Demi Rp 288 juta untuk pengobatan adiknya, Senja menikah kontrak dengan Damar Adiwangsa, konglomerat dingin yang sepuluh tahun lebih tua dan memiliki seorang putri kecil. Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Namun ketika Bintang mulai memanggil Senja Mama, rumah yang semula dingin berubah menjadi keluarga. Damar yang dahulu menganggap Senja matre perlahan menjadi suami posesif yang tak sanggup melepaskannya. Saat kontrak berakhir dan Senja bersiap pergi, Damar justru menagih satu hal yang tidak pernah tertulis dalam perjanjian: cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5
Anak Perempuan yang Tak Dianggap
Pagi berikutnya, Damar meletakkan ponsel di depan Senja.
"Aku transfer Rp 10 juta. Daftar kursus mengemudi dan urus SIM. Nanti kamu antar-jemput Bintang."
Senja menatap notifikasi bank. "Saya bisa naik ojek dengan Bintang."
"Tidak aman. Gunakan uangnya sesuai kebutuhan."
Bintang menyuap roti sambil mengangguk. "Mama harus bisa nyetir. Biar kita jalan-jalan."
Senja ingin mengembalikan uang itu. Namun sebelum sempat, Wulan menelepon. Biaya pendaftaran kampus belum lunas, laptop bekas yang dipesan harus dibayar hari itu, dan Emak menolak membantu karena uang keluarga disimpan untuk cicilan rumah Bagas.
Ia membawa ponsel ke teras agar Bintang tidak mendengar. Wulan mengirim foto laptop bekas dengan sudut retak dan beberapa tombol pudar. Harganya bahkan tidak sampai sepersepuluh harga tas kerja Damar, tetapi Wulan masih meminta maaf tiga kali karena merasa membebani kakaknya.
"Kamu sudah bilang ke Emak itu buat kuliah?"
"Sudah. Katanya perempuan enggak perlu sekolah tinggi. Nanti juga ikut suami."
Senja memejamkan mata. Kalimat yang sama dulu menghentikan Hana ikut kursus dan membuat Senja bekerja sambil kuliah.
"Aku transfer. Jangan batal."
"Nanti aku ganti kalau tulisan aku laku."
"Enggak perlu janji jauh. Selesaikan kuliah dulu."
Wulan tertawa kecil, lalu menangis. Senja menunggu sampai adiknya tenang. Setelah panggilan selesai, Hana mengirim pesan bahwa uang kosnya juga menipis. Senja membagi transfer Damar di antara kedua adiknya, menyisakan jumlah yang hanya cukup untuk uang muka satu pertemuan kursus.
Ia mencatat utang itu di ponsel: Rp 10 juta, harus dikembalikan sebelum Damar bertanya. Baris sederhana tersebut membuat perutnya mengeras. Ia memakai uang suaminya tanpa izin, tetapi membiarkan Wulan berhenti kuliah terasa jauh lebih kejam.
Malam saat Senja mendapat jadwal jaga, Bintang menangis di ruang tengah. Damar pulang dan mendapati putrinya memeluk tas kerja Senja yang tertinggal.
Bik Inah sudah mencoba mengajak menonton kartun, membacakan buku, dan membuat puding hangat. Bintang menolak semua. Ia duduk dekat pintu dengan mata bengkak.
"Kakak enggak pulang?"
"Dia kerja malam."
"Bintang mau Mama."
Damar berjongkok. "Papa juga ada."
"Papa enggak bisa kepang rambut."
"Bik Inah bisa."
"Tapi Bintang maunya Mama."
Damar menggendongnya berkeliling ruang tengah. Bintang berhenti menangis karena kelelahan, tetapi terus terisak sampai tertidur di bahunya. Bahkan dalam tidur, jari kecil itu masih menggenggam tali tas Senja.
Pagi setelah Senja pulang, ia dipanggil ke ruang makan sebelum sempat tidur.
"Berhenti kerja," kata Damar. "Aku beri Rp 30 juta sebulan. Tinggal di rumah dan urus Bintang."
Senja menahan uap kopi di depan wajah. Tiga puluh juta bisa mengubah hidupnya. Ia membayangkan tabungan bertambah tanpa kaki pegal dan teguran kepala perawat.
Ia membayangkan Wulan dan Hana makan cukup, serta dirinya berhenti menghitung tarif kendaraan. Godaan itu begitu nyata sampai ia hampir mengangguk. Lalu tatapan Damar mengingatkannya bahwa semua pemberian di rumah ini memiliki syarat yang dapat ditarik kapan saja.
Lalu ia membayangkan Damar mengusirnya suatu hari. Tanpa pengalaman, tanpa pekerjaan, tanpa uang yang benar-benar miliknya.
"Maaf. Saya enggak bisa."
"Kurang?"
"Bukan." Senja menatapnya. "Saya enggak mau selamanya bergantung sama laki-laki. Kalau suatu hari harus pergi, saya perlu keberanian dan pekerjaan sendiri."
