NovelToon NovelToon
Gadis Jalanan Terobsesi Pada CEO

Gadis Jalanan Terobsesi Pada CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO
Popularitas:978
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Bagi Adrian, Dira hanyalah seorang gadis jalanan yang pernah ia selamatkan. Namun bagi Dira, Adrian adalah alasan ia bertahan hidup, bangkit dari kemiskinan, dan mengubah takdirnya.

Malam itu, ia bertekad mengubah dirinya bukan sebagai gadis jalanan lagi, melainkan wanita yang siap melakukan apa saja demi memiliki pria yang telah menguasai hatinya.

"Sekecil apapun kesempatan itu, akan ku manfaatkan sebaik mungkin!" (Dira)

#CintaRomantis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19

Sementara itu, Beri hanya bisa menggeleng sambil tersenyum ketika melihat laporan investasi Dira. "Kamu benar-benar tidak bisa diam."

Dira tertawa kecil. "Aku tidak punya pilihan."

"Maksudmu?"

Dira memandang gedung-gedung tinggi dari balik jendela kantornya. "Orang-orang yang lahir di keluarga kaya sudah memiliki puluhan tahun keunggulan sejak lahir." Ia menarik napas pelan. "Kalau aku ingin berdiri sejajar dengan mereka, aku tidak boleh berjalan dengan kecepatan yang sama. Aku harus berlari." Tatapan Dira berubah penuh keyakinan. Ia tahu perjalanan itu masih panjang. Namun setiap perusahaan yang diakuisisi, setiap investasi yang berhasil, dan setiap langkah ekspansi yang diambil membawanya semakin dekat ke puncak dunia bisnis tempat yang dulu hanya bisa ia lihat dari kejauhan.

Malam itu, setelah berbincang, Beri mengajak Dira makan malam. "Otakku sudah penuh dengan laporan keuangan."

Dira tertawa kecil. "Baik, aku ikut."

Mereka memilih sebuah restoran yang tenang di kawasan pusat kota, tempat yang sering menjadi lokasi pertemuan para pebisnis. Baru saja memasuki restoran, Beri menghentikan langkahnya. "Lho..."

Dira ikut menoleh..Di sudut restoran, seorang pria duduk sendirian di dekat jendela..Di atas mejanya hanya ada secangkir kopi yang hampir dingin. Tatapannya kosong mengarah ke luar. Adrian.

Dira langsung menegang. Jantungnya kembali berdetak lebih cepat. "Mas Adrian..."

Beri tersenyum.."Sepertinya dia sedang sendiri."Mereka menghampiri meja Adrian. "Adrian."

Adrian menoleh, ia agak kaget, lalu tersenyum tipis. "Beri."

"Kamu sendirian?"

"Iya."

Beri memperhatikan wajah sahabat lamanya itu. "Kelihatannya lagi banyak pikiran."

Adrian terkekeh pelan. "Kelihatan, ya?"

"Jelas." Beri menepuk bahu Adrian. "Daripada makan sendirian sambil melamun, bagaimana kalau gabung dengan kami?"

Adrian melirik Dira yang berdiri di samping Beri. Dira langsung memberi senyum sopan. "Selamat malam, Pak Adrian."

"Selamat malam, Dira." Adrian berpikir sejenak, lalu mengangguk.n"Boleh juga."

Beberapa menit kemudian, mereka bertiga sudah duduk di meja yang sama.nSuasana sempat hening.bBeri yang menyadari kecanggungan itu langsung membuka percakapan. "Sudah lama kita tidak makan bersama seperti ini."

Adrian mengangguk. "Benar."

Sementara itu, Dira hanya duduk dengan punggung tegak. Tangannya menggenggam gelas air putih agar tidak terlihat gemetar. Biasanya ia mampu berbicara percaya diri di ruang rapat. Namun entah mengapa, setiap kali berada di luar suasana bisnis bersama Adrian, semua ketenangannya seolah menghilang.

Beberapa kali Adrian mengajaknya berbicara. "Dira, bagaimana perkembangan proyek pabrikmu?"

"Baik... maksud saya, sangat baik.".Jawabannya sedikit terbata.

Adrian hanya tersenyum, mengira Dira memang tipe orang yang pendiam di luar urusan pekerjaan.

Melihat itu, Beri menahan senyum.Ia jarang melihat Dira yang biasanya begitu percaya diri menjadi sekikuk ini.."Bukannya kamu biasanya paling banyak bicara kalau membahas bisnis?" goda Beri.

Wajah Dira langsung memerah. "Aku... hanya sedikit lelah."

Beri dan Adrian tertawa kecil. Suasana yang semula canggung perlahan mencair. Namun di dalam hati Dira, satu hal terus berulang. "Tenang, Dira Jangan sampai dia menyadari kalau sejak dulu, hanya berada di dekatnya saja sudah membuat jantungmu berdebar."

***

Seiring semakin besarnya kerajaan bisnis yang dibangun Dira, kehidupan pribadinya ikut menjadi sorotan. Media tidak hanya memberitakan keberhasilan perusahaannya. Mereka juga mulai penasaran dengan satu hal. Siapa pendamping Dira? Namun hingga kini, Dira masih melajang walaupun usianya sudah pantas untuk memiliki pendamping.

