NovelToon NovelToon
CINTAKU DI PRAMBANAN

CINTAKU DI PRAMBANAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Kutukan
Popularitas:886
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

NOVEL INI ADALAH FIKSI (Alternate Universe) DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT

Haruma dan Harumi, dua kakak beradik yang kini sudah kuliah semester 5 di salah satu universitas yang cukup ternama di Indonesia, tak lama lagi akan mengikuti sebuah lomba seni drama yang bertempat di Candi Prambanan.

Lomba itu mengangkat tema tentang kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.

Akan tetapi, momen perlombaan yang diikuti oleh Haruma-Harumi justru akan menjadi sebuah pertunjukan yang MENUMPAHKAN DARAH MANUSIA ATAS NAMA DENDAM.

Seolah, kutukan Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang, menimbulkan kutukan mengerikan.

Apa yang akan terjadi dengan Harumi saat tampil di atas panggung sakral di depan Candi Prambanan itu?

Dan apa yang akan dilakukan oleh Haruma?
.
.
.
DISCLAIMER‼️

Jika ada unsur sejarah, latar tempat, seni, budaya, nama tokoh, ritual, kepercayaan, dan mitos yang sama dengan kehidupan nyata, itu semua murni hanya untuk dijadikan bagian dalam cerita saja.

SELAMAT MEMBACA... ☺

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 KASIH SAYANG NISA PADA ANAK-ANAKNYA

"Dia... ikut pulang bersama kita."

Kalimat yang diucapkan Haruma itu, meskipun suaranya lirih dan nyaris seperti hembusan angin parau, berdampak layaknya ledakan bom berdaya hancur tinggi di dalam ruang rawat inap VIP tersebut.

Waktu seakan membeku. Zaki, Nisa, Yuda, dan Harumi masih mematung, menatap dengan ngeri ke arah sudut kosong di ruangan yang ditunjuk oleh telunjuk Haruma yang bergetar.

Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah kerai jendela tak lagi mampu memberikan kehangatan. Alih-alih, seberkas cahaya itu justru mempertegas debu-debu yang melayang di udara, membuat suasana ruangan itu mendadak terasa senyap, pengap, dan terisolasi dari dunia luar.

Namun, di antara mereka berempat, Harumi-lah yang paling terguncang.

Bagi Yuda, Zaki, dan Nisa, ucapan Haruma itu terdengar seperti sebuah peringatan gaib yang menakutkan. Tapi bagi Harumi, kalimat itu adalah vonis mutlak yang menghancurkan sisa-sisa kewarasannya.

Gadis itu tidak perlu membayangkan sosok seperti apa yang dimaksud oleh kakaknya. Ia sudah melihatnya. Ia sudah mencecap dinginnya udara saat makhluk bergaun kuno itu menampakkan diri di sel tahanan. Ia sudah merasakan sakitnya cengkeraman makhluk itu di pergelangan tangannya. Dan semalam, ia kembali dihantui oleh suara gamelan dan kain merah yang merayap dari lemarinya.

Mendengar konfirmasi dari kakaknya bahwa entitas iblis itu benar-benar mengikuti mereka, bahkan berani menampakkan wujud menjijikkannya di ruang perawatan rumah sakit tempat Haruma memulihkan diri... itu terlalu berat untuk ditanggung oleh batin Harumi.

"Enggak... enggak..." bisik Harumi, tubuhnya mulai bergetar hebat. Matanya membelalak lebar, memancarkan kengerian yang murni dan primitif. Napasnya memburu, tersengal-sengal mencari oksigen di udara yang tiba-tiba terasa sangat tipis.

Ia perlahan memundurkan langkahnya, menjauhi ranjang Haruma. Matanya bergulir liar ke seluruh sudut ruangan, mencari-cari keberadaan siluet gaib yang memburunya.

"Harumi... Nak, tenang, Nak..." Nisa melangkah mendekat, mengulurkan tangannya yang gemetar.

