NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dosen / Duda
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Pagi itu udara Bandung masih terasa sejuk. Embun masih menggantung di dedaunan taman perumahan. Beberapa warga terlihat berjalan santai. Ada yang bersepeda, ada pula yang sekadar duduk menikmati udara pagi.

Ibra mengenakan kaus olahraga hitam dipadukan dengan celana training. Di sampingnya, Arjun berjalan kecil sambil sesekali berlari mengejar kupu-kupu yang melintas.

"Ayah..."

"Hm?"

Arjun tiba-tiba menunjuk ke arah depan. "Itu Opanya Kak Azel."

Ibra mengikuti arah telunjuk putranya. Tak jauh dari sana, seorang laki-laki sepuh berambut putih tampak berjalan santai sambil menggenggam tasbih kecil di tangannya.

Posturnya masih tegap. Wajahnya teduh. Entah mengapa, wajah itu terasa begitu familiar bagi Ibra.

"Ayo, Yah. Kita samperin." Ajak Arjun.

"Iya."

Mereka pun berjalan mendekat.

"Opa!"

Athar menoleh. Begitu melihat bocah yang beberapa hari lalu datang bersama Azel, senyum hangat langsung menghiasi wajahnya.

"Hei, anak saleh. Kamu lagi olahraga juga?"

"Iya." Arjun mengangguk semangat, lalu menunjuk ke arah ayahnya. "Ini Ayah Arjun, Opa."

Athar mengalihkan pandangannya kepada laki-laki yang berdiri di belakang Arjun.

Ibra langsung menundukkan kepala dengan hormat. "Assalamu'alaikum, Pak."

"Wa'alaikumussalam." Athar mengangguk ramah.

"Jadi kamu ayahnya Arjun?"

"Iya, Pak."

Athar memperhatikan wajah Ibra beberapa saat. "Kamu dari tadi memandang saya seperti sedang mengingat sesuatu."

Ibra tersenyum tipis. "Ah... iya, Pak. Saya merasa pernah bertemu Bapak."

Athar mengernyit. "Benarkah?"

"Apa benar Bapak Athar Malik?"

Kening Athar semakin berkerut. "Iya, betul. Tapi... dari mana kamu mengenal saya?"

Ibra mengangguk pelan. "Sekitar delapan tahun yang lalu saya pernah bekerja di Malik Group. Walaupun perusahaan itu dikelola oleh Pak Azzam, beberapa kali Bapak datang ke kantor. Jadi saya pernah melihat Bapak secara langsung."

Athar mulai mengingat-ingat. "Oh... Kalau begitu kita memang pernah bertemu. Tapi maaf, saya tidak ingat."

Ibra tersenyum maklum. "Tidak apa-apa, Pak. Waktu itu saya hanya karyawan biasa."

Athar mengangguk. "Lalu... sekarang kamu mengajar?"

"Iya. Saya dosen. Kebetulan juga dosennya Azel."

"Oh ya?" Athar tersenyum. "Iya, Pak."

Ibra kembali terdiam sejenak. Ada satu hal yang sejak tadi ingin ia sampaikan. "Sebelumnya, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada Pak Athar, karena perusahaan Bapak memberikan saya kesempatan untuk bekerja ketika banyak sekali perusahaan yang menolak saya."

Athar memperhatikan wajahnya.

"Karena kasus ayah saya. Nama keluarga kami sudah terlanjur buruk. Ke mana pun saya melamar, orang-orang lebih dulu melihat berita tentang ayah saya daripada kemampuan saya."

Ibra tersenyum pahit. "Tapi Malik Group menerima saya. Saya tidak akan pernah lupa itu."

Athar menghela napas pelan. "Berarti kamu salah satu karyawan yang direkrut Azzam."

"Iya, Pak. Saya masih ingat ucapan beliau waktu itu."

Ibra menatap Athar dengan penuh hormat. "Beliau bilang...'Kesalahan orang tua bukan berarti harus diwariskan kepada anaknya. Buktikan lewat pekerjaanmu kalau kamu berbeda.'

"Itu kalimat yang sampai sekarang masih saya ingat."

