NovelToon NovelToon
Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:99
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

Bima Liem wakes in another's body—a young Chinese-Javanese man in Waringin, East Java, crushed by family pressure, insults, and silent injustice.

This time, he won't stay silent. A mysterious Golden Defiance System binds to him: every time he resists moral blackmail, social pressure, or unfairness, he earns points for extraordinary abilities—god-level legal skills, deadly combat, hacking, spy drones, and hidden wealth.

Armed with law and the system, he begins an unprecedented mission: send every wrongdoer to prison—one by one. Trolls, bullies, corrupt officials, fake doctors, campus thugs, cruel neighbors—none escape the People's Prosecutor.

Everyone sees a humble village youth, unaware behind that calm face lurks a hidden billionaire, national hero, and the most dangerous man in any courtroom. You can choose silence. But if you choose evil—don't expect me to choose good.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 016: Satu Pun Tidak Lolos

Angka 1.317 tidak meninggalkan kepala Bima bahkan setelah mereka pulang dari Pengadilan Negeri Waringin.

Di rumah, Bu Sri melepas kerudungnya perlahan. Ratna langsung duduk di lantai ruang tengah, punggung bersandar ke sofa tua, seperti semua tenaga yang ia tahan selama sidang baru habis sekarang. Pak Harto membuat teh. Gula yang ia masukkan terlalu sedikit. Tidak ada yang menegur.

Kasus Siska selesai. Seharusnya rumah itu bisa bernapas.

Namun Bima membuka laptop.

Ratna melihatnya dan mengerutkan kening. "Mas, jangan bilang kamu langsung kerja lagi."

"Aku hanya melihat daftar."

"Daftar apa?"

Bima memutar layar sedikit. Di sana ada tabel panjang: akun, tautan unggahan, jenis pelanggaran, waktu, bukti screenshot, status identifikasi, potensi saksi, dan tingkat ancaman.

Ratna membaca baris pertama.

Akun itu menulis alamat lengkap rumah mereka.

Baris kedua menuduh Bima melakukan pelecehan, padahal video asli sudah beredar.

Baris ketiga mengajak orang datang ke warung Pak Harto.

Baris keempat mengirim pesan pribadi ke Ratna: "Kakakmu harus dibuat takut."

Ratna berhenti membaca.

"Mas... ini semua?"

"Belum semua. Ini yang sudah terkunci."

Pak Harto meletakkan teh di meja. Tangannya diam terlalu lama di gagang gelas. "Bima, seribu orang lebih itu bukan sedikit. Apa tidak cukup Siska sudah dihukum?"

Pertanyaan itu tidak datang dari kelemahan. Ia datang dari kelelahan seorang ayah yang baru saja melihat adiknya menangis di pengadilan. Bima tidak menyalahkannya.

"Pak, kalau satu orang melempar batu ke rumah kita, kita lapor. Kalau seribu orang melempar batu lewat layar, masa kita anggap angin?"

Bu Sri duduk di samping Ratna. "Tapi mereka mungkin cuma ikut-ikutan."

Bima membuka folder ancaman. "Ini yang membuat alamat rumah. Ini yang menyuruh orang melempar telur. Ini yang mengirim pesan ke kampus Ratna. Ini yang menulis Mama pura-pura nangis. Ini yang bilang Papa pantas bangkrut. Mereka tidak ikut-ikutan menonton. Mereka ikut menyerang."

Ruangan sunyi.

SBE muncul di samping layar.

[Misi lanjutan: Satu Pun Tidak Lolos]

[Target awal terverifikasi: 1.317 akun]

[Kategori: penyebar fitnah, pembuat narasi tambahan, penyebar alamat, ancaman, intimidasi digital]

[Prinsip: proses legal bertahap, bukti sah, identitas diverifikasi, tidak menyerang akun pasif]

Bima membaca baris terakhir dua kali. Sistem pun tidak memintanya membabi buta. Yang pasif tidak disentuh. Yang menekan tombol untuk merusak hidup orang lain, dihitung.

Ia membuka dokumen baru: Gugus Bukti 1317.

Ensiklopedia Hukum Hidup membuat kepalanya bekerja lebih rapi. Ada perbedaan antara hinaan umum, pencemaran, ancaman, doxing, ajakan kekerasan, dan penyebaran ulang yang menambah narasi palsu. Ada jalur pidana. Ada jalur perdata. Ada somasi massal. Ada permintaan data platform melalui penyidik. Ada kemungkinan sebagian hanya dikenai denda, sebagian masuk penjara, sebagian cukup permintaan maaf terbuka.

Prinsipnya sama.

Nama mereka tidak boleh hilang di kerumunan.

Sebelum tidur, Pak Harto mengetuk pintu kamar Bima. Ia membawa buku kas warung yang sampulnya sudah lecek.

