Rangga Hidayat, anak tunggal konglomerat properti, kehilangan kedua orang tuanya dalam pembunuhan berencana yang dikamuflase sebagai kecelakaan. Ia sendiri hampir tewas, lalu dibuang di tepi hutan dekat Desa Sumbermulyo. Seorang nenek miskin, Saroh, menemukannya dan merawatnya dengan penuh kasih. Di desa terpencil itu, Rangga belajar hidup sederhana: bertani, beternak, bermain, dan berteman. Ia mengalami ejekan, candaan, persahabatan, dan cinta pertama. Perlahan ia tumbuh menjadi pemuda tang gigih. Ketika dewasa, ia merantau ke kota untuk bekerja, menyelidiki kematian orang tuanya, dan menghadapi konflik batin antara balas dendam dan pengampunan. Novel ini mengikuti perjalanan emosionalnya dari anak manja menjadi lelaki dewasa yang bijaksana, dengan latar pedesaan yang hangat dan intrik kota yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thomaz3235, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: BELAJAR MEMIKUL AIR DAN KERASNYA HIDUP
Rangga terbangun oleh kokok ayam jantan yang memecah keheningan subuh. Suaranya keras dan bergema di antara pepohonan, seperti alarm alami yang tidak bisa dimatikan. Ia membuka mata, mendapati cahaya matahari masih redup—hanya semburat jingga di ufuk timur yang mulai merambat. Nenek Saroh sudah bangun lebih dulu, seperti biasa. Dari dapur kecil, terdengar suara kayu api yang berderak dan aroma nasi gurih bercampur ikan asin yang mulai menggoda perut.
“Nak, bangun. Hari ini kau akan belajar pekerjaan paling penting di desa,” kata Nenek Saroh sambil membalik ikan di wajan tanah. Suaranya tenang tetapi tegas. “Kita akan turun ke sungai mengambil air. Di sini tidak ada keran, tidak ada pompa. Air adalah kehidupan. Tanpa air, kita tidak bisa masak, tidak bisa minum, tidak bisa mencuci. Jadi, kau harus belajar membawanya.”
Rangga mengucek mata, masih mengantuk. Tetapi ia segera bangkit. Tubuhnya masih terasa pegal, dan luka-luka di tangannya masih perih. Namun ia tidak ingin mengecewakan nenek. Ia mengenakan celana pendek kain yang diberikan Nenek—milik mendiang suaminya yang sudah meninggal bertahun-tahun lalu. Kaus oblong lusuh berwarna putih kusam, dengan beberapa lubang kecil di bagian ketiak. Sepatu mahalnya sudah hilang di hutan, jadi ia turun dari gubuk dengan kaki telanjang. Tanah basah oleh embun pagi terasa dingin dan lembut di bawah telapak kakinya, tetapi anehnya justru menyegarkan.
Nenek Saroh memberinya dua ember plastik besar berwarna biru tua, sudah tua dan penyok di sana-sini, dengan tali dari serat pohon kelapa yang dianyam kuat. “Ikuti Nenek. Jalannya licin karena embun, hati-hati jangan jatuh. Kalau jatuh, airnya tumpah, dan kau harus kembali lagi. Itu namanya kerja dua kali.”
Mereka berjalan menyusuri setapak tanah yang menurun. Di kiri-kanan, sawah menguning keemasan, siap panen dalam beberapa minggu. Padi-padi melambai-lambai ditiup angin pagi seperti lautan hijau yang bergelombang. Rangga melihat seekor burung bangau putih berdiri anggun di genangan air dengan satu kaki, lalu terbang perlahan saat mereka mendekat, sayapnya mengepak seperti kanvas putih di langit biru. Udara begitu bersih—tidak seperti di kota yang selalu pengap oleh asap kendaraan dan polusi pabrik. Di kejauhan, anak-anak desa sudah mulai bermain layangan, suara tawa mereka terdengar samar-samar.
“Nenek, kenapa kita tidak buat sumur saja di dekat rumah?” tanya Rangga sambil berusaha mengikuti langkah nenek yang cepat.
Nenek Saroh tertawa kecil, napasnya sedikit tersengal karena usia. “Air sumur di sini payau, Nak. Tidak enak diminum, malah bikin sakit perut. Kakekmu dulu pernah menggali sampai kedalaman lima belas meter, tapi yang keluar hanya air berlumpur dan berasa asin. Jadi kami pasrah. Sungai adalah anugerah. Kita harus bersyukur masih ada air jernih yang mengalir.”
Setelah lima belas menit berjalan, mereka tiba di tepi sungai. Sungai itu lebar, sekitar sepuluh meter, dengan aliran yang cukup deras. Airnya jernih kebiruan, sehingga terlihat dasar sungai yang berupa kerikil-kerikil halus dan ikan-ikan kecil berenang lincah. Di tepi sungai, beberapa perempuan desa sudah berkumpul. Ada yang mencuci pakaian dengan gerakan memukul-mukul batu, ada yang mencuci sayuran, dan ada pula yang sekadar mengobrol sambil tertawa-tawa. Mereka tersenyum melihat kedatangan Rangga.
