Kael Dravenhart, Pahlawan Perang Kerajaan Valdoria, menagih janji pernikahan dari sang Raja. Ia mengira akan menikahi sang putri tercantik, Liana. Namun, takdir berkata lain ketika Raja memberikannya Virelia; sang putri pertama yang terkenal gila, kasar, dan suka melempar vas ke kepala orang.
Kael mengira rumah tangganya akan menjadi neraka karena harus mengurus istri yang gemar berteriak, menyuruhnya memanjat bulan. Ia tidak tahu bahwa di balik tawa kosong dan lemparan garpunya, sang istri adalah Raven, ketua pembunuh bayaran paling berbahaya sekaligus pemimpin revolusi yang bersumpah untuk menggulingkan sang Raja tiran!
Ketika komedi pernikahan paksa berpadu dengan aksi pembunuhan berantai dan rahasia istana, sang Serigala Perang harus memilih: melaporkan istrinya ke istana, atau ikut membantu sang ratu bayangan menjungkirbalikkan takhta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12. KETAHUAN?
Langit di ufuk timur Kediaman Duke Dravenhart mulai memancarkan pendar keemasan lembut, mengusir sisa-sisa kegelapan malam. Udara pagi perbatasan berembus dingin, membawa embun yang membasahi dahan-dahan pohon ek di halaman belakang puri.
Di salah satu balkon batu lantai dua, sesosok pria berpostur tegap berdiri dengan jubah tidur tersampir longgar di bahunya. Kael Dravenhart memegang secangkir teh hangat di tangan kanan, tetapi pandangan matanya sama sekali tidak tertuju pada cangkir tersebut. Sepasang mata birunya menatap tajam ke arah tembok pembatas puri di ujung halaman.
Sejak fajar mulai menyingsing, Kael memang sengaja bangun lebih awal untuk memeriksa pos penjagaan malam. Namun, bukan laporan prajurit yang menarik perhatiannya, melainkan sesuatu yang jauh lebih menarik ... amat sangat menarik.
SREKK!
Dari kejauhan, sesosok bayangan hitam berkecepatan tinggi meluncur tanpa suara di atas tembok pembatas setinggi lima meter. Gerakannya luar biasa gesit, ringan, dan presisi tinggi. Tidak ada suara gesekan sepatu, tidak ada ranting yang patah, dan tidak ada jejak kecerobohan sedikit pun. Itu adalah teknik pergerakan seorang pembunuh profesional tingkat atas, sebuah keahlian fisik yang hanya bisa dikuasai melalui latihan bertahun-tahun di dunia hitam.
Bayangan berjubah hitam itu mendarat mulus di dahan pohon ek luar jendela kamar sayap barat, membuka kait kaca jendela dengan belati tipis, lalu menyelinap masuk ke dalam ruangan dalam hitungan detik.
Kael menyesap tehnya perlahan. Sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat misterius.
"Jadi ... gerakan seringan hantu, keahlian menyusup yang sempurna, dan kemampuan melumpuhkan pembunuh bayaran malam itu tanpa suara. Dan orang-orang di istana masih percaya bahwa gadis itu adalah gadis gila yang suka melempar vas bunga," gumam Kael pelan pada dirinya sendiri, suaranya tenggelam di antara desiran angin pagi.
Kael menarik napas dalam-dalam. Teka-teki yang selama ini membingungkannya perlahan-lahan mulai tersusun rapi di dalam kepalanya. Istrinya, Putri Virelia, tidak seperti rumor buruk yang beredar. Semua gerakan refleks dan ketenangannya di malam-malam sebelumnya bukanlah ciri seseorang yang kehilangan akal sehat.
Alih-alih merasa dikhianati atau marah besar karena dibohongi, dada Kael justru bergemuruh oleh perasaan yang aneh: rasa kagum yang bercampur geli.
Gadis cerdas. Kau bekerja keras menipu seluruh dunia dengan akting gilamu, tapi sayangnya kau ceroboh karena tinggal bersama seorang panglima perang yang paling teliti di Valdoria, Virelia, batin Kael terkekeh kecil dalam hati.
Namun, Kael memutuskan untuk tidak membongkar kedok itu sekarang. Ia tahu, jika Virelia menyembunyikan identitasnya sedemikian rupa, pasti ada alasan besar atau ancaman mematikan di balik layar yang melatarbelakangi sandiwara tersebut.
