Semua orang bilang Dokter Sebastian Wijaya itu suci tanpa cela—dingin, jaga jarak, pewaris Amerta Medika yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun.
Hanya Amaya yang tahu: pria itu bersih selama tiga puluh tahun, dan semua "kotornya" cuma untuk dia.
Amaya terlahir kembali sebagai tokoh utama sebuah novel siksaan—perempuan yang ditakdirkan dihancurkan pelan-pelan oleh kakak angkatnya, Selena, lalu mati mengenaskan. Kali ini, ia menolak jadi domba yang disembelih. Wajahnya manis seperti anak baik-baik; isinya, penata ulang permainan yang tak kenal ampun.
Masalahnya: tunangan hasil perjodohan keluarga adalah Nathan, si adik. Tapi yang membuatnya jatuh justru **kakak iparnya sendiri**—dokter bedah yang seharusnya tak boleh ia sentuh.
Di depan umum: "Koh Sebas." Di balik pintu: milik satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15
Separuh Syal yang Tak Pernah Selesai
"Hadiahmu, keluarkan saja."
Amaya mengangguk kepada Sebastian, lalu membawa kotak panjang itu ke hadapan Karina.
"Aku menyiapkannya sepuluh tahun, Ma."
Ia berjongkok perlahan dan meletakkan kotak di atas pangkuan ibunya.
Karina menatapnya. "Sepuluh tahun?"
"Buka saja."
Pita dilepas. Tutup kotak terangkat.
Tidak ada berlian, emas, atau batu langka. Di dalamnya hanya terbaring sebuah album bersampul kain dan syal rajut berwarna krem yang sudah sedikit pudar.
Kekecewaan bergerak di antara para penonton.
Selena menyentuh ujung syal. "Nggak ada mereknya. Seperti beli paket dari toko online."
"Jahitannya juga nggak rata," Vanya menambahkan. "Sederhana sekali."
"Kulit Mama sensitif," Selena berkata lembut. "Kalau benangnya kasar, nanti gatal."
Meihwa menghela napas. "Kamu membuat semua orang menunggu untuk ini?"
Karina tidak menjawab.
Tangannya menyentuh bagian pertama syal. Rajutannya rapi dan padat. Di tengah, pola itu terputus, lalu dilanjutkan dengan tusukan yang lebih kaku dan sedikit tidak rata.
Jari Karina gemetar.
Ia mengenali warna benang tersebut.
Delapan belas tahun lalu, Amaya kecil memeluk gulungan benang di pusat perbelanjaan dan meminta dibuatkan syal. Jakarta tidak cukup dingin untuk memerlukannya, tetapi Amaya melihat Karina merajut hadiah bagi seorang kerabat dan ingin memiliki benda yang dibuat tangan mamanya sendiri.
Karina baru menyelesaikan setengah ketika anak itu hilang.
Setelah berminggu-minggu pencarian, ia mencoba melanjutkan rajutan tersebut. Satu tusukan saja membuat tangannya kaku. Ia menyimpan syal setengah jadi ke dalam peti dan tidak pernah membukanya lagi.
Kini setengah syal yang dibuatnya tersambung dengan setengah lain yang lebih canggung.
Dua bagian hidup dijahit menjadi satu.
"Cukup," kata Karina.
Selena tidak mendengar. "Ma, aku cuma khawatir benangnya..."
"Cukup. Semuanya diam."
Suara Karina memotong seluruh area duduk. Para tamu langsung berhenti berbisik.
Ia mengangkat syal ke wajah, menghirup aroma kain yang sudah dibersihkan dan dipulihkan. Air matanya jatuh sebelum sempat diseka.
"Maya, kamu menemukan ini di mana?"
"Di peti penyimpanan rumah lama. Aku minta studio membersihkannya tanpa mengganti benang asli." Amaya menunjuk sambungan di tengah. "Bagian yang belum selesai aku lanjutkan sendiri. Jelek sedikit, tapi masih bisa dipakai."
"Bukan jelek." Karina menggeleng keras. "Ini syalmu."
Amaya membuka album di bawahnya.
Halaman pertama memuat potongan iklan pencarian anak hilang dari delapan belas tahun lalu. Foto Amaya usia lima tahun tercetak di tengah, dikelilingi nomor telepon dan janji hadiah bagi siapa pun yang memberi informasi.
