NovelToon NovelToon
Menyusui Bayi Tuan Muda, Ternyata Anakku Sendiri

Menyusui Bayi Tuan Muda, Ternyata Anakku Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Cinta Terlarang / Ibu susu
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

"Angie Thio hanyalah seorang gadis biasa yang terpaksa bekerja sebagai pengasuh bayi di kediaman keluarga Liem — salah satu konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Tugasnya sederhana: merawat Guai, bayi mungil yang menolak semua susu formula dan terus menangis sepanjang malam.
Tapi Angie menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Diam-diam, di tengah kegelapan malam, dia menyusui Guai dengan ASI-nya sendiri. Bayi itu langsung tenang di pelukannya — seolah mengenali sentuhan ibunya. Angie tidak mengerti kenapa tubuhnya masih memproduksi ASI, kenapa hatinya terasa begitu terikat pada bayi yang bukan anaknya.
Atau... benarkah Guai bukan anaknya?
Sementara itu, sang Tuan Muda — Hansen Liem, CEO Liem Corporation — menyimpan rahasianya sendiri. Selama setahun, tubuhnya tidak pernah bereaksi terhadap wanita mana pun. Dokter memvonisnya mengalami disfungsi. Dingin. Mati rasa.
Sampai Angie datang.
Setiap kali gadis itu mendekat, jantungnya berdebar tak terkendali. Setiap kali aroma tubuhnya tercium, seluruh pertahanannya runtuh. Hansen tidak mengerti kenapa hanya Angie — seorang pengasuh bayi biasa — yang bisa membuat tubuhnya bereaksi seperti ini.
Di balik dinding mansion mewah Keluarga Liem, Celine Lau duduk di singgasananya sebagai ""ibu"" Guai dan calon istri Hansen. Tapi setiap kali Guai menangis, bayi itu hanya mau Angie. Setiap kali Hansen menatap seseorang, matanya hanya mencari Angie.
Celine tahu posisinya terancam. Dan Nyonya Lau — dalang di balik segalanya — tidak akan membiarkan seorang pengasuh menghancurkan rencana yang sudah disusun sejak setahun lalu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1 Rahasia di Tengah Malam

Tangis Guai menembus malam tepat ketika rembesan hangat kembali membasahi bagian depan seragam Angie.

Angie menekan kedua lengan ke dadanya. Nyeri yang sejak satu jam lalu berdenyut kini terasa seperti ratusan jarum menusuk dari dalam. Kain bra menyusui yang dikenakannya sudah lembap, sementara kemeja putih di balik celemek mulai memperlihatkan dua noda samar.

Namun, ia tidak punya waktu untuk memikirkan dirinya sendiri.

Guai menangis di dalam boks. Wajah mungilnya memerah, kedua kakinya menendang selimut, dan mulutnya terus mencari sesuatu yang tidak ada di botol.

"Sayang, pelan-pelan." Angie mengangkat tubuh bayi itu dan menempelkannya ke bahu. "Susu ini tidak mau lagi?"

Dot botol menyentuh bibir Guai. Bayi itu memalingkan wajah, lalu menangis lebih kencang. Susu formula yang baru dibuat nyaris tidak berkurang setetes pun.

Jam digital di meja menunjukkan pukul 00.47.

Di luar kamar bayi, Kediaman Liem tenggelam dalam keheningan. Pendingin udara berdengung halus. Sesekali terdengar suara air dari kolam di halaman belakang, tetapi tidak ada langkah kaki di koridor lantai dua.

Seharusnya semua orang sudah tidur.

Seharusnya Celine juga tidak akan datang lagi setelah kunjungannya tadi.

Sekitar pukul sebelas, perempuan itu masuk dengan gaun tidur sutra dan aroma parfum yang terlalu tajam untuk kamar bayi. Ia mengambil Guai dari pelukan Angie sambil tersenyum ke kamera ponselnya sendiri.

"Baby, lihat Mama," ucapnya manis, seolah sedang merekam Instagram Story.

Guai langsung menegang. Satu detik kemudian, tangisnya pecah.

Celine menggoyang tubuh bayi itu terlalu cepat. Satu tangannya menyangga punggung, tetapi kepala Guai nyaris tidak tertopang.

Angie spontan maju. "Ci Celine, kepalanya..."

Tatapan Celine menyambar tajam. "Aku tahu cara menggendong anakku."

"Tangan kiri Ci perlu menopang tengkuknya." Angie menahan diri agar tidak langsung merebut Guai. "Dia belum bisa menjaga kepalanya stabil kalau sedang meronta."

Celine mengubah posisi tangannya, tetapi bukan mengikuti arahan Angie. Ia justru mengangkat Guai lebih tinggi, menjauhkan bayi itu dari seragam sutranya. Air liur menetes dari bibir Guai dan mengenai pergelangan tangannya.

"Astaga." Celine meringis. Ponselnya buru-buru diletakkan dengan layar menghadap meja. Rekaman yang tadi dinyalakan belum sampai satu menit. "Kenapa dia selalu begini setiap aku pegang?"

Angie tidak menjawab. Ia hanya melihat jari Celine menekan terlalu keras ke sisi tubuh Guai.

