NovelToon NovelToon
Lentera Terakhir Sang Kultivator

Lentera Terakhir Sang Kultivator

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:741
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

Reinkarnasi, Kesempatan Kedua, Kultivasi

Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, Jian Chen tewas tepat sebelum mencapai Ranah Dewa. Namun, ia mendapat kesempatan kedua untuk mengubah takdir dengan kembali ke dua puluh tahun silam.

Saat ia mulai mengungkap dalang di balik kematiannya, masa depan yang ia kenal perlahan berubah. Pusaka yang seharusnya tersembunyi telah dicuri, teknik langka muncul terlalu dini, dan seseorang tampaknya mengetahui rahasia yang bahkan belum terjadi.

Di balik semua kejanggalan itu, tersimpan Lentera Terakhir pusaka yang mampu memutar waktu, tetapi menyimpan harga yang mengerikan.

Siapa yang mengubah masa depan, dan mengapa mereka seolah tahu setiap langkah Jian Chen? Kali ini, musuh terbesarnya mungkin bukan pengkhianat dari masa lalu, melainkan seseorang yang telah menunggunya sejak awal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Daftar Lawan

Zhao Feng datang pada malam kelima dengan sebuah gulungan tebal yang diikat tali merah. Ia mengetuk pintu bengkel Dao dengan dua ketukan pendek, masuk tanpa menunggu jawaban, dan menaruh gulungan itu di atas landasan seperti menaruh barang bukti di ruang pengadilan.

"Seratus delapan nama," katanya. "Lengkap dengan tahap kultivasi, senjata, dan catatan pertarungan yang kutahu. Aku menyalinnya dari arsip aula tanpa izin, jadi jangan sampai ada yang melihat."

"Kau mencuri dari arsip?" tanya Dao sambil mengangkat alis.

"Aku meminjam. Aku akan mengembalikannya sebelum fajar." Zhao Feng menoleh pada Jian Chen. "Baca."

Jian Chen membuka gulungan itu. Seratus delapan nama tersusun rapi dalam kolom-kolom kecil. Di samping setiap nama tertulis tahap kultivasi, jenis senjata, dan singkatan catatan Zhao Feng. Ia membaca dengan jari menelusuri tiap baris, dan perlahan ia merasakan ruangan menyempit.

Ia mengenali sekitar empat puluh nama. Sebagian besar adalah murid dalam atau murid luar senior yang dulu ia kenal secara samar. Zhao Feng, tentu saja, ada di baris teratas dengan catatan Pembentuk Fondasi tengah. Shen Yu tercatat di baris kelima belas: Pengumpul Napas akhir, pedang tunggal. Fang Cheng di baris dua puluh dua. Dan di baris lima puluh satu ada nama yang membuat Jian Chen berhenti.

"Mu Han," katanya.

"Kau kenal?" tanya Zhao Feng.

"Murid luar dari pondok sebelas. Dulu ia hanya Pengumpul Napas tengah. Pemalu. Tidak punya satu pun teknik yang menonjol." Jian Chen menunjuk catatan di samping namanya. "Di sini tertulis Pembentuk Fondasi awal, tombak, dan satu teknik yang kau beri tanda tanya."

"Itu yang menarik perhatianku." Zhao Feng mengetuk gulungan dengan ujung jari. "Tiga bulan lalu ia belum naik tahap. Kini ia dilaporkan sudah menembus dan memakai teknik tombak yang tidak dikenali pengawas aula."

"Dulu?" tanya Lin Xue dari sudut ruangan. Ia mengamati Jian Chen dengan alis sedikit berkerut. "Kau bilang dulu, Jian Chen."

"Maksudku, sebelum ini."

"Kau sering mengatakan itu."

"Kebiasaan," kata Jian Chen, dan ia tidak menatap Lin Xue ketika mengatakannya.

Zhao Feng tidak berkomentar. Ia hanya menatap Jian Chen sekilas, lalu melanjutkan. "Ada tujuh nama lain seperti Mu Han. Murid yang tahun lalu tidak punya catatan menonjol, tetapi kini naik tahap atau memiliki teknik baru. Aku menandainya dengan lingkaran merah."

Jian Chen menelusuri tujuh lingkaran merah itu. Setiap nama membuatnya menarik napas pelan. Di kehidupan pertama, ia tidak ikut turnamen, tetapi ia tahu siapa yang menjadi juara dan siapa yang masuk sepuluh besar. Tidak ada satu pun dari tujuh nama itu.

"Mereka tidak ada di ingatanku," gumamnya pelan.

"Apa?" tanya Dao.

"Maksudku, aku tidak mengenal mereka."

"Mungkin mereka memang bukan siapa-siapa sampai sekarang."

"Mungkin." Jian Chen menutup gulungan itu. Ia tidak percaya pada kemungkinan itu, tetapi ia tidak punya penjelasan lain. "Aku butuh waktu mempelajari mereka."

