NovelToon NovelToon
Satpam Penjaga CEO

Satpam Penjaga CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Bimo, seorang pemuda kaya yang enggan dijodohkan, menyusun rencana konyol dengan meminta sahabatnya semasa SMA, Arga, seorang anak panti asuhan bertubuh tegap yang akrab dipanggil Dewa, untuk menyamar menjadi dirinya. Tugas Dewa sederhana: bersikap norak dan menyebalkan di depan Nadia Nugroho, CEO wanita dingin pemimpin imperium bisnis Nugroho Group, agar kencan perjodohan itu batal total.

Namun, rencana konyol itu berantakan. Nadia yang tak mudah terkecoh justru melayangkan ancaman pembalasan yang sanggup membangkrutkan perusahaan keluarga Bimo seketika. Terdesak, Dewa terpaksa menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak atas nama Bimo.

Di tengah situasi yang kian kacau dan pernikahan resmi yang dihitung hari, Dewa berusaha menyambung hidup dengan melamar kerja sebagai petugas keamanan. Tanpa ia sadari, hari pertama tugasnya sebagai Satpam justru menempatkannya di lobby utama Menara Utama Nugroho Group, gedung megah milik keluarga sang CEO dingi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Seragam Baru untuk Arga

Malam yang panjang dan penuh kenangan masa sekolah akhirnya menguap seiring berlalunya jam dinding kontrakan. Diskusi panjang antara Bimo dan Arga hingga larut malam sama sekali tidak membuahkan titik terang atau solusi jalan keluar yang ajaib. Masalah ancaman puluhan miliar dari Nugroho Group dan jadwal pernikahan yang dipercepat tetap berdiri kokoh tanpa cela, membentengi jalan pikiran mereka berdua.

Bimo akhirnya pamit pulang ke rumahnya sekitar pukul tiga pagi dengan langkah lelah dan kepasrahan yang pekat. Sementara Arga, setelah mengantar Bimo ke pintu gang, memilih untuk kembali menata napas dan menjalani kenyataan hidupnya. Baginya, terlepas dari pusaran masalah gila yang melibatkannya sebagai "Bimo Palsu", roda kehidupan nyata harus tetap berputar. Ia masih harus memikirkan kebutuhan perutnya sendiri dan kelangsungan bayar sewa kontrakan bulan depan.

Pagi harinya, suara ketukan pintu kayu membuyarkan lamunan Arga yang baru saja selesai merapikan kasur lipatnya.

Klek.

Sesosok pemuda bertubuh jangkung dengan rambut agak berantakan berdiri di ambang pintu. Ia adalah Yudi, kawan tetangga kontrakan Arga yang bekerja sebagai buruh harian di pasar setempat.

"Bro! Masih melamun aja lu di kamar!" seru Yudi santai sambil menyandarkan bahunya di kusen pintu.

Arga tersenyum tipis, merapikan kaus oblongnya. "Kaget gue, Yud. Ada apaan pagi-pagi udah gedor pintu?"

"Nih, gue bawa kabar bagus buat lu," ujar Yudi seraya menyodorkan selembar brosur kertas agak kusam yang baru saja ia ambil dari saku celananya. "Kemarin pas gue lewat daerah jalan raya utama, gue nyomot ini brosur di depan kantor yayasan."

Arga menerima brosur tersebut, matanya menelusuri tulisan tebal berbingkai hitam di lembar kertas itu.

"Yayasan Penyalur Tenaga Kerja Garuda Mandiri... Butuh cepat Anggota Satpam/Security?" baca Arga pelan.

"Iya, persis!" pangkas Yudi penuh semangat. "Gue inget lu kan lagi nyari kerjaan tetap habis tempat kerjaan lu yang lama tutup. Lu punya ijazah SMA, badan tegap, tinggi, terus jago silat. Pas banget itu syarat-syaratnya sama fisik lu!"

Arga menatap brosur itu dengan cermat, menimbang-nimbang setiap kriteria yang tertera. "Beneran ini, Yud? Proses masuknya cepat enggak?"

"Cepat banget, Wa! Maksud gue, Arga!" sahut Yudi terkekeh pelan. "Yayasan ini penyalur resmi, langsung wawancara hari ini juga kalau berkas lu lengkap. Daripada lu nganggur terus di kontrakan, mending coba melamar sekarang!"

Arga mengangguk mantap. Rasa semangat kembali menyelimuti dadanya. Baginya, pekerjaan halal apa pun tidak masalah selama bisa menghasilkan uang untuk menyambung hidup.

"Oke deh, Yud. Makasih banyak ya brosurnya! Gue mau rapi-rapi sama nyiapin berkas sekarang," ujar Arga mantap.

"Sip! Semoga tembus ya, Bro! Kalau keterima, jangan lupa traktir kopi!" seloroh Yudi seraya melambaikan tangan dan berjalan kembali ke kontrakannya.