"Ci, dia kesakitan."

"Jangan mengajariku."

Guai menjerit sampai tubuh kecilnya bergetar. Semua naluri Angie memaksanya melangkah lebih dekat. Kali ini ia tidak meminta izin. Ia menyelipkan satu tangan di bawah kepala Guai dan satu lagi di punggungnya, memberi Celine jalan termudah untuk melepaskan bayi itu tanpa kehilangan muka.

Namun, ketika Guai semakin meronta dan wajahnya mulai ungu karena menangis, Celine buru-buru menyerahkannya kembali.

"Dia memang sedang rewel. Jangan sampai tangisnya membangunkan Hansen."

Tanpa mengecup kening bayi itu, tanpa memeriksa botol di meja, Celine langsung pergi.

Sekarang Guai masih menangis di pelukan Angie, suaranya mulai serak.

"Apa yang sakit, hm?" Angie menyentuh dahi dan lehernya. Suhu tubuhnya normal. Popoknya bersih. Perutnya tidak kembung. "Kamu lapar, tapi kamu tidak mau susu ini."

Guai memutar kepala dan menempelkan wajah ke dada Angie.

Tubuh Angie membeku.

Gerakan kecil itu tepat mengenai bagian yang paling nyeri. Napasnya tercekat. Cairan hangat kembali merembes, kali ini lebih banyak, meninggalkan lingkaran yang terlihat jelas di balik kain putih.

Tidak.

Ia tidak boleh melakukannya.

Ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa malam pertama itu adalah yang terakhir. Ia bekerja di sini sebagai pengasuh, bukan sebagai ibu susu. Tidak seorang pun di Kediaman Liem tahu tubuhnya masih menghasilkan ASI. Jika mereka tahu ia menyusui anak majikan tanpa izin, ia bisa diusir malam itu juga.

Lebih buruk lagi, mereka akan bertanya mengapa perempuan yang mengaku tidak memiliki anak masih mempunyai ASI.

Sejak persalinan setahun lalu, Angie memerah sedikit susu setiap kali payudaranya membengkak agar tidak demam atau mengalami sumbatan. Pemeriksaan klinik pernah menemukan kadar prolaktinnya masih tinggi dan menyarankan evaluasi lanjutan, tetapi biaya membuatnya menunda. Kebiasaan memerah itu ikut mempertahankan produksi. Selama ini susunya selalu dibuang; Guai adalah bayi pertama yang meminumnya.

Angie menatap pintu.

Daun pintu tertutup. Cahaya dari koridor hanya menyusup lewat celah sempit di bawahnya.

Ia mengangkat botol sekali lagi. "Coba sedikit saja, Guai."

Guai menolak. Tangannya menepis dot, lalu jemari kecilnya mencengkeram kerah seragam Angie. Tangis itu tidak lagi keras. Suaranya melemah menjadi isakan lapar yang membuat bagian paling rapuh dalam diri Angie terbelah.

Dadanya kembali berdenyut.

Nyeri itu nyata. Begitu pula rasa lapar Guai.

"Ampuni aku," bisiknya, entah kepada siapa.

Angie mematikan lampu utama. Ia menyisakan lampu tidur berbentuk bulan di sudut kamar, lalu duduk di kursi berlengan dengan punggung menghadap pintu. Tangannya gemetar ketika membuka dua kancing seragam.

Kain lembap terlepas dari kulitnya dengan sensasi perih. Ia menahan desis, membenahi posisi Guai, lalu membimbing kepala mungil itu mendekat.

Begitu bibir Guai menemukan putingnya, tangis itu berhenti.

Bukan perlahan. Bukan setelah dibujuk.

Berhenti seketika.

Keheningan yang tersisa hanya diisi bunyi isapan kecil dan napas Guai yang akhirnya teratur. Tangan bayi itu, yang tadi mengepal keras, terbuka di atas dada Angie. Jari-jarinya mencengkeram ujung kain seolah takut sumber kehangatan itu akan direnggut.

Angie memejamkan mata.

Nyeri di dadanya perlahan mengendur. Namun, sakit lain justru naik dari tempat yang jauh lebih dalam.

"Kenapa kamu selalu tahu?" bisiknya. "Kenapa hanya begini kamu bisa tenang?"

Guai tidak mungkin menjawab. Matanya yang basah hanya menatap wajah Angie, jernih dan percaya penuh.

Jempol Angie mengusap pipinya. Kulit itu begitu lembut. Hidungnya kecil, bulu matanya panjang, dan ada lipatan tipis di bawah mata yang selalu terasa anehnya akrab.

Sebuah potongan ingatan melintas tanpa bentuk yang utuh.

Lampu putih. Bau obat. Tangisan bayi yang menjauh.

Lalu suara seseorang mengatakan bahwa anaknya tidak selamat.

Angie menarik napas tajam. Potongan itu lenyap sebelum sempat ia pegang. Yang tertinggal hanya rasa kosong dan nyeri di bawah tulang rusuk.

Ia menunduk, membiarkan satu tetes air mata jatuh ke rambut Guai.

"Maaf," katanya. "Mama bahkan tidak sempat memelukmu selama ini."

