NovelToon NovelToon
Becoming Nyonya Kim

Becoming Nyonya Kim

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Selingkuh
Popularitas:430
Nilai: 5
Nama Author: Isaidno

Status calon nyonya Kim yang sudah diketahui seantero kota, seharusnya tinggal menunggu pengesahan sebentar lagi, ketika tiba-tiba terjadi perubahan kandidat.

Bagaimana tidak? Tuan Muda Kim - Alexander Kim, yang sebentar lagi akan menikah, malah terjebak satu malam dengan wanita asing yang berakhir final.

Harga yang sangat mahal yang harus dibayar Alexander, sebagai seorang pria, anak, pengusaha dan calon politikus. Benar-benar mahal dan berat, tapi dia tetap membayar karena tidak ingin menjadi Ayah yang gagal.

Tapi bahkan setelah semua harga mahal itu, Alexander yang sudah berkorban banyak masih harus stress menghadapi Soraya -- wanita malam itu, yang hidup tanpa beban.
•
“Kenapa berpisah dengan tunanganmu? Kenapa tidak kalian saja yang merawat anak kita!?” ujar Soraya, yang sukses membuat Alexander sakit kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isaidno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16.

Tak disangka, ternyata Josephine juga mengikuti Conrad dari belakang. Dengan pakaian abu-abu senada, keduanya tampak begitu serius dengan kedatangan mereka kali ini.

Barack yang sedari tadi hampir tidak mampu berdiri karena segala kecamuk perasaan, kini memaksa dirinya bangkit. Tubuhnya sedikit gemetar ketika menyambut teman sekaligus calon besannya.

“Apa kabar?”

“Baik, baik sekali,” jawabnya dengan senyum yang bahkan tidak mampu mencapai mata.

Jiah sendiri memang sedang tidak enak badan. Namun, rasa sakit itu seolah semakin menjadi ketika melihat kedatangan orang tua Hana.

“Maaf tidak mengabari kedatangan kami sebelumnya,” ujar Josephine sambil merangkulnya.

Barack dan istrinya sempat berbagi pandangan sebelum mempersilakan Conrad dan Josephine duduk. Seandainya Alexander tidak melakukan kesalahan fatal, mereka mungkin bisa duduk santai di halaman samping, layaknya dua keluarga yang akan segera menjadi besan.

Namun, dengan apa yang telah terjadi, jangankan berbicara tentang kedekatan sebagai keluarga, Barack bahkan tidak yakin hubungan kekerabatan kedua keluarga mereka masih akan terjaga hingga generasi berikutnya.

“Jiah, kamu sedang sakit apa?” tanya Josephine sembari merapikan syal rajut yang melingkar di leher calon besannya.

Pertanyaan sederhana itu ternyata tidak mudah dijawab.

Secara refleks, Jiah menarik tubuhnya sedikit menjauh dari sentuhan Josephine. Itu adalah naluri seseorang yang merasa bersalah.

Sebagai seorang ibu, dia tetap tidak bisa menyangkal bahwa putranya telah melakukan kesalahan.

“Terima kasih, Josephine. Aku hanya sedang tidak enak badan biasa.”

Wanita itu mengangguk tanpa menanggapi lebih jauh. Namun, percakapan singkat tersebut justru menjadi celah bagi Conrad untuk langsung menyampaikan maksud kedatangannya.

“Alexander, lihat ….” Dia menatap pemuda itu sembari menunjuk Josephine dengan telapak tangan terbuka. “Ibumu sedang sakit karena penyakit orang tua. Kau tahu apa itu penyakit orang tua?”

Alexander belum sempat menjawab. Pikirannya sedang terlalu kacau untuk mengikuti percakapan.

“Penyakit orang tua itu adalah terus-menerus memikirkan anak sambil berharap segera memiliki cucu. Ha-ha-ha!”

Tawa lebar mengiringi lelucon garing tersebut.

Conrad menjadi satu-satunya orang yang tertawa paling keras. Barack hanya ikut tertawa kecil, hampir tidak terdengar.

Sepanjang itu, Alexander tetap terdiam dengan kedua tangan terkepal. Dia sedang berusaha menahan segala rasa bersalah yang semakin menyesakkan.

“Tapi aku rasa Jiah tidak perlu khawatir lagi. Kali ini pernikahan anak kita tidak akan ditunda lagi. Benar, bukan?”

Hening.

Tidak seorang pun dari pihak keluarga mempelai pria mampu memberikan jawaban.

Keheningan itu segera ditangkap oleh Josephine dan suaminya. Keduanya refleks saling berpandangan.

Josephine mengedipkan mata beberapa kali, merasa ada sesuatu yang tidak beres. Sementara itu, Conrad langsung bereaksi.

“Ada apa ini? Kenapa kalian diam saja?”

Kedua tangannya terbuka, menunggu jawaban.

Alexander berharap semuanya segera dikatakan secara terus terang. Dia bahkan berniat menjadi orang pertama yang membuka pembicaraan ketika Jiah tiba-tiba menyela.

