Liora terpaksa menandatangani perjanjian pranikah dan dinikahkan dengan Alexander, seorang pria berkebutuhan khusus yang diasingkan keluarganya di sebuah desa terpencil. Ia pun pergi ke desa itu untuk merawat suaminya yang asing baginya. Namun, semakin lama merawat Alex, Liora mulai menyadari ada keanehan dan ketakutan dari warga sekitar terhadap pria itu. Ia pun curiga, jangan-jangan Alex tidak seperti yang terlihat. Di balik keterbatasannya, Alex ternyata menyimpan rahasia besar yang menjadi alasan keluarganya membuangnya. Liora kini harus mengungkap kebenaran di balik pengasingan suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Ciuman Kedua di Pagi Hari
Pagi datang dengan perlahan. Udara di luar masih terasa dingin, dan kabut tebal menyelimuti desa, menutupi pepohonan dan peternakan di kejauhan. Embun pagi masih membasahi dedaunan di halaman, dan suara burung-burung mulai berkicau, menyambut datangnya hari baru.
Di dalam kamar Liora, suasana masih sangat tenang. Cahaya matahari pagi yang masih malu-malu mulai merembes melalui celah tirai, menciptakan garis-garis cahaya tipis di lantai kamar.
Liora perlahan membuka matanya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba beradaptasi dengan cahaya pagi yang masih redup. Tubuhnya terasa sangat hangat, jauh lebih hangat daripada biasanya. Ia merasa sangat nyaman, seperti terbungkus dalam selimut tebal yang empuk.
Namun, ada sesuatu yang terasa berbeda. Selimut di tubuhnya terasa lebih berat dari biasanya. Dan ada sesuatu yang melingkar erat di pinggangnya—sesuatu yang besar dan kokoh.
Liora menunduk. Ia melihat sebuah lengan besar melingkar di pinggangnya. Lengan itu milik seorang pria. Lengan itu milik Alex.
Liora menahan napas. Perlahan, ia menoleh ke belakang.
Dan di sana, tepat di belakangnya, Alex masih tertidur lelap. Wajahnya polos, napasnya teratur. Ia memeluk Liora erat, seperti anak kecil memeluk boneka kesayangannya. Tetapi pelukannya begitu kuat, begitu kokoh, seperti ia tidak ingin melepaskan Liora selamanya.
Liora mencoba bergerak perlahan, mencoba melepaskan diri dari pelukan Alex. Namun, begitu tubuhnya bergerak sedikit, lengan Alex semakin mengerat. Ia menarik Liora lebih dekat, hingga punggung Liora menempel erat di dadanya.
Liora merasa napasnya mulai sesak. Pelukan Alex terlalu kuat. Ia tidak bisa bernapas dengan leluasa.
"Alex... Alex, terlalu kuat," bisik Liora, suaranya tertahan. "Liora susah napas... tolong, jangan terlalu kuat..."
Mendengar suara Liora, Alex perlahan membuka matanya. Matanya yang masih mengantuk menatap wajah Liora yang berada di dekatnya. Ia tersenyum—senyuman yang sangat bahagia dan tulus.
"Selamat pagi, Liora," sapa Alex dengan suara yang masih serak karena baru bangun tidur.
Liora tersenyum tipis, meskipun napasnya masih sedikit sesak. "Selamat pagi, Alex. Bisa tolong, lepaskan pelukannya sedikit? Liora susah bernapas."
Alex tampak sedikit tidak rela, tetapi ia tetap mengendurkan pelukannya. Lengannya tidak lagi melingkar erat, tetapi masih bersandar di pinggang Liora.
Liora menarik napas lega. Ia berbalik, sehingga kini ia berhadapan langsung dengan Alex. Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Liora bisa melihat mata Alex yang masih setengah terpejam, rambutnya yang berantakan karena tidur, dan senyuman polos yang terukir di wajahnya.
Kemudian, Liora teringat sesuatu. Kejadian tadi malam. Ciuman pertama mereka.
Wajah Liora langsung memanas. Pipinya berubah menjadi merah muda. Ia menunduk, tidak berani menatap mata Alex. Ia merasa sangat malu, bahkan untuk sekadar mengingatnya.
Alex melihat perubahan warna di wajah Liora. Ia melihat Liora menunduk, dan ia melihat bibir Liora yang sedikit terbuka, masih lembap karena air liur yang tertinggal dari tidurnya.
Bibir Liora. Bibir yang sama yang ia cium tadi malam. Bibir yang terasa hangat dan lembut.
