NovelToon NovelToon
Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Status: tamat
Genre:Cinta Terlarang / Ibu Tiri
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Demi melunasi utang keluarga, **Meilani "Lani" Lie** rela menjadi simpanan **Gunawan Tio**, konglomerat garmen berusia 42 tahun. Hidupnya nyaris sempurna di balik topeng—sampai **Rey**, putra Gunawan yang baru pulang dari luar negeri dengan tubuh penuh luka, menatapnya penuh benci.

*"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"*

Rey membencinya. Sepuluh tahun lebih muda, liar, dan berbahaya—ia bersumpah mengusir Lani dari rumah itu. Tapi semakin ia menekan, semakin ia tak bisa lepas. Dan ketika Lani akhirnya pergi tanpa membawa sepeser pun uang, Rey baru sadar satu hal terlambat: **ia salah membenci orang.**

Dari benci menjadi obsesi, dari paksaan menjadi penebusan—inilah kisah cinta paling terlarang: mantan simpanan sang ayah, dan sang putra yang menolak melepasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

BAB 31

FOTO DI LACI RAKA

Alvin datang ke rumah keluarga Permana membawa martabak manis dan senyum yang terlalu rapi.

Wiwid memperkenalkannya sebagai teman lama dari pekerjaan. Bu Imas langsung menambah satu piring di meja. Dua bibi yang kebetulan datang saling bertukar tatapan, lalu mulai bertanya apakah Alvin sudah menikah, tinggal di mana, dan bekerja sebagai apa.

"Belum menikah, Tante," jawab Alvin sabar.

"Nah, cocok," kata salah satu bibi. "Wiwid juga tahun ini harus mulai serius."

Wiwid tertawa seolah tidak keberatan. "Makanya gue bawa orangnya buat diperiksa keluarga."

Ia memang menghubungi Alvin lagi beberapa hari lalu. Bukan karena tiba-tiba jatuh cinta, melainkan karena membutuhkan jalan yang terlihat normal. Jika ia bisa memilih laki-laki dewasa di luar keluarga, mungkin satu ciuman di bawah pohon mangga akan mengecil menjadi kesalahan.

Raka duduk di ujung meja dengan buku-buku jari memutih di sekitar sendok.

Sejak datang, ia hanya menyapa Alvin satu kali. Selebihnya ia makan tanpa mengangkat wajah.

"Kampus bagaimana?" tanya Wiwid, memaksa nada biasa.

"Baik."

"Sudah besar, jangan nempel Teteh terus. Nanti pacar lo cemburu."

Raka meletakkan sendok terlalu keras. Suara logam membentur piring membuat meja mendadak sunyi.

"Teteh yang bawa calon pacar, kenapa hidupku ikut diatur?"

Pak Herman mengerutkan dahi. "Cara bicaramu."

"Maaf, Pak. Aku sudah kenyang."

Raka berdiri dan masuk kamar.

Bu Imas mencoba tertawa. "Anak kuliah kadang capek."

Alvin mengangguk, tetapi tatapannya berpindah dari pintu kamar ke wajah Wiwid. Ia mungkin tidak tahu seluruh cerita, namun cukup peka untuk melihat ada sesuatu yang tidak biasa.

"Aku sebaiknya pulang setelah makan," katanya.

Wiwid ingin menjawab jangan. Yang keluar justru, "Iya, nanti gue antar sampai depan."

Jalan normal yang dicarinya mulai retak sebelum sempat dilewati.

***

Bu Imas masuk ke kamar Raka untuk mengambil selimut yang hendak dijemur. Kamar itu kosong. Raka keluar melalui pintu samping, mungkin menuju minimarket atau masjid.

Saat menarik selimut, ujungnya menyenggol laci meja yang tidak tertutup rapat. Sebuah map plastik jatuh ke lantai.

Foto-foto berhamburan.

Tidak ada gambar rahasia atau tubuh yang diambil tanpa izin. Sebagian adalah salinan foto keluarga: Wiwid saat ulang tahun Pak Herman, Wiwid menggendong Raka kecil, Wiwid berdiri di acara wisuda SMA. Beberapa lainnya dicetak dari unggahan publik Studio Widuri, wajah Wiwid di balik kamera atau sedang mengatur lampu.

Di bagian paling bawah terdapat foto pantai lama yang tepinya sudah aus.

Pada punggungnya, Raka menulis tanggal bertahun-tahun lalu dan satu kalimat.

`Hari ini aku sadar aku melihat Teh Wiwid terlalu lama.`

Bu Imas terduduk di tepi ranjang.

Di belakang foto wisuda ada tulisan lain.

