NovelToon NovelToon
The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:368
Nilai: 5
Nama Author: Arian verse

Dia bukan pahlawan. Dia adalah bencana yang berjalan.

Terlahir kembali di dunia yang hancur oleh perang kuno, Arlen membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya sebagai Aster Valerius-sang ksatria legendaris. Tapi kali ini, dia tidak terikat oleh kode kehormatan yang rapuh. Dia memiliki sesuatu yang lebih berbahaya: Aether, sumber kekuatan asli yang mampu memotong sejarah dan menghancurkan realitas itu sendiri.

Dari hutan terlarang hingga takhta dewa, Arlen akan menginjak siapa pun yang menghalanginya. Monster? Dia akan menyerap darahnya. Dewa? Dia akan meremukkan takhtanya. Manusia yang berkhianat? Dia akan mengajarkan mereka arti ketakutan sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arian verse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Jejak warisan yang terlupakan

Keesokan paginya, kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan saat Arlen berjalan kembali ke kedai tua itu. Ia tidak sendirian; Penjaga berjalan selangkah di belakangnya, telinganya sesekali bergerak mendengarkan setiap suara yang tersembunyi di balik semak-semak. Matahari baru saja mengintip malu-malu dari ufuk timur, menyinari butiran embun di atas rumput yang kini tumbuh subur berkat aliran energi bukit itu.

Saat Arlen mendorong pintu kayu kedai yang berderit pelan, Tuan Valian sudah duduk menunggu di tempat yang sama seperti tiga tahun yang lalu. Di atas meja kayu kasar itu kini terbentang lembaran-lembaran kulit tua yang penuh goresan garis dan simbol-simbol yang sulit dimengerti. Pria tua itu mengangkat wajahnya saat mendengar langkah kaki Arlen, lalu mengangguk pelan memberi isyarat agar anak itu duduk di hadapannya.

"Lama tidak bertemu, seperti nya bukan hanya wajah dan penampilan mu saja yang sudah berubah tapi Aura di sekitar mu juga semakin pekat dan menekan," ujar Valian pelan sambil tangannya merapikan lembaran-lembaran di depannya. "Apakah ketenangan malam tidak cukup untuk menenangkan pikiranmu yang penuh pertanyaan itu?"

Arlen duduk tegak, matanya langsung tertuju pada gambar-gambar kuno di atas meja.

"Ketenangan hanya ada bagi mereka yang menutup mata dari apa yang terjadi di sekitarnya," jawab Arlen tenang namun tegas. "Aku tahu ada banyak mata yang kini mengawasi tempat ini, dan banyak tangan yang sedang merancang langkah untuk meraih apa yang ada di sini. Menunggu hanya akan memberi mereka waktu untuk memperkuat kedudukan mereka."

Tuan Valian tersenyum tipis, lalu dia menunjuk salah satu gambar yang terlihat seperti peta wilayah namun dengan garis batas yang sangat berbeda dari peta yang dikenal orang saat ini.

"Kau benar. Sejak ribuan tahun yang lalu, tempat ini telah menjadi titik persilangan takdir banyak orang. Apa yang kau lihat di sini adalah gambaran wilayah ini sebelum Kerajaan Aurelia berdiri, bahkan sebelum ras manusia menyebar menguasai sebagian besar benua ini."

Jari keriput Valian menyentuh sebuah titik yang ditandai dengan lingkaran ganda.

"Di sinilah kita berdiri sekarang. Dulu, tempat ini bukanlah desa terpencil yang dianggap tidak berharga. Ini adalah salah satu dari lima Pilar Penjaga Keseimbangan, titik di mana energi bumi dan langit bertemu dan mengalir menyebar ke seluruh penjuru benua. Dulu ada kaum yang mengabdikan seluruh hidup mereka hanya untuk menjaga agar aliran itu tidak terganggu."

Arlen menatap gambar itu lekat-lekat, ingatan jauh di dalam benaknya berdenyut samar seolah mengenali pola itu.

