NovelToon NovelToon
Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu Tiri
Popularitas:4
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Demi melunasi utang keluarga, **Meilani "Lani" Lie** rela menjadi simpanan **Gunawan Tio**, konglomerat garmen berusia 42 tahun. Hidupnya nyaris sempurna di balik topeng—sampai **Rey**, putra Gunawan yang baru pulang dari luar negeri dengan tubuh penuh luka, menatapnya penuh benci.

*"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"*

Rey membencinya. Sepuluh tahun lebih muda, liar, dan berbahaya—ia bersumpah mengusir Lani dari rumah itu. Tapi semakin ia menekan, semakin ia tak bisa lepas. Dan ketika Lani akhirnya pergi tanpa membawa sepeser pun uang, Rey baru sadar satu hal terlambat: **ia salah membenci orang.**

Dari benci menjadi obsesi, dari paksaan menjadi penebusan—inilah kisah cinta paling terlarang: mantan simpanan sang ayah, dan sang putra yang menolak melepasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

BAB 30

PERHITUNGAN DI MALL

"Bukankah itu perempuan simpanan Pak Tio?"

Suara Tante Lanny memotong keramaian atrium.

Lani berhenti di depan toko perlengkapan rumah. Rey yang berjalan setengah langkah di belakangnya ikut berhenti. Tangan mereka baru saja terlepas karena Lani ingin melihat satu set cangkir.

Leo berdiri di samping ibunya dengan dua kantong belanja. Wajahnya berubah pucat ketika melihat Rey.

"Ma, sudah," katanya cepat.

"Kenapa harus sudah?" Tante Lanny menaikkan suara. "Dia yang harus malu. Dulu delapan tahun mengejar anak saya, sekarang jalan sama anak laki-laki yang pantas dipanggil adik."

Beberapa pengunjung menoleh. Seorang remaja mengangkat ponsel, belum merekam tetapi jelas bersiap.

Lani menatap perempuan yang pernah menghinanya di koridor rumah sakit saat Papa Lie menunggu operasi. Dulu ia menelan semua kata karena setengah biaya berada di tangan keluarga Ang. Hari ini tak ada tagihan yang mengikat lidahnya.

"Aku tidak mengejar Leo," katanya tenang. "Kami berpacaran delapan tahun. Ketika Papaku sakit, dia memilih diam saat Tante menghina keluargaku. Hubungan kami selesai karena pilihan itu."

Leo menunduk.

"Jangan memutar cerita," balas Tante Lanny. "Anak saya sudah membantu biaya rumah sakitmu. Kurang apa?"

"Dia membantu setengah, lalu membiarkan Tante memakai bantuan itu untuk merendahkan orang sakit. Sisa biaya dibayar Pak Gunawan. Hubungan setelahnya adalah keputusan orang dewasa yang tidak ada urusannya dengan Tante."

"Keputusan? Menjual diri disebut keputusan?"

Rahang Rey mengeras.

Lani menyentuh lengannya tanpa melihat. "Jangan."

Sentuhan itu menahan Rey selama beberapa detik.

"Ma, ayo pergi," desak Leo. "Orang-orang lihat."

Tante Lanny justru menunjuk Rey. "Kamu tahu perempuan ini bekas papamu? Masih mau pegang? Perempuan seperti dia cuma pindah dari laki-laki kaya satu ke yang lain."

Rey maju satu langkah.

"Minta maaf."

"Kamu mengancam saya?"

"Minta maaf ke Lani."

Suara Rey tidak keras. Ketajamannya membuat Leo menjatuhkan satu kantong belanja.

"Rey," kata Lani. "Kita pergi."

Ia berbalik. Leo, panik melihat kerumunan dan ibunya yang belum berhenti berteriak, meraih pergelangan Lani.

"Tunggu. Kita bisa bicara baik-baik."

Rey bereaksi sebelum Lani sempat menarik tangan.

Pukulan pertama mengenai rahang Leo. Pegangannya terlepas. Pukulan kedua mendorong Leo ke sisi etalase. Rey sempat mengangkat tangan untuk ketiga kali, tetapi Lani memeluk lengannya dari belakang.

"Cukup!"

Dua petugas keamanan mall datang berlari. Satu menarik Rey, satu berdiri di depan Leo. Tante Lanny menjerit meminta polisi sambil menunjuk darah tipis di bibir anaknya.

"Dia menyerang anak saya! Semua orang lihat!"

"Anak Tante memegang saya tanpa izin," kata Lani. Tangannya gemetar, tetapi suaranya jelas. "CCTV juga akan menunjukkan siapa yang mulai mendekati."