Athar tersenyum bangga kepada putranya, meski tidak mengucapkannya. "Itu memang prinsip keluarga kami.nKami tidak pernah menilai seseorang dari dosa keluarganya. Kami lebih memilih melihat akhlak dan usahanya. Dan satu hal, perusahaan kami sejak dulu menjunjung kejujuran."

Ibra mengangguk pelan. "Alhamdulillah... Karena kepercayaan itu, saya bisa kembali membangun hidup. Dan saya berusaha menjaga amanah tersebut sebaik mungkin."

Athar menepuk pelan bahu Ibra. "Kamu berhasil. Kalau tidak, mungkin hari ini kamu tidak akan menjadi dosen."

Ucapan itu membuat Ibra tersenyum kecil. "Terima kasih, Pak. Saya juga bersyukur dan baru tahu kalau Bapak ternyata Opa-nya Azel."

Athar terkekeh pelan. "Dunia memang sempit. Kadang Allah mempertemukan kembali orang-orang dengan cara yang tidak pernah kita duga."

Di bawah mereka, Arjun yang sejak tadi hanya mendengarkan percakapan orang-orang dewasa tiba-tiba mengangkat tangan.

"Opa..."

"Hm?"

"Berarti Ayah sama keluarga Kak Azel udah kenal dari dulu?"

Athar dan Ibra saling berpandangan sejenak. Lalu Athar tersenyum.

"Iya, Nak. Allah ternyata sudah mempertemukan kami jauh sebelum kamu dan Kak Azel berteman."

Arjun langsung tersenyum lebar. "Berarti Arjun sama Kak Azel emang ditakdirin jadi teman ya, Opa?"

Mendengar kepolosan itu, Athar dan Ibra sama-sama tersenyum. "Insya Allah," jawab Athar lembut.

Sementara Ibra hanya menatap putranya dalam diam. Entah mengapaa semakin hari, ia semakin merasa bahwa setiap langkah yang membawanya kembali ke Bandung bukanlah sebuah kebetulan. Semuanya seolah telah Allah rangkai jauh sebelum ia menyadarinya.

***

Sesuai janji mereka kemarin. Sore itu, Ibra kembali mengajak Arjun menuju ndalem.

Sebelum berangkat, Ibra lebih dulu masuk ke dapur.nIa membuka kulkas, lalu mengeluarkan sebuah kotak putih sederhana yang sejak siang tadi ia simpan dengan rapi.

Di dalamnya terdapat cheesecake buatannya sendiri. Ia memeriksa kembali tampilannya. Permukaannya halus dengan taburan keju parut dan sedikit potongan stroberi di atasnya. Setelah yakin semuanya rapi, ia menutup kotak itu kembali.

Arjun yang sudah mengenakan kaus biru dan celana jeans kecil berlari menghampiri. "Ayah..."

"Hm?"

"Udah siap?"

Ibra mengangguk. "Sudah."

Lalu ia menyerahkan kotak kue itu kepada putranya. "Nanti kamu yang kasih kue ini untuk Kak Azel."

Arjun menerima kotak itu dengan hati-hati. "Itu kue apa, Yah?"

"Cheesecake."

"Yang Ayah bikin semalam?"

"Iya."

Mata Arjun langsung berbinar. "Wah! Kak Azel pasti seneng."

Ibra tersenyum tipis. "Semoga saja."

Arjun memeluk kotak itu seperti sedang membawa harta karun.

"Nanti Arjun bilang kalau ini dari Ayah."

Ibra langsung menggeleng. "Jangan."

"Lho? Kenapa, Yah?"

"Bilang saja itu untuk keluarga ndalem bukan khusus untuk Kak Azel."

Arjun mengerjapkan matanya beberapa kali. "Lho... Kan Ayah bikinnya buat Kak Azel."

Ibra langsung berdeham pelan. "Itu untuk semua."

Arjun memiringkan kepalanya. "Tapi Ayah tadi bilang..."

Ibra segera memotong ucapan putranya. "Sudah, nanti kamu bilang saja untuk semua. Oke?"

Arjun mengangguk meski masih terlihat bingung. "Oke, Ayah."

