Ardila gadis yang selama ini mendapatkan pilih kasih dari keluarganya, harus kembali berhadapan dengan sang kakak ketika dirinya telah berumah tangga.
Sang kakak mengambil dan berselingkuh dengan suami yang begitu dia cintai
Mampukah dia melewati badai dari semua permasalahan yang tengah menghimpitnua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Neraka Di Rumah Kontrakan
Kontrakan 3 petak di pinggiran Bekasi. Cat tembok mengelupas, bau comberan menyengat, atap bocor di mana-mana.
Inilah istana keluarga Bimo sekarang, setelah diusir dari kontrakan rumah Naya
Di dalam, Lastri duduk di lantai dengan daster robek, menghitung uang recehan dari kaleng biskuit. Di depannya ada dua lembar foto.
Satu foto Sari, 17 tahun, kelas 2 SMA, cantik, putih, rambut panjang.
Satu foto Tari, 19 tahun, kakaknya Sari, yang baru lulus SMA tahun lalu tapi tidak kuliah karena tidak ada biaya, kerja serabutan di laundry.
"Bagus... bagus... dua-duanya cantik... pasti laku mahal..." gumam Lastri dan Tama dengan mata berkaca-kaca bukan karena terharu, tapi karena serakah.
Bimo masuk dengan wajah kusut, membawa kardus bekas kantornya yang berisi stapler dan foto Naya yang sudah ia sobek.
"Bu, pinjol nagih lagi, Bu. 80 juta jadi 120 juta bunganya. Mereka bilang mau datang ke kontrakan."
Lastri tidak peduli dengan pinjol Bimo. Ia menunjuk foto Sari dan Tari.
"Bimo, Ayah dan ibu sudah dapat dua calon. Buat Sari sama Tari. Selesai masalah kita!"
Bimo mengernyit. "Calon apa?"
"Calon suami! Yang kaya!"
Lastri mengeluarkan HP bututnya dan menunjukkan chat WA.
"Ini, buat Sari. Pak Haji Maman, juragan kontrakan kita. Umur 58, istri sudah 2, tapi kaya. Punya 20 pintu kontrakan. Dia mau Sari jadi istri ketiga. Mahar 25 juta plus utang kontrakan kita lunas!"
Sari yang baru pulang sekolah dengan seragam basah karena hujan, mendengar itu dari pintu dan langsung menjatuhkan tasnya.
"Apa? Istri ketiga? Pak Haji Maman yang giginya tinggal dua itu? Ibu gila? Aku masih 17 tahun! Aku mau UN!"
Lastri berdiri dan menjambak Sari.
"Gila kamu bilang Ibu gila? Kamu mau kita diusir? Mau tidur di kolong jembatan? 25 juta itu bisa buat bayar pinjol abangmu, buat makan, buat modal nikah abangmu sama Diandra!"
"Diandra aja keguguran kena penyakit kotor, Bu! Kenapa aku yang harus jadi korban?" Sari menangis histeris.
Tari, kakaknya, keluar dari kamar mandi sempit dengan mata sembab. Tari lebih pendiam, tapi nasibnya tidak kalah mengerikan.
"Terus aku, Bu? Aku dijodohin sama siapa?"
Lastri tersenyum. Senyum yang membuat Tari merinding.
"Kamu, Tari... Ibu sudah carikan yang lebih bagus. Bos laundry tempat kamu kerja. Koh Ahin. Umur 62, Cina, istrinya sudah meninggal, punya 3 ruko. Dia bilang kamu rajin, dia mau nikahin kamu. Mahar 30 juta. Lumayan, bisa buat umroh Ibu!"
Tari terduduk lemas di lantai. Koh Ahin yang sering mengintipnya mandi lewat lubang di tembok laundry. Koh Ahin yang tangannya sering tidak sengaja menyentuh dadanya.
"Bu... Koh Ahin itu... dia sering... dia mesum, Bu... aku gak mau..."
"Mesum gimana? Namanya juga laki-laki! Nanti kalau sudah jadi suami kan halal!" Lastri membentak.
Bagas, adik bungsu yang baru 15 tahun, hanya bisa diam di pojokan sambil memeluk lutut. Ia trauma melihat kakak-kakaknya diperlakukan seperti barang dagangan.
Bimo yang melihat adik-adiknya menangis, bukannya membela, malah ikut mendukung ibunya.
"Sari, Tari, dengerin Ibu! Ini demi keluarga! Gue udah dipecat, gak punya uang! Diandra juga lagi sakit, butuh biaya! Kalian sebagai adik harus berkorban! Lagian jadi istri orang kaya enak, gak usah kerja capek!"
Sari menatap abangnya dengan benci.
"Enak? Abang enak ngomong! Abang yang selingkuh, abang yang pinjol, abang yang bikin Kak Naya cerai, kenapa kami yang harus bayar? Kak Naya baik sama kami, abang jahat sama Kak Naya! Sekarang abang mau jual kami juga?"
