NovelToon NovelToon
Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO
Popularitas:298
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

Renard mengidap *skin hunger syndrome* — tubuhnya mendambakan kontak kulit, tapi mysophobia-nya membuatnya mual jika disentuh orang lain. Satu-satunya pengecualian? Gadis mungil berkulit putih pucat yang baru saja menjadi asistennya.

Sebuah kontrak rahasia pun dibuat: Liana menjadi "terapis sentuhan" Renard — identitas ganda yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Renard sendiri. Setiap Sabtu malam, di mansion gelap dengan mata tertutup, sang CEO yang paling ditakuti di Jakarta menyerahkan dirinya di tangan seorang gadis yatim piatu.

Tapi bagaimana caranya menjalankan terapi untuk bos sendiri — tanpa jatuh cinta?

Apalagi ketika bos itu mulai menatapnya terlalu lama di kantor...
Mencium telapak tangannya tanpa sadar...
Dan berbisik dengan suara serak: *"Sentuh aku lagi, Nona Terapis."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17

Rahasia Nadia

"Mbak, nama Mbak ramai di X."

Rizal menaruh ponsel di meja Liana dua hari setelah insiden Aldi. Sebuah unggahan anonim sudah dibagikan ribuan kali.

Gadis panti asuhan mendadak jadi asisten CEO konglomerat. Mobil mewah, baju mahal, bos pasang badan. Kerja atau cari sugar daddy?

Foto buram di bawahnya memperlihatkan tangan Renard di pinggang Liana.

Unggahan berikutnya datang dari akun Nadia sendiri. Ia tidak menyebut nama, tetapi kalimatnya jelas.

Sedih melihat teman lama lupa diri setelah naik kelas. Ada orang yang rela membuang orang-orang yang menemaninya dari nol demi mendekati pria kaya.

Liana membaca tanpa mengubah ekspresi.

Dalam kehidupan pertama, Nadia selalu menyerang dengan cara yang membuatnya tampak sebagai pihak terluka. Ia akan menyebar setengah cerita, menunggu orang lain menghakimi, lalu datang menawarkan pelukan kepada Liana yang sudah sendirian.

"Mbak mau saya lapor massal?" tanya Rizal.

"Jangan. Simpan tautan dan tangkapan layar. Jangan balas."

"Tapi komentarnya jahat."

"Kalau kita bertengkar dengan seribu akun, mereka dapat tontonan. Saya butuh bukti."

Bayu datang membawa laptop. "Tim komunikasi sudah tahu. Pak Renard minta rapat sepuluh menit lagi."

Di ruang rapat kecil, kepala komunikasi mengusulkan pernyataan penyangkalan. Kuasa hukum menyarankan somasi kepada akun utama. Renard duduk di ujung meja, menunggu Liana bicara lebih dulu.

"Saya tidak mau Tan Group mengumumkan kehidupan pribadi saya," kata Liana. "Koreksi hanya fakta yang menyangkut pekerjaan. Saya direkrut lewat proses resmi. Fasilitas mobil adalah kendaraan operasional. Foto diambil ketika mantan saya melakukan pelecehan di depan gedung."

"Kita bisa unggah rekaman utuh," kata kepala komunikasi.

"Kaburkan wajah pegawai dan jangan unggah bagian yang memperlihatkan Aldi memegang saya berulang kali. Berikan hanya kronologi tertulis dan konfirmasi dari security. Rekaman lengkap disimpan untuk hukum."

Renard mengangguk. "Lakukan sesuai permintaan Liana."

Satu jam kemudian, akun resmi Tan Group mengeluarkan pernyataan singkat. Tanpa drama. Tanpa menyebut Nadia. Hanya waktu, proses rekrutmen, status fasilitas kerja, dan fakta gangguan keamanan.

Rizal menemukan kesalahan pada unggahan Nadia.

"Dia bilang foto diambil pukul sepuluh malam, padahal metadata unggahan pertama dan CCTV menunjukkan pukul enam lewat."

"Dan dia mengaku melihat langsung," tambah Bayu, "padahal story-nya malam itu berada di Surabaya."

Liana mengirim dua fakta tersebut melalui akun pribadinya.

Saya tidak akan berdebat tentang hinaan. Untuk fakta: kejadian berlangsung pukul 18.12 di Jakarta dan pihak yang mengaku menyaksikan berada di kota lain. Bukti lengkap telah diamankan. Mohon jangan menyebarkan identitas pegawai lain.

Tidak ada makian. Tidak ada pembelaan panjang.

Arus komentar berubah. Orang mulai mempertanyakan Nadia. Beberapa akun besar menghapus unggahan setelah kuasa hukum mengirim permintaan koreksi berbasis bukti. Menjelang sore, tagar yang sempat naik kehilangan tenaga.

Nadia mengirim DM pribadi kepada Liana.

Kamu tega bikin aku kelihatan bohong? Aku cuma membela Aldi. Dia datang jauh-jauh untuk kamu.