"Itu sebabnya aku membawanya," kata Zhao Feng. "Aku akan mencari tahu apa yang bisa kutemukan tentang tujuh orang itu. Kau berlatih."

"Terima kasih."

"Jangan berterima kasih." Zhao Feng mengambil gulungan itu kembali, menyelipkannya ke balik jubah, dan berjalan menuju pintu. "Aku hanya tidak suka kalah pada orang yang tidak jujur."

Ia pergi. Dao menutup pintu perlahan.

"Orang itu," kata Dao, "kalau tersenyum sedikit saja, mungkin tidak akan membuat semua orang takut."

"Dia akan tersenyum kalau kita menang," kata Lin Xue.

Subuh keesokan harinya, Jian Chen berdiri di belakang gudang kayu dengan dua pedang di tangan. Di tangan kanan, pedang perak kebiruan pemberian Dao. Di tangan kiri, pedang pendek ringan yang baru selesai ditempa semalam, bilahnya tidak lebih dari sepanjang lengan bawah. Ia membuka sikap dengan pedang panjang di depan, pedang pendek di belakang, dan menunggu.

Shen Yu muncul dari balik pagar seperti biasa, dengan jubah putih biru dan senyum yang belum luntur oleh kantuk. Ia membawa pedang kayu latih di tangannya.

"Dua pedang?" tanyanya sambil menyipitkan mata. "Kau serius mau jadi pemain sirkus?"

"Aku serius."

"Kalau begitu aku tidak akan menahan diri."

Shen Yu melangkah maju. Gerakannya ringan, tanpa tebasan pembuka yang jelas. Ia menusuk dari bawah dengan sudut yang aneh, dan Jian Chen memutar pedang kirinya untuk menahan. Benturan kayu dan logam menghasilkan bunyi tumpul. Shen Yu berputar setengah lingkaran, menebas dari samping, dan Jian Chen mundur satu langkah sambil membiarkan pedang panjangnya menyapu tebasan itu ke samping.

Ia berhenti.

Sikap Shen Yu. Cara ia memindahkan berat badan ke tumit belakang. Cara ia menahan ujung pedang sejajar tenggorokan. Itu bukan sikap yang pernah ia ajarkan secara terbuka. Itu sikap pertama dari Pedang Tanpa Bayangan, dengan sedikit perbedaan pada posisi pergelangan.

"Kau menatapku," kata Shen Yu sambil menurunkan pedangnya.

"Sikapmu."

"Kenapa dengan sikapku?"

"Itu mirip sikap yang kupakai."

"Memang." Shen Yu tertawa kecil dan mengusap hidung. "Sudah tiga bulan aku berlatih di sini bersamamu. Mataku tidak buta. Aku meniru sikapmu karena kelihatannya bagus. Maaf kalau kau tersinggung."

"Aku tidak tersinggung."

"Syukurlah." Shen Yu tersenyum. "Aku selalu merasa kau menyimpan sesuatu dalam sikap itu. Seperti orang yang mengajar tanpa bicara. Aku hanya menangkapnya."

Jian Chen menatapnya lama. Penjelasan itu masuk akal. Bahkan terlalu masuk akal. Ia mengangguk perlahan dan mengangkat pedangnya kembali.

"Lanjut," katanya.

Mereka bertukar jurus sampai matahari muncul di atas atap gudang. Jian Chen kalah tiga kali dari Shen Yu dan menang satu kali, tipis. Lengan kirinya yang baru mulai terbiasa dengan pedang pendek terasa terbakar dan canggung, tetapi ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan di kehidupan pertamanya: keseimbangan baru, seperti satu sisi tubuhnya yang selama ini menganggur mulai bangun.

"Kau berkembang cepat," kata Shen Yu sambil menyeka dahinya. "Aku bukan hanya basa-basi. Kalau begini terus, kau bisa masuk enam belas besar."

"Bukan delapan?"

"Delapan itu butuh keberuntungan." Shen Yu mengedipkan mata. "Aku hanya bilang kau bisa. Bukan kau akan."

"Terima kasih."

"Jangan berterima kasih dulu." Shen Yu menyarungkan pedang kayunya. "Aku punya satu permintaan kecil."

"Apa?"

"Kalau kita berhadapan di turnamen, jangan menahan diri." Shen Yu menatapnya lurus. Senyumnya masih ada, tetapi ada sesuatu di balik matanya yang sulit dibaca. "Aku ingin tahu seberapa jauh kau sudah sampai."

"Aku juga tidak akan menahan diri."

"Bagus." Shen Yu tersenyum lebih lebar, dan ia menepuk bahu kanan Jian Chen. "Itulah sebabnya kita sahabat."

1
Paw_chan🐾
bagus🤟
Uranenantios: Makasih 😺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!