Namun, belum sempat tangan Nisa menyentuh lengan salah satu putrinya itu, pertahanan psikologis Harumi meledak berkeping-keping.

"TIDAAAAAAAAKKK!!!"

Jeritan Harumi menggelegar, merobek keheningan pagi di lorong HCU. Suaranya melengking tinggi, diwarnai oleh keputusasaan dan ketakutan yang tak terlukiskan.

Gadis itu menarik rambutnya sendiri dengan kedua tangannya, memejamkan mata rapat-rapat seolah berusaha mengusir bayangan iblis bermata hitam yang terus terbayang di dalam kepalanya.

"Pergi! Pergi dari sini! Jangan dekati Kak Haruma! Jangan sentuh aku! AAAAAAAAAAA!!!" raung Harumi sejadi-jadinya.

Ia mulai memukul-mukul udara kosong di sekelilingnya, menendang ke segala arah seakan ia sedang diserang oleh sekumpulan makhluk tak kasat mata.

"Harumi! Astaghfirullah, Nak!" Zaki segera menghambur ke arah putrinya.

Dengan gerakan cepat, pria itu mencoba menangkap kedua lengan Harumi dan memeluknya dari belakang untuk meredam rontaannya. "Tenang, Nak! Nyebut, Harumi! Bapak ada di sini! Tidak ada siapa-siapa di sini selain kita semua!"

Namun, yang terjadi selanjutnya sangatlah mengejutkan.

Zaki, yang memiliki postur tubuh besar dan bertenaga, tiba-tiba terpental mundur hingga punggungnya nyaris menabrak tiang infus.

Harumi, yang biasanya bertubuh mungil dan lemah, secara mendadak menghentakkan tangannya dengan kekuatan yang sangat tidak masuk akal. Bukan sekadar kekuatan akibat adrenalin serangan panik, melainkan tenaga yang terlalu besar untuk ukuran tubuh seorang gadis.

"TIDAAAKKK!!! LEPASKAN AKU! KAU IBLIS! KAU PEMBUNUH! AAAAAAAAAA!" jerit Harumi semakin tak terkendali. Matanya melotot liar, urat-urat di lehernya menonjol tegang. Keringat dingin mengucur deras membasahi wajahnya yang pucat.

Yuda yang sedari tadi membeku akibat keterkejutan, segera tersadar saat melihat Zaki terpental. Pemuda itu langsung melompat maju, menubruk Harumi dan berusaha mengunci kedua lengan gadis itu dengan tangannya.

"Harumi! Ini aku, Yuda! Sadar, Harumi! Sadar!" teriak Yuda, mengerahkan seluruh sisa tenaga di lengannya untuk menahan rontaan kekasihnya.

Buggghhh!!!

Siku Harumi menghantam dada Yuda dengan telak, membuat napas pemuda itu sempat tercekat. Rasa sakit seketika menjalar di tulang rusuknya, namun Yuda menolak untuk melepaskan cengkeramannya.

"Pak! Bantu saya, Pak! Tenaganya besar banget!" seru Yuda pada Zaki dengan gigi terkatup.

Zaki kembali mendekat dengan raut wajah panik bercampur ngeri. Ia memegangi kedua kaki Harumi yang terus menendang liar, sementara Yuda menahan bagian atas tubuhnya. Keduanya berjuang mati-matian menahan seorang gadis muda, seakan mereka sedang menahan kekuatan tiga orang pria dewasa sekaligus.

Di atas ranjang, Haruma yang masih sangat lemah hanya bisa meneteskan air mata melihat penderitaan adiknya.

Jantung Haruma berdegup kencang, layar EKG di sebelahnya mulai berbunyi memperingatkan adanya lonjakan detak jantung yang membahayakan kondisinya.

Nisa, yang berdiri di antara ranjang dan pertarungan sengit itu, tak henti-hentinya menangis histeris dan memanjatkan doa, kebingungan harus membantu siapa.