Sebagai seorang ahli strategi, Kael memilih untuk pura-pura tidak tahu, menikmati permainan kucing-kucingan ini, dan membiarkan istrinya merasa aman di dalam dunianya sendiri.
Beberapa menit kemudian, di dalam kamar tidur sayap barat.
Virelia baru saja melepas jubah hitam dan topengnya, menggantinya kembali dengan gaun tidur putih, lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan napas lega.
Perjalanan dari bar The Rusty Anchor berjalan lancar, dan ia berhasil menyusup kembali ke puri tanpa ketahuan siapa pun ... atau setidaknya, itulah yang ia yakini.
Virelia menarik selimut tinggi-tinggi, bersiap menikmati sisa malam untuk tidur nyenyak sebelum matahari benar-benar terbit.
TOK. TOK.
Suara ketukan pintu pelan membuyarkan ketenangan sang gadis.
Virelia langsung menegang. Ia mendengus kesal di balik selimut.
Siapa lagi pagi-pagi begini?! Jangan bilang si Elaine datang membawa teh herbal lagi! dumel Virelia dalam hati.
"Siapa?!" panggil Virelia dengan nada ketus, sengaja mengubah suaranya agar terdengar malas.
Pintu terbuka lebar. Alih-alih Elaine, sosok yang melangkah masuk ke dalam kamar adalah Duke Kael Dravenhart. Pria itu sudah berpakaian rapi, tampak segar, dan berjalan dengan langkah tegap menghampiri tempat tidur Virelia.
Melihat kehadiran suaminya di pagi buta, mata Virelia membelalak kaget. Jantungnya berdegup kencang.
Tunggu apakah dia melihatku masuk lewat jendela? batin Virelia panik, namun ia langsung memasang mode pertahanan diri dengan akting gilanya.
Virelia langsung melompat duduk di atas kasur, mengacak-acak rambut pirangnya sendiri hingga berantakan, lalu menunjuk Kael dengan mata terbelalak lebar dan senyuman lebar yang menyeramkan.
"Hahahaha! Pasukan bebek raksasa menyerang kamarku lagi! Pergi sana, Bebek Panggang! Jangan ambil mahkota awanku!" teriak Virelia histeris, melambaikan tangannya ke udara kosong.
Kael berhenti tepat di sisi tempat tidur. Ia melipat kedua tangannya di dada, lalu menatap Virelia dari atas dengan sebelah alis terangkat. Pandangan matanya menyiratkan seringian geli yang sangat kentara, sementara ia berpura-pura memasang wajah bingung.
"Bebek panggang? Sayang sekali, aku tidak melihat ada bebek di sini, Virelia. Tapi dari rambutmu yang berantakan dan napasmu yang sedikit terengah-engah, sepertinya kau baru saja lari dari kejaran sesuatu. Apakah mimpimu buruk lagi?" tanya Kael dengan nada datar yang dibuat-buat heran.
Virelia mendadak membeku sesaat mendengar ucapan Kael. Ia mengerjap cepat, memastikan apakah suaminya sedang mencurigainya atau benar-benar tertipu.
Ah, benar dia mengira aku hanya mimpi buruk karena aku kan 'gila', batin Virelia merasa sedikit lega, meski jantungnya masih berdegup kencang.
"Bukan mimpi buruk! Mereka nyata! Bebek-bebek itu memakai topi baja dan membawa garpu! Pergi sana!" seru Virelia semakin keras, pura-pura mengamuk dengan melempar bantal ke arah Kael.
Kael dengan mudah menangkap bantal yang dilempar Virelia menggunakan satu tangan. Pria itu tersenyum tipis, senyuman geli yang berusaha ia sembunyikan di balik ekspresi datarnya. Ia perlahan-lahan mendekati tempat tidur, mencondongkan tubuhnya ke depan hingga wajah mereka berada dalam jarak yang sangat dekat.
"Baiklah, Ratu Bebek. Jika pasukan bebek itu datang lagi, panggil saja aku. Aku akan melindungi mahkota awanmu dari mereka," bisik Kael rendah, tepat di dekat telinga Virelia dengan nada yang sengaja menggoda.
Virelia menelan ludahnya susah payah. Jantungnya bergemuruh hebat, bukan karena takut, melainkan karena tatapan mata biru Kael terasa begitu intens, seolah-olah pria itu bisa melihat menembus ke dalam pikirannya.