“Ya, itu benar. Ya, ya,” jawabnya gugup.

Matanya sempat bertemu dengan mata sang putra yang kini tampak hampir tanpa keraguan.

Jawaban itu langsung disambut kelegaan Josephine dan tawa Conrad yang kembali menggelegar.

“Ibumu tampaknya benar-benar sakit karena mengkhawatirkan kau dan Hana. Padahal, kalau saja kau tidak terus-menerus menghambat persiapan pernikahan karena pekerjaan, mungkin sekarang kalian sudah menikah. Benar, ‘kan?”

Alexander mengangguk.

Dia membenarkan perkataan tersebut. Kalau saja dirinya tidak terlalu larut dalam pekerjaan, mungkin pernikahan mereka memang sudah terlaksana.

Dan mungkin juga tidak akan ada Soraya dan anak mereka.

Namun, sekadar membayangkan kehidupan tanpa Soraya dan anaknya saja sudah cukup membuat dadanya terasa sesak. Dia tidak sanggup membayangkan bagaimana hidupnya jika keduanya tidak pernah hadir.

“Ya, tapi mau bagaimana lagi? Ibumu sudah terlanjur sakit sekarang.”

Barack tahu perkataan itu hanya sindiran yang dibungkus humor. Namun, entah mengapa dia tidak menyukainya.

Dia merasa Conrad sudah membawa istrinya terlalu jauh ke dalam persoalan yang sebenarnya tidak perlu.

Alexander pun merasakan hal yang sama.

“Tidak seperti itu juga, Paman. Ibu sakit memang karena sedang waktunya. Tidak sejauh yang Paman pikirkan.”

Deretan gigi Conrad terlihat ketika dia tersenyum.

“Alexander, Alexander ….” Dia menggeleng pelan. “Ada apa denganmu? Paman tidak seserius itu, kecuali soal pernikahan kalian yang tertunda karena dirimu.”

Dia kemudian menoleh kepada Barack.

“Bukan begitu, Barack?”

Barack hanya mampu menyunggingkan senyum tipis.

“Tidak apa-apa. Anak-anak memang sering kali seperti itu.”

Mendengar jawaban tersebut, Conrad jelas tidak puas.

Sudah cukup lama dia bersabar menghadapi penurunan elektabilitasnya yang begitu drastis. Karena itu, bagaimana mungkin dia masih bisa bersabar ketika pernikahan Alexander dan Hana yang seharusnya menjadi salah satu penopangnya justru tidak kunjung terlaksana?

“Bagaimana kau bisa berkata begitu mudah?” Nada suaranya mulai berubah. “Jangan menyepelekan hal seperti ini. Ingat, hubungan ini bukan hanya hubungan antar-anak. Ini juga merupakan bagian dari perjanjian yang dibuat oleh kakek mereka. Antara keluarga kita!”

Ada tekanan kuat pada kalimat terakhirnya.

Barack bukan orang bodoh. Dia tahu betapa terdesaknya Conrad saat ini. Dia bahkan ingin membantu sahabatnya itu.

Namun, di tengah semua persoalan tersebut, dia juga mulai memikirkan calon cucunya yang saat ini masih berada dalam kandungan.

“Tentu saja aku ingat. Bagaimana mungkin aku melupakannya? Tapi, lebih baik kita membahas hal ini lain kali.”

Barack hanya mampu berkata seadanya karena pembicaraannya dengan Alexander sendiri belum selesai.

Namun, usaha untuk meredakan percakapan justru seperti menyulut sumbu pendek Conrad.

Pria itu yang sebelumnya sedikit bersandar, kini menegakkan tubuh. Punggungnya menegang.

Tubuhnya condong ke depan, satu sikunya bertumpu pada lutut.

“Apa maksudmu dengan membahasnya lain kali? Kenapa tidak sekarang, saat kami ada di sini?”

Nada suaranya memang mulai meninggi, tetapi masih terkendali.

Josephine yang melihat ketegangan suaminya segera mendekat, berusaha menahannya. Sayangnya, gerakan kecil itu justru membuat Conrad semakin tidak sabar hingga dia menghempaskan tangan istrinya.

Bukan hempasan yang keras, tetapi cukup jelas untuk ditangkap mata.

Jiah langsung merasa waswas.

“Alexander baru saja kembali. Mungkin akan—”

“Omong kosong apa ini?”

Conrad memotong perkataan Jiah dan kini mengalihkan tatapannya kepada pemuda di hadapannya.

“Bagaimana bisa kau yang baru kembali menjadi alasan di sini? Bukankah justru setelah kau kembali, persiapan pernikahan kalian harus segera dilanjutkan?”

Dia berhenti sejenak.

“Atau apa? Jangan katakan akan ada penundaan lain lagi. Kalau benar, keluarga Kim sudah terlalu jauh.”

“Pa ….”

Josephine kembali mencoba menahan suaminya.

Jiah yang mendengar gejolak percakapan itu semakin ketakutan. Dia bahkan tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi jika keluarga Hana mengetahui bahwa Alexander telah menghamili wanita lain.

“Conrad ….”