Keributan luar biasa yang terjadi di ruang VIP itu memancing perhatian para petugas medis di luar.

Pintu ruangan tiba-tiba didorong terbuka dengan kasar.

Dua orang petugas keamanan rumah sakit berseragam biru tua berhamburan masuk, disusul oleh Dokter Surya dan Suster Ratna yang wajahnya tak kalah panik.

"Bapak, tolong lepaskan! Jangan ditekan seperti itu, nanti bisa terluka!" teriak salah satu petugas keamanan, mengira Zaki dan Yuda sedang menyerang Harumi.

"Dia histeris, Pak! Tenaganya nggak wajar! Tolong bantu tahan!" balas Yuda setengah berteriak, keringatnya menetes membasahi wajahnya.

Melihat Harumi yang meronta-ronta dengan brutal bak orang kesurupan, kedua petugas keamanan itu segera mengambil alih. Dengan tubuh mereka yang lebih besar dan terlatih, mereka menggantikan posisi Yuda dan Zaki. Satu petugas memegangi lengan Harumi, sementara yang lain memegangi kakinya.

"AAAAAAAAAA! JANGAN BUNUH DIA! BUNUH SAJA AKU! AMBIL NYAWAKU, IBLIIISS!!!" raung Harumi, suaranya mulai parau dan serak akibat terus-menerus berteriak.

"Bawa dia keluar dari ruangan ini! Pasien di dalam bisa syok dan kondisinya memburuk lagi!" perintah Dokter Surya dengan tegas, menunjuk ke arah pintu. "Bawa ke ruang tunggu di luar bangsal!"

Kedua petugas keamanan itu mengangguk. Dengan susah payah, mereka mengangkat tubuh Harumi yang masih terus meronta dan menendang.

Mereka setengah menggotong, setengah menyeret gadis itu keluar dari kamar rawat inap VIP, menyusuri lorong HCU menuju ruang tunggu keluarga yang kebetulan sedang sepi di pagi itu.

Yuda, Zaki, dan Nisa bergegas berlari mengikuti mereka, meninggalkan Haruma yang masih menangis diam dalam pengawasan Suster Ratna.

Sesampainya di ruang tunggu, petugas keamanan itu membaringkan Harumi di atas deretan kursi sofa panjang. Namun Harumi tidak berhenti melawan.

Ia terus menjerit, berguling, dan menepis siapa saja yang mencoba mendekatinya. Mata gadis itu menatap liar ke udara kosong di sudut ruangan, seolah makhluk bergaun merah itu juga mengikuti perpindahan mereka ke ruangan ini.

"Dia mengalami Acute Stress Reaction atau serangan histeria berat," ucap Dokter Surya yang ikut menyusul ke ruang tunggu. Ia segera mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. "Saya akan panggilkan psikiater jaga dan minta perawat menyiapkan suntikan penenang (diazepam) agar dia tidak melukai dirinya sendiri."

"Jangan, Dok! Jangan disuntik dulu!" Nisa tiba-tiba berteriak, memotong instruksi dokter.

Wanita itu menerobos barikade petugas keamanan. Wajahnya dipenuhi air mata, namun ada ketegasan luar biasa yang mendadak muncul dari dalam dirinya.

Insting keibuannya berbisik bahwa apa yang dibutuhkan Harumi saat ini bukanlah obat penenang kimia, melainkan jangkar emosional dari orang yang paling menyayanginya.

Nisa berlutut di lantai, tepat di depan sofa tempat Harumi meronta. Ia tidak mencoba menahan tangan atau kaki putrinya secara paksa seperti yang dilakukan para pria tadi. Ia membiarkan lengannya terkena pukulan liar Harumi beberapa kali.

"Harumiii... Sayaaang... Ini Ibuuu..." Nisa berbicara dengan nada yang sangat lembut, bergetar, namun penuh kasih sayang yang tak terbatas. "Dengar suara Ibu, Naaak... Ini suara Ibuuu... Harumiii... Sayangkuuu..."

