NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO / Cinta setelah menikah / Ibu Tiri
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

"Setelah kecelakaan fatal yang merenggut nyawa suaminya, Nadhira terbangun dari koma dengan insting tajam, mampu mencium niat busuk orang lain. Setelah pulang, ia tak disambut kasih, melainkan dianiaya mertua dan ipar licik yang mengincar warisan suaminya. Mereka mengusirnya, memfitnahnya, serta memaksa ia melepas hak waris.
Bahkan ayah kandungnya menjualnya untuk dinikahkan dengan pria tua kaya demi keuntungan pribadi. Di titik paling terpuruk, Rayhan Pradipta, CEO dingin Pradipta Group dan mantan atasan suaminya, datang menawarkan pernikahan kontrak untuk saling melindungi.
Awalnya hanya hubungan transaksional, perasaan sejati perlahan tumbuh di antara mereka. Nadhira bangkit mandiri, membangun Mutiara Property menjadi perusahaan properti ternama dan membesarkan ketiga anaknya. Ia berani membalas semua perundungan keluarga masa lalu.
Namun obsesi Dinda, mantan ipar Rayhan, menyimpan rahasia gelap jaringan perdagangan manusia yang mengancam seluruh kebahagiaan barunya. Mampukah Nadhira menjaga keluarga dan cinta sejatinya sebelum semuanya hancur?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18

Bayangan

Keesokan paginya, Nadhira meminta seluruh staf rumah berkumpul tanpa Mbak Rini.

Ia tidak menuduh. Ia hanya meletakkan satu pertanyaan di atas meja dapur.

"Siapa yang pernah menerima perintah langsung dari Dinda?"

Tak ada tangan terangkat. Beberapa mata saling mencari. Koki rumah akhirnya meletakkan lap yang dipegangnya.

"Dulu Mbak Dinda sering menentukan menu Den Arkan, Bu. Kadang beliau mengubah daftar belanja tanpa bicara kepada Pak Rayhan."

Seorang staf lain menyusul, "Beliau pernah memindahkan isi kamar tamu lantai dua. Katanya kamar itu harus siap kalau beliau menginap."

"Apakah dia pernah menginap?"

"Dua atau tiga kali setelah Bu Dini meninggal. Setelah itu tidak lagi, tapi barangnya masih ada."

Kesaksian lain menyusul setelah orang pertama berani bicara. Dinda pernah meminta salinan jadwal kerja sopir, bertanya kapan Rayhan bepergian, dan menyuruh staf memotret hidangan Arkan agar ia bisa menilai apakah rumah dikelola dengan benar.

"Kenapa tidak ada yang melapor kepada Rayhan?" tanya Nadhira.

Koki rumah menjawab jujur, "Mbak Rini bilang Pak Rayhan sudah tahu. Kami takut dianggap melawan keluarga."

Nadhira memandang mereka satu per satu. "Saya tidak akan memecat orang hanya karena pernah menjalankan perintah yang kalian kira sah. Mulai sekarang, kalau arahan datang dari luar rantai kerja, minta konfirmasi tertulis. Tidak ada hukuman karena bertanya."

Ketegangan di dapur turun. Masalahnya bukan seluruh staf berkhianat, melainkan satu jalur kuasa yang sengaja dibuat kabur.

Mbak Wati, staf rumah yang paling lama bekerja setelah Mbak Rini, membuka lemari catatan dan menunjukkan daftar akses lama. Nama Dinda masih memiliki satu kartu gerbang nonaktif dan dua kunci fisik yang tidak pernah dikembalikan.

"Pak Rayhan sudah menonaktifkan kartu digital," kata Nadhira. "Kunci fisiknya untuk pintu mana?"

"Pintu samping dan kamar tamu, Bu."

Nadhira merasakan kemarahan dingin naik ke tenggorokan. Menghapus nama dari layar tidak berarti apa-apa jika salinan logam masih berada di tangan orang yang merasa rumah ini miliknya.

Ia memanggil kepala keamanan. Seluruh silinder pintu samping, gudang, pagar layanan, serta kamar yang pernah diakses Dinda diganti hari itu. Kode rumah pintar direset. Setiap staf menerima akses baru sesuai area kerja, bukan satu kunci yang bisa membuka semuanya.

"Jangan beritahukan kode melalui grup WhatsApp," pesan Nadhira. "Serahkan satu per satu dan catat penerimanya."

Saat teknisi bekerja, Nadhira naik ke kamar tamu. Di belakang lemari ada koper kabin berwarna merah anggur. Isinya gaun, sandal rumah, perlengkapan rias, obat pribadi yang sudah kedaluwarsa, dan bingkai foto Dinda bersama Arkan.

Di saku samping koper, Nadhira menemukan kunci berlabel `pintu samping`.

Jadi satu kunci tidak hilang. Sengaja disimpan.

Nadhira memotret posisi barang sebelum menyentuhnya, lalu meminta Mbak Wati membuat daftar inventaris dengan dua saksi staf. Semua benda dimasukkan kembali ke koper dan disegel untuk dikembalikan melalui kurir tercatat.

