Galang Kurniawan, seorang pedagang makanan kecil bernasib sial yang hidupnya selalu jalan di tempat. Di malam terburuk dalam hidupnya ketika gerobaknya dihancurkan dan ia hampir menyerah, Galang tiba-tiba membangkitkan Sistem Kuliner Acak yang memaksanya berjualan di lokasi-lokasi aneh dengan hadiah gacha yang fantastis. Dimulai dari berjualan di rumah sakit, Galang harus menghadapi berbagai macam pelanggan baru, persaingan bisnis yang kotor, koki arogan yang meremehkannya, hingga tantangan memasak bahan-bahan langka dari sistem.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Cetek. Wusss.
Api kompor menyala besar memanaskan wajan besi hitam milik Galang.
Sreng.
Bawang putih tunggal cincang masuk ke dalam minyak panas dan langsung meledakkan aroma harum yang luar biasa.
"Wangi sekali bumbunya, kau pakai ilmu pelet ya di masakanmu?" tuduh seorang kuli kurus sambil mengendus udara dengan rakus.
"Ini murni wangi bawang putih tunggal organik dan kecap premium Pak, tidak ada mistisnya sama sekali," jawab Galang sambil tersenyum lebar.
Trak trak trak.
Galang mengayunkan wajannya dengan lincah, mencampurkan nasi dan telur dengan sangat merata.
Lalu tanpa sepengetahuan mereka, Galang mengeluarkan segenggam daging bekicot bersih dari dimensi penyimpanannya yang tak terlihat.
Ia langsung melempar daging bekicot itu ke dalam wajan yang sedang berasap.
Sreng sreng.
Mandor Tejo memicingkan matanya mencoba melihat ke dalam wajan Galang di bawah cahaya lampu remang-remang pelabuhan.
"Tunggu dulu, daging gumpalan hitam apa yang baru saja kau masukkan itu?" tanya Mandor Tejo curiga.
"Kelihatannya bukan daging ayam atau sapi."
Galang tetap mengaduk nasinya dengan tenang sebelum menjawab pertanyaan itu.
"Ini daging bekicot sawah Pak Mandor," jawab Galang dengan suara lantang dan jelas.
Suasana pelabuhan yang tadinya bising mendadak terasa hening selama beberapa detik.
"Apa kau bilang? Bekicot sawah?" teriak Mandor Tejo dengan wajah memerah karena merasa dihinakan.
"Kau mau memberi kami makan keong hama berlendir yang penuh kuman itu!"
"Kau benar-benar cari mati ya menantang kuli pelabuhan!" sambung pekerja yang lain sambil mengambil balok kayu.
Galang mematikan kompornya dan menuangkan nasi goreng itu ke atas piring plastik.
"Preman pelabuhan macam apa kalian ini, masa disuruh makan daging bekicot saja ketakutan setengah mati," ejek Galang sengaja memancing harga diri mereka.
"Daging bekicot ini kaya akan protein dan gizi tinggi, justru ini bahan rahasia yang akan memulihkan tenaga kalian malam ini."
Mandor Tejo menggeram marah karena merasa harga dirinya sebagai penguasa pelabuhan diinjak-injak oleh pedagang kaki lima.
"Jaga mulutmu anak muda, kami ini kuli pelabuhan yang tidak takut mati, apalagi cuma makan keong sawah!" bentak Mandor Tejo terpancing emosinya.
"Bagus, kalau begitu silakan buktikan keberanian Pak Mandor dengan memakan porsi pertama ini sampai habis," tantang Galang sambil menyodorkan piring berasap itu ke meja kayu.
Mandor Tejo menarik kursi dan duduk dengan kasar di depan piring tersebut.
Ia mengambil sendok dengan tangan bergetar menahan marah dan jijik.
"Lihat saja, kalau aku muntah memakan ini, kepalamu akan kupecahkan malam ini juga," ancam Mandor Tejo sebelum menyuapkan sendok pertama ke mulutnya.
Semua kuli pelabuhan berkerumun menonton bos mereka dengan wajah tegang.
Kunyah. Kunyah.
Gerakan rahang Mandor Tejo tiba-tiba terhenti secara mendadak.
Matanya yang tadi melotot marah perlahan membulat sempurna dengan ekspresi terkejut yang luar biasa.
"Bagaimana rasanya Ndor? Jangan ditelan kalau amis, muntahkan saja di mukanya!" teriak kuli kurus di sebelahnya.
Bukannya memuntahkan, Mandor Tejo justru menyendok suapan kedua dengan gerakan yang sangat terburu-buru.
Trang trang trang.
Suara sendok beradu keras dengan piring mengalahkan suara mesin truk di kejauhan.
Mandor Tejo makan dengan sangat rakus seperti singa kelaparan yang baru menemukan mangsa segar.
Rasa gurih bumbu premium berpadu sempurna dengan tekstur daging bekicot yang sangat kenyal dan empuk saat digigit.
Tidak ada sedikit pun bau lumpur atau rasa amis yang tertinggal di lidahnya.
"Gila, ini enak sekali!" teriak Mandor Tejo dengan mulut yang masih penuh nasi.
"Daging bekicotnya kenyal mirip kerang abalon mahal yang pernah kumakan sisa dari kapal pesiar!"
Para kuli lain saling berpandangan dengan wajah bingung dan tidak percaya.
Dalam waktu kurang dari dua menit, piring Mandor Tejo sudah bersih mengkilap tanpa sisa satu butir nasi pun.
