Lima tahun dipenjara. Enam puluh bulan tanpa satu pun kunjungan.
Keira Pratama keluar dengan kaki pincang, ginjal yang hilang, dan hati yang sudah membeku. Dia putri kandung keluarga konglomerat Pratama, tetapi sejak kecil dibuang ke panti asuhan, sementara Vanessa, anak orang lain, dimanjakan sebagai putri kesayangan.
Dulu, Vanessa mendorong seseorang dari tangga, tetapi Keira yang dipenjara. Mama-nya menghapus CCTV. Papa-nya menyuruhnya diam. Lucas, pria yang pernah dia cintai, justru menjadi orang yang mengirimnya ke balik jeruji.
Namun Keira yang kembali bukan lagi gadis penurut.
Saat rahasia mulai terbongkar, keluarga yang dulu membuangnya satu per satu hancur oleh penyesalan. Dan di saat semua orang meninggalkannya, Rayhan Hartono, pewaris Hartono Group, diam-diam berdiri di sisinya.
Kini mereka semua berlutut di bawah hujan.
Tapi bagi Keira, satu hal tetap belum terjawab: **apakah penyesalan mereka datang terlambat?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10
Gadis Berpisau Kupu-Kupu
Pagi berikutnya, Tante Mira menelepon putrinya dari lorong rumah sakit.
"Manda, Kak Keira akan keluar hari ini."
Di seberang, suara kursi bergeser keras. "Rumah sakit mana?"
"RS Pondok Indah. Tapi kamu masih ada kelas di Binus, kan?"
"Kirim nomor kamarnya."
Panggilan berakhir.
Kurang dari satu jam kemudian, suara sepatu bot berhenti di depan kamar Keira.
Amanda Maheswari berdiri di ambang pintu dengan rambut hitam sebahu, jaket kulit, celana gelap, dan helm motor di tangan. Tatapannya tajam ketika menyapu nomor kamar, perawat, serta dua petugas keamanan di koridor.
Namun saat melihat Keira, seluruh kekerasan di wajahnya hilang.
"Kak Keira."
Keira yang sedang duduk di sisi ranjang mengangkat kepala. Perban putih membungkus tangan kirinya. Tongkat penyangga diletakkan di samping kaki yang bengkok.
"Manda?"
Amanda berjalan cepat, lalu berhenti sebelum memeluk. Ia melihat infus, perban, jahitan di dahi, dan bertanya pelan, "Boleh aku peluk?"
Keira mengangguk.
Pelukan Amanda sangat hati-hati. Satu tangan melindungi punggung Keira, satu lagi tidak menyentuh sisi tubuh yang pernah dioperasi. Wajahnya tetap tersenyum ketika berbisik, "Aku datang terlambat."
"Kamu datang. Itu sudah cukup."
Amanda melepaskan pelukan dan berjongkok di depan Keira. Matanya jatuh pada kaki kiri yang tidak bisa menapak lurus.
"Sakit?"
"Sudah biasa."
"Jawaban jelek." Senyumnya masih lembut. "Mulai sekarang kalau sakit, bilang sakit. Tidak ada hadiah untuk orang yang paling pandai menahan."
Keira menatapnya beberapa detik. Nada itu mengingatkannya pada gadis remaja yang dulu diam-diam menyelipkan roti ke meja gudang, lalu mengancam anak-anak yang mengejek Keira di sekolah.
Tatapan Amanda berpindah ke perban tangan.
"Kelingkingmu?"
"Tidak ada lagi."
Senyum Amanda tidak runtuh. Hanya tangan kanannya masuk ke saku jaket.
Di dalam sana, jemarinya menggenggam gagang pisau kupu-kupu sampai buku jarinya memutih.
"Siapa?" tanyanya.
"Aku sendiri."
Amanda menarik napas perlahan. Ia tidak bertanya kenapa, seolah sudah mengerti bahwa rumah keluarga Pratama bisa mendorong seseorang membuat keputusan apa pun demi memutus ikatan.
"Kei, mulai sekarang aku yang menjagamu." Matanya tidak meninggalkan wajah Keira. "Siapa pun yang menyakitimu harus melewatiku dulu."
"Aku tidak mau kamu terluka karena aku."
"Itu pilihanku. Tapi aku janji tidak akan membuat keputusan tentang tubuhmu atau hidupmu tanpa bertanya."
Kalimat terakhir membuat dada Keira menghangat lebih kuat daripada janji balas dendam.
Pintu terbuka. Kevin masuk membawa pakaian bersih dan obat dari apotek rumah sakit. Langkahnya berhenti saat melihat Amanda.
"Siapa dia?" tanyanya kepada Tante Mira.
Tante Mira berdiri lebih tegak. "Putri saya, Tuan Kevin. Amanda."
Kevin menatap jaket kulit dan sepatu botnya. "Kenapa dia ada di kamar Keira?"
Amanda berbalik. Kelembutan di wajahnya lenyap begitu cepat sampai Kevin sempat mengira ia melihat orang berbeda.
"Oh," katanya dingin. "Jadi ini kakak yang 'menyayangi' adiknya sampai lima tahun tidak pernah menjenguk?"
Kevin terdiam.
"Aku bertanya baik-baik," katanya setelah jeda.