Barack memanggil lirih. Punggungnya kini sudah tidak lagi bersandar pada kursi. Dia pun sama tegangnya.

“Kamu berpikir terlalu jauh. Kita tetap akan membahas ini kembali. Jadi, mari—”

Semua orang terkejut ketika Conrad tiba-tiba berdiri.

“Katakan saja!” bentaknya. “Katakan saja kalau memang ada masalah atau apa pun itu! Jangan membuat penundaan yang tidak jelas seperti ini.”

Bukan hanya itu, dia mulai mempertanyakan integritas keluarga Kim yang menurutnya tidak sesuai dengan reputasi mereka sebagai keluarga terhormat.

Di lingkungan mereka, keluarga terhormat berarti keluarga yang dapat dipercaya.

Dengan kata lain, Conrad sedang menyiratkan bahwa keluarga Kim tidak lagi menunjukkan kehormatan mereka karena berusaha mengulur waktu pernikahan yang dianggap merugikan pihak perempuan.

Dan bagi Barack, semua perkataan itu memang ada benarnya.

Namun, sebagai kepala keluarga, dia juga tidak bisa mentoleransi perkataan yang membawa nama besar keluarganya, terlebih ketika satu-satunya pihak yang bersalah dalam masalah ini adalah putranya sendiri.

Karena itu, sekali lagi dia meminta Conrad untuk tenang.

Sayangnya, keadaan justru semakin sulit dikendalikan.

Hingga akhirnya Jiah tidak tahan untuk terus diam.

“Maaf menyela Conrad, tapi kan sudah kamu beritahu ….”

Dia berhenti sejenak untuk menarik napas panjang.

Apa yang akan dikatakannya mungkin terdengar seperti pembelaan yang keterlaluan.

“Alexander baru saja menghubungi Hana, putrimu, untuk berbicara. Tapi Hana belum bisa bicara sekarang. Itu sebabnya pembicaraan ini ditunda.”

Deg.

Malu.

Semua pihak mendadak merasa malu.

Josephine dan Conrad tampak malu sekaligus geram mengingat bahwa Hana ternyata yang menolak berbicara kali ini.

Sementara itu, Alexander dan Barack merasa malu karena alasan moral. Perkataan Jiah terdengar seperti pembelaan terhadap Alexander, padahal kenyataannya kesalahan tetap berada di pihaknya.

“Apa dia mengatakan alasan, kenapa dia tidak bisa datang?” tanya Conrad.

Alexander menggeleng ragu.

Kemurkaan Conrad kembali terlihat. Wajahnya memerah hebat karena marah.

Namun, setidaknya jawaban itu berhasil menghentikan ketegangan untuk sementara.

Dengan emosi yang masih belum sepenuhnya mereda, Conrad akhirnya meminta maaf dan berpamitan.

Josephine menyusul di belakangnya.

Begitu memasuki mobil di halaman, pria paruh baya itu masih tampak begitu marah.

“Pa, siapa yang akan kamu hubungi?”

“Diam kau! Siapa lagi kalau bukan anakmu yang juga bodoh itu. Entah apa yang dilakukannya sampai berani menolak pertemuan penting seperti itu.”

“Pa, sudahlah. Toh, pernikahan mereka tetap akan dilaksanakan cepat atau lambat.”

Conrad menggeleng.

Ada firasat yang sejak tadi mengganggu pikirannya. Sebuah firasat yang memberitahunya bahwa sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi.

•

Benar saja.

Firasat itu semakin kuat ketika hari hampir berakhir, tetapi Hana masih tidak bisa dihubungi.

“Lapor, Tuan. Kami akhirnya menemukan lokasi Nona Hana.”

Conrad yang duduk di kursi kebesarannya langsung berdiri.

Dia meraih jaket dari ruang kerja, kemudian mengenakannya sambil mengepalkan tangan. Seharian ini dia sudah kelimpungan mencari Hana yang pergi bersama pengawalnya.

“Di mana dia?” tanyanya begitu memasuki mobil.

“Nona Hana berada di sebuah vila pantai di ujung kota.”

“Vila pantai? Ujung kota?”

“Iya, Tuan. Nona Hana tidak sendirian. Dia bersama Jethro, orang yang beberapa bulan terakhir bekerja sebagai pengawalnya.”

Alis Conrad langsung bertaut.

Namun, dia tidak mengatakan apa-apa.

Dia hanya memerintahkan sopir untuk segera melaju, sementara beberapa pengawal lain mengikuti dari mobil berbeda.

•

Sementara itu, di sebuah vila kecil bergaya Mediterania yang berdiri di tepi pantai ujung kota, sesuatu yang seharusnya tidak terjadi justru mulai terjadi.

Hana dan Jethro berada di sana.

Dan malam itu, alkohol bertemu dengan kisah cinta yang telah lama terasa masam di antara dua orang yang seharusnya tidak saling mendekat.

Sesuatu yang tidak semestinya pun akhirnya terjadi.

1
Isaidno
Tolong like atau tinggalkan komentar ya, kalau suka 🥀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!