Alex tidak bisa menahan dirinya. Tanpa berpikir panjang, tanpa meminta izin, ia mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya di bibir Liora.
Liora terbelalak. Matanya terbuka lebar karena kaget. Ia tidak menyangka Alex akan menciumnya lagi, apalagi di pagi hari seperti ini, tanpa ada peringatan atau permintaan.
Ciuman kedua ini berbeda dengan yang pertama. Jika ciuman pertama adalah ciuman yang sangat lembut dan hati-hati, ciuman kedua ini lebih panjang dan lebih dalam. Alex mencium Liora dengan lebih percaya diri, bibirnya menempel erat di bibir Liora, tidak bergerak, tetapi tidak juga melepaskan.
Liora merasa sesak napas. Napasnya tertahan, dan ia tidak bisa bernapas karena bibir Alex masih menempel di bibirnya. Jantungnya berdegup sangat kencang, dan ia merasa pusing karena kekurangan oksigen.
Ia mencoba mendorong dada Alex dengan tangannya, tetapi tenaganya seolah hilang. Alex terlalu kuat, dan ciuman itu terlalu menguasai pikirannya.
Akhirnya, setelah beberapa detik yang terasa sangat lama, Alex perlahan melepaskan ciumannya. Ia menjauhkan wajahnya, dan menatap Liora dengan senyuman puas.
Liora membuka matanya. Matanya berkaca-kaca karena sesak napas. Ia terengah-engah, menarik napas panjang-panjang untuk mengembalikan oksigen yang hilang. Wajahnya sangat merah, seperti tomat yang baru dipetik.
Liora mengangkat tangannya, dan ia mengelap pinggir bibirnya yang terasa basah. Ada sedikit air liur yang tertinggal di sana. Ia menatap Alex dengan tatapan campur aduk—antara kaget, malu, dan sedikit marah.
"Alex!" seru Liora, suaranya masih terbata-bata karena napas yang belum kembali normal. "Kenapa Alex mencium Liora tanpa izin?"
Alex memiringkan kepalanya, dengan tatapan polosnya yang khas. "Karena Alex ingin mencium Liora lagi."
Liora terdiam. Jawaban itu sangat sederhana, sangat polos, dan sangat seperti Alex. Ia tidak berbohong. Ia tidak beralasan. Ia hanya mengatakan apa yang ia rasakan.
Liora menelan ludahnya. Kemarahan yang ia rasakan perlahan luntur, digantikan oleh keheningan yang bercampur dengan kebingungan.
"Alex... Liora tidak bilang kalau Alex boleh mencium Liora lagi," kata Liora, suaranya lebih pelan.
Alex menatap Liora dengan matanya yang besar dan polos. "Tapi Liora bilang, Liora mau melakukan apa saja agar Alex tidak marah. Dan Alex tidak marah. Alex hanya ingin mencium Liora lagi. Karena Liora istri Alex. Dan Alex suka Liora."
Liora membuka mulutnya, ingin membalas, tetapi ia tidak bisa berkata-kata. Alex benar. Ia memang berjanji. Dan ciuman tadi malam adalah bukti bahwa ia sudah memberikan izin.
Liora menunduk. "Alex... lain kali, tolong minta izin dulu, ya. Jangan tiba-tiba."
Alex tersenyum lebar. "Oke, Liora. Lain kali, Alex minta izin dulu."
Liora menghela napas. Ia menatap Alex yang masih tersenyum bahagia di depannya. Rasanya, ia tidak tega untuk benar-benar marah pada Alex. Alex hanya mengikuti keinginannya yang tulus.
"Baiklah, Alex. Liora maafkan. Tapi sekarang, Liora mau mandi. Kamu juga harus mandi, ya," kata Liora, mencoba mengembalikan suasana normal.
Alex mengangguk. "Iya, Alex mau mandi."
Mereka berdua akhirnya bangkit dari tempat tidur. Liora berjalan menuju kamar mandi, dan Alex pergi ke kamarnya untuk mengambil pakaian ganti.
Namun, sebelum Liora benar-benar masuk ke kamar mandi, ia berhenti sejenak. Ia menatap dirinya di cermin—pipinya masih merah, bibirnya masih terasa hangat.
"Liora," bisiknya pada dirinya sendiri. "Apa yang terjadi padamu?"
Ia mengusap wajahnya dengan air dingin, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih berdegup kencang.
Di luar, kabut pagi perlahan mulai menghilang, dan sinar matahari mulai menerangi desa. Dan di dalam rumah, kehidupan baru terus berjalan, dengan rahasia yang mungkin belum siap untuk diungkapkan.
saling support sabi kali😉