Spin-of Baby's breath untuk Aretha
Arlo dan Queena sudah bersahabat sejak kecil, sebenarnya di bilang sahabat juga bukan atau lebih tepatnya musuh bebuyutan. Lebih pada Queena adalah sasaran empuk kejahilan dan kenakalan Arlo, si cantik putri dari pasangan Rega dan Rhea tersebut sudah menjadi target keusilan putra Hana dan Leo sedari Queena masih bayi.
“Apa? Mi-mom jangan bercanda, ya!” Arlo terkejut saat mi-mom Hana memberikan usulan untuk menikahkan Arlo dan Queena diusia mereka yang masih muda.
Arlo mengusak rambutnya frustasi, kecerobohannya memanjat balkon kamar Queena membuatnya terjebak dalam situasi yang membuat kedua orang tuanya dan orang tua Queena murka. Dan satu-satunya orang yang harus di salahkan adalah kakak sepupu Arlo yang tidak lain adalag Gavin.
Lalu apa alasan Arlo dan Queena menyembunyikan pernikahan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16 # Ide mi-mom Hana
Sepagi itu Arlo sudah duduk di hadapan kedua orang tuanya, lebih tepatnya sedang di sidang papi Leo dan mi-mom Hana.
“Ada apa, pi?” Arlo masih dengan santainya bertanya pada papi Leo, seolah kejadian semalam bukanlah sesuatu hal yang perlu di bahas.
Papi Leo menghela napas. “Kamu ini masih bisa bertanya ada apa? Lupa kalau semalam habis berbuat kegaduhan,” ucap papi Leo.
“Maaf mom, pi. Arlo beneran tidak ada niat buruk pada Queen,” melihat raut muka papi dan mi-monya, Arlo yakin jika papanya Queena benar marah.
“Sebenarnya apa yang membuatmu sampai harus manjat dinding, sayang?” mi-mom Hana membuka suara.
Arlo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Semua bermula dari bang Gavin, mom. Dia ingin menghubungi baby Cimol, tapi bang Gavin tidak punya nomor telepon Azura. Aku jadi harus bertanya pada Queen,” jawab Arlo, dia juga menceritakan awal mula kenapa bisa punya pikiran untuk memanjat dinding menuju balkon kamar Queena.
Papi Leo dan mi-mom Hana sampai garuk-garuk kepala, mereka tidak habis pikir dengan tingkah Arlo.
“Nomor Azura sudah dapat?” tanya papi Leo diangguki Arlo. “Sudah, pi. Semalam Queen sudah kasih,” jawab Arlo.
“Kamu harus terima apapun hukuman dari om Rega, Arlo. Meskipun kamu melakukannya untuk membantu Gavin, tetap tidak bisa di benarkan. Papi sendiri juga akan marah kalau ada pria yang memanjat dinding dan masuk ke kamar Aqila, papi rasa kamu sebagai abang juga tidak akan terima jika Aqila mengalaminya. Kamu paham, kan?”
“Paham, pi.” Arlo hanya bisa menunduk, di balik setiap ucapan papi Leo mengandung teguran. Papinya tersebut tidak meninggikan intonasi suara, namun justru hal tersebut membuat Arlo merasa bersalah.
Mi-mom Hana mengusap lembut lengan sang suami, papi Leo memang tidak meninggikan suara. Namun bukan berarti dia tidak marah pada Arlo. Papi Leo hanya tidak ingin suasana pagi mereka mendadak semakin buruk, terlebih mereka belum sarapan.
“Lebih baik kita sarapan dulu, mas. Setelah ini baru kita menemui kak Rega di kantornya,” ajak mi-mom Hana pada suaminya dan anaknya, karena Aqila juga sudah menunggu kedua orang tuanya di meja makan.
Mereka bertiga menuju ruang makan dan duduk di kursi masing-masing.
“Akhirnya. Qila sudah lapar banget ini mom, pi. Mana pakai acara ada jam tambahan pagi,” gerutunya, kemudian dia melirik sinis abang satu-satunya. “Pokoknya gara-gara bang Arlo, kalau Qila sampai terlambat ke sekolah."
“Ck … aku antar pakai si angin, sepuluh menit juga sampai.” Arlo mengambil nasi goreng untuk dia sarapan. “Beneran?” tanya Aqila diangguki Arlo.
“Aqila … tidak ada naik motor ya, nak! Qila sama mamang atau sama papi,” sahut mi-mom Hana.
Aqila memberengut. “Papi…” rengeknya pada papi Leo.
“Ikut kata mi-mom, sayang. Papi antar,” jawab papi Leo.
“Yaah! Tidak jadi naik si angin,” gumam Aqila, padahal dia sudah senang karena Arlo hendak mengantarnya menggunakan motor sport keren milik kakaknya.
Semua mulai dengan aktivitasnya masing-masing usai sarapan pagi, papi Leo bersama mi-mom Hana mengantarkan Aqila ke sekolah. Arlo juga sudah berangkat dengan motor sportnya, karena buru-buru dia memilih mengendarai si angin yang agar tidak terlambat.
***
“Kakak pulang jam berapa hari ini?” papa Rega baru saja selesai dengan sarapannya, begitu juga dengan Queena dan Dean.
“Jam tiga, pa. Ueena ada diskusi dulu setelah dari laborat,” jawab Queena.
“Papa jemput,” singkat, padat dan jelas. Queena hanya mengangguk, dia tidak membantah sama sekali pada papa Rega.
“Aku berangkat dulu, sayang.” Papa Rega pamit pada mama Rhea.