Kata itu keluar begitu saja.

Mama.

Angie cepat-cepat menoleh ke pintu, seakan satu kata yang dibisikkan saja dapat membangunkan seluruh rumah.

Tidak ada siapa-siapa.

Ia mengusap air mata dengan punggung tangan. "Bukan. Aku bukan mamamu." Suaranya pecah. "Aku cuma orang yang terlalu merindukan anakku."

Guai mengeluarkan bunyi kecil dari tenggorokan. Telapak tangannya menempel di kulit Angie, hangat dan tenang.

Untuk beberapa menit, dunia di luar kamar itu tidak ada.

Tidak ada tagihan rumah sakit Mama Thio yang tersimpan di ponselnya. Tidak ada saldo rekening yang terus menipis. Tidak ada pekerja rumah yang memandang seragam murahnya dari atas ke bawah. Tidak ada Celine dengan parfum mahal dan senyum yang hanya muncul ketika kamera menyala.

Hanya ada seorang perempuan yang tubuhnya masih mengingat cara memberi makan, dan seorang bayi yang menerima seolah mereka telah saling mengenal jauh sebelum malam ini.

Ketika isapan Guai melambat, Angie menepuk punggungnya dengan hati-hati. Bayi itu bersendawa kecil, lalu bersandar lemas di dadanya.

"Sudah kenyang?"

Guai menjawab dengan dengusan mengantuk.

Senyum tipis muncul di bibir Angie. Ia mengangkat kain sendawa, membersihkan sudut mulut Guai, lalu memindahkannya ke bahu. Setelah napas bayi itu benar-benar tenang, ia berdiri dan hendak meletakkannya kembali ke boks.

Ponselnya bergetar di meja.

Layar retak Samsung miliknya menyala, menampilkan satu pesan dari rumah sakit.

`Pengingat pembayaran: sisa tagihan perawatan Ibu Yenni Thio jatuh tempo besok pukul 12.00.`

Di bawahnya tertera angka yang membuat tengkuk Angie dingin.

Besok ia harus membayar sebagian tagihan itu. Rumah sakit sudah memberi kelonggaran dua kali. Bila tidak ada pembayaran, beberapa terapi Mama Thio akan ditunda dan obat yang tidak ditanggung BPJS harus dibeli sendiri.

Gaji pertamanya dari Kediaman Liem bahkan belum masuk.

Angie membuka aplikasi bank. Angka di layar terlalu kecil untuk menutup sepersepuluh tagihan tersebut. Ia sempat memikirkan gelang tipis peninggalan Mama yang disimpan di tas, tetapi harga jualnya tidak akan banyak membantu. Satu-satunya jalan yang masih terbuka adalah mempertahankan pekerjaan ini, mengambil semua jadwal malam, lalu meminta uang muka jika Pak Hasan mengizinkan.

Pandangan Angie kembali ke Guai.

Jika rahasia malam ini terbongkar, ia bukan hanya kehilangan pekerjaan. Mama juga kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pengobatan.

Ia menelan ludah, lalu segera membalik ponsel agar cahaya layarnya tidak mengganggu Guai.

Pekerjaan ini tidak boleh hilang.

Apa pun yang terjadi, ia harus bertahan.

Angie membaringkan Guai di boks dan memastikan selimutnya tidak menutupi wajah. Ia mengambil kain kecil untuk menyeka kulitnya, lalu buru-buru merapatkan bra dan seragam. Jari-jarinya kaku. Kancing pertama masuk ke lubang yang salah sehingga sisi kemejanya miring.

Dari luar terdengar bunyi mesin mobil memasuki halaman.

Angie berhenti bernapas.

Sorot lampu menyapu langit-langit lewat jendela, lalu padam. Beberapa detik kemudian, pintu utama di lantai bawah dibuka.

Langkah sepatu pria terdengar di lantai marmer.

Tidak tergesa-gesa. Berat. Teratur.

Tuan Muda pulang.

Angie menarik kancingnya sekali lagi. Noda basah di kemeja belum hilang. Ia meraih selendang tipis di sandaran kursi dan menutupkannya ke dada.

Guai bergerak di dalam boks.

"Jangan bangun, Sayang," bisiknya.

Namun bayi itu merengek, lalu mengulurkan kedua tangan. Angie tidak punya pilihan selain mengangkatnya kembali.

Langkah di koridor semakin dekat.

Terdengar suara Celine, lembut dan manja, dari balik dinding. "Ko Hansen, kamu baru pulang? Aku mau melihat Baby juga."

Angie memandang dirinya di kaca lemari. Rambutnya berantakan. Matanya merah. Kancing seragamnya belum sejajar, dan di balik selendang tipis masih terlihat tepian noda ASI.

Ia melangkah ke pintu untuk menguncinya.

Terlambat.

Gagang pintu bergerak.

Cahaya koridor membelah kamar yang remang. Hansen Liem berdiri di ambang pintu dengan kemeja gelap dan tatapan sedingin malam, sementara Celine muncul tepat di belakang bahunya.

Di pelukan Angie, Guai tidur pulas. Di jemari Angie, satu kancing seragam masih terbuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!