Ia menenggak habis segelas air mineral dan bersandar di kursinya sambil menghembuskan napas panjang.
Haaah.
Tepat pada saat itu, efek magis dari nasi goreng pemulihan sistem mulai bekerja menyusuri aliran nadinya.
Hawa hangat menjalar dari perutnya ke seluruh bagian tubuhnya yang penuh dengan otot kaku.
"Wow, urat pinggangku yang tadi kaku mau patah rasanya seperti baru dipijat dari dalam," gumam Mandor Tejo sambil memutar-mutar pinggangnya dengan takjub.
"Tenagaku rasanya penuh lagi seratus persen, kepalaku juga jadi jernih sekali."
Para anak buahnya menatap mandor mereka dengan tatapan curiga.
"Masa sih Ndor sedahsyat itu? Jangan-jangan mandor dibayar sama penjual ini untuk akting pura-pura enak ya," tuduh kuli kurus tadi.
Plak.
Mandor Tejo menjitak kepala kuli kurus itu dengan cukup keras hingga ia mengaduh kesakitan.
"Akting pura-pura matamu itu! Kau kira aku aktor sinetron!" omel Mandor Tejo.
"Cepat kalian semua pesan nasi goreng keong ini sekarang juga, biar kerjamu panggul barang makin kencang malam ini!"
Mendengar perintah langsung dari atasan mereka, puluhan kuli itu akhirnya berbondong-bondong mengantre di depan gerobak Galang.
"Mas, saya pesan satu porsi pedas!"
"Saya dua porsi dibungkus Mas, buat dimakan nanti subuh!"
Galang tersenyum lebar melihat antrean panjang yang langsung terbentuk dalam sekejap mata.
Umpannya berhasil dimakan dengan sempurna oleh preman-preman pelabuhan ini.
Cetek. Wusss.
Galang kembali menyalakan kompornya dan mulai memasak dalam porsi besar menggunakan wajan raksasanya.
Trak trak trak.
Aroma gurih bawang putih dan kecap hitam kembali menyelimuti area dermaga yang berdebu itu.
Setiap porsi yang tersaji langsung diserbu dan dihabiskan dengan rakus oleh para pekerja kasar tersebut.
Reaksi mereka semua sama persis dengan Mandor Tejo, berteriak kegirangan karena rasa pegal di tulang mereka hilang seketika.
Suara lonceng sistem terus berbunyi di dalam kepala Galang setiap kali satu piring berpindah tangan.
DING.
[Progres Penjualan: 15/150 porsi.]
DING.
[Progres Penjualan: 42/150 porsi.]
Galang memasak tanpa henti dengan keringat yang mulai membasahi kemeja hitam barunya.
Namun ia sama sekali tidak merasa lelah berkat sisa efek buff dari masakannya sendiri.
Tiba-tiba, sebuah suara bariton yang sangat berat terdengar menggelegar memecah keramaian kuli yang sedang asyik makan.
"Ada keramaian apa ini di wilayah dermaga kekuasaanku?"
Semua kuli yang sedang makan langsung berhenti mengunyah dan menundukkan kepala mereka dengan takut.
Mandor Tejo buru-buru berdiri dari kursinya dan menghampiri pria yang baru saja datang tersebut.
Pria itu berbadan tinggi besar, kepalanya botak licin, dan memiliki bekas luka sayatan panjang melintang di pipi kirinya.
Di belakangnya, ada lima orang anak buah berwajah preman yang membawa tongkat bisbol di tangan mereka.
"Malam Bos Toni, ini ada pedagang nasi goreng ajaib masuk ke pelabuhan," lapor Mandor Tejo dengan nada yang sangat hormat dan menunduk.
Bos Toni melirik tajam ke arah gerobak putih Galang dan mendengus jijik.
"Makanan gembel pinggir jalan begini kau sebut ajaib?" ejek Bos Toni meludah sembarangan.
"Tadi kulihat kalian makan pakai keong sawah segala, kalian ini sudah miskin jadi gila semua ya?"
Mandor Tejo menelan ludah ketakutan namun tetap berusaha membela masakan Galang.
"Beneran ajaib Bos, tenaga kuli-kuli ini langsung pulih seratus persen habis makan daging bekicotnya," jelas Mandor Tejo.
Bos Toni berjalan perlahan mendekati Galang yang masih berdiri tenang di balik wajannya.
Ia menatap Galang dengan tatapan membunuh seolah ingin menelan pemuda itu hidup-hidup.
"Hei anak muda, kau bayar pajak berapa berani jualan di pelabuhanku ini?" ancam Bos Toni sambil mengetuk etalase kaca dengan cincin akiknya yang besar.
Galang menatap lurus ke mata preman nomor satu di pelabuhan itu tanpa berkedip.
"Saya tidak kenal pajak preman Bos," jawab Galang dengan suara sedingin es.
"Tapi kalau Bos Toni sedang capek habis keliling pelabuhan, saya sarankan Bos makan satu porsi nasi goreng bekicot ini."
"Kalau rasanya tidak memuaskan lidah Bos, gerobak saya beserta isinya boleh Bos lempar ke laut lepas sekarang juga."
Bos Toni menyeringai lebar menampilkan giginya yang kuning karena tembakau.
"Tantangan diterima anak muda sombong," desis Bos Toni dengan nada sangat berbahaya.
"Buatkan aku porsi paling besar, dan siapkan dirimu untuk berenang di laut malam ini juga."