"Aku juga menjawab baik-baik. Kalau mau versi tidak baik, kita bisa bicara di luar."
Amanda menunjuk tas obat di tangan Kevin. "Rencana pulangnya bagaimana?"
"Keira kembali ke rumah. Ada perawat yang bisa kami panggil."
"Rumah tempat jarinya putus dan Tante Mira dipukul? Rencana yang hebat."
Kevin menahan napas. "Aku akan memastikan itu tidak terjadi lagi."
"Kemarin kamu memastikan dia sampai rumah sakit dengan ancaman. Hari ini jangan jual janji baru."
Amanda mengambil lembar petunjuk perawatan dari meja. Ia membaca jadwal obat, memotret nomor darurat, lalu bertanya langsung kepada Keira, "Kak Keira mau pulang ke mana?"
Kevin tampak hendak menjawab, tetapi Amanda mengangkat telunjuk.
"Aku bertanya pada pasiennya."
Keira memandang Tante Mira. "Aku perlu mengambil dokumen dari gudang. Setelah itu aku belum tahu."
"Baik. Kita ambil dokumennya. Sesudah itu Kak Keira bisa tinggal denganku kalau mau. Tidak perlu memutuskan sekarang."
Amanda mengembalikan kertas kepada Keira, bukan Kevin. Gerakan kecil itu membuat jelas siapa yang berhak menentukan.
"Manda," panggil Keira pelan.
Amanda langsung menoleh. "Ya, Kak Keira?"
Perubahan suaranya begitu nyata. Kepada Keira, hangat. Kepada Kevin, sedingin lantai rumah sakit.
"Aku mau udara segar."
Amanda mengambil tongkat dan meminta perawat memastikan cara pakainya. Ia tidak langsung mengangkat Keira. Ia menunggu sampai Keira berdiri sendiri, lalu menawarkan lengan di sisi kanan.
Mereka berjalan ke taman kecil rumah sakit.
Pohon kamboja menaungi bangku batu. Bau antiseptik digantikan tanah basah sisa penyiraman. Amanda membeli dua roti dari kantin, merobek bungkusnya, lalu menyerahkan satu kepada Keira.
"Masih ingat?" tanyanya.
Keira melihat roti cokelat murah itu. "Kamu dulu memasukkannya lewat ventilasi gudang."
"Karena pintunya dijaga. Rotinya jatuh ke lantai."
"Ada semut."
"Tapi Kak Keira tetap makan."
"Aku lapar."
Amanda mendengus. "Aku pikir itu karena masakanku enak."
Sudut bibir Keira terangkat.
Amanda ikut tersenyum, lalu menunduk pada bungkus roti. "Aku mencoba datang ke lapas waktu semester pertama. Mereka bilang namaku tidak ada dalam daftar keluarga dan kunjungan harus mendapat persetujuan wali."
"Aku tidak tahu."
"Aku datang lagi membawa Tante. Rumah bilang Tante sedang bekerja di luar kota. Setelah itu setiap Natal aku mengirim kartu lewat alamat keluarga Pratama. Semua kembali."
Keira meremas ujung bungkus roti. "Aku pikir Manda sudah melupakanku."
"Aku marah," kata Amanda. "Dulu aku pikir Kak Keira mengaku bersalah lalu memutus semua orang. Aku baru tahu dari Mama bahwa telepon dan suratmu dibatasi."
"Kamu masih datang hari ini."
"Aku seharusnya mencari lebih keras."
Keira menggeleng. "Jangan mengambil kesalahan mereka lalu memakainya untuk menyakiti diri sendiri. Sudah terlalu banyak orang melakukan itu di sekitarku."
Amanda menatapnya, lalu mengangguk. "Baik. Mulai hari ini aku akan bertanya, bukan mengira."
Keira menyodorkan separuh roti yang belum dimakan. Amanda menerimanya dan menggigit dari sisi lain, kebiasaan lama yang tidak memerlukan penjelasan.
Senyumnya sangat tipis. Hanya bertahan sesaat.
Namun Tante Mira yang melihat dari balik jendela menutup mulut dan menangis lagi, kali ini bukan karena luka.
Setelah dokter mengizinkan pulang, Amanda menawarkan apartemen kecilnya. Keira ingin mengambil kotak dokumen dari gudang dan memastikan Tante Mira tidak menerima hukuman baru karena membantunya.
"Aku ikut," kata Amanda. "Setelah itu kita pergi bersama."
Kevin ingin membawa Keira dengan mobil keluarga, tetapi Amanda sudah memesan mobil yang lebih mudah dinaiki. Ia membantu Keira masuk tanpa menyentuh kaki kiri, lalu duduk di sebelahnya.
Menjelang sore, mobil berhenti di depan rumah Pondok Indah.
Edmond berdiri di tangga masuk. Tatapannya berpindah dari Keira ke Amanda.
"Siapa kamu?" tanyanya. "Ini bukan tempat anak pembantu masuk."
Amanda memasukkan satu tangan ke saku jaket.
Pisau kupu-kupu di dalamnya terbuka dengan bunyi klik yang hanya bisa ia dengar. Senyum kecil muncul di bibirnya, membuat udara di beranda terasa beberapa derajat lebih dingin.
"Om Edmond," katanya, sangat sopan. "Anda sebaiknya berhati-hati dengan kata-kata Anda."