Beberapa menit kemudian, mereka pun masuk ke dalam mobil. Arjun duduk manis di kursi khusus anak sambil memangku kotak cheesecake itu.

"Ayo! Arjun nggak sabar."

Ibra memasang sabuk pengamannya. "Iya... iya. Sabar. Perjalanan cuma sebentar."

Arjun mengangguk cepat. "Nanti Arjun mau cerita ke Kak Azel kalau tadi pagi ketemu Opa Athar."

"Boleh."

"Terus Arjun juga mau kasih lihat gambar yang Arjun gambar."

"Silakan."

"Terus..." Arjun tersenyum lebar. "...Arjun mau minta Kak Azel bacain cerita nabi lagi."

Ibra melirik putranya sekilas. Sejak bertemu Azel, rumah yang dulu selalu terasa sunyi kini mulai dipenuhi celoteh Arjun.

Bocah itu kembali banyak bercerita. Lebih sering tertawa. Bahkan kini semangat belajar salat dan mengaji. Semuanya berubah sedikit demi sedikit.

Ibra menggenggam kemudi lebih erat. Dalam hati, ia berdoa pelan. "Ya Allah... terima kasih karena telah menghadirkan orang-orang baik di sekitar anakku. Jagalah mereka sebagaimana Engkau menjaga Arjun."

Tak lama kemudian, mobil BMW hitam itu melaju meninggalkan perumahan, menuju ndalem yang kini perlahan terasa seperti rumah kedua bagi Arjun.

***

Begitu tiba di ndalem, Arjun langsung turun dari mobil dengan wajah berbinar.

"Hei, Arjun!" sapa Arshaf yang baru saja keluar dari ruang tamu.

"Hai, Om!" Arjun melambaikan tangan kecilnya. "Kak Azel mana?"

Arshaf tersenyum. "Masih di pesantren. Sebentar lagi juga pulang."

"Ngapain di pesantren?"

"Kak Azel ngajar ngaji setiap Minggu sore."

"Oh..." Arjun mengangguk pelan.

"Gimana kalau sambil nunggu Kak Azel, Arjun main dulu sama Om?"

"Boleh, Om!"

"Yuk, masuk."

"Ayo!"

Sebelum masuk, Arjun meletakkan kotak cheesecake yang dibawanya di atas meja teras.

Lalu ia menoleh kepada ayahnya. "Ayah tunggu dimana?"

"Ayah disini aja. Nanti kalau Kak Azel datang, Ayah panggil."

"Oke!" Arjun pun menggandeng tangan Arshaf dan masuk ke dalam ndalem.

Suasana teras kembali tenang. Ibra duduk di kursi rotan sambil membuka ponselnya, sesekali membalas beberapa pesan pekerjaan.

Tak lama kemudian, suara motor berhenti di depan halaman. Ibra mendongak.

Azel baru saja tiba. Gadis itu turun dari motornya sambil membawa sebuah kitab di pelukannya. Kerudungnya masih rapi menutupi dada, sementara wajahnya tampak sedikit lelah setelah mengajar.

Begitu melangkah ke teras, Azel mengucapkan salam. "Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Azel baru menyadari siapa yang duduk di hadapannya. "Eh... Pak?"

"Iya."

"Kok Bapak di sini?"

"Ngantar Arjun."

"Oh..." Azel mengangguk pelan sambil menaruh kitabnya di atas meja.

"Arjun mana, Pak?"

"Di dalam. Main sama Arshaf."

"Oh, pantesan nggak kelihatan."

Azel tersenyum kecil, lalu hendak melangkah masuk. Namun sebelum itu, ia kembali menoleh.

"Bapak dari tadi nunggu di luar?"

"Iya."

*Kenapa nggak ikut masuk aja?"

Ibra menjawab singkat. "Gak enak."

Azel mengernyit. "Lho, kenapa?"

"Saya tamu."

Jawaban datar itu membuat Azel terkekeh pelan. "Pak..."

"Ini rumah guru Bapak sendiri. Anggap aja rumah sendiri."

Ibra hanya mengangguk tipis. "Belum terbiasa."

"Oh..." Azel mengangguk mengerti. "Yaudah, saya masuk dulu ya, Pak."

"Iya."

