Bagi Aris dan ibunya, Tita adalah istri sempurna: kaya, penurut, dan sabar. Saat Tita divonis tak bisa memberi keturunan, mereka berlagak menerima dengan lapang dada. Padahal di belakangnya, Aris diam-diam menikah siri demi mendapatkan anak sambil terus menikmati kemewahan dari uang Tita.
Mereka pikir Tita bodoh. Padahal, Tita sudah tahu segalanya.
Tanpa air mata atau labrakan emosional, Tita tersenyum dingin. Ia mulai memutus aliran dana, merebut asetnya, dan menjebak bisnis Aris ke jurang utang.
"Kalian pikir bisa hidup mewah di atas penderitaanku? Mari kita lihat seberapa lama kalian bertahan tanpa sepeser pun uangku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skenario
Layar tablet di atas meja kerjaku menampilkan siaran langsung CCTV beresolusi tinggi dari area ruang tamu rumah megahku di kawasan elit Selatan Jakarta. Aku menyandarkan punggungku di kursi kerja kulit, menyesap kopi hitam tanpa gula, sembari menonton drama babak berikutnya yang terhampar tanpa perlu kudatangi langsung.
Di layar, tampak Mama Rahma berjalan bolak-balik dengan langkah panik dan wajah pias. Wanita tua itu baru saja pulang dari area restoran usai siuman dan mendapati anaknya sudah mendekam di sel tahanan kepolisian. Namun, kepanikannya mendadak berubah menjadi horor murni ketika pintu depan rumah diketuk keras dan sosok Larasati melangkah masuk tanpa diundang.
Gadis dua puluh tahun itu datang dengan mata sembab, wajah memerah, dan sisa kemarahan dari penolakan telak yang baru saja ia terima dariku di kantor Glowinc Group.
"Mama!" jerit Larasati begitu menapakkan kaki di ruang tamu yang megah itu. Tangannya menghempaskan tas desainer pemberian Aris ke atas sofa kulit.
Mama Rahma terlonjak kaget. Ia bergegas berlari menghampiri Larasati, memegangi kedua lengan gadis itu sembari menengok ketakutan ke arah pintu utama.
"Laras! Kamu ngapain ke sini, Nak?!" bisik Mama Rahma dengan suara gemetar panik. "Pelankan suaramu! Nanti Tita mendadak pulang dan lihat kamu di sini!"
"Saya nggak peduli, Ma!" potong Larasati galak, menepis tangan Mama Rahma.
"Saya baru saja dari kantornya wanita itu! Dan Mama tahu apa yang dia katakan?! Dia menolak mentah-mentah untuk kasih uang sepeser pun buat anak saya! Dia malah menyuruh saya minta tanggung jawab ke Mama dan Mas Aris!"
Mama Rahma membelalakkan mata, menelan ludah kasar. "K-kamu nekat datang ke kantornya Tita?! Kamu gila, Laras?! Kamu nggak tahu seberapa berkuasanya wanita itu?!"
"Lalu saya harus bagaimana, Ma?!" cecar Larasati histeris, menyapu air mata di pipinya. "Mas Aris masuk penjara! Restorannya disegel! Apartemen saya belum dibayar bulan ini! Mama dan Mas Aris bilang Mas Aris itu pengusaha kaya raya, tapi ternyata semuanya punya Tita! Sekarang saya hamil anak Mas Aris, saya butuh uang buat hidup dan melahirkan!"
Mendengar sebutan anak Mas Aris, ekspresi panik di wajah Mama Rahma sempat melunak sekilas. Bagaimanapun juga, janin di dalam kandungan Larasati adalah darah daging Aris cucu yang sangat ia idam-idamkan selama bertahun-tahun karena Tita tidak bisa memberikan keturunan.
Mama Rahma meraih jemari Larasati, mengelusnya dengan raut wajah memohon.
"Iya, Nak... Mama paham, Mama mengerti," ucap Mama Rahma dengan nada menenangkan yang dibuat-buat. "Mama janji, Mama pasti bakal bertanggung jawab penuh atas anak yang kamu kandung ini. Ini cucu pertama Mama, darah daging keluarga Pratama. Mama gak akan biarkan kamu dan bayi ini telantar."
Mata Larasati berbinar seketika, mengira ia telah menemukan titik terang. "Beneran, Ma? Mama mau tanggung jawab?"
"Iya, pasti!" tegas Mama Rahma mantap. "Tapi ada syaratnya, Laras. Sekarang kamu harus pergi dari rumah ini dulu. Jangan pernah datang atau kelihatan di rumah ini lagi!"
Larasati mengerutkan keningnya, raut wajahnya seketika berubah curiga. "Kenapa saya harus pergi? Ini kan rumahnya Mas Aris juga!"
"Bukan, Laras! Kamu gak mengerti!" cecar Mama Rahma dengan napas memburu, suaranya makin merendah ketakutan. "Rumah ini... sertifikatnya masih atas nama perusahaan keluarga Tita! Sampai detik ini, Tita belum menghubungi Mama atau mengusir Mama dari rumah ini. Posisi Mama di sini itu sangat terancam! Kalau Tita mendadak pulang dan lihat kamu ada di sini, Tita bisa makin murka! Mama bisa langsung diusir malam ini juga ke jalanan!"