“Hati-hati di jalan, mas. Bekalnya,” mama Rhea memberikan tas bekal berisi snack dan kopi pada suaminya.
“Terimakasih, sayang.” Papa Rega menci um kening sang istri, dan meng3cup puncak kepala Queena. “Dean,” panggil papa Rega.
“Siap pa,” Dean hari itu berangkat ke sekolah diantar papa Rega, sedangkan Queena bersama mama Rhea diantar supir.
Queena tahu kalau papanya masih kesal akibat ulah Arlo semalam, kalau di pikirkan lagi, Queena sebenarnya tidak salah. Namun kejadian semalam membuat papa Rega seperti mendapatkan peringatan untuk lebih mejaga putrinya dengan baik.
“Papa marah sama Ueena ya, ma?” Queena menatap sendu kearah sang mama.
Mama Rhea tersenyum, dia menepuk lembut kepala Queena. “Papa bukan marah sama kakak, papa hanya khawatir. Ueena adalah putri satu-satunya papa, kalau ada pria yang paling tulus yang ingin menjaga dan tidak akan membiarkan siapapun melukai Ueena. Tentu saja pria itu adalah papa, sayang. Papa sedang mengusahakan dirinya untuk menjaga Ueena sepenuh hati,” mama Rhea memeluk putri sulungnya tersebut. “Mungkin cara papa agak berlebihan pada Ueena. Tapi Ueena harus percaya kalau papa setulus itu sayang pada princess cantiknya ini,” lanjut mama Rhea.
Queena mengangguk. “Ueena mengerti, ma.”
***
Papa Rega kembali melajukan mobilnya setelah menurunkan Dean di depan gerbang sekolahnya. Deru mesin mobilnya beradu dengan mobil para pengendara lain yang sedang menuju tempat aktivitas mereka masing-masing.
“Hari ini tidak ada meeting, kan Do?” Rega baru saja keluar dari lift dan bersama dengan Aldo sang asisten.
“Aman, pak. Tapi anda sudah di tunggu Tuan Leo bersama istrinya,” jawab Aldo.
“Baguslah kalau mereka sudah datang,” papa Rega memang ingin bicara dengan papi Leo dan mi-mom Hana tentang ulah Arlo.
Sebenarnya papa Rega bisa langsung memberi Arlo hukuman, hanya saja papa Rega masih menghargai kedua orang tua Arlo. Bagaimanapun papa Rega dan papi Leo adalah sahabat, bahkan sudah seperti keluarga. Karena itulah, papa Rega harus berdiskusi dengan papi Leo dan mi-mom Hana terkait hukuman yang pantas untuk Arlo.
“Pagi Leo, Hana. Sorry, kalian jadi harus menunggu. Aku antar Dean dulu,” papa Rega masuk ke dalam ruangan, dia menyapa sahabatnya tersebut.
“Santai saja, Ga. Kami juga belum lama,” papi Leo membalas pelukan hangat dari sahabatnya.
Mereka kembali duduk.
“Aku dan Hana minta maaf atas kejadian semalam, Ga. Aku tidak tahu kalau Arlo sampai punya pikiran senekat itu,” papi Leo membuka pembicaraan.
“Putra kalian itu ada saja tingkahnya. Kepalaku ini rasanya hampir pe cah setiap kali Arlo membuat masalah pada Ueena,” keluh papa Rega.
“Tapi anehnya, Ga. Hanya Ueena yang bisa membuat Arlo bertingkah epic seperti itu,” ucap papi Leo. “Padahal pada Azalea atau sepupu-sepupu perempuannya yang lain, Arlo tidak sejahil itu. Kami sendiri juga heran,” lanjut papi Leo.
Dua pria bergelar ayah tersebut menghela napas, hal tersebut membuat mi-mom Hana terkekeh. “Kalian ini masa kalah sama Arlo,” celetuk mi-mom Hana.
“Putramu itu benar-benar, Hana. Kamu lihat sendiri bagaimana Arlo selalu menjahili putriku,” gerutu papa Rega.
“Kak Rega ingin menghukum Arlo, kan?” tanya mi-mom Hana kemudian.
“Kalian yakin tidak akan apa-apa kalau aku menghukum Arlo?” balik papa Rega bertanya.
Mi-mom Hana menggeleng. “Tapi, kak. Aku rasa percuma menghulum Arlo dengan hukuman standar, dia tidak akan berubah. Arlo tetap akan membuat Ueena kesal,”
Papa Rega menyugar rambutnya ke belakang, dia sedikit frustasi jika berurusan dengan si biang kerok Arlo. “Kalian kan orang tua Arlo. Apa tidak ada cara agar membuat Arlo tidak selalu mengerjai Ueena?”
Papi Leo menggeleng, dia sendiri sudah frustasi jika berurusan dengan Arlo, belum lagi jika Arlo dan Aqila bertemu jadi satu. Rumah mereka bahkan berasa punya lima anak saking pada berisik dan tidak ada yang mengalah satu sama lain.
“Sepertinya ada cara yang lebih bagus dari sekadar hukuman, kak.” Mi-mom Hana akhirnya bersuara, dia menatap semua yang ada di sana dengan tatapan tajam.
“Kamu punya cara yang lebih efektif, Hana? Kompak papa Rega dan papi Leo bertanya.
Mi-mom Hana mengangguk. “Nikahkan Arlo dengan Queena,” ucap mi-mom Hana santai.
“Apa?” papi Rega dan papi Leo membelalak.