“Wah, Saroh, ini anak yang kau temukan di hutan, ya?” tanya seorang ibu gemuk dengan kain batik lusuh, yang dipanggil Mbok Yem. Gigi depannya ompong, tetapi senyumnya ramah.
“Iya, Mbok. Namanya Rangga. Anak baik, mau membantu Nenek,” jawab Nenek Saroh dengan nada bangga.
“Mari sini, Le. Mbok kasih gula jawa nanti kalau sudah selesai,” kata Mbok Yem sambil terkekeh.
Rangga hanya menunduk, malu. Ia merasakan tatapan semua ibu-ibu itu padanya, tetapi tatapan itu bukan tatapan menilai—tatapan itu hangat, seperti keluarga besar yang menerima anggota baru. Ia kemudian menirukan gerakan Nenek—menyungkupkan ember ke air hingga penuh, lalu mengangkatnya. Ember pertama terasa ringan, mungkin karena ia sudah terbiasa mengangkat barang. Tetapi ketika ember kedua penuh, kedua lengannya langsung bergetar. Air tumpah ke mana-mana, membasahi celana pendeknya hingga basah kuyup.
“Nak, jangan digenggam erat-erat seperti itu. Taruh tali di pundak, gunakan bahu sebagai tumpuan. Biarkan beban tersebar di tubuhmu, bukan hanya di tangan,” bimbing Nenek Saroh sambil memperbaiki posisi tali di pundak Rangga.
Rangga mencoba mengikuti instruksi. Ember-ember air itu terasa lebih ringan ketika diletakkan di bahu, tetapi langkah pertamanya menanjak langsung membuatnya terhuyung-huyung. Tanah becek dan licin karena embun yang mencair, kakinya tergelincir di atas batu kecil. Ia jatuh terduduk, air di kedua ember tumpah hampir seluruhnya. Hanya tersisa sekitar sepertiga dari total air yang ia bawa.
“Aduh!” Rangga menggerutu. Telapak tangannya lecet karena tali serat yang kasar, dan lututnya tergores batu. Rasa sakit menyebar, tetapi yang lebih menyakitkan adalah rasa malu. Ibu-ibu di sungai yang melihat kejadian itu tertawa terbahak-bahak.
“Lho, kok anak kota begitu, Le? Belum terbiasa ya? Nanti kalau mau, main saja ke rumahku. Mbok punya tape ketan yang manis!” teriak Mbok Yem sambil memegangi perutnya karena tertawa.
Rangga merasa panas di pipinya. Ia anak konglomerat, dulu ia tidak pernah mengangkat apapun yang lebih berat dari sendok perak atau ponsel terbaru. Kini, membawa dua ember air saja sudah membuatnya jatuh seperti anak kecil yang baru belajar berjalan. Ia menatap Nenek Saroh dengan ekspresi campur aduk antara malu dan kesal.
“Nenek, kenapa Nenek bisa kuat?” tanyanya.
“Karena Nenek sudah melakukan ini selama empat puluh tahun, Nak,” jawab Saroh pelan, matanya menatap Rangga dengan penuh kasih. “Bukan karena Nenek kuat. Nenek tua, tulangnya sudah keropos. Tetapi Nenek terbiasa. Semua terasa berat di awal. Tetapi kalau kau lakukan setiap hari, ototmu akan tumbuh, kulitmu akan mengeras, dan hatimu akan ikut kuat. Ini pelajaran pertama di desa: jangan mengeluh. Kerja keras adalah ibadah. Tuhan tidak melihat hasil, tetapi Tuhan melihat usaha.”
Rangga menggigit bibir. Ia tidak mau kalah dari seorang nenek tua yang usianya tiga kali lipat usianya. Dengan susah payah, ia mengangkat kembali ember-ember yang masih setengah isi dan melanjutkan perjalanan menanjak. Setiap tiga langkah, ia berhenti sejenak untuk mengatur napas yang tersengal-sengal. Keringat mengucur deras dari pelipisnya, membasahi kausnya hingga menempel di dada dan punggung. Tetapi ia tidak menyerah. Dalam hatinya, ia terus mengulang kata-kata nenek: kerja keras adalah ibadah.
Ketika akhirnya tiba di gubuk, ia menjatuhkan ember-ember itu dengan suara gaduh, lalu duduk lunglai di teras. Kedua bahunya terasa seperti terbakar, dan tangannya gemetar hebat. Nenek Saroh yang datang belakangan dengan ember penuh—tanpa tumpah setetes pun—tersenyum melihatnya.
“Bagus, Nak. Besok kau akan membawa dua ember penuh, Nenek yakin. Hari ini kau membawa setengah, besok tiga perempat, lusa penuh. Yang penting kau tidak menyerah.”
