"Aaaaaaa!"
Pekikan Amira membumbung tinggi begitu ia menyibak selimut. Pandangannya bergeser ke samping, dan jeritannya makin melengking melukai udara.
"Aaaaaa!"
"Aaaaaaaa!" Seorang pria di sebelahnya mendadak ikut berteriak panik. "Bajuku... bajuku mana?!"
Keduanya saling menoleh dengan napas memburu.
"Aaaaaaa!" jerit mereka bersamaan.
"Bajingan!" maki Amira seraya menunjuk pria itu.
"Kamu!"
"Kamu yang bajingan! Dasar Tante girang gila!" balik pria itu tak mau kalah.
"Apa katamu?!" Mata Amira membelalak lebar. Tangisnya mendadak pecah tanpa bisa ditahan. "Kamu pria bajingan! Kamu udah merusak aku!"
"Kamu yang mengambil keperjakaanku! Kenapa malah kamu yang menangis?" kata pria itu dengan santai. Tangannya meraba-raba area lantai, sibuk mencari celana tanpa peduli pada Amira yang terisak. Namun, gerakannya terhenti saat jarinya menyentuh cairan pekat berwarna merah. "Apa ini? Darah?"
Detik berikutnya, wajah pria itu pucat pasi. "Mamahah..." Giliran pria itu yang menangis sesenggukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Ratna menggertakkan giginya menahan geram. Ia kira Amira akan menjadi nurut dan patuh setelah menikah, tetapi nyatanya anak itu justru semakin membangkang dan melawan.
"Maafin Amira ya, Nak Raka..." ucap Ratna tulus dengan wajah tak enak hati.
"Enggak masalah, Tante," balas Raka bersikap dewasa di depan calon ibu mertuanya. "Sebenarnya Mamah dan Papah sempat marah waktu tahu aku melanjutkan pertunangan ini. Tapi karena melihat ketulusan Risma dan kebaikan Paman Angga, makanya aku ngotot mau melanjutkan perjodohan keluarga."
"Ya Allah... sekali lagi Tante ucapkan terima kasih banyak ya, Nak Raka."
"Iya Tante. Aku juga sedang mengusahakan agar perwakilan keluarga Perdana Holding bisa datang ke pesta nanti. Makanya Mamah dan Papah jadi semakin setuju... Hanya saja..." Raka menggantung ucapannya.
"Hanya saja apa, Nak? Kalau ada kekurangan, katakan saja," desak Ratna penasaran.
"Hanya saja... keluarga Perdana itu kan tidak bisa diundang sembarangan waktu. Harusnya tiga bulan sebelumnya kita sudah mengajukan undangan. Tapi karena ini mendadak, jadi sepertinya acara pernikahan harus diundur dua minggu lagi, Tante. Bagaimana?"
"Loh, kok diundur dua minggu sih, Nak?" Ratna kaget. "Tante kan sudah menyebarkan sebagian undangan ke kolega Tante. Jadwalnya minggu depan kalian menikah!"
"Itu semua gampang, Mah," potong Risma cepat. "Membangun relasi dan kerja sama dengan keluarga Perdana Holding itu jauh lebih penting daripada masalah tanggal!"
"Benar sayang, kamu tinggal konfirmasi saja ke teman-temanmu, beres kan?" tumpal Angga menguatkan. "Ingat, pesta ini menelan biaya besar, jadi hasilnya juga harus sepadan!"
"Baiklah, Mas," pasrah Ratna. "Kalau begitu kamu atur saja baiknya bagaimana ya... Aku takut konsep yang kubuat nanti malah tidak sesuai dengan kehendak Risma."
Angga tersenyum manis seraya mengelus pundak istrinya. "Kalau begitu baiklah, Sayang. Aku yang bakal siapkan acara pernikahan anak kita sebaik mungkin. Kalau sampai keluarga Perdana benar-benar datang, ini bisa jadi awal kejayaan besar buat keluarga kita!"
"Iya Mas, terima kasih..."
Usai makan malam bersama, Raka akhirnya pamit pulang. Risma mengantarnya sampai ke depan gerbang rumah. Tepat di luar pagar, mereka berpapasan dengan Luki yang baru saja selesai memarkirkan motor NMAX miliknya.
Raka mendengus sinis. "Enak banget ya... tukang ojek tapi punya istri CEO."
Luki menghentikan langkahnya. Ia menatap Raka secara teliti dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan pandangan mengintimidasi.
"Kenapa kamu lihatin aku begitu, hah?!" bentak Raka risih.