Baru beberapa langkah berjalan menuju pintu, terdengar suara Arjun dari dalam rumah.

"Kak Azeeel!" Arjun berlari kecil dari dalam rumah dengan senyum lebar.

"Masya Allah... anak ganteng."

Arjun langsung memeluk pinggang Azel. "Kakak lama banget."

Azel tertawa pelan sambil mengusap kepala bocah itu. "Maaf, Kakak tadi ngajar ngaji dulu."

"Arjun kangen."

"Baru kemarin ketemu, lho."

"Tapi tetep kangen."

Azel tersenyum gemas. "Ya Allah... siapa yang ngajarin sih ngomong begini?"

"Tidak ada. Arjun ngomong sendiri."

Di kursi teras, Ibra hanya memperhatikan tingkah putranya tanpa berkata apa-apa.

Azel kemudian menoleh ke arah meja. "Lho, ini kotak apa?"

Arjun langsung mengambilnya dengan hati-hati. "Ini buat Kak Azel."

Azel tampak bingung. "Buat Kakak?"

"Iya. Ayah yang bikin."

Ibra langsung menghela napas pelan. "Arjun."

Bocah itu menoleh. "Iya, Ayah?"

"Bilangnya untuk keluarga ndalem."

"Lho... Tapi Ayah bikinnya buat Kak Azel."

Deg!

Azel spontan menoleh ke arah Ibra.

Sementara Ibra hanya berdeham pelan. "Itu... untuk semuanya."

Azel menahan senyum. "Ooo... Baik, Pak. Tapi saya tetap makasih ya. Saya jadi nggak enak."

Ibra menjawab datar. "Tidak perlu. Arjun yang ingin membawa."

Azel mengangguk pelan. "Berarti saya makasihnya ke Arjun aja."

"Iya."

Arjun langsung menyela. "Tapi Kak, Ayah semalam bikinnya lama. Ayah sampai nggak tidur cepet."

"Arjun." Nada suara Ibra terdengar sedikit lebih tegas.

"Iya?"

"Masuk. Bawa kuenya."

"Iya..." Arjun pun masuk ke dalam rumah sambil membawa kotak cheesecake.

Kini tinggallah Azel dan Ibra di teras. Suasana mendadak canggung.

Azel berdeham pelan. "Pak..."

"Hm?"

"Kenapa sih Bapak selalu nyuruh Arjun berhenti ngomong? Dia kan cuma cerita."

"Saya hanya meluruskan."

"Meluruskan apanya?"

"Karena yang dia sampaikan tidak sepenuhnya benar."

Azel mengangkat sebelah alis. "Lho? Bapak semalem memang bikin cheesecake, kan?"

"Iya."

"Ya berarti benar."

"Itu untuk semua."

Azel terkekeh kecil. "Iya... iya. Pak Ibra memang paling susah ngaku."

Ibra menatapnya. "Ngaku apa?"

"Kalau Bapak perhatian."

"Saya tidak merasa begitu."

"Nah, tuh. Bapak lagi. Kalau nggak perhatian, ngapain repot-repot bikin cheesecake?"

"Itu hanya makanan."

Azel melipat kedua tangannya di depan dada. "Pak, malau menurut saya, orang yang rela meluangkan waktu bikin makanan sendiri buat dibawa ke rumah orang lain itu namanya perhatian."

Ibra menjawab tenang. "Itu namanya menghormati tuan rumah. Beda."

Azel langsung menggeleng. "Ya ampun... Kenapa sih setiap ngomong sama Bapak semuanya harus dibedah definisinya?"

"Karena penggunaan istilah harus tepat."

"Nah kan! Tuh kan! Mulai lagi."

Azel menunjuk Ibra sambil tertawa gemas. "Bapak ini kalau bukan dosen cocoknya jadi pengacara."

Ibra mengangkat sebelah alis. "Kenapa?"

"Soalnya pinter banget muter jawaban."

"Itu bukan memutar. Itu meluruskan."

Azel menepuk dahinya pelan. "Astaghfirullah, Pak, kalau debat sama Bapak saya bisa cepat tua."

"Berarti kemampuan berpikir kritismu bertambah."

