Delapan tahun Tira dan Dimas menjadi kekasih. Delapan tahun pula ia menunggu satu kepastian yaitu pernikahan. Namun, ketika Dimas tak kunjung datang membawa lamaran, ayah Tira justru menjodohkannya dengan Fahri, lelaki asing yang bahkan tak pernah ia cintai.
Tira akhirnya menikah dengan Fahri, meninggalkan cinta yang telah menemaninya selama delapan tahun. Tapi bagaimana jika lelaki asing itu perlahan membuatnya menemukan cinta yang selama ini ia cari? Dan bagaimana jika Dimas baru datang ketika Tira sudah menjadi istri orang lain?
#Konflik Etika #Nikah Paksa #Air Mata Pernikahan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Tira tertawa kecil. “Salah?”
“Enggak.” Suara Fahri terdengar menahan senyum. “Cuma bikin Abang susah konsentrasi nyetir.”
Tira langsung tertawa. “Ya sudah, fokus jalan.”
Fahri menggeleng kecil. Namun senyum tidak bisa disembunyikan dari suaranya. Di belakangnya, Tira kembali memeluk pinggang suaminya. Kali ini lebih nyaman, tanpa rasa terpaksa, tanpa bayang-bayang masa lalu. Rumah di sebelah tadi mungkin masih menyimpan seseorang yang belum rela kehilangan dirinya. Tetapi Tira tidak lagi ingin menoleh. Ia sudah memiliki tempat untuk pulang. Dan orang yang membawanya pulang setiap hari adalah laki-laki yang kini perlahan-lahan memenuhi seluruh hatinya.
***
Masalah tentang ternyata Dimas adalah tetangga rumah Tira dan Fahri sudah terlupakan oleh Tira. Ia memang benar-benar nggak tahu dimana keluarga Dimas tinggal, sekal kuliah di Jakarta, ia hanya tahu kalau Dimas ngekos dekat kampus mereka. Dimas nggak pernah ngajak Tira ke rumah orangtuanya. Tapi karena sekarang bagi Tira, Dimas bukan siapa-siapa makanya ia mengabaikannya.
Hari itu Tira sengaja mengambil cuti. Bukan karena sedang malas bekerja, melainkan karena ingin menemani Fahri ke kantornya. Kebetulan ada acara di kantor suaminya dan Fahri mengizinkannya ikut.
Selama ini Tira hanya mengenal Fahri sebagai suami di rumah, lelaki yang suka memasak, yang selalu menyiapkan sarapan, yang menunggunya di stasiun, dan yang kadang menggodanya sampai kesal sendiri.
Namun pagi itu Tira melihat sisi Fahri yang berbeda. Begitu memasuki lingkungan kantornya, pembawaan Fahri berubah. Ia tetap ramah, tetapi lebih tegas. Beberapa rekan kerja menyapanya dan ia membalas dengan sopan. Ada yang meminta tanda tangan, ada yang bertanya mengenai pekerjaan, bahkan ada yang datang untuk meminta pendapatnya. Fahri menanggapi semuanya dengan tenang dan tidak menunda-nunda pekerjaan.
Tira memperhatikannya dari kejauhan. Ia baru sadar bahwa suaminya ternyata bukan hanya lelaki baik di rumah. Di tempat kerja pun Fahri dikenal sebagai orang yang disiplin, bertanggung jawab, dan cukup disegani.
Ketika Fahri kembali sibuk, Tira duduk di kursi dekat meja kerjanya. Pandangannya kemudian tertuju pada meja itu. Ada beberapa berkas yang tersusun rapi, sebuah tanaman kecil, dan dua bingkai foto yang diletakkan dekat monitor komputer. Salah satunya membuat Tira tersenyum. Foto pernikahan mereka. Tira bahkan tidak tahu Fahri membawa foto itu ke kantor. Ia mengambilnya sebentar, lalu mengembalikannya dengan hati yang menghangat. Namun matanya kemudian menangkap satu foto lain. Foto seorang anak kecil. Tira mengernyit. Anak itu tampak masih sangat kecil, mungkin berusia sekitar lima atau enam tahun. Wajahnya tersenyum polos ke arah kamera. Tira menatap foto itu beberapa detik sebelum menunjuknya. “Itu kan aku?”
Fahri yang sedang membaca sesuatu di layar langsung menoleh. Sesaat ia hanya memandang Tira, kemudian nyengir.
Tira semakin bingung. “Kenapa senyum begitu?”
Fahri tidak langsung menjawab. Ia mengambil foto itu dan melihatnya sebentar. “Bukan kamu.”
“Terus siapa?” Tira mendekat.
Fahri masih tersenyum, seolah ada cerita panjang di balik foto tersebut yang belum ingin ia buka. Tira memperhatikan foto itu sekali lagi. Entah kenapa, ada perasaan aneh yang muncul di dadanya. Selama menikah, Fahri memang selalu terlihat terbuka kepadanya. Tetapi ternyata ada bagian dari hidup lelaki itu yang belum pernah ia tanyakan. Dan untuk pertama kalinya, Tira merasa bahwa ia masih punya banyak hal untuk dipelajari tentang suaminya sendiri.