"Raka Karyana, kan?" gumam Luki santai.
"Ya! Memangnya kenapa?!"
"Hmm... Orang calon bangkrut tak layak bicara denganku," ucap Luki enteng seraya mengibaskan tangan.
"Apa maksud kamu?!" pekik Raka kesal setengah mati.
"Kamu itu calon orang bangkrut, tidak punya hak untuk menghina orang lain!"
"Dasar tukang ojek kurang ajar!" Raka melangkah lebar mendatangi Luki dan langsung melayangkan sebuah pukulan mentah ke arah wajahnya.
PUK!
Dengan gerakan sangat santai, Luki menggenggam pergelangan tangan Raka di udara. Raka mencoba berontak sekuat tenaga, tetapi cengkeraman tangan Luki rasanya persis seperti jepitan tang besi yang membakar.
"L-lepas!" ringis Raka kesakitan, matanya membelalak.
Luki menghentakkan tangan Raka ke samping hingga pria pesolek itu terhuyung hampir tersungkur ke tanah.
"Awas kamu ya, Tukang Ojek! Aku hajar kamu sampai hancur!" ancam Raka seraya memegang pergelangan tangannya yang memerah.
Luki menyingsingkan lengan jaket hijau ojolnya dengan santai. "Ayo, duel!" Luki menatap tajam persis seperti seorang prajurit siap tempur.
Melihat aura intimidasi Luki yang mendadak mengerikan, nyali Raka seketika ciut. Ia mundur dua langkah seraya menunjuk-nunjuk Luki dari jauh. "A-awas kamu ya! Ini semua belum berakhir...!"
Luki mengacungkan jari tengahnya ke udara, lalu mengubahnya menjadi jempol yang diputar ke bawah.
Tak tahan menanggung malu di hadapan Risma, Raka buru-buru masuk ke dalam mobil mewahnya dan langsung tancap gas pergi.
"Kenapa kamu jahat dan kasar sekali sama Mas Raka, hah?!" bentak Risma murka.
Luki menoleh pada adik tiri istrinya itu. "Kenapa emang?" ucap Luki santai. "Kamu juga jangan macam-macam denganku... Semua rekaman percakapan kamu waktu merencanakan jebakan buat Amira ada padaku. Termasuk bukti transfer yang kamu kirim, semuanya sudah kupegang."
Risma tersentak hebat, wajahnya pucat pasi. "Ka-kamu..."
"Hahaha!" Luki tertawa mengejek. "Kamu pasti nyesel setengah mati kan, Amira ternyata tidak tidur dengan pria tua, gemuk, dan bau menyan?"
"Kamu...!" Risma mengepalkan tangannya rapat-rapat.
Sebenarnya, itu semua hanya gertakan sambal Luki semata—Luki sama sekali belum memegang bukti fisik transferan tersebut. Namun, reaksi panik Risma sudah cukup menjadi bukti pembenaran baginya.
Luki lalu melangkah santai melintasi halaman, meninggalkan Risma yang menggertakkan gigi di depan gerbang. 'Pria ini... sepertinya dia orang yang sangat berbahaya!' batin Risma cemas luar biasa sebelum melangkah masuk ke rumah.
Di dalam rumah, Luki berjalan melewati Ratna dan Angga yang masih asyik ngobrol di ruang tamu. Karena Amira tidak menyukai Angga, Luki pun enggan menghormati pria itu. Tanpa menyapa, Luki langsung berjalan menaiki tangga menuju lantai atas. Di tangannya, melingkar kantong plastik hitam berisi dua bungkus nasi goreng.
Begitu pintu kamar dibuka, Luki melihat Amira sudah berganti pakaian menggunakan piyama tipis. Perempuan itu sedang duduk fokus menatap layar laptopnya.
Luki masuk ke kamar mandi, membersihkan diri, lalu berganti piyama tidur sederhana. Usai ganti baju, ia membuka dua bungkus nasi goreng di atas meja makan mini yang ada di sudut kamar Amira.
Luki mendekat, lalu menepuk pelan pundak Amira.
Amira sedikit bergidik kaget. "Kamu apaan sih!" kesal Amira seraya menoleh.
TAK. Luki langsung menutup layar laptop Amira dari atas.
"Aku lagi kerja! Kenapa malah ditutup?!" protes Amira melotot.
"Kamu belum makan malam, kan? Ayo makan dulu," panggil Luki lembut.
"Nanti saja, aku masih banyak kerjaan!"
"Sekarang."