Halaman berikutnya berisi tiket pesawat, karcis kereta, kuitansi penginapan, dan foto perjalanan Robert serta Karina. Semua disusun berdasarkan tanggal. Satu kota, lalu kota lain. Tiga puluh dua kota selama sepuluh tahun.
Ada foto mereka di Bandung pada musim hujan, berdiri di depan kantor polisi dengan payung yang rusak. Ada tiket menuju Surabaya setelah seseorang mengaku melihat anak mirip Amaya di terminal. Ada kuitansi hotel murah di Medan, lembar laporan dari Pontianak, dan foto Karina tertidur di kursi bandara Makassar sambil memeluk map pencarian.
Sebagian informasi palsu. Sebagian hanya kemiripan wajah. Beberapa orang meminta uang sebelum memberi alamat yang ternyata kosong. Robert dan Karina tetap berangkat setiap kali kemungkinan sekecil apa pun muncul.
Pada satu halaman, Robert menulis dengan tinta pudar: `Hari ke-1.826. Jangan berhenti.`
Pada halaman lain, ada salinan pesan Karina kepada suaminya: `Kalau bukan Maya, kita pulang besok. Kalau ada kabar baru, kita pergi lagi.`
Di bawah foto Karina berdiri di terminal dengan mata bengkak, tertulis: `Mama mencariku sampai ke sini.`
Karina menutup mulut.
Ia membalik halaman lagi.
Setelah bagian pencarian, album berubah. Kertas-kertas dari daerah pegunungan muncul, beberapa sudah menguning. Ada bunga liar yang dikeringkan dan ditempel hati-hati.
Tulisan anak berusia enam tahun berada di bawahnya.
`Biar Mama lihat musim semi di gunung.`
Halaman lain menyimpan sehelai bulu burung.
`Aku juga pengen terbang. Terbang pulang.`
Lalu sebuah kertas kecil dengan huruf yang belum rapi.
`Papa Mama, Maya kangen banget.`
Tahun berganti di setiap halaman. Tulisan yang semula miring menjadi lebih teratur. Bunga-bunga kecil diganti daun, gambar rumah, potongan bungkus permen yang disimpan untuk dibawa pulang, dan catatan ulang tahun yang tidak pernah terkirim.
Satu amplop tipis berisi dua lembar uang kecil yang sudah tidak berlaku. Di depannya tertulis `buat beli kue Mama kalau aku pulang`. Ada pula gambar keluarga dengan tiga orang berdiri di bawah matahari besar. Sosok anak di tengah dibuat memegang tangan orang tuanya begitu erat sampai garis krayonnya merobek kertas.
Karina menyentuh sobekan itu dengan ujung kuku. Selama ini ia mengira Amaya pulang tanpa kenangan, terlalu kaku untuk merindukan rumah yang hanya dikenalnya sampai usia lima tahun. Ternyata putrinya menjaga setiap serpihan rumah di tempat yang bahkan tidak bisa dijangkau keluarga.
`Hari ini Maya delapan tahun. Kalau pulang, Mama masih kenal?`
`Maya sepuluh tahun. Aku sudah bisa masak nasi.`
`Maya tiga belas. Aku masih ingat suara Papa.`
`Maya lima belas. Katanya ada orang dari Jakarta mencari aku.`
Suara tangis pecah dari salah satu tamu. Jessica mengusap air mata tanpa malu. Robert berdiri kaku di belakang istrinya, mata merah menatap sepuluh tahun kehidupan putrinya yang tak pernah ia lihat.
Amaya menemukan semua benda tersebut tersebar di kotak-kotak lama. Dalam cerita yang ia baca, album ini tidak pernah selesai. Bahan-bahannya tetap terkunci sampai Amaya asli mengakhiri hidup.
Barulah keluarga menemukan semuanya.
Karina menangis sampai pingsan. Robert memeluk benda-benda yang berubah menjadi peninggalan. Orang-orang akhirnya memahami anak yang sudah tidak bisa lagi mendengar permintaan maaf mereka.
Amaya menolak akhir semacam itu.
Ia membawa potongan pencarian dari arsip keluarga, membersihkan setiap tiket, meminta studio terbaik melapisi dokumen tanpa merusaknya, lalu menyatukannya dengan benda yang dikumpulkan pemilik tubuh ini selama di pegunungan.
Gadis itu pantas dikenang ketika masih hidup.