"Papa tidak punya banyak," katanya. "Tapi kalau perlu biaya fotokopi, transport, atau apa pun, pakai dari warung dulu. Jangan semua kamu tanggung sendiri."

Bima menatap buku kas itu. Di dalamnya mungkin hanya ada angka kecil. Nilainya lebih berat daripada saldo sistem. Itu sikap.

"Simpan untuk warung, Pak. Aku punya cara."

Pak Harto tidak langsung percaya. "Kamu dari mana punya cara terus? Sejak pulang, kamu seperti membawa pintu rahasia."

Bima tersenyum. "Anggap saja aku akhirnya belajar memakai kepala."

"Kepala boleh tajam," kata Pak Harto pelan. "Tapi jangan sampai hatimu jadi batu."

Bima mengangguk. Nasihat itu ia masukkan ke tempat yang sama dengan daftar akun: sesuatu yang harus selalu dicek ulang.

Setelah Pak Harto pergi, Bima membuat kolom baru di tabel: dampak nyata. Tidak semua orang boleh disapu dengan satu sapu. Ia menandai siapa yang membuat luka langsung, siapa yang hanya menambah hinaan, siapa yang cukup diminta maaf terbuka, siapa yang harus dilaporkan pidana. Keadilan yang baik punya ukuran.

Ratna tiba-tiba menunjuk satu akun. "Mas, ini teman kampusku. Dia tidak menulis ancaman, tapi dia menyebarkan alamat ke grup lain. Waktu aku tanya, dia bilang cuma meneruskan."

"Masukkan penyebar alamat," kata Bima. "Catat dia tidak menulis ajakan kekerasan. Itu mempengaruhi beratnya tuntutan, bukan menghapus salahnya."

"Berarti kamu benar-benar bedakan?"

"Harus. Kalau kita tidak adil saat menuntut keadilan, kita berubah jadi kerumunan versi lain."

Ratna diam, lalu mengetik catatan itu. Di sudut meja, Pak Harto mendengar kalimat tersebut dan untuk pertama kalinya malam itu wajahnya sedikit lega.

Malam itu, Bima tidak langsung mengirim laporan baru. Ia membuat peta.

Kelompok A: 37 akun pembocor alamat dan ajakan datang ke rumah.

Kelompok B: 112 akun pembuat tuduhan baru setelah klarifikasi video asli.

Kelompok C: 284 akun penyebar aktif dengan caption tambahan.

Kelompok D: 603 akun penghinaan dan perundungan terarah kepada keluarga.

Kelompok E: 281 akun yang memakai identitas palsu dan terhubung dengan nomor, email, atau pola perangkat yang bisa dilacak.

Ratna membantu memberi warna pada tabel. Matanya masih lelah. Setiap kali menemukan akun yang dulu menyerangnya di grup kampus, punggungnya lebih tegak.

"Yang ini admin kelas," katanya. "Dia ikut memperkuat serangan. Dia pin komentar yang menuduhku keluarga kriminal."

"Masukkan Kelompok C dan D," kata Bima. "Beri catatan peran admin."

Pak Harto duduk di kursi paling ujung. Istilah-istilah itu asing bagi Pak Harto. Ia tetap mengerti satu hal: putranya tidak sedang marah kosong. Ia sedang bekerja.

Menjelang tengah malam, Bima mengirim pesan kepada Bripka Wanto.

Pak, saya akan ajukan laporan lanjutan terkait 1.317 akun yang menyerang keluarga kami setelah video manipulatif Siska. Saya butuh arahan prosedur agar bukti tidak rusak.

Balasan datang dua puluh menit kemudian.

Datang besok pagi. Bawa ringkasan kategori, bukti utama, dan contoh tiap kategori. Untuk jumlah sebesar itu, kita perlu koordinasi dengan unit siber tingkat polres.

Bima tersenyum.

Besok, kerumunan itu mulai berubah menjadi barisan nama.

Sebelum menutup laptop, ia membuat salinan offline ke flashdisk, memasukkannya ke amplop, lalu menyerahkannya kepada Ratna. "Kalau laptop ini rusak, ini cadangan. Simpan di kamarmu." Ratna menerima amplop itu seperti menerima senjata kecil.

Sebelum menutup laptop, ia menulis satu kalimat di halaman pertama dokumen.

Di bawah kalimat itu, ia menambahkan tanda tangan digital sederhana: tanggal, jam, dan nama folder cadangan. Tujuannya jelas: memastikan suatu hari nanti, jika ada yang bertanya kapan perang ini dimulai, jawabannya tidak bergantung pada ingatan.

Bobot kesalahan mereka berbeda. Semua yang sengaja menyerang tetap harus belajar bahwa layar bukan tempat sembunyi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!