"Bukan. Yang nambah itu tekanan darah saya."

Untuk pertama kalinya, senyum tipis benar-benar terlihat di wajah Ibra. Meski hanya sesaat.

Azel yang melihatnya langsung membulatkan mata. "Lho bapak bisa senyum juga?"

Ibra segera kembali memasang wajah datarnya. "Saya memang bisa."

"Iya sih tapi langka. Kayak gerhana."

Mendengar celetukan itu, sudut bibir Ibra kembali terangkat tipis.

Dari balik pintu ruang tamu, Arshaf yang menyaksikan semuanya hanya terkekeh pelan.

"Kalau dua orang ini ketemu, lima menit tenang, sepuluh menit berikutnya pasti debat."

Di sampingnya, Arjun mengangguk mantap sambil memakan biskuit. "Iya, Om. Tapi Ayah senyum terus kalau debat sama Kak Azel."

Arshaf yang sejak tadi memperhatikan adiknya dan Ibra dari ruang tamu hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan tawa.

"Zel."

Azel yang sedang membuka kotak cheesecake itu menoleh. "Hm?"

"Kamu sadar nggak?"

"Sadar apa?"

Arshaf menyandarkan bahunya ke kusen pintu. "Kamu sendiri yang bilang kalau kakak sama para santri kalau debat nggak ada habisnya."

"Iya."

"Nah... Sekarang kamu malah begitu sama dosen kamu sendiri."

Azel mengernyit. "Lah? Apanya yang begitu?"

"Ya itu, debat terus."

"Ya Pak Ibra duluan yang mulai."

Ibra yang duduk tak jauh dari mereka mengangkat pandangannya dari cangkir teh yang baru disuguhkan.

"Kenapa saya?"

"Ya memang Bapak."

"Siapa lagi?"

"Ya kamu juga."

Azel langsung menunjuk dirinya sendiri. "Lho kok saya?"

"Iya. Setiap saya bertanya, kamu selalu membantah."

"Itu bukan membantah, Pak. Itu namanya memberikan pendapat."

"Kalau pendapatmu keliru?"

"Ya dikoreksi. Bukan langsung disalahin."

Ibra mengangkat sebelah alis. "Saya mengoreksi. Bukan menyalahkan."

Azel mendengus pelan. "Bahasanya aja yang beda. Rasanya tetap sama."

Arshaf sampai menutup mulutnya menahan tawa. "Tuh kan... Baru dua menit aja udah mulai lagi."

Ibra menoleh ke arah Arshaf. "Adikmu memang seperti ini?"

"Bahkan lebih parah. Kalau sama kami di rumah, dia bisa debat panjang."

Azel langsung memprotes. "Kak! Aku nggak separah itu."

"Ooh nggak?" Arshaf melipat kedua tangan. "Waktu Abi bilang jangan tidur larut, kamu jawab, 'Kalau tidur cepat tapi tugas belum selesai nanti gimana, Bi? Waktu Uma nyuruh makan sayur, kamu bilang, 'Vitamin kan bukan cuma dari sayur. Waktu kakak nyuruh jangan hujan-hujanan, kamu bilang, 'Kalau hujannya rahmat kenapa harus dihindari?'"

Semua yang ada di ruang tamu langsung tertawa.

Wajah Azel memerah. "Itu kan... Itu kan ada alasannya."

Ibra tanpa sadar tersenyum tipis. "Berarti memang kebiasaan."

Azel langsung menoleh cepat. "Pak! Bapak senyum ya?"

Seketika senyum tipis itu menghilang dari wajah Ibra. "Tidak."

"Bohong."

"Tadi jelas senyum."

"Saya tidak senyum."

"Bapak senyum."

"Tidak."

"Iya."

"Kalau begitu buktinya?"

Azel langsung terdiam. "Lah... Nggak sempat difoto."

"Nah... Berarti tidak ada bukti."

Azel memonyongkan bibir. "Pak Ibra ini... Kalau debat nggak mau kalah."

Ibra menjawab datar. "Kamu juga."

"Huft." Azel mengembuskan napas panjang. "Percuma debat sama dosen perpajakan pasti saya kalah."

Ibra menatapnya tenang. "Bukan karena saya dosen."