Bukan dijadikan alasan bagi orang lain untuk terlihat menyesal setelah kematiannya.
Karina menarik Amaya ke pelukan. Album hampir terjatuh, tetapi Robert cepat menahannya.
"Maaf," Karina menangis di bahu putrinya. "Mama nggak tahu kamu menyimpan semua ini."
"Sepuluh tahun Mama mencari aku. Aku tahu semuanya sekarang."
"Tapi setelah kamu pulang, Mama malah..."
"Di gunung pun aku nggak pernah lupa Mama." Amaya mengambil syal dan melingkarkannya di bahu Karina. "Syal ini nggak boleh kurang setengah. Hidup kita juga nggak boleh hilang satu bagian. Mama yang mulai, aku yang selesaikan."
Karina memeluknya semakin erat.
Robert berlutut di samping mereka. Ia merangkul istrinya, lalu menaruh tangan di kepala Amaya seperti ketika putrinya masih kecil.
"Anak baik," katanya dengan suara pecah.
Pria yang biasanya berdiri paling tegak di setiap ruang rapat kini harus menarik napas dua kali sebelum mampu bicara lagi.
"Papa pikir setelah kamu pulang, semuanya selesai," katanya. "Papa sibuk memastikan sekolahmu, dokumenmu, dan hidupmu kembali teratur. Papa nggak pernah tanya apa yang terjadi selama sepuluh tahun itu."
Amaya memandangnya.
"Papa juga nggak pernah tanya kenapa kamu makin diam." Tangan Robert masih berada di atas kepalanya. "Papa mengira memberimu rumah berarti kamu otomatis merasa pulang."
"Aku sudah pulang sekarang, Pa."
Kalimat sederhana itu mematahkan pertahanan terakhir Robert. Ia menunduk dan mencium puncak kepala putrinya, tidak peduli berapa banyak mitra bisnis yang menyaksikan.
Untuk sesaat, Amaya tidak tahu apakah kelembutan di dadanya milik dirinya atau gadis yang pernah tinggal di sana. Ia hanya membiarkan tubuh ini menerima pelukan yang terlambat delapan tahun, tetapi belum terlambat seumur hidup.
Di sekeliling mereka, para tamu tidak lagi melihat merek atau harga. Kalung giok dan bros berlian masih berada di meja, berkilau tanpa ada yang memperhatikan.
Sebastian berdiri sedikit di luar lingkaran. Ia pernah menganggap album keluarga sebagai benda sentimental yang tidak punya nilai praktis. Namun melihat Amaya hidup di dalam dua garis waktu, dicari selama sepuluh tahun dan tetap merasa tak ditemukan setelah pulang, membuat penilaian itu berubah.
Perempuan tersebut tidak sedang membeli kasih sayang Karina. Ia mengembalikan tahun-tahun yang terpisah dalam bentuk yang bisa disentuh.
Jessica berdiri di sebelahnya sambil menangis. "Masih mau bilang hadiah harus dinilai dari harga?"
"Saya tidak pernah bilang begitu."
"Bukan Koh. Orang-orang itu."
Sebastian menatap Amaya. "Mereka sudah mendapat jawabannya."
Selena berdiri di luar pelukan keluarga. Wajahnya pucat seperti menelan irisan lemon utuh.
Ia sudah membayangkan kalung gioknya menjadi pusat percakapan sepanjang malam. Kini bahkan Karina tidak lagi memegang kotaknya. Semua mata tertuju pada syal tua dan album tanpa logo.
Vanya bergerak mendekat, hendak mengatakan sesuatu, tetapi Selena menahan pergelangan tangannya. Setelah ruangan menangis bersama Amaya, satu sindiran lagi hanya akan membuat mereka terlihat kejam.
Karina membuka album lagi sambil menyeka air mata. "Kenapa nggak kamu keluarkan dari dulu? Kenapa semua ini disimpan?"
Amaya menunduk. "Aku takut hadiahku mempermalukan Mama lagi."
"Mempermalukan?"
"Setelah kejadian tas delapan tahun lalu, aku nggak berani memberi hadiah di depan orang."
Tatapan para tamu beralih kepada Selena dan Vanya.
Amaya mengusap ujung syal, lalu berkata pelan, "Akun yang menjual tas palsu bekas itu diberikan Ci Selena kepadaku. Ci bilang penjualnya teman yang bisa dipercaya."