Tanpa membuang waktu, Arga melangkah menuju lemari plastik di sudut kamar. Ia mengeluarkan map merah berisi berkas-berkas penting pribadinya. Di dalam berkas ijazah, sertifikat pelatihan, hingga kartu identitas resminya, tercetak nama lahir yang diberikan oleh pengurus panti asuhan dulu, Arga Dewa Putra. Di dunia kerja formal, ia adalah Arga, seorang pemuda yang siap bekerja keras dari nol.

Setelah mengenakan kemeja putih polos yang disetrika rapi dan celana bahan berwarna hitam, Arga meluncur menuju alamat Yayasan Garuda Mandiri mengendarai sepeda motor matik tuanya.

Suara bising kendaraan di kantor yayasan yang terletak di pinggir jalan protokol menyambut kedatangan Arga. Gedung dua lantai itu tampak sibuk oleh puluhan pelamar kerja yang mengantre dengan pakaian serupa. Arga mendaftarkan diri di loket pelayanan, menyerahkan berkas, lalu menunggu giliran panggilan wawancara di ruang tunggu yang ber-AC dingin.

Dua jam berlalu hingga namanya dipanggil melalui pengeras suara internal.

"Atas nama Arga Dewa Putra, silakan masuk ke Ruang Wawancara B," ujar seorang staf wanita.

Arga berdiri, membetulkan letak kerah kemejanya, lalu melangkah tegap memasuki ruangan berukuran lima kali lima meter tersebut. Di balik meja kayu besar, duduk seorang pria paruh baya berkacamata tebal dengan papan nama bertuliskan 'Hendra - HRD Yayasan Garuda Mandiri'.

"Selamat pagi, Pak," tegur Arga sopan sambil menundukkan kepala sedikit.

"Selamat pagi. Silakan duduk, Saudara Arga," balas Pak Hendra dengan ramah seraya menunjuk kursi kosong di hadapannya.

Arga duduk dengan postur tubuh yang sangat tegap dan lurus. Pak Hendra mulai membuka map berkas milik Arga, membaca lembar demi lembar dengan teliti.

"Arga Dewa Putra... Umur dua puluh empat tahun, lulusan SMA Nusantara," gumam Pak Hendra membaca baris demi baris dokumen. "Di sini tertulis Anda memiliki sertifikat dasar beladiri dan pelatihan fisik?"

"Betul, Pak. Saya berlatih beladiri sejak kecil di panti asuhan, dan saya pernah mengikuti pelatihan kedisiplinan fisik dasar," jawab Arga tegas dan lugas, suaranya mantap tanpa ada keraguan.

Pak Hendra mendongak, menyapu penampilan fisik Arga dari bahu yang tegap, dada yang lapang, hingga raut wajahnya yang tampan namun memancarkan kesan ketegasan dan kejujuran.

"Postur tubuh Anda sangat ideal untuk posisi petugas keamanan," puji Pak Hendra mengangguk-angguk puas. "Tinggi badan Anda berapa, Arga?"

"Seratus delapan puluh dua sentimeter, Pak," sahut Arga cepat.

"Bagus sekali. Kami saat ini sedang membutuhkan penempatan mendadak untuk posisi anggota Satpam di salah satu gedung perkantoran klien utama kami di pusat kota. Penempatannya membutuhkan orang yang tidak hanya berfisik kuat, tapi juga berpenampilan rapi dan sigap."

Arga menggaruk tangannya yang tidak gatal, matanya berbinar menaruh harapan besar. "Saya siap ditempatkan di mana saja dan bekerja dalam shift apa pun, Pak."

Pak Hendra tersenyum tipis, lalu menutup map berkas Arga dan menggesernya ke tepi meja. Pria HRD itu mengambil sebuah pulpen dan menandatangani lembar lembar formulir persetujuan penempatan kerja.

"Saya sudah meninjau berkas Anda dan melihat kualifikasi fisik Anda yang sangat memenuhi syarat," tegas Pak Hendra. "Secara administrasi dan kualifikasi, Anda kami terima sebagai anggota Satpam di bawah naungan Yayasan Garuda Mandiri."

Dada Arga berdesir gembira, rasa lega yang luar biasa terpancar di matanya. "Alhamdulillah... Terima kasih banyak, Pak Hendra!"

Pak Hendra bangkit berdiri dari kursi kerjanya, mengulurkan tangan kanannya melintasi meja kerja. Arga dengan sigap ikut berdiri dan menyambut uluran tangan tersebut.

"Selamat bergabung di yayasan kami, Arga," ucap Pak Hendra mantap seraya menjabat erat tangan Arga. "Pengambilan seragam dinas dan surat penempatan kerja bisa Anda urus di bagian logistik lantai satu sekarang. Jadwal tugas pertama Anda akan dimulai besok pagi."

"Baik, Pak! Terima kasih atas kepercayaannya," sahut Arga seraya tersenyum lebar, menjabat erat tangan HRD tersebut dengan rasa syukur yang membuncah di dalam dadanya.

1
Dian Paramita Dewi
Salam kenal, bantu like ya Kak 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!