NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak Dengan Ceo Dingin Mantan Kaka Iparku

Pernikahan Kontrak Dengan Ceo Dingin Mantan Kaka Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Atha Diyuta

Alena tidak pernah menyangka akan dinikahi oleh Aditya Pradana, CEO dingin yang juga mantan kakak iparnya.

Tujuannya satu: menjadi ibu untuk Sean, anak tiri berandal yang membencinya setengah mati.

Sean melakukan segala cara untuk mengusir Alena.

Balapan liar, berkelahi, membolos.

Tapi Alena yang berjilbab ini tidak takut.

Ia lawan balik Sean di arena balap dan di lapangan futsal.

Hingga Sean diam-diam kagum dan berbisik, "Siapa sebenarnya kamu, Bunda?"

Di sisi lain, Aditya Pradana yang dibantu Rendra, mulai menyadari...

Adik iparnya yang dulu pendiam itu, kini menjadi wanita yang tidak bisa ia lepaskan.

Pernikahan kontrak ini, apakah akan berakhir dengan cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

Tak kuasa mendengar sudah Sean,Alena memutuskan untuk pulanh.Namun Alena tidak sadar bahwa ternyata Sean mengikuti Alena secara diam diam.

"Sean,kamu kenapa kesini nak?" tanya Alena dengan lembut.

"BERISIK! Jangan panggil aku anak! Gue denger besok lo mau nikah sama bokap gue kan? Akhirnya kesampaian ya jadi Nyonya CEO setelah 10 tahun ngarep harta bokap gue? Dasar matre!"

Sean mengulangi kalimat yang ia sempat ucapkan dirumah.

Ucapan Sean yang menyebut Alena matre itu menghantam jantung Alena lebih keras daripada dorongan fisik semalam.

Alena terdiam.

Tubuhnya yang kecil di bawah hijabnya yang sederhana membeku di depan gerbang kontrakan. Hujan rintik mulai turun membasahi gamis sederhananya, tapi ia tidak bergerak. Kata-kata "matre" dari mulut anak yang ia rawat sejak bayi, yang ia gendong saat demam, yang ia suapi bubur dengan tangannya sendiri, terasa seperti ribuan jarum yang menusuk ulu hatinya secara bersamaan.

Sean menatap Alena dengan tatapan benci yang meluap-luap, tatapan seorang remaja 17 tahun yang sedang mencari pelampiasan atas semua kemarahan pada dunia, pada papanya yang dingin, pada ibunya yang telah meninggal.

"Sean..." suara Alena akhirnya keluar, parau dan bergetar hebat. Air matanya bercampur dengan air hujan di pipinya. "Nak... ibu..ibu tidak matre, nak. Ibu melakukan ini semua demi kamu, Sean. Demi kebaikan kamu... Ibu tidak mau kamu dikirim ke Inggris... Ibu tidak mau kehilangan kamu..."

Sean tertawa sinis, tawa yang sangat mirip dengan tawa dingin Aditya. "Demi gue? Alasan klasik! Semua cewek matre bilang gitu! Lo pikir gue bodoh? Lo nikah sama bokap gue biar bisa tinggal di rumah mewah, biar bisa pakai tas branded, biar gak jualan kue lagi di gang sempit ini!"

Setelah mengatakan itu, Sean menggeber Ducatinya dengan kasar, memercikkan air hujan dan lumpur ke gamis Alena.

Alena masih terdiam di luar, sendirian, dalam hujan. Ia memeluk dirinya sendiri. Ya Allah, apakah memang aku terlihat seperti wanita matre di mata Sean? Padahal demi anak itu, aku rela mengubur semua perasaan cintaku sendiri.

Dengan langkah gontai, Alena masuk ke dalam kontrakannya yang kecil dan lembab. Ia duduk di atas sajadah, dan menangis sejadi-jadinya hingga matanya bengkak.

Di sisi lain kota, di dalam penthouse mewah lantai 42, Aditya Pradana baru saja mendapat laporan dari satpam kontrakan Alena melalui telepon.

"Pak, Bu Alena dan Sean bertengkar lagi, Pak. Sean menyebut Bu Alena matre."

Aditya yang sedang berdiri menatap hujan dari jendela kaca raksasanya, menghela napas panjang dan berat. Wajah dinginnya sedikit mengeras. Ia segera menelepon asisten pribadinya, Rendra.