Harumi masih menjerit, tatapannya masih terkunci pada ketakutan gaib di kepalanya. "Dia ada di sana, Bu! Dia mau membunuh kita semua!"

"Ibu tahu, Nak. Ibu percaya padamu," kalimat Nisa itu seolah menjadi mantra yang menghentikan sejenak rontaan Harumi.

Zaki dan Yuda yang berdiri di belakang saling berpandangan dengan takjub. Untuk pertama kalinya, ada yang memvalidasi ketakutan Harumi alih-alih menganggapnya gila.

Nisa mengulurkan tangannya perlahan, tidak dengan gerakan mengunci, melainkan dengan sentuhan lembut. Ia menangkup kedua pipi Harumi yang basah oleh keringat dan air mata. Ibu jarinya mengusap lembut sudut mata putrinya.

"Ibu percaya dia ada, Harumi... Ibu percaya iblis itu nyata," bisik Nisa, air matanya menetes jatuh ke pipi Harumi. "Tapi iblis itu harus berhadapan dengan Ibu dulu sebelum dia bisa menyentuhmu. Ibu yang membesarkanmu sejak lama, Nak. Ibu yang menemanimu setiap malam saat kau demam. Ibu tidak akan membiarkan makhluk mana pun, manusia atau iblis, mengambil anak-anak Ibu tersayang."

Mendengar kalimat yang begitu tulus, berani, dan sarat akan pengorbanan itu, pandangan Harumi perlahan mulai fokus. Matanya yang liar dan ketakutan itu akhirnya kembali menemukan sosok wajah ibunya di dunia nyata.

"I-ibu... Harumi takut, Bu... Harumi nggak mau jadi pembunuh..." isak Harumi, suaranya berubah menjadi rintihan lemah layaknya anak kecil yang terbangun dari mimpi buruk. Tenaga buasnya menguap begitu saja, berganti dengan kerapuhan yang menyedihkan.

Nisa menarik tubuh putrinya, mendekapnya erat-erat ke dalam dadanya. Ia membiarkan Harumi menumpahkan seluruh air matanya di sana. "Menangislah, Nak. Tidak apa-apa. Kau bukan pembunuh. Kau korban. Ibu di sini, Bapak di sini... Yuda juga ada di sini. Kita akan lawan makhluk itu sama-sama."

Di balik dekapan ibunya, Harumi menangis tersedu-sedu hingga napasnya tersengal. Tubuhnya masih gemetar pelan, namun tidak ada lagi histeria.

Rasa aman yang dipancarkan oleh cinta seorang ibu berhasil menjadi pelabuhan sementara bagi jiwa Harumi yang nyaris karam dihantam badai kutukan.

Zaki berdiri kaku, mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia menatap istri dan putri bungsunya yang berpelukan di lantai ruang tunggu dengan perasaan yang sangat bercampur aduk.

Ia merasa gagal sebagai seorang kepala keluarga karena tidak bisa melindungi mereka dari ancaman yang tidak bisa ia sentuh atau ia hancurkan dengan kedua tangannya.

Zaki kemudian menoleh, menatap Yuda yang berdiri tak jauh darinya.

Pemuda itu tampak sama hancurnya, pundaknya turun, dan napasnya masih memburu akibat pertarungan fisik tadi. Jaketnya berantakan, ada bekas pukulan siku Harumi di dadanya, namun matanya memancarkan kepedulian yang tak bisa dipalsukan.

Zaki menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang lelah. "Yuda..."

Pemuda itu langsung menatap lurus ke arah Zaki. "Iya, Pak?"

"Tunggu di luar rumah sakit. Di kantin atau di mana pun," ucap Zaki dengan nada lelah, namun tak ada lagi permusuhan di dalamnya. "Beri Harumi waktu untuk tenang bersama ibunya. Nanti siang... kita bicara. Berdua."

