Hazella Adeline, atau Hazel, adalah gadis 19 tahun yang dikenal sebagai bad girl. Meski keras kepala dan berani, Hazel sebenarnya memiliki hati yang sangat baik. Saat pindah sekolah, Hazel harus tinggal di rumah kakaknya, Cateline, yang ternyata sudah menikah selama dua tahun dengan seorang pria bernama Sagara. Namun, Sagara jauh dari bayangan Hazel tentang seorang suami. Ia terlihat penakut, mudah menangis, selalu mengalah, dan sering menjadi sasaran amarah Cateline. Hazel pun selalu membelanya hingga tanpa sadar mulai menyukai pria itu. Hazel tahu perasaannya salah karena Sagara adalah suami kakaknya. Ia berusaha menahannya. Hingga sebuah rahasia perlahan terbongkar. Sagara ternyata mengalami amnesia dan tidak mengingat siapa dirinya sebelum kecelakaan. Tak ada yang tahu bahwa sebelum kehilangan ingatan, Sagara adalah mafia paling kejam sekaligus salah satu pria terkaya di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Bel istirahat pertama akhirnya berbunyi, memecah kesunyian koridor. Suasana kantin SMA Garuda Nusantara mendadak riuh dan padat oleh lalu lalang siswa-siswi yang mengantre makanan.
Di salah satu sudut meja dekat jendela, Hazel dan Kirana duduk berhadapan. Di atas meja mereka tersaji dua mangkuk bakso hangat dan es teh manis. Suasana canggung di antara mereka telah mencair sepenuhnya, berganti menjadi obrolan santai khas anak remaja.
Hazel menyendokkan sedikit sambal ke dalam mangkuknya, lalu mengaduknya pelan. "Jadi, dari dulu kamu memang selalu duduk sendiri di kelas, Kir?"
Kirana menyedot es tehnya sebelum mengangguk pelan, tertawa kecil yang agak canggung. "Iya, Hazel. Kamu tahu sendiri kan, di kelas kita itu dividesi jadi kubu-kubu anak hits dan kaya. Mereka agak enggan berteman sama cewek 'kutu buku' yang tiap hari kerjaannya cuma baca buku tebal dan ngafalin rumus kayak aku."
Hazel memutar bola matanya malas. "Halah, gaya mereka saja yang sok. Padahal otak mereka belum tentu sampai separuh otakmu."
Kirana terkekeh geli mendengar celetukan jujur Hazel. Namun, matanya kemudian tertuju penuh pada wajah Hazel yang terkena terpaan cahaya matahari siang dari luar jendela. Kulitnya yang mulus tanpa celah, hidung mancungnya, serta manik mata cokelat jernihnya benar-benar menawan.
Kirana mendadak menghentikan aktivitas makannya, menopang dagu dengan kedua tangan sambil menatap Hazel tanpa kedip.
"Aduh, Hazel..." cetus Kirana tiba-tiba dengan nada penuh keheranan sekaligus kagum.
Hazel yang baru saja hendak menyuap bakso menyipitkan mata bingung. "Kenapa, Kir? Ada sambal belepotan di mukaku?"
"Bukan!" Kirana menggeleng cepat. "Maksudku... kamu itu beneran cantik banget, tahu tak? Aku dari tadi merhatiin struktur mukamu. Mau dilihat dari samping, dari depan, atau pas lagi ngunyah pun tetep kelihatan mulus dan sempurna banget kayak artis-artis Korea atau influencer luar negeri. Suamiku kelak harus ganteng banget biar gak malu-maluin kalau disandingin sama temen kayak kamu!"
Hazel tertawa renyah, menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar pujian bertubi-tubi yang ceplas-ceplos itu. Pipi Hazel memerah tipis karena sedikit malu, namun ia merasa sangat nyaman dengan kepolosan Kirana. "Bisa saja kamu ini. Pujianmu berlebihan, Kirana. Tapi... terima kasih, ya."
Sore harinya, bel pulang sekolah berdentang. Setelah berpisah dengan Kirana di depan gerbang, Hazel menumpang taksi untuk kembali ke mansion megah keluarga Adeline.
Begitu melangkah masuk melewati pintu utama yang megah dan dingin, suasana rumah terasa sangat sepi. Hazel melepas sepatu hak sekolahnya, bermaksud langsung naik ke atas untuk berganti pakaian. Namun, langkah kakinya terhenti ketika matanya menangkap sosok pria di ruang tengah.