Status itu justru membuat namanya semakin sering diperbincangkan di kalangan elite. Banyak pengusaha muda yang berusaha mendekatinya. Beberapa datang dengan niat yang serius. Mereka mengirim bunga, mengundang makan malam, bahkan ada yang mengirim hadiah mahal demi mendapatkan perhatian Dira.

Namun tidak semua memiliki niat yang tulus. Ada pula orang-orang yang hanya melihat Dira sebagai perempuan muda, cantik, dan sukses. Mereka menganggap uang dan kekuasaan dapat membeli perhatian siapa pun.

Seorang konglomerat pernah mengirimkan hadiah mewah bernilai fantastis ke kantor Dira. Hadiah itu dikembalikan pada hari yang sama tanpa pernah dibuka. Seorang pejabat berpengaruh beberapa kali mencoba mengundangnya makan malam secara pribadi. Dira selalu menolak dengan alasan yang sopan dan profesional.

Ada pula pebisnis yang secara halus mencoba mencampuradukkan urusan bisnis dengan pendekatan pribadi. Begitu menyadari arah pembicaraan berubah, Dira segera mengakhiri pertemuan. Bagi Dira, batas antara urusan bisnis dan kehidupan pribadi harus tetap jelas.

Suatu sore, Beri melihat tumpukan kartu undangan dan buket bunga di meja kerja Dira. Ia terkekeh. "Sepertinya sekarang bukan cuma investor yang antre bertemu denganmu."

Dira menghela napas panjang. "Kalau semua itu proposal bisnis, mungkin aku masih semangat membacanya."

Beri tertawa. "Lalu bagaimana dengan proposal menikah?"

Dira ikut tersenyum kecil. "Belum ada yang membuatku ingin berkata 'ya'."

"Standarmu tinggi sekali."

Dira terdiam sejenak. Lalu menatap keluar jendela. "Bukan standarku yang tinggi. Hanya saja...hatiku sudah lama dipenuhi oleh seseorang." Kalimat itu diucapkannya sangat pelan. Hanya dirinya sendiri yang benar-benar memahami arti dari setiap kata tersebut.

Sementara di luar sana, semakin banyak orang yang berusaha memenangkan hati Dira. Tidak ada yang menyadari bahwa hati perempuan itu telah memilih satu nama sejak bertahun-tahun yang lalu.

Untungnya, Dira tidak pernah benar-benar sendirian. Di hampir setiap forum bisnis penting, Beri sering berada di sisinya. Sebagai mentor sekaligus sahabat, kehadiran Beri membuat banyak orang berpikir dua kali sebelum bersikap tidak pantas kepada Dira.

***

Semua orang mengenal Beri sebagai konsultan bisnis yang disegani. Ia juga dikenal memiliki jaringan yang luas dan tidak segan membela orang-orang yang dianggapnya sebagai keluarga. Suatu malam, setelah menghadiri sebuah jamuan bisnis, Dira dan Beri berjalan menuju area parkir. Dira mengembuskan napas panjang.

"Capek?" tanya Beri.

"Bukan karena rapatnya."

"Lalu?"

"Karena harus menolak ajakan makan malam, ajakan liburan, sampai orang yang pura-pura ingin membahas bisnis padahal ujung-ujungnya menggodaku."

Beri tertawa kecil. "Itu konsekuensi menjadi pengusaha sukses sekaligus masih lajang."

Dira memutar bola matanya. "Kalau begitu, aku lebih memilih konsekuensi yang lain." Mereka tertawa bersama. Sesaat kemudian Dira menghentikan langkahnya. "Kak..."

"Hm?"

Dira menatap Beri dengan wajah serius. "Tetaplah di sisiku."

Beri mengernyit. "Kenapa?"

"Supaya aku punya alasan untuk tidak meladeni mereka."

Beri tertawa terbahak-bahak. "Jadi aku cuma dijadikan tameng?"

"Iya."

"Enak saja."

Dira ikut tertawa. "Tolonglah, Kak. Kalau ada Kak Beri di sampingku, biasanya mereka langsung menjaga jarak."

Beri menggeleng sambil tersenyum. "Kamu ini..." Ia lalu mengacak pelan rambut Dira seperti seorang kakak kepada adiknya. "Tenang saja, aku akan berusaha jadi tameng yang baik!"

Mendengar jawaban itu, Dira tersenyum lega. "Terima kasih, Kak."

"Jangan berterima kasih." Beri menatap Dira dengan hangat. "Dulu aku pernah berjanji kepada Ibu bahwa aku akan membimbingmu sampai kamu benar-benar bisa berdiri sendiri." Ia tersenyum tipis. "Dan janji itu masih berlaku."

1
Inde Hara
sepertinya Beri suka Dira🤭
Inde Hara
Ceritanya bagus
Fitria
Jangan lupa tinggalkan Like dan komen agar author semangat update. Terimakasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!