Dari balik layar tablet di ruang kerjaku, aku tersenyum tipis menyaksikan keputusasaan wanita tua itu. Mama Rahma tahu betul bahwa ia sedang menumpang di atas tanah kekuasaanku, dan keberadaannya di rumah itu hanya menunggu waktu sebelum aku melempar seluruh pakaian dan barang-barangnya keluar.
Mama Rahma merogoh tas tangannya dengan terburu-buru, mengeluarkan dompetnya, lalu mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu tersisa sisa-sisa uang simpanannya dan memaksakannya ke genggaman tangan Larasati.
"Nih, kamu pegang uang ini dulu buat sewa kontrakan kecil atau pulang ke rumah orang tuamu di kampung," bujuk Mama Rahma parau. "Nanti kalau masalah Aris di polisi sudah agak tenang, Mama bakal cari cara buat kirim uang bulanan ke kamu. Yang penting sekarang kamu pergi jauh-jauh dari rumah ini! Biar posisi Mama aman dulu!"
Larasati menatap beberapa lembar uang ratusan ribu di tangannya. Matanya membelalak lebar dalam rasa hina dan ketidakpercayaan yang luar biasa. Uang beberapa ratus ribu untuk wanita yang terbiasa diberi fasilitas apartemen mewah oleh Aris?.
"Cuma segini?!" jerit Larasati, melempar lembaran uang itu ke wajah Mama Rahma hingga berserakan di lantai marmer. "Mama pikir saya pengemis?. Mama janji mau tanggung jawab, tapi cuma kasih uang receh begini dan menyuruh saya tinggal di kontrakan kumuh?."
"Laras! Tolong jangan teriak-teriak!" desis Mama Rahma panik setengah mati. "Mama cuma punya uang segini sekarang! Aris lagi ditahan, rekeningnya dibekukan."
"Saya nggak mau tahu!" gertak Larasati dengan nekat. Ia malah melangkah lebar menuju area tangga, lalu mengempaskan tubuhnya dengan santai di atas sofa empuk ruang tamu. Ia menyilangkan kakinya dengan angkuh. "Saya nggak akan pergi dari rumah ini! Mulai hari ini, saya mau tinggal di sini bersama Mama."
Deg.
Mama Rahma membeku di tempatnya berdiri. Wajahnya seketika memerah padam oleh kombinasi rasa terkejut dan kemarahan yang mendidih. "K-kamu bilang apa?."
"Saya bilang, saya mau tinggal di sini!" ulang Larasati dengan nada menantang, menatap sekeliling rumah mewah berlantai dua itu dengan mata lapar. "Rumah ini besar, kamarnya banyak, fasilitasnya lengkap! Saya ini sedang hamil calon cucu Mama! Daripada saya terlunta-lunta di luar tanpa uang, lebih baik saya tinggal di sini sama Mama sampai Mas Aris keluar dari penjara."
Kemarahan yang ditahan Mama Rahma sejak siang tadi akhirnya meledak total.
Topeng ibu mertua yang lembut dan ramah yang sempat ia pasang untuk membelai Larasati seketika hancur berkeping-keping. Mama Rahma melangkah cepat menghampiri sofa, lalu mencengkeram bahu Larasati dan menariknya berdiri dengan kasar.
"Kurang ajar kamu, ya!" bentak Mama Rahma dengan suara melengking memenuhi seluruh sudut ruangan. Matanya membelalak lebar menatap Larasati dengan kebencian murni. "Dasar wanita tidak tahu diri! Kamu pikir kamu siapa mau tinggal di rumah ini, hah?."
Larasati meringis kesakitan, berusaha mengempaskan tangan Mama Rahma. "Lepasin, Ma! Sakit! Ingat, di dalam perut saya ada anak Mas Aris."
"Bercermin kamu, Larasati!" murka Mama Rahma, menunjuk wajah Larasati dengan jari gemetar penuh emosi. "Posisi Mama di sini saja sudah di ujung tanduk! Mama ini masih diperbolehkan tinggal di rumah ini oleh Tita saja sudah untung! Tita belum menelepon untuk mengusir Mama itu sudah keajaiban! Dan kamu... wanita pembawa sial, malah mau numpang tinggal di sini dan bikin Tita makin murka kalau dia pulang?."
"Mama yang tidak tahu malu!" balas Larasati tidak mau kalah, berteriak tepat di depan wajah Mama Rahma. "Mama dan Mas Aris yang sudah menipu saya dari awal! Bilang pengusaha sukses, ternyata cuma menumpang hidup dari Tita. Sekarang setelah semuanya hancur, Mama mau buang saya begitu saja?."
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipi Larasati! Suara tamparan itu bergema nyaring lewat mikrofon CCTV yang terhubung ke tabletku.