"Kaum Penjaga..." gumamnya pelan. "Mereka tidak berkuasa, tidak memerintah kerajaan, namun mereka memegang kendali atas segalanya. Karena jika keseimbangan terganggu, maka tidak ada kekuasaan yang bisa bertahan."

Valian mengangguk berat.

"Benar sekali. Namun kekuatan yang begitu besar selalu memancing keserakahan. Perang besar meletus ribuan tahun lalu, perang yang bukan hanya memperebutkan tanah atau emas, melainkan memperebutkan kendali atas Pilar-pilar ini. Peradaban yang menjaganya runtuh, pengetahuan mereka dibakar atau disembunyikan, dan lambat laun orang-orang mulai melupakan keberadaannya. Kerajaan yang berdiri sekarang dibangun di atas puing-puing kebesaran itu, namun mereka tidak mengerti apa yang mereka pijak."

Pria tua itu mengangkat wajah menatap tajam ke arah Arlen.

"Bukit tempatmu tinggal adalah salah satu Pilar itu. Dan benda yang kau temukan di ruang bawah tanahnya adalah inti pengendali aliran energinya. Ketika kau mengubah tanah tandus menjadi subur, kau tidak sedang menumbuhkan tanaman saja—kau sedang membuka kembali aliran yang telah tersumbat ratusan tahun lamanya. Dan hal itu... terasa seperti suara genderang yang bergema jauh ke seluruh penjuru dunia bagi mereka yang memiliki kepekaan yang cukup."

Arlen mendengarkan dengan saksama, setiap penjelasan itu menyusun kembali potongan teka-teki besar yang selama ini ia rasakan namun belum paham sepenuhnya. Arlen mengusap pelan pinggiran kulit tua itu.

"Jadi Lingkaran Kelam menginginkannya karena mereka ingin menguasai energi itu untuk diri mereka sendiri, sedangkan Kerajaan mengawasinya karena mereka takut hal itu jatuh ke tangan yang salah dan mengancam kekuasaannya," simpul Arlen pelan. Dia mengangkat wajahnya, sorot matanya yang kelabu tampak tajam dan dalam. "Keduanya memiliki tujuan yang sama: menguasai sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih suci daripada diri mereka sendiri. Dan keduanya sama-sama tidak pantas memegangnya."

"Dan menurutmu... siapa yang pantas?" tanya Valian perlahan, suaranya berubah menjadi lebih serius.

Arlen diam sejenak, ia menatap ke luar jendela ke arah pepohonan yang bergoyang diterpa angin pagi.

"Mereka yang menganggapnya sebagai beban, bukan sebagai kekayaan," jawabnya tegas. "Mereka yang siap melindunginya bahkan dengan nyawa sendiri tanpa berharap imbalan atau kekuasaan. Kekuatan sejati tidak diwariskan dari gelar atau takhta, melainkan dibangun di atas tanggung jawab yang diemban."

Arlen berbalik menatap lurus ke arah Tuan Valian.

"Dan karena takdir membawaku ke sini, memberiku ingatan dan kemampuan ini... maka akulah yang akan berdiri di garis itu. Aku tidak akan membiarkan masa lalu yang kelam terulang kembali."

Tuan Valian menghela napas panjang, lalu perlahan mengangguk seolah keputusan besar telah diambilnya juga. Ia meraih sebuah bungkus kain kecil dari saku jubahnya dan meletakkannya di atas meja. Saat kain itu dibuka, tampaklah sebilah pisau kecil berukiran indah dari logam berwarna perak pudar, beserta gulungan cat berwarna keemasan.

"Jika kau berniat menjaga tempat ini, kau harus menguasai cara membaca dan memperkuat perlindungan kuno yang ditinggalkan leluhurmu. Apa yang kau miliki sekarang adalah naluri dan kekuatan mentah. Tanpa pengetahuan yang benar, kekuatan itu bisa menjadi bumerang yang menghancurkan apa yang ingin kau lindungi."