Liana tidak menjawab. Nadia mengirim voice note, lalu dua foto lama mereka di panti. Dalam salah satu foto, Nadia memeluk bahu Liana dan Aldi berdiri di belakang. Dahulu gambar itu terasa seperti bukti keluarga. Sekarang Liana melihat posisi tangan, senyum yang dipaksakan, dan betapa sering dirinya ditempatkan di tengah agar kedua orang itu dapat memakai kepercayaannya.

Pesan terakhir muncul.

Kalau semua orang tahu siapa kamu sebenarnya, bosmu masih akan membela?

Ancaman itu terlalu kabur untuk tindakan hukum langsung, tetapi cukup untuk disimpan. Liana meneruskan seluruh percakapan kepada kuasa hukum dan tidak memberi tanda baca.

Rizal meletakkan sebotol air di mejanya. "Mbak belum minum dari pagi."

"Terima kasih."

"Komentarnya mulai berbalik. Banyak yang bela Mbak."

"Jangan baca semuanya. Dukungan hari ini bisa menjadi hukuman besok kalau fakta baru muncul. Kita pegang bukti, bukan kerumunan."

Bayu mengangguk. "Saya sudah minta grup internal berhenti membagikan tautan."

Di seberang lantai, dua pegawai yang sempat ikut menyebarkan foto datang meminta maaf langsung. Liana menerima permintaan maaf, lalu meminta mereka menghapus salinan dan mengikuti pelatihan privasi yang diadakan perusahaan. Konflik itu menghasilkan akibat nyata, bukan hanya komentar yang hilang.

Renard berdiri di samping meja Liana. "Kamu tenang sekali."

"Saya sudah pernah percaya kepada ceritanya. Cukup sekali."

"Kalau kamu mau, kita bisa mengajukan laporan UU ITE setelah legal menilai unsur dan bukti."

"Belum. Saya ingin melihat kesalahan berikutnya."

Mata Renard menyipit. "Kamu sudah memperkirakan ini?"

"Saya mengenal Nadia."

"Terlalu mengenal, sepertinya."

"Dia tahu bagian diri saya yang paling mudah dibuat malu. Karena itu dia menyerang asal-usul dan pekerjaan saya, bukan fakta."

Renard menatap pesan ancaman di layar yang sengaja ditunjukkan Liana. "Kalau dia menyebut panti asuhan seolah itu noda, masalahnya ada pada dia. Bukan padamu."

Liana terdiam.

"Dan aku membelamu bukan karena belas kasihan," lanjut Renard. "Kamu benar. Bukti mereka salah. Itu cukup."

Kalimat tersebut memulihkan sesuatu yang tidak dapat dilakukan seribu komentar dukungan. Renard tidak menyelamatkan gadis miskin. Ia berdiri bersama seorang perempuan yang telah menyusun faktanya sendiri.

Ia tidak mengatakan mengenalnya sampai ke masa depan.

***

Malam itu, Liana membuka folder bukti di apartemen. Hasil pencarian legal tentang Ibu Nadia memperlihatkan tiga perusahaan dengan pengurus saling silang. Salah satunya menerima transfer dari korban investasi, lalu memindahkan dana ke rekening yang terhubung dengan toko daring Nadia.

Informasi tersebut belum cukup untuk tuduhan. Namun pola waktunya cocok dengan ingatan Liana.

Ia menghubungi kuasa hukum independen yang direkomendasikan kantor, menjelaskan bahwa ia ingin memverifikasi dokumen tanpa menggunakan akses perusahaan untuk balas dendam pribadi.

"Kumpulkan sumber publik, mutasi yang memang milik Anda, dan pesan yang diterima langsung," kata pengacara. "Jangan mengakses akun orang lain. Jika ada korban, biarkan mereka memberi keterangan sendiri."

Liana mencatat semua batas tersebut.

Pesan dari Renard masuk.

Hasil awal Aldi sudah tersedia. Tidak ada perkara pidana tercatat, tetapi ada pola utang dan dua keluhan dari mantan rekan bisnis. Aku tidak akan membuka detail tanpa persetujuanmu.

Liana membalas.

Kirim bagian yang bersumber publik. Yang lain simpan dulu.

Beberapa menit kemudian, berkas yang masuk cocok dengan hubungan perusahaan Aldi dan Ibu Nadia. Dua jalur penyelidikan bertemu di satu rekening perantara.

Liana menyimpan tangkapan layar itu dalam folder terenkripsi.

Belum waktunya. Tapi sebentar lagi.

Pengacara membalas dengan daftar dokumen yang dapat diverifikasi dan nomor layanan pengaduan resmi jika korban lain bersedia bicara. Liana menutup laptop setelah membuat jadwal konsultasi. Ia tidak akan menukar satu manipulasi dengan manipulasi lain. Saat waktunya tiba, fakta yang akan berbicara, bukan kemarahan Liana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!