Ponsel yang terangkat di sekeliling mereka kini benar-benar merekam.

Rey tidak melawan petugas keamanan. Ia mengangkat kedua tangan dan berkata, "Gue ikut. Panggil polisi."

Lani menatap buku-buku jarinya yang memerah.

Janji tidak bertengkar baru bertahan beberapa minggu.

***

Mereka dibawa ke pos keamanan lebih dulu. Rekaman CCTV disalin, identitas saksi dicatat, lalu kedua pihak diminta datang ke kantor polisi sektor terdekat untuk membuat keterangan.

Di ruang pemeriksaan, Lani menjelaskan hinaan publik dan pegangan Leo pada pergelangannya. Dua saksi pengunjung mengonfirmasi. CCTV memperlihatkan Leo menahan Lani lebih dulu, lalu Rey memukul dua kali setelah tangan Lani sudah mulai lepas.

Seorang petugas menjelaskan bahwa unsur pembelaan terhadap orang lain dapat dipertimbangkan, tetapi pukulan kedua tetap harus dinilai proporsional. Leo mengalami luka ringan dan tidak membutuhkan rawat inap. Tidak ada senjata.

"Kalian bisa meneruskan laporan masing-masing," kata petugas, "atau kalau semua pihak bersedia, kami fasilitasi mediasi. Tidak ada yang boleh dipaksa berdamai."

Tante Lanny langsung menolak.

"Saya mau dia ditahan. Dia anak orang kaya, pasti merasa bisa melakukan apa saja."

Rey duduk di seberang meja dengan tangan mengepal di paha. "Gue nggak minta dibebaskan karena keluarga."

Penasihat hukumnya yang datang setelah dihubungi Lani meminta ia diam.

Petugas kemudian menanyakan status perkara Rey sebelumnya. Lani menyerahkan salinan keputusan penangguhan dan jadwal wajib lapor tanpa menyembunyikan apa pun. Penasihat hukum menjelaskan bahwa perdamaian pada perkara hari ini tidak otomatis menghapus penilaian terhadap kepatuhan Rey dalam perkara lama.

"Dokumen kejadian ini tetap kami catat," ujar petugas. "Unit yang menangani perkara sebelumnya akan menerima pemberitahuan. Mereka yang menilai apakah syarat penangguhan dilanggar."

Rey sempat menoleh kepada penasihat hukumnya seolah berharap ada jalan yang lebih mudah.

"Nggak ada yang bisa menjamin hasilnya," kata pria itu. "Kamu datang kooperatif, tidak memakai senjata, dan rekaman menunjukkan ada tindakan Leo lebih dulu. Itu fakta yang membantu. Tapi pukulan kedua juga fakta."

Lani merasakan telapak tangannya semakin dingin. Ini bukan lagi perkelahian yang selesai karena satu pihak meminta maaf. Satu gerakan Rey selalu menarik semua akibat lama kembali ke meja.

"Saya tetap bersedia menjadi penjamin," katanya kepada petugas, "tapi saya tidak akan memberikan keterangan palsu untuk melindungi dia."

Rey menunduk. Kalimat itu lebih keras daripada bentakan.

Leo menempelkan es pada rahang. Semakin lama ia berada di kantor polisi, semakin banyak notifikasi muncul di ponselnya. Video pertengkaran sudah masuk ke akun lokal. Potongan Tante Lanny menyebut Lani perempuan simpanan terdengar lebih jelas daripada pukulan.

"Ma," bisik Leo, "kalau kita teruskan, semua omongan Mama juga masuk laporan."

"Biar! Dia memang begitu."

"Ada CCTV waktu aku pegang tangannya."

Tante Lanny terdiam.

Lani meminta berbicara. "Aku tidak mau uang dari kalian. Aku mau permintaan maaf tertulis, pencabutan semua unggahan atau komentar yang dibuat Tante, dan janji tidak mendekati aku maupun keluargaku lagi. Rey akan membayar pemeriksaan medis Leo karena dia memukul."

Rey menoleh. "Kenapa gue harus bayar dia?"

"Karena tanganmu yang membuat luka. Tanggung jawab tidak menghapus kesalahan mereka."

Petugas mengangguk. "Itu bisa dicatat sebagai usulan perdamaian. Pihak lain boleh menerima atau menolak."

Leo menatap video di ponselnya sekali lagi. "Aku setuju."

"Leo!"

"Aku nggak mau ini makin besar, Ma."

