NovelToon NovelToon
Sang Konglomerat Berlutut di Hadapannya

Sang Konglomerat Berlutut di Hadapannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Enam bulan menjadi "burung kenari" konglomerat paling berkuasa di Jakarta, Keira Salim menyelesaikan misinya -- membalas dendam untuk kakaknya yang koma akibat perundungan -- lalu pergi tanpa jejak.
Rayhan Hartono terbangun di apartemen kosong. Cincin berlian merah yang dipesan khusus dari Jerman masih di sakunya. Surat perpisahan Keira hanya berisi satu kalimat: *"Terima kasih. Kita impas."*
Baru saat kehilangan, sang pewaris Hartono Group menyadari -- dia bukan yang menyelamatkan Keira malam itu. Keira-lah yang merancang segalanya sejak awal.
Dan sekarang, pria yang tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun... bersedia merangkak ke ujung dunia demi membawanya pulang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2: Pertemuan Pertama

Enam bulan sebelum Rayhan Hartono mengenal badai itu sebagai gangguan bipolar, ia pertama kali melihat Keira Salim di tempat yang sama, Velvet Lounge.

Malam itu, Keira tidak memakai gaun mahal. Ia mengenakan kemeja putih sederhana dan rok hitam, rambutnya diikat rendah, wajahnya terlalu bersih untuk ruangan yang penuh alkohol dan niat buruk. Di antara lampu merah redup dan asap cerutu, tahi lalat merah di ujung matanya terlihat seperti tanda kecil yang sengaja ditinggalkan takdir.

Rayhan tidak datang untuk mencari perempuan.

Ia duduk di sofa sudut bersama Steven, memainkan belati tipis di antara jari, mendengar orang-orang bicara soal proyek properti dan saham seolah dunia hanya papan permainan keluarga kaya.

Lalu suara perempuan pecah di sisi bar.

“Tolong lepaskan.”

Rayhan menoleh.

Seorang pria gemuk sedang mencengkeram pergelangan tangan Keira. Wajah pria itu merah oleh alkohol. Di kemudian hari, nama pria itu akan muncul lagi sebagai Bagong Prasetyo. Malam itu, ia hanya terlihat seperti orang mabuk yang merasa tubuh perempuan bisa dibeli bersama sebotol wine.

“Jangan sok suci,” kata Bagong. “Masuk tempat seperti ini, ya tahu risikonya.”

Keira mencoba menarik tangan. Gerakannya tidak panik, tetapi cukup untuk membuat Rayhan memperhatikan. Matanya dingin. Bukan mata perempuan yang ketakutan. Lebih seperti seseorang yang sedang menghitung jarak.

Steven mendecak. “Ray, jangan.”

Rayhan sudah berdiri.

Belati di tangannya berhenti berputar.

Dalam tiga langkah, ia sudah berada di belakang Bagong. Ujung belati menyentuh kulit leher pria itu, ringan sekali, tetapi cukup untuk membuat seluruh tubuh Bagong membatu.

“Lepaskan,” kata Rayhan.

Bagong langsung melepaskan tangan Keira. “Bos, saya cuma bercanda.”

“Bercanda pakai tangan?” Rayhan menekan belati sedikit lebih dekat. “Mau aku bercanda juga?”

Wajah Bagong pucat. “Ampun, Bos.”

Rayhan menatap Keira.

Perempuan itu tidak menangis. Tidak berterima kasih dengan suara gemetar. Ia hanya merapikan manset kemejanya, lalu mengangkat wajah.

“Terima kasih,” katanya.

Dua kata. Datar. Rapi.

Entah kenapa, justru itu yang membuat Rayhan tertarik.

Perempuan lain biasanya menatapnya dengan takut, kagum, atau perhitungan yang terlalu mudah dibaca. Keira tidak. Ia menatap Rayhan seperti menatap pintu keluar, bukan penyelamat.

“Nama,” kata Rayhan.

“Keira.”

“Lengkap.”

“Keira Salim.”

Rayhan mengulang nama itu dalam hati. Keira Salim. Dingin di lidah, tetapi meninggalkan rasa yang aneh.

“Pulang denganku,” katanya.

Keira menatapnya. “Kenapa?”

Steven yang berdiri di belakang hampir tersedak minumannya. Tidak banyak orang bertanya “kenapa” saat Rayhan Hartono memberi perintah.

Rayhan tersenyum tipis. “Karena kalau kamu pulang sendiri, pria seperti dia akan muncul lagi.”

“Kalau saya pulang dengan Anda, apa bedanya?”

Ruang itu seolah berhenti sebentar.

Rayhan menunduk, tertawa rendah. “Bedanya, aku lebih mahal.”

“Itu bukan kelebihan.”

“Tapi lebih aman.”

Keira menatap belati di tangannya. “Aman untuk siapa?”

Pertanyaan itu membuat Rayhan benar-benar menatapnya. Di bawah lampu Velvet yang redup, wajah Keira tampak tenang, tetapi ada kelelahan samar di kelopak matanya. Ada aroma teh putih yang tipis di tubuhnya, bersih dan nyaris tidak cocok berada di sana.

“Untuk kamu,” jawab Rayhan.

“Saya tidak butuh pemilik.”

Rayhan mendekat setengah langkah. “Aku tidak menawarkan jadi pemilik.”