Damar meletakkan cangkir. "Kamu selalu bicara soal pergi."
"Karena saya tahu posisi saya."
Damar melihat lingkaran gelap di bawah matanya. Seragam Senja masih berbau antiseptik, dan kedua kakinya tampak lelah. Perempuan itu menolak jalan mudah, tetapi Damar belum mampu melihatnya sebagai keberanian.
"Kalau Bintang sakit karena kamu tidak ada, itu tetap tanggung jawabmu."
"Saya akan atur. Saya bisa menjemput kalau tidak dapat shift malam."
"Jadwal rumah sakit bukan pasar yang bisa ditawar."
"Makanya saya tidak meminta."
Ia bangkit dan masuk kamar. Dua hari kemudian, kepala perawat mengumumkan jadwal baru.
Perubahan tersebut langsung menimbulkan bisik-bisik. Seorang perawat senior bertanya apakah Senja punya surat dokter. Yang lain menduga ia dekat dengan direktur. Senja hanya menjawab bahwa ia sendiri tidak tahu.
"Senja, mulai besok masuk pukul sembilan, pulang pukul empat. Tidak ada shift malam."
"Kenapa, Bu?"
"Perintah direktur. Jangan tanya saya."
Senja melihat Damar keluar dari ruang direktur bersama beberapa pejabat rumah sakit. Ia langsung memahami siapa yang mengubah jadwalnya.
Bayu berjalan di belakang Damar membawa map. Kepala perawat dipanggil masuk setelah mereka pergi. Tidak ada uang suap, permohonan, atau penjelasan. Satu kunjungan Damar cukup untuk mengubah sistem yang selama ini dianggap tidak bisa ditawar.
Senja menyusul kepala perawat ke depan kantor direktur. "Bu, apa jadwal ini akan mengurangi jam praktik saya?"
"Tidak. Kamu tetap memenuhi kompetensi dan jumlah jam. Shift-nya saja dipadatkan," jawab kepala perawat. "Kalau kamu keberatan, sampaikan sekarang."
Senja menggeleng. Ia lega karena masa magangnya tidak dikorbankan, tetapi cara perubahan itu terjadi tetap membuatnya tak nyaman. Damar tidak mengambil pekerjaannya. Ia hanya menggeser seluruh rumah sakit agar pekerjaan itu tunduk pada kebutuhan rumahnya.
Sore itu, Bik Inah mengajaknya menjemput Bintang. Senja berjalan sambil menghitung satu masalah baru: uang kursus sudah terkirim kepada adik-adiknya, sedangkan suaminya pasti akan bertanya kapan ia mulai belajar mengemudi.
Di gerbang sekolah, Bintang berlari dan memeluk pahanya. Anak itu menunjukkan stiker dari guru, lalu bertanya apakah besok Senja akan menjemput lagi.
"Iya, kalau jadwal Mama tetap begini."
Bintang mencium pipinya. Dari dalam mobil, Bik Inah tersenyum. "Non sudah lama enggak segembira ini."
Senja memeluk anak itu, sekaligus merasakan beban utang dan kebohongan kecil tumbuh di belakang kebahagiaan tersebut.
Dalam perjalanan pulang, Bintang terus bercerita tentang teman-temannya yang dijemput ibu. Setiap kali menyebut kata Mama, ia menggenggam dua jari Senja seolah takut perempuan itu menghilang pada tikungan berikutnya.
"Besok Mama datang pakai mobil?"
Pertanyaan itu membuat Senja terdiam. "Belum. Mama harus belajar dulu."
"Belajarnya kapan?"
"Secepatnya."
Sesampainya di rumah, Senja membuka daftar kursus dan menelepon tempat termurah. Ia meminta membayar uang muka lebih kecil, lalu menawarkan mencicil sisanya setelah gajian. Petugas kursus menyetujui jadwal akhir pekan.
Malamnya, Senja memasukkan sebagian gaji magang yang belum terpakai ke rekening khusus. Ia menamai tabungan itu `uang Damar`, lalu mencatat jumlah yang harus dikembalikan lengkap dengan tanggal. Kebohongan kecil tetap salah, tetapi kini ia memiliki cara nyata untuk memperbaikinya.
Damar pulang ketika Senja sedang berlatih soal ujian SIM di meja makan. Ia melihat layar berisi rambu lalu bertanya, "Kursusnya sudah diatur?"
Senja menelan gugup. "Sudah. Mulai akhir pekan."
"Jangan membawa Bintang sebelum kamu punya SIM."
"Iya."
Damar berjalan pergi tanpa meminta bukti pembayaran. Kepercayaan yang bahkan tidak ia sadari telah diberikan itu justru membuat tekad Senja mengembalikan seluruh uang semakin kuat.
Ia menandai hari kursus pada kalender dan memasang alarm sebelum subuh. Kali ini, Senja tidak akan membiarkan bantuan Damar berubah menjadi alasan baru untuk merendahkannya.