"Nanti, Luki!"
"Sekarang! Atau kalau enggak mau sekarang, aku cium nih!" ancam Luki seraya mencondongkan wajahnya.
Amira mendengus dengan muka kesal. Namun, di sudut hati kecilnya, terbesit hangat yang tak tertahankan. Sudah sekian lama tak ada seorang pun di rumah ini yang peduli atau sekadar mengingatkannya untuk makan malam.
"Iya... iya, aku makan!" dengus Amira mengalah.
Mereka berdua lalu duduk berhadapan di meja makan mini. Begitu bungkusan dibuka, aroma gurih nasi goreng langsung menyeruak memenuhi kamar.
"Nasi gorengnya wangi banget... Sepertinya ini beli di restoran hotel bintang lima, ya?" tebak Amira mengendus aromanya.
"Benar sekali!" jawab Luki polos.
Amira mendelik. "Tuh kan... kamu mulai lagi!"
"Mulai apa?"
"Mulai sok kaya lagi! Ini itu jelas bukan berasal dari hotel bintang lima... paling cuma rasanya saja yang mirip!" omel Amira mengira Luki cuma gengsi.
Luki hanya terkekeh pelan. "Sudahlah, jangan dibahas makanan ini dari mana. Yang penting dimakan dulu."
"Ya udah, makan."
Mereka berdua pun menikmati nasi goreng dalam keheningan yang nyaman. Saat Amira mendadak tersedak, dengan sigap Luki menyodorkan segelas air putih. Saat ada sedikit bumbu menempel di sudut bibir Amira, Luki dengan telaten mengambil lembaran tisu dan menyekanya pelan. Perhatian-perhatian kecil Luki justru terasa jauh lebih romantis di mata Amira ketimbang rangkaian rayuan gombal.
Selesai makan, Amira merapikan bungkusannya. Mereka berdua lalu bergantian ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan menggosok gigi.
Begitu selesai, Amira berniat berjalan kembali ke meja kerjanya. Namun, Luki sudah lebih dulu berbaring di atas kasur king size.
"Hey, Ibu CEO... ingat janji kamu!" panggil Luki seraya menepuk-nepuk paha dan kasur kosong di sampingnya.
Amira menoleh. Dilihatnya Luki sudah berbaring miring sambil tersenyum menggoda padanya.
"Apaan sih... aku masih ada kerjaan," elak Amira gugup.
"Ayolah... Jangan sampai reputasi kamu sebagai CEO yang berintegritas jadi jatuh cuma gara-gara mengingkari janji sendiri," goda Luki lagi.
Dug-dug! Dug-dug!
Jantung Amira berdegup kencang. Ia merutuki dirinya sendiri dalam hati, kenapa semalam ia harus membuat aturan hukuman konyol yang justru menyiksa batin dan membuatnya se-nervous ini?
"Ayolah, Sayang... Jangan sampai kamu melanggar peraturan di malam pertama setelah aturan ini berlaku," tambah Luki dengan pandangan jahil.
Dengan langkah ragu dan wajah memerah, Amira berjalan mendekati tempat tidur. Ia memanjat kasur dan duduk agak jauh dari posisi Luki.
"Hey, cepatlah..." panggil Luki seraya merentangkan lengan kirinya lebar-lebar.
Amira beringsut pelan mendekati Luki. Luki mengedipkan matanya, melirik lengan kekarnya yang sudah siap menampung sang istri. "Ayo..."
Akhirnya, Amira pasrah membaringkan tubuhnya. Lengan kekar Luki resmi menjadi bantal kepalanya. Demi apa pun, dada Amira rasanya mau meledak karena detak jantungnya sendiri.
Tak berhenti di situ, Luki meraih tangan kanan Amira, lalu menempelkan jemari istrinya itu tepat di atas dadanya yang bidang.
"I-ingat ya... cuma pelukan!" bisik Amira cepat dengan napas tertahan.
Luki tersenyum teduh. "Iya... tenang saja. Sebelum kamu benar-benar siap, aku tidak akan pernah memaksa."
Jemari Luki bergerak pelan, mengelus lembut rambut panjang Amira. Pria itu menunduk sedikit, menghirup aroma wangi sampo yang menyeruak dari tubuh istrinya.
Di dalam dekapan hangat itu, perlahan-lahan rasa tegang Amira meluruh. Ketenangan yang aneh namun menentramkan menyelimuti jiwanya.
"Bagaimana harimu hari ini, Istriku?" bisik Luki lembut di dekat telinganya.