“Lalu?”

“Jadi tempat kamu berlindung.”

Keira diam.

Rayhan mengangkat belatinya dari leher Bagong dan memberi isyarat pada pengawal. Pria gemuk itu langsung diseret keluar. Di dekat pintu, Bagong masih sempat menoleh ke arah Keira dengan mata yang sulit dibaca. Keira tidak membalas tatapannya.

Rayhan melihat semuanya.

Seharusnya ia curiga.

Namun malam itu, ia hanya melihat perempuan bermata dingin dengan aroma teh putih dan tahi lalat merah yang membuat tangannya gatal ingin menyentuh.

“Satu bulan,” kata Rayhan.

Keira mengerutkan dahi. “Apa?”

“Tinggal denganku satu bulan. Kalau kamu tidak suka, pergi.”

“Dan kalau saya menolak sekarang?”

Rayhan menyimpan belatinya. “Aku akan tetap mengantar kamu pulang. Lalu besok, aku akan muncul lagi.”

“Itu terdengar seperti ancaman.”

“Anggap saja rayuan yang kurang halus.”

Untuk pertama kalinya malam itu, sudut bibir Keira bergerak sedikit. Nyaris tidak terlihat. Namun bagi Rayhan, itu cukup untuk membuat seluruh ruangan kehilangan warna.

Ia tidak tahu bahwa senyum kecil itu adalah bagian dari sandiwara yang dibayar mahal oleh Keira sendiri.

Ia hanya tahu satu hal, ia menginginkan perempuan itu.

Pagi setelah insiden si pirang, Keira terbangun di apartemennya dengan aroma kopi dari dapur.

Rayhan berdiri di depan kompor, lengan kemejanya digulung, rambutnya masih basah sehabis mandi. Pemandangan itu terlalu domestik untuk pria yang semalam membakar bibir seseorang di Velvet.

“Bangun juga,” katanya tanpa menoleh.

Keira duduk di kursi meja makan. “Kamu masak?”

“Telur. Roti. Kopi. Jangan berharap lebih.”

“Aku tidak pernah berharap kamu bisa masak.”

Rayhan menaruh piring di depannya. “Makanya aku suka membuatmu salah.”

Keira mengambil garpu. Aroma teh putih dari tubuhnya bercampur kopi hitam dan mentega hangat. Ia baru makan dua suap ketika Rayhan meletakkan tablet di samping piringnya.

Di layar, ada foto rumah di Menteng dengan halaman luas, kolam renang, dan garasi yang cukup untuk enam mobil.

“Pilih,” kata Rayhan.

Keira mengangkat alis. “Apa ini?”

“Rumah.”

“Aku punya apartemen.”

“Apartemenmu terlalu kecil.”

“Cukup untukku.”

Rayhan menggeser layar. Foto berikutnya memperlihatkan penthouse dengan kaca penuh menghadap skyline Jakarta. “Kalau tidak suka rumah, ini.”

“Tidak.”

“Mobil?”

“Tidak.”

“Kartu tambahan?”

“Rayhan.”

Rayhan berhenti. Ia bersandar di kursi, menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Perempuan lain biasanya tidak menolak.”

Keira mengoleskan selai tipis ke roti. “Kalau begitu berikan pada perempuan lain.”

Udara di dapur hening.

Rayhan tertawa pelan, tetapi matanya menajam. “Kamu ingin aku punya perempuan lain?”

“Aku ingin kamu berhenti mengira semua hal bisa dibeli.”

Rayhan berdiri, berjalan mendekat, lalu menahan sandaran kursi Keira dari belakang. Tubuhnya membungkuk, napasnya menyentuh telinga Keira.

“Kalau kamu tidak mau rumah, tidak mau mobil, tidak mau kartu, setidaknya berhenti kerja.”

Keira meletakkan garpu.

“Tidak.”

“Aku bisa menghidupimu.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa?”

Keira menoleh. Jarak mereka begitu dekat sampai Rayhan bisa melihat bayangan dirinya di mata perempuan itu.

“Karena aku bisa menghidupi diriku sendiri.”

Rayhan menatapnya lama. Sesuatu di dadanya terasa tertarik, antara kesal dan kagum.

“Keras kepala,” gumamnya.

“Mandiri.”

“Sama saja.”

Keira mengambil tas kerjanya. “Aku ada rapat jam sembilan.”

Rayhan meraih pergelangan tangannya. “Aku antar.”

“Sopir kantor bisa.”

“Aku antar.”

Keira menatap tangan yang menggenggamnya, lalu wajah Rayhan. “Kalau aku bilang tidak?”

Rayhan tersenyum. “Aku akan tetap muncul di lobi HEALER.”

“Itu terdengar seperti ancaman.”

“Anggap saja rayuan yang belum membaik sejak enam bulan lalu.”

Kali ini Keira benar-benar tersenyum tipis.

Rayhan melihat senyum itu dan merasa sangat yakin, terlalu yakin, bahwa Keira Salim mencintainya.

Ia tidak pernah bertanya kenapa perempuan yang menolak rumah, mobil, dan kartu tambahan itu justru menerima dirinya.

1
kitty ❤
lanjut Thor 😍🔥
kitty ❤
Semangat Thor 😍🔥
kitty ❤
lanjut Thor 🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!