Mediasi berlangsung hampir dua jam. Surat perdamaian akhirnya memuat dua sisi: Rey mengakui dua pukulan, menanggung biaya pemeriksaan dan berjanji tidak mengulangi kekerasan; Leo mengakui memegang Lani tanpa izin; Tante Lanny dan Leo meminta maaf atas penghinaan, menghapus unggahan mereka sendiri, serta tidak menghubungi atau mendatangi Lani dan keluarga Lie.

Kedua pihak diberi waktu membaca bersama pendamping masing-masing. Tidak ada pasal yang menyatakan salah satu pihak tidak pernah bersalah. Tidak ada uang tutup mulut.

Setelah semua tanda tangan selesai, Leo berdiri di depan Lani.

"Maaf," katanya. "Dulu di rumah sakit dan hari ini. Aku seharusnya membela kamu, bukan diam di belakang Mama."

Lani menatap laki-laki yang pernah dicintainya selama delapan tahun. Permintaan maaf itu datang terlalu lambat untuk mengubah apa pun, tetapi cukup untuk menutup satu pintu.

"Aku terima permintaan maafnya. Setelah ini jangan cari aku lagi."

Leo mengangguk.

Tante Lanny tidak sanggup mengucapkan kalimat dengan hangat. Ia hanya membaca permintaan maaf tertulis yang disepakati, lalu pergi lebih dulu dengan wajah kaku.

Kali ini, Leo mengikutinya bukan sebagai anak yang membenarkan ibunya, melainkan sebagai laki-laki yang akhirnya tahu diam juga bisa menjadi kesalahan.

***

Di apartemen, Lani membersihkan luka kecil di buku jari Rey.

Pemuda itu duduk di kursi makan dengan ekspresi lebih kesal daripada ketika berada di kantor polisi.

"Perih?" tanya Lani.

"Nggak."

"Bagus. Biar ingat."

Kapas beralkohol menyentuh kulit. Rey meringis.

"Katanya nggak perih."

"Kamu sengaja nekan."

"Kamu melanggar janji. Kalau penyidik perkara pertamamu menilai ini pelanggaran syarat, penangguhanmu bisa dipertimbangkan ulang. Besok kita laporkan dokumennya secara terbuka."

"Leo pegang kamu."

"Kamu boleh melepaskan tangannya. Bukan memukul dua kali."

Rey menatap dinding. "Gue dengar ibunya ngomong soal kamu dan Papa. Gue ingat apa yang kamu ceritakan."

"Aku juga marah. Tapi aku bisa membela diriku sendiri."

"Aku tahu." Suaranya melemah. "Gue cuma nggak tahan ada orang bikin kamu berdiri sendirian lagi."

Tangan Lani berhenti.

Selama tiga puluh tahun, ia terbiasa menghitung risiko sebelum membalas. Di koridor rumah sakit, ia memilih diam demi operasi Papa. Di depan keluarga Leo, ia menelan malu agar hubungan delapan tahun tidak berakhir. Hari ini ia sudah bicara untuk dirinya sendiri, tetapi ada seseorang yang berdiri di sampingnya sebelum diminta.

Rasa hangat itu tidak membuat pukulan menjadi benar.

Namun ia tidak bisa menyangkal betapa dalamnya perasaan terlindungi menyentuh bagian dirinya yang paling lelah.

"Lain kali," kata Rey, "kalau ada yang hina kamu, panggil aku."

"Untuk apa? Supaya kamu masuk sel?"

"Supaya kamu nggak sendirian. Aku bisa belajar nggak mukul."

Lani mengoleskan salep, lalu membalut buku jarinya.

"Belajar lebih cepat."

Rey mengangguk.

Lani menggenggam tangannya yang sudah diperban. Bukan karena setuju pada kekerasan, melainkan karena Rey akhirnya bersedia memisahkan menjaga dari menghancurkan.

***

Video berdurasi dua puluh tiga detik menyebar lebih cepat daripada surat perdamaian.

Sebuah akun gosip Jakarta memberi judul: `Cowok ganteng hajar pria di mall demi cewek yang dihina.` Wajah Rey terlihat jelas saat berdiri di depan Lani. Dalam potongan lain, Lani memegang lengannya dan Rey langsung berhenti.

Gunawan menerima kiriman itu dari tiga orang sebelum malam berakhir.

Ia memutar video dua kali.

Lalu ia memperbesar bagian ketika Lani menggenggam tangan Rey.

Perempuan itu bukan sekadar orang yang membantu anaknya wajib lapor.

Kini Gunawan tahu apa yang harus dicari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!