Di sana, Sagara sedang berdiri kaku di dekat meja kaca, berusaha memegang kompres es batu ke pipinya sendiri.
Hazel membelalakkan matanya seketika. Di wajah tampan dan lugu kakak iparnya itu, tepat di tulang pipi sebelah kiri dan sudut bibirnya, tampak memar kebiruan yang amat kontras dengan kulit putihnya. Sudut bibirnya bahkan sedikit robek dan mengeluarkan darah yang mengering.
"Kak Sagara?!"
Panggilan Hazel melengking penuh kecemasan. Tanpa memedulikan tas sekolahnya yang hampir merosot dari bahu, Hazel berlari kecil menghampiri Sagara dengan raut wajah panik yang tak bisa disembunyikan.
Sagara tersentak kaget. Ia terburu-buru menurunkan tangannya, berusaha menyembunyikan wajahnya dengan memalingkan pandangan ke arah lain. "E-eh, Hazel... kamu sudah pulang sekolah?"
"Jangan balik badan! Lihat aku!" tegas Hazel.
Melihat Sagara yang masih terus berusaha menutupi lukanya dengan sikap ragu, Hazel langsung memegang kedua bahu pria tinggi itu dan memaksa Sagara menghadap ke arahnya. Hati Hazel mendadak berdenyut nyeri melihat memar membiru yang begitu jelas di wajah polos itu.
"Ini kenapa?!" desak Hazel dengan suara bergetar menahan marah sekaligus khawatir. "Siapa yang bikin wajahmu sampai memar begini?! Cateline, kan?!"
Sagara menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas ujung bajunya sendiri. "B-bukan... bukan Nona Cateline. Aku cuma... tadi aku kurang hati-hati pas bawa barang di luar, terus tersandung dan kena sudut meja. Tidak apa-apa, kok. Sungguh, cuma luka kecil—"
"Jangan bohong!" potong Hazel cepat, matanya menatap tajam. Mana ada luka tersandung meja yang bentuknya seperti bekas pukulan atau tamparan keras? Pria ini terlalu polos dan terus-menerus pasrah melindungi wanita iblis itu.
Tanpa mendengarkan bantahan Sagara lebih lanjut, Hazel langsung menarik lengan pria itu dengan tegas. "Ikut aku. Duduk di sini."
Hazel mendudukkan Sagara di atas sofa empuk di ruang tamu. Pria jangkung itu hanya menurut pasrah, duduk kaku sembari menatap Hazel dengan pandangan serba salah.
"Tunggu di sini, jangan kemana-mana," perintah Hazel dingin sebelum melangkah cepat menuju area belakang untuk mengambil kotak P3K.
Beberapa saat kemudian, Hazel kembali dengan sebuah kotak obat transparan. Ia meletakkan kotak itu di atas meja kaca, lalu duduk di samping Sagara. Jarak mereka kini amat dekat hingga Hazel bisa mencium aroma sabun mandi yang lembut dari tubuh Sagara.
Hazel membuka kotak P3K, mengambil kapas, dan membasahinya dengan cairan antiseptik.
"Agak perih sedikit, tahan ya," bisik Hazel, suaranya mendadak berubah sangat lembut.
Dengan perlahan dan hati-hati, jemari lentik Hazel terangkat, mengarahkan kapas itu ke sudut bibir Sagara yang robek. Ia menepuk-nepuk luka itu dengan amat perlahan, takut menyakiti pria di depannya.
"SSHH..." Sagara meringis pelan, tubuhnya sedikit tegang dan refleks menarik kepalanya ke belakang karena rasa perih yang menusuk.
"Tahan sebentar, Kak," ucap Hazel lembut, menahan dagu Sagara dengan jemari kirinya agar wajah pria itu tidak bergerak. "Kalau tidak diobati, lukanya bisa infeksi."
Sagara membeku seketika. Sentuhan jemari Hazel yang hangat di dagunya, serta jarak wajah mereka yang kini hanya berjarak beberapa senti, membuat napas Sagara tertahan. Dari jarak seketat ini, Sagara bisa melihat dengan sangat jelas mata cokelat Hazel yang dipenuhi rasa khawatir yang begitu tulus untuknya hal yang belum pernah ia dapatkan dari siapa pun selama dua tahun ini.
Jantung Sagara berdegup kencang secara tidak wajar. Ia menatap Hazel tanpa berkedip, membiarkan gadis berusia 19 tahun itu menempelkan salep dan plester pada lukanya dengan telaten dan penuh kasih sayang.
double up y thor 😄🙏
kasihan si hazel ...