"Rendra, urus pernikahan saya besok pagi. Sewa KUA dekat kantor, siapkan dua saksi, dan buatkan surat kontrak pernikahan. Saya mau semuanya selesai sebelum jam 10 pagi. Tidak ada resepsi, tidak ada pesta, tidak ada media yang tahu. Buat yang sesederhana mungkin," perintah Aditya dengan suara datar tanpa emosi.

"Baik, Pak Aditya. Untuk isi kontraknya, Pak?" tanya Rendra yang sudah terbiasa dengan perintah-perintah mendadak dan dingin dari bosnya.

"Isinya dua poin utama. Pertama, pernikahan ini hanya kontrak sampai Sean berusia 20 tahun. Setelah Sean 20 tahun dan sudah lulus SMA serta sudah bisa mengurus perusahaannya, Alena harus meninggalkan saya dan Sean, dengan kompensasi yang akan saya siapkan. Kedua, beri Alena waktu 3 bulan. Dalam 3 bulan itu, dia harus bisa membuat Sean berubah, berhenti berandal, kembali sekolah dengan benar, dan berhenti balap liar. Jika dalam 3 bulan dia gagal, kontrak batal dan Sean tetap saya kirim ke Inggris. Tulis dengan jelas," jelas Aditya.

"Siap, Pak. Akan saya siapkan malam ini juga."

Setelah menutup telepon, Aditya menatap foto mendiang istrinya, Ratna, kakak Alena, yang terpajang di meja kerjanya. "Ratna, maafkan aku. Aku harus melakukan ini. Aku tidak bisa lagi mengurus Sean sendirian. Adikmu... dia satu-satunya harapan."

Malam itu, Alena tidak bisa tidur.

Ia berbaring di atas kasur tipis di kontrakannya, menatap langit-langit yang bocor di beberapa bagian. Pikirannya berkecamuk hebat. Suara hujan, suara Sean yang membanting pintu, kata-kata Aditya yang dingin, dan kata-kata Sean yang menyebutnya matre, semuanya berputar-putar di kepalanya seperti badai.

Ia terus meyakinkan dirinya sendiri berulang kali, seperti sedang berdzikir.

Keputusan yang aku ambil sudah tepat, Alena. Kamu melakukannya demi kebaikan Sean. Bukan demi harta. Bukan demi menjadi Nyonya CEO. Kamu melakukannya karena kamu menyayangi Sean seperti anak kandungmu sendiri. Kamu sudah merawatnya sejak ia tidak bisa apa-apa. Kamu tidak boleh menyerah sekarang hanya karena ia menyebutmu matre. Anak berandal itu butuh kasih sayang, bukan amarah. Aditya yang dingin itu juga butuh seseorang yang bisa melunakkan hatinya. Ya Allah, kuatkan aku. Bimbing aku. Jika ini memang jalan terbaik untuk Sean, maka aku ikhlas, Ya Allah. Aku ikhlas dinikahi CEO dingin sekalipun.

Ia terus mengulang-ulang kalimat itu sampai akhirnya ia tertidur karena kelelahan menangis, sekitar jam 3 pagi, dengan sajadah masih terhampar di sampingnya dan air mata yang masih membekas di pipinya.

Alena memutuskan untuk mandi karena badannya terasa begitu lemas dan ia harus menyegarkan dirinya sebelum solat subuh.

Pagi harinya, jam 6 pagi, ketukan keras terdengar di pintu kontrakan Alena.

Alena yang sempat ketiduran setelah solat terbangun dengan kaget, matanya bengkak dan berat. Ia membuka pintu dan melihat seorang pria rapi dengan setelan jas abu-abu berdiri di sana, membawa payung besar.

"Selamat pagi, Bu Alena. Saya Rendra, asisten pribadi Pak Aditya. Saya diutus Pak Aditya untuk menjemput Ibu ke KUA. Pernikahannya jam 9 pagi ini," kata Rendra dengan sopan, tapi tetap profesional.

Alena mengangguk gugup. "I... iya, Pak. Sebentar saya siap-siap."

Alena masuk ke dalam, mandi dengan air dingin, lalu mengenakan kebaya yang sudah ia siapkan semalaman. Kebaya kutu baru berwarna cream sederhana, bukan kebaya mewah desainer, hanya kebaya biasa yang ia beli di pasar Tanah Abang dengan uang tabungannya. Ia memoleskan make up yang sangat sederhana, hanya bedak tipis, lipstik pink natural, dan sedikit celak di matanya untuk menutupi bengkaknya. Hijabnya ia kenakan dengan rapi. Ia terlihat cantik dalam kesederhanaannya, cantiknya seorang wanita yang tulus.