"Lalu?"

"Karena kamu terlalu cepat berbicara sebelum berpikir."

Azel langsung membuka mulut hendak membalas. Namun, ja berhenti sendiri. "Lho... Kok bener juga."

Arshaf langsung tertawa terbahak-bahak. "Akhirnya ada juga orang yang bisa bikin kamu kehabisan kata-kata."

Azel mendelik ke arah kakaknya. "Kak Arshaf!"

"Iya, iya." Arshaf mengangkat kedua tangan tanda menyerah. "Tapi jujur ya... Kalian kalau begini lucu. Sama-sama keras kepala. Sama-sama nggak mau ngalah. Bedanya..."

Arshaf melirik bergantian ke arah Ibra dan Azel, lalu menyeringai jahil. "Yang satu mukanya datar. Yang satu mukanya rame."

Azel spontan mengambil bantal sofa kecil lalu melemparkannya ke arah sang kakak. "Kakak diem!"

1
Aidil Kenzie Zie
hm hm si Kutub Utara mulai mencair 🤣🤣🤣🤣🤣
Syti Sarah
cie cie yg mulai pdkt nih,kyak nya gak lma lgi nih.cahayo pak dosen,kejar trus smpai dpat 🤭🤭
Fegajon: Besok lebih gong lagi 😋
total 1 replies
Anak manis
aku prnh kya Azel, emang gak enak bgt klo bocor tuh. Rsanya malu bgt🥲
cutegirl
ibra mulai terang-terangan🤣
syora
ya allah semoga slain takdir sbgai penentu mohon bersamai dan ridho jln mnuju halal buat mereka
biarkan apa yg oma arsyila ucapkan mnjadi kenyataan amiin
jjr slalu ada /Sob/kadang luka yg berujung trauma blm tentu bisa stiap org hadapi apalagi smpai berujung ke hal yg merugikan dan negatif
Syti Sarah
Ibra mmang laki laki yg baik .klau mmang brjodoh,smoga Allah mudhkn sgla jlan nya .
syora
andai iya utk kli ini biarkan hati klian menuntun bertemu,dgn melalui takdir dan ridhoNzya
amiiiin
Syti Sarah
haaa kyak nya mreka ber2 blum mnydari prasaan nya masing2 deh.kok jdi aku yg snyum2 sndiri ya PGI ini 😅😅😅
kembangperawan
zel itu udah kode loh🤣
Naya En-lish
/Heart//Heart//Heart/
Syti Sarah
ayoo mai jawab ape zel,yg sprti bang iba kaaah 🤭kok jdi aku yg deg degan ya,huuuh 😅😅
Ayu Oktaviana
aduh abang ibra mulai pdkt ne.. trs semangat bang😍😍
Fegajon: yuhuuu😋
total 1 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
Cie cie cie yang lagi pdkt
anakkeren
ibra mulai maju🤣
syora
ibra jgn menghindar ckp jlni takdir
Syti Sarah
smoga di prmudah sgla nya,Daan klau mmang brjodoh smoga Allah mudhkn smpai halal.
Aidil Kenzie Zie
Ibra langsung deg degan di tantang langsung kerumah sama Opa kalo ada niat baik🥰🥰🥰🥰
Syti Sarah
semoga smua di prmudah oleh Allah,kok jdi Mellow ya stiap BCA crita Arjun ini 🥺
Syti Sarah: iya btul bnget Thor .suka bnget sama crita Thor ,smoga azel bisa mnerima prmintaaan Arjun dgn ikhlas .amiiiin
total 2 replies
syora
mkasih thor slalu mnyajikan crita yg keseimbangan antra dunia dan akhirat brjln beriringan
bnyak hikmah dlm stiap critamu
Fegajon: Sama-sama Kak. Dukungan kamu juga membuat aku mau terus nulis🙏
total 1 replies
syora
ya allah thor kyknya kbnyakan bawang bombay ceritanya
sejak kemunculan arjun bawaan stiap bc pasti sedih,menangis
ya allah
syora: wah hbr dong laper aja bs ngabisin karya yg bagus
andai puasa pasti double tuh bagusnya hehee
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!