`Umurku tujuh belas. Tahun depan aku akan dewasa, tapi apa pun umurku, keluarga tetap memanggilnya bibi.`

Tangan Bu Imas mulai gemetar. Ia mengumpulkan semua foto, memasukkannya kembali ke map, lalu membawa benda itu ke ruang makan.

Percakapan berhenti ketika map diletakkan di depan Pak Herman.

"Ini apa?" tanyanya.

Wiwid mengenali sudut foto pantai dan kehilangan warna di wajah.

Alvin berdiri. "Sepertinya ini urusan keluarga. Saya pamit dulu."

Tak seorang pun menahannya. Ia menyalami para tetua dengan cepat dan pergi. Wiwid bahkan tidak sempat mengantar ke pintu.

Raka masuk beberapa menit kemudian dengan satu kantong air mineral. Langkahnya berhenti ketika melihat foto-foto di meja.

"Duduk," perintah Pak Herman.

Raka tidak duduk. "Bapak buka barangku?"

"Ibumu menemukan saat ambil selimut. Jelaskan."

Para bibi yang tadi bergurau soal jodoh kini diam. Bu Imas menangis tanpa suara. Wiwid ingin mengambil map itu dan membuat semua orang lupa, tetapi kakinya tidak bergerak.

"Foto keluarga," kata Raka.

Pak Herman mengangkat foto pantai. "Dengan tulisan seperti ini? Ada foto Wiwid dari bertahun-tahun. Apa maksudnya?"

Raka melihat Wiwid.

Ia bisa berbohong. Semua orang di ruangan itu sedang menyediakan jalan untuk menyebutnya kagum, dekat dengan bibi, atau hanya kebiasaan menyimpan foto.

Raka memilih menutup jalan tersebut.

"Aku suka Teh Wiwid," katanya. "Bukan sebagai bibi."

Bu Imas menutup mulut. Salah satu bibi mengucap istigfar.

Pak Herman berdiri begitu cepat hingga kursinya jatuh. "Ulangi."

"Aku mencintai Teh Wiwid sebagai perempuan."

Tamparan mendarat di pipi Raka.

Wiwid tersentak. "Kang!"

"Diam!" Herman menunjuk anaknya. "Dia adik Bapak. Dari kecil kamu panggil Bibi. Kamu bikin keluarga ini jadi apa?"

"Teh Wiwid adik angkat Bapak. Kami nggak sedarah."

"Raka!" Bu Imas menangis semakin keras.

"Aku sudah delapan belas. Aku kuliah, aku tahu apa yang aku bilang. Nggak ada hubungan persusuan. Kami bukan mahram. Kalau suatu hari menikah, itu halal."

"Kamu bicara akad setelah menyimpan foto diam-diam?"

"Semua foto itu dari album keluarga atau unggahan publik. Aku nggak pernah mengambil foto pribadi tanpa izin. Aku salah menyembunyikan, tapi perasaanku bukan kejahatan."

Salah satu bibi menggeleng cepat. "Tetangga nggak akan peduli fotonya dari mana. Mereka cuma akan dengar anak Herman suka sama bibinya sendiri. Keluarga kita mau taruh muka di mana?"

"Aku nggak pernah minta diumumkan malam ini," jawab Raka. "Tapi kalau suatu hari harus jujur, aku yang akan menghadapi omongan itu."

"Kamu pikir nama baik cuma milikmu?" Pak Herman memukul meja dengan telapak tangan. "Ibumu ikut ke pengajian. Saudara-saudara kita tinggal di lingkungan ini. Wiwid dibesarkan di rumah ini sebagai adik Bapak. Kamu mengubah kasih keluarga jadi bahan gunjingan."

Raka menelan ludah, tetapi tidak mundur. "Aku tahu akibatnya bukan cuma ke aku. Itu sebabnya aku diam bertahun-tahun. Diam ternyata nggak membuat perasaan hilang."

Bu Imas menatap Wiwid dengan mata merah. "Wid, kamu benar-benar nggak pernah memberi harapan?"

Pertanyaan itu membuat seluruh ruangan menunggu.

Wiwid merasakan ciuman di bawah pohon mangga seperti jejak panas di bibir. Ia bisa menyelamatkan dirinya dengan satu kebohongan, membiarkan Raka menanggung semuanya sebagai anak yang berkhayal sendiri.

"Dia pernah bilang suka," jawabnya. "Aku menolak. Tapi aku juga salah karena nggak langsung cerita kepada Kang Herman dan membiarkan masalahnya berlarut."

"Teh Wiwid nggak merusak aku," potong Raka. "Jangan paksa dia menanggung pilihanku."

"Kalian sudah melakukan apa?" tanya Herman.

Wiwid membeku.

Raka menjawab lebih dulu. "Yang perlu Bapak tahu, aku nggak pernah memaksa dan dia belum menerima aku sebagai pacar."

