di hadapannya.

"Lo sama Sarah tuh sama aja!" amuk Bellona sambil menunjuk Devan dengan jari gemetar. "Kalian berdua egois! Gara-gara kelakuan menjijikkan kalian malam itu, gue yang harus nanggung akibatnya! Gue lahir ke dunia ini cuma jadi anak haram yang kagak pernah diharapkan sama siapa pun!"

Kata 'anak haram' yang keluar dari mulut Bellona menyengat ruang tamu itu bagai petir. Devan tersentak pelan, raut wajahnya makin meringis menahan perih.

"Sarah buang gue ke lo karena dia cuma anggap gue beban di hidup mewahnya! Dan lo... lo cuma pria asing yang mendadak merasa bersalah!" seru Bellona dengan napas memburu, dadanya kempas-kempis. "Gue kagak butuh penyesalan lo! Gue kagak butuh kasihan dari orang yang bikin hidup gue cacat dari awal!"

Bellona beranjak berdiri dengan kasar, hingga piring di depannya bergeser dan menimbulkan suara denting yang keras.

"Gue benci sama Sarah, dan gue juga benci setengah mati sama lo!" amuknya lagi, menyapu air matanya dengan lengan kaus secara kasar.

Tanpa menunggu Devan membalas sepatah kata pun, Bellona memutar tubuhnya dan berlari cepat menuju kamar belakang.

BLAM!

Pintu kamar ditutup keras-keras, disusul suara kunci yang diputar dari dalam. Di luar, Devan terduduk sendirian di atas karpet tipis ruang tamu. Pria itu menyandarkan punggungnya ke dinding kusam, memejamkan mata rapat-rapat sambil menghembuskan napas panjang yang amat berat di tengah hening malam.

Di balik pintu kamar yang terkunci rapat, Bellona menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Ia menutupi wajahnya dengan bantal, meluapkan tangisnya yang pecah tanpa suara. Selama ini ia berusaha kuat, tapi kenyataan pahit tentang asal-usulnya terlalu hancur untuk ditanggung sendirian.

Di luar, ruang tamu kembali tenggelam dalam kesunyian.

Devan masih terduduk kaku di atas karpet. Pria itu menatap piring-piring makanan yang baru tersentuh separuh. Ucapan Bellona—tentang anak haram, tentang rasa benci, tentang kepedihan belasan tahun—berputar berulang-ulang di kepalanya bagai sembilu.

Devan mengepalkan tangannya. Ia tak bisa menyalahkan Bellona. Kemarahan gadis itu valid, murni, dan sepenuhnya beralasan.

Dengan perlahan, Devan membereskan piring-piring di lantai, membawanya ke dapur, lalu mencucinya tanpa menimbulkan banyak suara. Setelah itu, ia melangkah pelan mendekati pintu kamar Bellona.

Devan menyandarkan dahinya di permukaan kayu pintu yang dingin, mendengarkan samarnya suara isakan dari dalam.

"Bellona..." panggil Devan pelan, suaranya serak.

Tidak ada jawaban dari dalam kamar. Isakan Bellona mendadak tertahan.

"Gue kagak bakal minta lo buat kagak benci sama gue atau Sarah," bisik Devan pasrah dari balik pintu. "Tumpahin aja semua benci lo ke gue. Caci maki gue sepuas lo. Tapi tolong... jangan pernah ngerasa lo kagak berharga atau kagak diharapkan di dunia ini. Lo kagak salah apa-apa. Yang salah itu gue sama Sarah."

Devan menghela napas berat, menahan getaran di dadanya.

"Pintu kamar kagak bakal gue usik. Tapi makanan di meja dapur udah gue tutupin. Kalau lo lapar tengah malam, keluar aja buat makan."

Devan memundurkan langkahnya pelan, meninggalkan teras kamar belakang menuju ruang tamu. Ia merebahkan dirinya di sofa kusam tanpa menyalakan TV atau memegang gitarnya.

Di dalam kamar, Bellona memeluk lututnya di atas ranjang. Suara langkah Devan yang menjauh dan kata-kata pria itu perlahan menyusup ke dalam dadanya yang sesak.

1
falea sezi
buat ini anak agak punya adab donk😒 sebel liat anak g tau aturan banyak kok anak broken home yg tau adab g kayak beloman ini sombong
falea sezi
buat belunasadar donk anak haram kok ngelunjak 😒
falea sezi
anak haram gk tau diri🤣🤣 mending usir aja emak loe aja gk mau lu ikut dia masih ada yg mau nampung loe aja alhamdulillah😒 sebel liat anak g tau Adab
falea sezi
q dpet anak g sopan uda guaa usir🤣
falea sezi
q kirim hadiah 🤭 up banyak ya moga makin bagus buat bocah nya jelas stts nya anak devan apa bukan
BUNGA LYONA: siap kak, makasih udah baca😇🌸
total 1 replies
falea sezi
moga ajaa bneran anak devan ya😓 kasian uda di buang emak nya tp lona jangan sok ya
falea sezi
ini numpang 😒 gk ada baik baiknya kayaknya belom. tentu lo anak devan🤣🤣 bisa aja emak lo🤣jalang gk tau anak siapa😒
falea sezi
ini bapak bneran kan🤣
Lisa Kusmiran07
semangat kak
BUNGA LYONA: makasihh😍
total 1 replies
Lisa Kusmiran07
semangat thorr,ceritanya seru lain dari yg lain
Lisa Kusmiran07
menunggu lanjutannya,
BUNGA LYONA: siapp🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!