Rangga mengangguk, matanya berkaca-kaca—bukan karena sedih, tetapi karena lelah yang belum pernah ia rasakan. Namun di dalam dadanya tumbuh rasa bangga yang asing. Ia, anak yang dulu selalu dilayani oleh pembantu, kini bisa melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri dan untuk neneknya. Ia merasakan keringatnya sendiri, merasakan kerja kerasnya sendiri, dan itu membuatnya merasa hidup.
Sepanjang hari itu, Nenek mengajari Rangga banyak hal lain: cara mencuci beras hingga airnya jernih, cara mengupas singkong tanpa membuang terlalu banyak daging, cara membersihkan kandang ayam dengan sekop kecil, dan cara membuat api dari kayu kering tanpa menggunakan korek. Semua terasa asing dan kadang menjijikkan—terutama saat tangannya masuk ke kotoran ayam. Tetapi Rangga melakukannya tanpa banyak protes. Ia mulai menyadari bahwa kehidupan di desa bukan tentang kemewahan, melainkan tentang ketahanan. Setiap tetes keringatnya hari ini adalah bayaran untuk secangkir air yang ia minum, untuk sebutir nasi yang ia makan.
Sore harinya, ketika matahari mulai condong ke barat dan langit berubah jingga keemasan, Rangga duduk di tepi sawah sambil melepas lelah. Angin sore berhembus sejuk, membawa aroma tanah basah dan jerami. Ia memandangi hamparan padi yang melambai, dan untuk pertama kalinya ia merasakan kedamaian yang ia tidak kenal di istana kacanya dulu.
Dari kejauhan, ia melihat tiga anak seusianya berlarian di antara padi, saling mengejar sambil tertawa. Salah satunya—seorang anak laki-laki berkulit gelap dengan senyum lebar dan rambut kribo—berlari ke arahnya. Anak itu berhenti tepat di hadapannya, napasnya tersengal-sengal karena lari.
“Hei, kau yang ditemukan Nenek Saroh di hutan?” tanya anak itu tanpa basa-basi. Matanya cokelat terang, penuh rasa ingin tahu.
Rangga mengangguk hati-hati. “Namaku Rangga.”
“Namaku Joko. Aku tinggal di rumah paling ujung desa, dekat pohon beringin. Mau ikut main?” Joko mengulurkan tangan kanannya—jari-jarinya kotor oleh lumpur dan sisa-sisa rumput.
Rangga ragu. Di istana dulu, ia tidak pernah main dengan anak seusia. Ia hanya main dengan robot mahal dan konsol game. Tetapi ia ingat nasihat nenek: “Di sini semua saudara. Jangan takut dengan tangan kotor, Nak. Yang kotor bisa dibersihkan, tetapi yang sombong sulit diobati.” Maka ia meraih tangan itu, bangkit dari duduknya, dan mengikuti Joko berlari menuju sawah.
“Kau bisa menangkap belalang kayu?” tanya Joko sambil membungkuk, matanya mengawasi batang padi dengan cermat.
Rangga menggeleng. “Belum pernah.”
“Hah! Anak kota, dasar!” Joko tertawa, tetapi bukan tawa mengejek. Ia malah mengajari Rangga dengan sabar. “Lihat, kau dekati pelan-pelan. Jangan sampai bayanganmu jatuh di atasnya, nanti dia kabur. Kau jepit sayapnya dengan ibu jari dan telunjuk, cepat dan pasti. Jangan terlalu keras, nanti mati. Kita tangkap hidup-hidup, lalu kita lepas lagi.”
Rangga mencoba. Kali pertama, tangannya hanya menyentuh lumpur. Kali kedua, belalang itu melompat tepat ke mukanya, membuat Joko terbahak-bahak sampai tersedu-sedu. Rangga tertawa juga—tawa yang jujur, tawa yang keluar tanpa beban. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan kegembiraan bermain di alam, tanpa layar ponsel, tanpa remote control. Hanya dirinya, teman, dan alam yang luas.
Mereka bermain sampai matahari benar-benar tenggelam di balik gunung. Langit berubah menjadi ungu dan merah, burung-burung kembali ke sarang, dan jangkrik mulai berbunyi. Rangga pulang ke gubuk dengan tubuh penuh lumpur, rambut acak-acakan, dan tawa masih tersisa di bibirnya. Nenek Saroh yang melihatnya tertawa pelan.
“Nak, kau sekarang benar-benar anak desa,” katanya sambil menyiapkan air hangat untuk mandi.
Rangga tersenyum. Di lubuk hatinya, ia merasa malam ini ia akan tidur lebih nyenyak daripada malam-malam sebelumnya. Bukan karena kelelahan, tetapi karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa ia memiliki tempat yang ia panggil rumah.
---
[Bersambung...]
---