Valian menunjuk simbol-simbol pada kulit tua itu.

"Mulai hari ini, kita akan belajar. Kita pelajari bahasa yang terlupakan, cara mengukir perlindungan, hingga cara melacak jejak sihir gelap yang dikirimkan musuh. Namun ingatlah satu hal, Arlen... semakin banyak yang kau ketahui, semakin berat beban yang akan kau pikul. Dan semakin jauh kau melangkah, semakin sedikit orang yang bisa kau percayai."

Arlen mengulurkan tangannya perlahan menyentuh bilah pisau kecil itu. Logam itu terasa hangat saat menyentuh kulitnya, seolah mengenali keberadaannya. Dia mengangkat wajahnya tersenyum tipis, senyum yang menyiratkan ketegaran yang tak tergoyahkan.

"Beban berat adalah harga yang pantas dibayar untuk sebuah kedamaian yang abadi," ucapnya tenang. "Dan aku sudah memikulnya sekali di masa lalu. Kali ini... aku tidak akan menjatuhkannya."

Sementara itu, di kejauhan, di dalam sebuah kereta tertutup yang bergerak pelan meninggalkan wilayah utara menuju pusat Kerajaan, duduk seorang wanita muda berpakaian sederhana namun anggun. Rambutnya hitam legam terurai panjang, dan sepasang matanya yang tajam namun indah terus menatap ke luar jendela kecil kereta, mengamati pemandangan yang berlalu. Ia adalah Seraphina, salah satu penyihir tinggi tingkat 5, Kerajaan yang baru saja dipanggil kembali dari perbatasan jauh.

Di tangannya, ia memegang selembar pesan tertulis tinta emas yang baru saja diterimanya. Isinya singkat namun mengandung perintah yang tidak bisa ditolak:

"Ada gangguan aliran energi yang tidak wajar di wilayah utara. Pergilah ke sana, selidiki penyebabnya, dan amankan apa pun yang menjadi sumbernya. Jangan biarkan hal itu jatuh ke tangan pihak yang tidak bertanggung jawab."

Seraphina melipat kembali surat itu, lalu menatap bayangannya sendiri di kaca jendela.

"Wilayah terpencil yang tidak pernah berarti apa-apa..." gumamnya pelan, suaranya lembut namun berwibawa. "Tiba-tiba menjadi pusat perhatian takhta dan kekuatan gelap sekaligus... apa sebenarnya yang tersembunyi di sana?"

Ia merasakan ada sesuatu yang menarik hatinya ke arah tempat itu, seolah ada panggilan yang samar namun terus menerus.

"Kita akan segera bertemu," bisiknya pelan ke angin yang berhembus masuk. "Siapa pun kau, apa pun kekuatan yang kau miliki... mari kita lihat apakah kau akan menjadi harapan baru, atau hanya menjadi debu dalam sejarah panjang Kerajaan ini."

Kembali ke bukit hijau itu, hari mulai berganti sore. Arlen berdiri di tepi bukit, angin kencang menerpa pakaiannya yang sederhana. Di dalam benaknya kini tersimpan banyak pengetahuan baru yang mulai disusun rapi. Ia tahu bahwa perjalanan panjangnya baru saja memasuki babak yang sesungguhnya. Kerajaan, Lingkaran Kelam, dan kini kekuatan-kekuatan lain yang tersebar di benua itu perlahan mulai bergerak ke arahnya.

Namun Arlen tidak merasa gentar. Justru ia merasa lebih tenang. Arlen tahu dari mana dia memulai, dan tahu apa yang harus dijaga.

"Biarkan dunia bergerak sekehendaknya," gumamnya pelan, matanya yang kelabu memancarkan ketegaran yang tak tergoyahkan ke arah cakrawala luas. "Aku adalah akar yang tertanam di sini. Badai sekuat apa pun yang datang, aku tidak akan bergeser sedikit pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!