Sial! Kenapa rasanya dia seperti sedang mempermainkanku?! maki Virelia dalam hati, merasa salah tingkah setengah mati.
Karena panik dan merasa gerak-geriknya terlalu diperhatikan, Virelia memutuskan untuk meningkatkan level kegilaannya agar Kael segera pergi. Ia mendadak menangis histeris, mencengkeram rambutnya sendiri, lalu berbaring dan berguling-guling di atas kasur seperti anak kecil yang tantrum di pasar.
"Aaaaa! Bebek Jelek! Jangan baca pikiranku! Tolong! Tolong! Tabib! Berikan aku ramuan katak agar aku bisa terbang ke pulau awan!" jerit Virelia dramatis, menendang-nendangkan kakinya ke udara secara serampangan.
Virelia melakukan akting itu sekuat tenaga, tetapi di dalam hatinya, Virelia sedang mati-matian menahan diri agar tidak tertawa melihat betapa konyol aktingnya sendiri di hadapan seorang panglima perang.
Namun, reaksi Kael di luar dugaannya.
Alih-alih merasa terganggu atau memanggil tabib seperti hari-hari sebelumnya, Kael justru menegakkan tubuhnya, lalu meledakkan tawa; sebuah tawa lepas yang begitu renyah, hangat, dan sangat tampan, sesuatu yang belum pernah didengar oleh siapa pun di istana selama bertahun-tahun.
"Hahahaha!"
Suara tawa berat itu menggema di seluruh sudut kamar, membuat Virelia seketika menghentikan gulingannya. Ia berbaring kaku di bawah selimut, menatap Kael dengan mata terbelalak lebar penuh kebingungan.
"K-Kau kenapa kau tertawa?! Kau sedang kesurupan roh badai salju?!" protes Virelia dengan suara aslinya yang sempat lolos karena kesal, lupa sejenak pada akting gilanya.
Kael menyeka sudut matanya yang sedikit berair akibat tertawa, lalu menatap Virelia dengan senyuman paling lembut yang pernah ada di dunia. Ia menarik napas pelan untuk meredakan tawanya.
"Maaf, maaf. Hanya saja ... melihat Ratu Awan seperti ini membuatku berpikir bahwa kau adalah makhluk paling unik di seluruh Valdoria," ucap Kael dengan nada jenaka namun penuh kehangatan.
Virelia mengerjap bingung, merasa ada sesuatu yang aneh dari sikap Kael pagi ini. Pria itu tidak terlihat kesal, tidak curiga secara berlebihan, melainkan tampak ... menikmati pertunjukan gila gadis itu.
"Sudahlah. Lanjutkan saja 'perang' dengan pasukan bebekmu. Aku harus pergi memimpin rapat militer. Jangan lupa sarapan, Virelia," lanjut Kael sambil melangkah mundur menuju pintu kamar, melambaikan tangan santainya.
Begitu pintu kamar tertutup rapat dan Kael menghilang di balik koridor, Virelia terduduk diam di atas ranjang. Ia meraba dadanya sendiri yang bergemuruh kencang.
Di balik pintu yang tertutup, Kael berjalan menyusuri koridor puri sambil tersenyum lebar.
Berpura-pura gila ya? Terserah apa katamu, istriku. Aku akan menemanimu bermain sandiwara ini sampai kau sendiri yang menyerah dan menceritakan semuanya padaku, batin Kael penuh percaya diri. Senang bahwa ia memiliki orang paling menarik perhatiannya saat ini.
menjadikan aku lebih tegar dan terlihat serba bisa .
siapapun yg selalu didorong kepinggir jurang setiap saat,pastinya mekanisme perlindungan diri nya lebih aktif 🥹🥹
" menjadi seorang perempuan harus serba bisa
bahkan ketika kita memakai gaun yg cantik,kita harus bisa berdiri tegak di dalam sebuah pertempuran."
ratu awan lu
Elaine mana?
syok ga liat boneka Barbie nya bisa begitu🤣🤣🤨
sweet banget si mereka😍😍
dah kayak Mak Mak komplek
pas bgt itu🤣🤣
ga usah malu
bangga donk ah
ajaran siapa itu🤣🤣🤣
gara gara siapa tu woiiii🫣🤣🤣🤣
lama lama virusnya akan kah nyampe ke Julian???🤨
othor.....tolong
kok lebih menjiwai mereka si
aku jadinya percaya sama siapa???
🫣🤣🤣🤣🤣