Kalimat itu tidak menjawab seluruh pertanyaan. Herman mengenali celahnya, dan amarah di wajahnya berubah lebih gelap.

Pak Herman menarik rotan tipis yang biasa disimpan di atas lemari. Wiwid langsung berdiri di depan Raka.

"Jangan pukul dia. Kita bisa bicara."

"Minggir, Widuri."

"Dia sudah dewasa. Memukul nggak akan mengubah pikirannya."

"Justru karena kamu selalu membela, dia jadi begini."

Herman menarik Wiwid ke samping. Rotan mengenai bahu Raka satu kali. Pemuda itu tidak mundur. Pukulan kedua menyentuh lengan yang diangkatnya untuk melindungi wajah.

Bu Imas dan dua kerabat segera memegang tangan Herman.

"Cukup, Pak," isak Bu Imas. "Jangan sampai luka."

"Tanya dia siapa yang merusak rumah ini!"

Raka bernapas berat. Garis merah muncul di lengannya.

"Aku yang suka," katanya. "Jangan salahkan Teh Wiwid. Dia menolak aku berkali-kali."

Kejujuran itu menikam Wiwid lebih dalam daripada tuduhan. Raka masih melindunginya bahkan ketika dipukul oleh ayahnya sendiri.

"Benar?" Pak Herman menatap Wiwid. "Kamu sudah tahu?"

Ruangan terasa mengecil.

"Dia pernah bilang," jawab Wiwid. "Aku sudah minta dia berhenti."

"Cuma itu?"

Wiwid teringat ciuman sadar di bawah pohon mangga. Ia tidak sanggup mengatakannya di depan Bu Imas yang sedang menangis.

"Kang, sekarang yang penting semua tenang dulu."

Herman membaca penghindaran itu sebagai jawaban.

"Keluar," katanya kepada Raka.

Bu Imas memandang suaminya. "Pak..."

"Keluar dari rumah ini. Jangan pulang sampai pikiranmu waras dan kamu bisa melihat Wiwid sebagai keluarga."

Raka menelan ludah. "Kalau syarat pulang adalah berbohong, aku nggak bisa."

Ia masuk kamar, mengambil jaket, laptop, charger, dompet, dan ransel. Foto-foto di meja tidak disentuhnya. Bu Imas mengikuti sampai lorong sambil memohon agar ia meminta maaf saja.

"Minta maaf karena apa?" tanya Raka sambil memasukkan KTP dan kartu mahasiswa. "Karena bohong, aku minta maaf. Karena bikin Mamah malu, aku minta maaf. Tapi kalau aku bilang nggak sayang Teh Wiwid, itu bohong lagi."

Bu Imas membuka dompet dan menyodorkan beberapa lembar uang. "Ambil dulu. Kamu mau tidur di mana?"

"Aku punya tabungan."

"Jangan keras kepala."

Raka menerima dua lembar agar ibunya berhenti menangis, lalu memeluknya singkat. Bu Imas mencengkeram belakang jaket seperti ingin menahan, tetapi tatapan Pak Herman dari ujung lorong membuat tangannya jatuh.

"Kirim kabar kalau sudah dapat tempat," bisiknya.

"Iya, Mah."

Wiwid berdiri beberapa langkah dari mereka. Ia ingin menawarkan apartemen, uang, atau sekadar payung. Semua pilihan terasa seperti pengakuan di depan keluarga. Keraguannya hanya berlangsung beberapa detik, tetapi cukup untuk membuat Raka melewatinya tanpa meminta apa pun.

Pak Herman membuka pintu depan.

"Pergi."

Hujan turun deras di gang. Raka mengenakan jaket tanpa menutup ritsleting. Saat melewati teras, Pak Herman mendorong bahunya. Sepatu Raka terpeleset di anak tangga basah. Lututnya membentur tepi semen dan celananya robek.

Wiwid berlari hendak membantu.

"Kamu jangan ikut campur," bentak Herman. "Ini terjadi gara-gara kamu."

Kalimat itu menahan Wiwid lebih kuat daripada tangan.

Raka berdiri sendiri. Darah tipis mengalir dari lutut, bercampur air hujan.

Bu Imas menangis di belakang pintu. Para kerabat tidak lagi berani bicara. Di meja makan, foto pantai Wiwid tergeletak di antara piring kotor dan martabak yang belum habis.

Raka memandang rumah yang lampunya masih menyala.

Lalu ia berbalik dan berjalan menuju ujung gang tanpa payung.

1
mmh nji35
suka cerita nya ramah bnget bhasa nya thor . semoga karya nya mkin suksessssss👍
mmh nji35
up ny yg bnyk thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!