Jam 7.30, Rendra menjemputnya dengan mobil Alphard hitam mengkilap. Alena yang seumur hidup hanya naik angkot dan ojek online, merasa sangat canggung duduk di dalam mobil mewah itu. Sepanjang perjalanan, ia terus beristighfar.

Jam 8.55, mereka sampai di KUA kecil yang sederhana di daerah Kuningan. Aditya sudah menunggu di sana, mengenakan kemeja putih bersih dan celana bahan hitam, tanpa jas. Wajahnya tetap sedingin biasanya, bahkan di hari pernikahannya sendiri. Sean tidak ikut. Sean menolak mentah-mentah saat diajak Rendra pagi tadi.

"Gue ogah lihat pernikahan matre itu!" begitu kata Sean.

Proses ijab kabul berlangsung sangat cepat dan hening.

Penghulu mengucapkan dengan khidmat, Aditya mengucapkan ijab dengan suara tegas dan lancar tanpa gugup, Alena mengucapkan kabul dengan suara bergetar menahan tangis.

Sah.

Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada ucapan selamat yang meriah. Hanya tanda tangan di atas buku nikah. Rendra dan satu staf KUA menjadi saksi.

Setelah menikah, tanpa resepsi dan tanpa pesta, tanpa foto-foto pernikahan di pelaminan, mereka langsung keluar dari KUA. Hujan sudah berhenti, tapi langit masih mendung.

Di parkiran KUA, Aditya membuka map hitam yang dibawa Rendra sejak tadi. Ia menyodorkannya kepada Alena.

"Alena, tanda tangani ini," kata Aditya dingin.

Alena membuka map itu. Di dalamnya ada surat kontrak nikah bermaterai.

Matanya membaca dengan cepat dan jantungnya berdebar semakin kencang.

Isinya jelas: _Poin 1: Pihak Kedua (Alena) setuju untuk meninggalkan Pihak Pertama (Aditya) dan anaknya (Sean) setelah Sean berusia 20 tahun, dengan kompensasi uang pisah sebesar 500 juta rupiah. Poin 2: Pihak Kedua diberi waktu 3 bulan terhitung sejak tanggal pernikahan untuk membuat Sean berubah menjadi pribadi yang lebih baik, disiplin, kembali bersekolah dengan normal, dan berhenti dari pergaulan balap liar dan berandal. Jika dalam 3 bulan gagal, maka Pihak Pertama berhak mengirim Sean ke sekolah militer di Inggris dan menceraikan Pihak Kedua tanpa kompensasi._

Tangan Alena gemetar memegang pulpen.

Jadi ini. Pernikahan tanpa cinta ini benar-benar hanya kontrak. Ia hanya dipinjam selama 3 tahun, sampai Sean 20 tahun, dan ia hanya diberi waktu 3 bulan untuk membuktikan bahwa kasih sayangnya bisa mengubah anak tirinya yang berandal itu.

Sean yang sedari tadi mengintip dari dalam mobil Alphard karena akhirnya ikut dijemput paksa oleh Rendra, keluar dari mobil. Ia berjalan mendekati Alena yang masih memegang kontrak itu.

"Tanda tangan aja, Bunda matre," kata Sean dengan nada mengejek, tapi matanya sedikit berkaca-kaca menatap Alena yang memakai kebaya. "Buktiin kalau lo memang bisa bikin gue berubah dalam 3 bulan. Kalau gagal, lo pergi dan jangan pernah balik lagi."

Alena menatap Sean, lalu menatap Aditya yang dingin. Air matanya menetes lagi, kali ini jatuh tepat di atas materai kontrak itu.

Dengan Bismillah yang lirih di dalam hati, Alena menandatangani surat kontrak itu.

Hari pernikahannya, hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi seorang wanita, justru menjadi hari di mana ia menandatangani surat perjanjian untuk pergi.

Aditya melihat tanda tangan itu, mengangguk puas. "Bagus. Sekarang kamu resmi jadi istri kontrak saya. Ayo pulang. Urus Sean. Waktu 3 bulanmu mulai hari ini."

Alena menggenggam buku nikah yang masih hangat itu erat-erat. 3 bulan, Ia hanya punya 3 bulan untuk mengubah anak berandal yang membencinya, dan meluluhkan hati CEO dingin yang tidak mencintainya.

Mampukah ia?

*Besambung...*

1
Atha Diyuta
trimakasih kk😊
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍
Atha Diyuta
Karya terbaruku bantu ramaikan teman-teman ☺️☺️
Atha Diyuta: oke siap ka diperbaiki trimakasih kk ☺️☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!