_PLAK!_
Bimo menampar Sari keras. Sari jatuh membentur ember.
"Kurang ajar! Berani lawan abang!"
Tari langsung memeluk Sari.
"Abang jangan pukul Sari! Sari masih kecil!"
Saat itu, pintu kontrakan diketuk keras.
_DOR DOR DOR!_
"BU LASTRI! BUKA PINTU! DEBT COLLECTOR PINJOL!"
Semua panik. Lastri menyuruh Sari dan Tari sembunyi di kamar.
Bimo membuka pintu sedikit. Dua orang debt collector berbadan besar masuk.
"Mana Bimo Saputra? Utang 120 juta kapan bayar?"
Bimo gemetar. "Saya... saya belum ada uang, Bang... minggu depan ya..."
"Minggu depan pala lo! Bos bilang kalau hari ini gak bayar minimal 10 juta, kontrakan lo kita obrak-abrik!"
Debt collector itu melihat Sari yang mengintip dari kamar.
"Wah, ada cewek cantik. Adik lo? Boleh juga buat jaminan. Bawa aja ke bos, bisa lunas utang lo."
Sari menjerit. Tari memeluknya lebih erat.
Bimo bukannya melindungi, ia malah berbisik ke debt collector.
"Bang, adik saya memang mau saya nikahkan sama juragan kontrakan, mahar 25 juta. Nanti uangnya buat bayar abang ya... kasih waktu 3 hari..."
Debt collector tertawa. "Oke, 3 hari. Kalau gak ada, gue bawa adik lo."
Mereka pergi.
Setelah debt collector pergi, suasana kontrakan makin kacau.
Sari mengambil pisau dapur yang tumpul.
"Kalau Ibu sama Abang paksa aku nikah sama Pak Haji itu, aku bunuh diri aja di sini! Biar Ibu puas!"
Tari juga mengambil silet.
"Aku juga! Daripada dinikahin sama Koh Ahin yang mesum itu, mending aku mati!"
Lastri dan Tama panik, tapi bukan karena kasihan, tapi karena takut kehilangan uang mahar.
"Eh, eh, jangan! Jangan bodoh! Kalian mau Ibu masuk penjara?"
Bagas yang dari tadi diam, tiba-tiba berlari keluar kontrakan sambil membawa HP bututnya.
Ia lari ke warung dan menelepon satu-satunya nomor yang ia hafal. Nomor yang diberikan Naya kemarin.
"Kak Naya... Kak Naya tolong... Sari sama Tari mau dijual Ibu... mau dinikahin sama kakek-kakek beristri... tolong Kak... kami takut..."
15 menit kemudian.
Sebuah mobil Alphard hitam dan sebuah mobil Avanza tua berhenti di depan gang becek kontrakan itu.
Naya, Raka, Arka, Adam,
Naya melihat kondisi kontrakan itu dan langsung menangis. Bau, bocor, berantakan.
Ia melihat Sari memegang pisau dan Tari memegang silet.
"SARI! TARI! LEPAS PISAU-NYA!"
Naya berlari dan memeluk kedua gadis itu, merebut pisau dari tangan mereka.
"Sudah... sudah... Kakak di sini... kalian gak akan dinikahin sama siapa-siapa..."
Arka dan Raka masuk. Arka langsung merekam kondisi kontrakan yang kumuh itu.
"Bu Lastri, jadi ini yang Ibu sebut rumah? Ibu mau jual anak Ibu yang masih di bawah umur demi bayar pinjol anak Ibu yang selingkuh?" kata Arka dingin.
Lastri terduduk lemas. "Bukan... bukan jual... ini perjodohan..."
"Perjodohan dengan laki-laki beristri, umur 58 dan 62, dengan mahar 25 dan 30 juta, untuk anak di bawah umur? Itu namanya perdagangan anak, Bu. Pasal 83 UU Perlindungan Anak. Ancamannya 15 tahun penjara," kata Raka
Bimo mencoba membela diri. "Ini urusan keluarga kami! Kalian gak berhak ikut campur!"
Raka memeluk Bagas yang gemetar.
Tama menarik Sari dan Tari dengan kasar dan membawanya masuk kedalam kamar dan mengunci pintu
"Jangan! Kalian gak boleh bawa anak saya! Saya ayahnya!, pergi kalian semua dari sini".
Tama menghunus kan pisau itu ke hadapan mereka dan mengancam mereka dan mereka pergi karena tidak punya pilihan lain
Dan 3 hari lagi, sidang puncak. Ia harus datang ke pengadilan dengan tangan kosong, tanpa pengacara, tanpa keluarga, melawan Naya yang datang dengan pengacara terbaik, ayah sebagai saksi, dan dua laki-laki yang siap mati-matian membelanya.
*Bersambung*
semoga dpt jodoh yg bner bner baik ya, gk kayak Raka Dan Arka.
mending yg kaya sekalian kn 😁
Bimo juga bukan orang kaya selingkuh juga kan😄🤣.
jgn nyerah ya nay...
salam kenal