"Tidak ada yang dibuang," kata Nadhira. "Saya tidak mau dia menuduh kita merusak barang."

Mbak Wati mengangguk. "Baik, Bu."

"Dan foto Dini yang memang milik Arkan tidak ikut koper ini. Bedakan kenangan anak dengan barang pribadi Dinda."

Ketika Mbak Rini kembali dari pasar, ia berhenti melihat teknisi di pintu samping.

"Siapa yang menyuruh ganti kunci?"

"Saya," jawab Nadhira.

Mbak Rini masuk ke ruang makan dengan langkah cepat. "Ibu seharusnya menunggu Pak Rayhan. Rumah ini punya sistem yang tidak bisa diubah sembarangan."

"Kunci yang dipegang tamu tanpa izin adalah risiko keamanan."

"Mbak Dinda bukan tamu biasa."

"Rayhan sudah melarangnya masuk."

Nadhira meletakkan salinan peringatan tertulis yang diterima Mbak Rini beberapa hari lalu di meja. "Setelah menandatangani ini, apakah Mbak masih menghubungi Dinda?"

Wajah Mbak Rini berubah.

"Saya hanya memberi tahu Den Arkan sudah bisa bermain di luar."

"Apa lagi?"

"Jadwal PAUD Alif. Rencana Pak Rayhan pulang cepat. Menu anak-anak. Tidak ada rahasia perusahaan."

Ponsel kerja di saku Mbak Rini bergetar. Layar menyala sebelum ia sempat membaliknya.

`Dinda: Kenapa kunci samping diganti? Kamu bilang kalau ada perubahan harus langsung kabari aku.`

Nadhira membaca pesan pratinjau itu tanpa mengambil ponsel.

"Dinda tahu teknisi datang hari ini. Siapa yang memberi tahu?"

Mbak Rini mematikan layar. "Saya hanya bilang ada orang asing masuk rumah."

"Teknisi datang atas perintah saya dan dicatat keamanan. Mbak mengirim informasi beberapa menit setelah saya meminta staf merahasiakan proses."

Tak ada lagi ruang untuk menyebutnya salah paham lama.

"Itu semua informasi rumah yang dilarang dibagikan."

"Saya sudah bekerja di sini bertahun-tahun!" Suara Mbak Rini naik. "Saya menjaga Den Arkan saat Pak Rayhan tidak punya siapa-siapa. Ibu baru datang beberapa minggu dan bertindak seperti paling tahu."

"Lama bekerja tidak memberi hak mengabaikan ayah anak itu dan membocorkan jadwal anak kepada orang yang dilarang masuk."

Mbak Rini tertawa pahit. "Ibu takut Mbak Dinda mengambil posisi Ibu?"

"Saya takut seorang anak dan rumahnya dipakai dalam persaingan orang dewasa."

Nadhira mengambil satu amplop. Di dalamnya ada surat penghentian kerja, perhitungan gaji yang masih terutang, dan pembayaran sesuai kesepakatan kerja rumah. Ia sudah meminta bagian administrasi Pradipta Group membantu memastikan hak Mbak Rini tidak ditahan sebagai hukuman.

"Mbak sudah menerima peringatan tertulis dan melanggarnya. Mulai hari ini, hubungan kerja berakhir. Silakan serahkan kunci, kartu akses, dan ponsel kerja. Barang pribadi bisa dikemas dengan didampingi Mbak Wati. Kendaraan akan mengantar setelah selesai."

Mbak Rini menatap amplop itu seolah tidak percaya. "Ibu tidak punya hak memecat saya."

"Saya penghuni sah rumah ini dan orang tua yang datanya Mbak bocorkan. Kalau Mbak ingin menggugat keputusan kerja, kontak administrasi ada di surat. Tapi akses ke rumah berakhir hari ini."

Dua petugas keamanan berdiri di dekat lorong, bukan untuk menyeret, melainkan memastikan tidak ada dokumen atau kunci dibawa keluar tanpa catatan.

Mbak Rini akhirnya meletakkan kartu akses di meja. Tangannya gemetar karena marah.

"Mbak Dinda benar. Ibu akan menghancurkan rumah ini."

"Rumah yang bergantung pada kebocoran informasi memang perlu dibangun ulang."

Sore hari, Mbak Rini pergi dengan koper pribadinya. Mbak Wati ditunjuk sebagai pengelola rumah sementara. Ia menerima daftar tugas, akses terbatas, dan instruksi bahwa keputusan anak dilaporkan kepada Nadhira serta Rayhan, bukan kepada keluarga luar.

Rayhan pulang menjelang malam.

Mbak Wati menyambut di pintu dengan seragam pengelola rumah dan menyerahkan laporan penggantian kunci.

Di dalam laporan itu ada foto kunci lama Dinda, daftar barang yang disegel, pesan pratinjau dari ponsel kerja Mbak Rini, serta surat penghentian kerja yang sudah ditandatangani penerimaannya.

Rayhan membaca namanya, lalu mengangkat mata kepada Nadhira.

"Saya tidak mempekerjakan manajer rumah baru."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!