***
Rumah tangga Fahri dan Tira semakin hari terasa semakin hangat. Tidak ada lagi kecanggungan seperti di awal pernikahan. Tira bahkan mulai menyadari bahwa perasaannya kepada Fahri bukan sekadar rasa nyaman. Ia benar-benar jatuh cinta. Anehnya, ia merasa sudah jatuh cinta kepada lelaki itu berkali-kali.
Pertama ketika Fahri menerima kekurangannya tanpa banyak bertanya, lalu ketika Fahri selalu mengingat hal-hal kecil yang bahkan Tira sendiri sering lupa, dan setiap kali melihat lelaki itu pulang dengan wajah lelah tetapi masih menyempatkan diri menanyakan apakah istrinya sudah makan.
Semakin mengenal Fahri, semakin Tira merasa bahwa keputusan menikah dengannya bukan sekadar jalan keluar dari masa lalu. Mungkin justru itulah jalan yang selama ini Tuhan siapkan untuknya. Sore itu, mereka duduk santai di ruang keluarga setelah makan malam.
Tira yang sedang bersandar di bahu Fahri tiba-tiba menatap wajah suaminya cukup lama. “Abang.”
Fahri masih fokus pada ponselnya. “Hm?”
Tira tersenyum, lalu mulai menggoda. “Kalau kita punya anak nanti, aku ingin anak kita mirip Abang.”
Fahri akhirnya menoleh. "Kenapa?"
Tira semakin bersemangat. “Matanya mirip Abang, senyumnya mirip Abang, sifatnya juga mirip Abang. Pokoknya harus banyak Fahri di rumah ini.”
Fahri langsung tertawa.
Tira belum selesai. “Soalnya aku cinta banget sama kamu, suamiku sayang.”
Bukannya membalas gombalan itu, Fahri malah mencubit hidung Tira pelan.
“Aduh!” Tira mengusap hidungnya sambil tertawa. “Kenapa sih? Aku sedang romantis.”
“Abang tahu.” Fahri masih tersenyum. “Makanya hidungnya dicubit.”
Tira cemberut pura-pura kesal. Padahal hatinya justru semakin berbunga-bunga. Ia memang sering menggoda Fahri, tetapi lelaki itu selalu punya cara sederhana untuk membuatnya malu sendiri. Tidak pernah berlebihan, tidak pernah memaksakan kata-kata manis. Hanya senyum, tawa, atau sentuhan kecil yang membuat Tira merasa dicintai.
Tira kembali menyandarkan kepalanya di bahu Fahri. Kali ini ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya tersenyum. Dulu ia pernah berpikir cinta sejati adalah seseorang yang sudah dicintainya selama bertahun-tahun. Sekarang ia mengerti, lama bersama seseorang tidak selalu berarti orang itu adalah tujuan akhir. Cinta bisa tumbuh di tempat yang tidak pernah ia duga. Bahkan bisa datang setelah hati pernah patah dan merasa tidak akan mampu mencintai siapa pun lagi. Dan setiap kali melihat Fahri, Tira merasa seperti menemukan cinta yang sama untuk kesekian kalinya.
***
Pulang kerja, Tira langsung melihat Fahri duduk di bangku dekat pintu keluar stasiun. Biasanya lelaki itu akan berdiri begitu melihat kereta Tira masuk, tetapi kali ini ia hanya duduk dengan kepala sedikit tertunduk. Wajahnya terlihat pucat dan lesu. Tira mempercepat langkah. Begitu mendekat, ia langsung menyentuh dahi Fahri. Panas. “Abang demam?”
Fahri mengangguk pelan. “Cuma demam karena lelah, Sayang.”
Tira langsung menggeleng. Ia tidak suka melihat suaminya dalam keadaan seperti itu, apalagi Fahri masih memaksakan diri datang menjemputnya. “Kita harus ke rumah sakit. Aku nggak mau Abang kenapa-kenapa.”
Fahri tersenyum lemah. “Nggak perlu panik. Kalau aku demam begini, istirahat seharian InshaAllah sudah cukup. Kita pulang saja. Nanti Abang langsung istirahat supaya besok baikan."
Tira mengambil tas Fahri sebelum lelaki itu sempat berdiri. Fahri menurut. Sepanjang perjalanan menuju parkiran, Tira terus memperhatikan langkah suaminya. Baru beberapa hari terakhir ia sadar betapa besar tempat Fahri di hatinya, hanya melihat Fahri demam saja sudah membuat dadanya sesak. Ia tidak ingin menunggu sampai sesuatu terjadi baru menyadari betapa berharganya lelaki itu. Sesampainya di motor, Tira membantu Fahri mengenakan helm. “Kalau badan masih panas, kita langsung ke rumah sakit,” katanya tegas. Fahri hanya mengangguk. Kali ini ia tidak membantah.