Larasati memegang pipinya yang panas dan memerah, menatap Mama Rahma dengan mata membelalak tak percaya.
"Jangan pernah kamu sebut nama saya dan anak saya dengan nada seperti itu!" teriak Mama Rahma histeris, napasnya naik turun memburu. "Kalau bukan karena kamu yang gatal dan tidak bisa menahan diri, Aris tidak akan nekat bikin cek kosong buat beliin kamu apartemen dan barang-barang mewah itu! Kamu yang membuat anak saya hancur! Kamu pembawa sial di keluarga ini."
"Oh... jadi sekarang Mama menyalahkan saya?!" jerit Larasati histeris, air matanya menetes deras karena rasa sakit dan hinaan. "Bagus! Kalau Mama tidak izinkan saya tinggal di sini dan tidak mau kasih uang, saya bakal lapor ke polisi. Saya bakal seret nama Mama dan Jessica atas tuduhan menikmati uang hasil penggelapan Aris."
"Keluar!" jerit Mama Rahma bagaikan orang kesurupan. Ia mencengkeram tali tas Larasati dan menarik tubuh gadis itu secara paksa menuju pintu depan.
"Keluar kamu dari rumah ini! Keluar."
"Nggak mau! Lepasin!" Larasati mencoba bertahan, meronta-ronta dan saling jambak dengan Mama Rahma di dekat pintu utama.
Dua wanita yang dulu saling bersikap manis demi memanfaatkan kekayaan yang bukan milik mereka itu, kini saling cakar dan adu mulut bagaikan binatang yang berebut sisa makanan di atas piring pecah.
Di dalam ruang kerja CEO Glowinc Group.
Aku menyaksikan adegan saling cakar itu dari balik layar tablet dengan senyuman dingin yang sangat puas. Aku meletakkan cangkir kopiku yang sudah kosong ke atas tatakan keramiknya.
Siska yang berdiri di samping mejaku juga ikut menyaksikan siaran langsung CCTV tersebut. Asistenku itu menggeleng-gelengkan kepala dengan raut jijik bercampur gembira.
"Bu Tita... apakah perlu saya perintahkan tim keamanan untuk mendatangi rumah dan melemparkan mereka berdua keluar sekarang juga?" tanya Siska menawarkan.
Aku menyandarkan punggungku, mengusap jemariku yang lentik.
"Tidak usah sekarang, Siska," sahutku pelan, suaraku sangat tenang namun penuh perhitungan. "Biarkan mereka menikmati kekacauan yang mereka ciptakan sendiri beberapa saat lagi. Biarkan Larasati menyadarkan Mama Rahma bahwa cucu yang sangat diagung-agungkannya itu justru akan menjadi racun yang menghancurkan sisa hidup mereka."
Aku menatap layar tablet, melihat Mama Rahma yang berhasil mendorong Larasati keluar dari pintu depan dan langsung mengunci pintu kayu rapat-rapat, sementara Larasati menggedor-gedor pintu dari luar sambil menjerit-jerit histeris.
Mama Rahma terduduk lemas di lantai marmer di balik pintu, menangis histeris sembari memegangi dadanya yang sesak oleh kemarahan dan ketakutan akan kepulanganku sewaktu-waktu.
"Besok pagi tepat jam sembilan," perintahku tegas pada Siska. "Bawa tim pengacara, tim kurator penyita aset, serta sepuluh personel sekuritas ke rumah itu. Kita lakukan pembalikan nama sertifikat, sita seluruh isi brankas dan perhiasan yang tersisa, lalu keluarkan Mama Rahma dari rumah saya tanpa membawa selembar baju mahal pun."
Siska mengangguk mantap dengan binar mata puas. "Siap, Bu Tita. Semuanya akan dilaksanakan sesuai instruksi."
Aku mematikan layar tablet, menutup siaran CCTV tersebut. Ruang kerjaku kembali sunyi dan tenang.
Aris sudah mendekam di balik jeruji besi, Larasati hancur dan terlunta-lunta dan Mama Rahma kini hidup dalam ketakutan hebat di dalam rumah yang sebentar lagi akan dirampas kembali.
Pembalasan dendamku berjalan sangat rapi, tanpa noda dan tanpa ampun.
tp bgus lh...saatnya ngejar cntamu kmbli y felix...
dlunya nabur kjhtan,skrng mnuai akibtnya....slmt jd gembel.....😛😛😛
😂😂😂 jgn sampe deh pindah ke jempol kaki ,, 😁😁😁😁
tu laa akibat dr keserakahan berkedok pengen punya anak ,, 😒😒😒😒
😱😱😱😱😱
pdahl msh byk cara lain supaya punya anak ,, bisa adopsi anak kn ,, emnk dasar pgen selingkuh aj ,, 😒😒😒😒
tp yg pling ngeri,nsibnya aris d pnjra.....scra kknya tita udh blik buat ngsih doa pljran......
udh buka aib sndri,skrng mlah msuk kandang singa......ga ykin kl pad kluar dia msih utuh.....🤣🤣🤣