Yuda mengangguk hormat, secercah harapan kembali menyala di matanya. "Baik, Pak. Saya tunggu."

Yuda melangkah pergi meninggalkan ruang tunggu, memberikan ruang privasi bagi keluarga tersebut. Ia tahu, pembicaraannya dengan Zaki siang nanti akan menjadi titik balik yang krusial.

Kutukan Roro Jonggrang itu mungkin kuat dan telah menampakkan kengeriannya. Iblis itu mungkin telah menandai keluarga mereka.

Tapi satu hal yang iblis itu tidak perhitungkan adalah; ikatan darah, cinta seorang ibu, dan tekad seorang pemuda yang sedang jatuh cinta, memiliki kekuatan pertahanannya sendiri.

Sebuah kekuatan yang mungkin bisa menjadi kunci untuk memutus mata rantai kutukan "Tulang Wangi" ini selamanya.

1
Ilham
lanjut bg
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Siap, Kak Ilham... 💪💪💪
total 1 replies
My.mitsubishi.triton Adventure X
Kenapa nama tokoh pemerannya sama dengan tirakat tp cerita nya berbeza bahkan tidak ada perewangan milik nisa dn haruma
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Karena novel "CINTAKU DI PRAMBANAN" ini adalah versi Alternate Universe (AU) dari Universe novel "TIRAKAT", Kak...

Jadi cerita utamanya berbeda, namun sebagian besar tokohnya sama.

Semoga Kakak juga suka ya... Dan, terima kasih banyak Kak, sudah komentar... 😍😍😍
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
di babb 20 keatas baru menangkap alur nya wkwkwk
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iyakah??? Hehehe... 🤭🤭🤭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Bagus, rekomendasi juga buat yang suka bacaan horror.
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: TERIMA KASIH, KAK ASMARA... 😍😍😍
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
iyalah nisa sebagai ibu nggak bakalan diam sama iblis itu, jadi percaya saja harumi biar sulit pasti bisa dilawan
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Hehehe...

"SAYA AKAN LAWAN!!!"
#KataSalahSatuLelakiDariSolo
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
yang ini serem ya apalagi baca nya malem
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ: iyaa serem
total 2 replies
Ilham
lanjut kak
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Berat berat baca cerita haruma harumi sii baling wangi. bener ini mah ujian nya lbh berat dari Nisa. dikejar kejar entintas kna baling wangi gimana nggak harus kerja keras bwt melawan nya.

kira kira ntar ada plot Twitter nya nggak ya, kek pov lain bwt bantu mereka. selain yuda
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ: typo itu plot twist mksdnya ya
total 2 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Apa zaky masih bisa merasakan sesuatu yg ghoib setelah putus hubungan sama sekar mayang? 🤔 kek nya nggak. sekarang keknya Zaky lebih mengedepankan logika nya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ: awas aja klo anak anak nya dalam bahaya Zaky nggak bisa apa apa
total 4 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Masij menyimak kak.... blom bisa meraba wkwkwk penasaran juga sama yg sblom nya yg kejadian di gunung lawu itu, apakah ntar ada alur mundur nya?
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih, Kak Asmara... 😍😍😍
total 3 replies
Ilham
aku pengen Arumi sama Arum selamat mereka berdua kak
Ilham
lanjut bg...jadi kemana Perawang Arumi sama Arum kakak..masa ngk menolong mereka kak
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih banyak, Kak Ilham... 🥰🥰🥰

Perewangan Haruma dan Harumi akan muncul, Kak...

Oh iya, karena novel ini adalah AU (Alternate Universe) dari seri TIRAKAT, jadi nggak terlalu banyak kemunculan para perewangannya... 💪💪💪😍😍😍😍🥰
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Waduh ini lbh serem, perawangan harumi jenis yang berbeda kah
Author Melda
salam support kak👍
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Okeee... 😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!