Maryati meninggal di malam hujan, membeku di gang sempit, setelah ketiga anaknya menolak membuka pintu.
Seumur hidup dia mengabdi. Gaji suaminya — Hartono — dia yang kelola supaya cukup untuk makan sekeluarga. Menantu pertamanya, Watini, menampar dan memaki sesuka hati. Anak sulungnya, Darmanto, bungkam saja. Anak keduanya, Bagus, cuma datang kalau butuh uang. Satu-satunya yang sayang — Lestari, anak perempuannya — justru dibuang ke kampung terpencil dan mati muda.
Lalu Tuhan memberi kesempatan kedua.
Maryati membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke usia lima puluh tahun. Kali ini, dia bukan lagi ibu yang menunduk. Kali ini, dia melawan.
Hari pertama: dia menampar balik Watini dan merebut seluruh gaji keluarga. Hari kedua: dia mengusir siapa pun yang berani menginjak harga dirinya. Dan tujuan terbesarnya? Menyelamatkan Lestari sebelum terlambat — naik kereta sendirian ke kampung terpencil, menghadapi keluarga preman yang menyandera anaknya, dan membawa Lestari pulang dengan tangannya sendiri.
Tapi membebaskan anak perempuannya baru permulaan.
Maryati harus berhadapan dengan suami yang lebih memilih selingkuhan daripada istri, menantu yang licik di balik senyum manisnya, dan anak-anak yang menganggap pengorbanan ibu adalah hal yang wajar. Ketika cukup sudah — **dia menggugat cerai di usia lima puluh tahun, keluar dari rumah dengan satu tas kecil, dan membuktikan bahwa hidup seorang perempuan tidak berakhir setelah ditinggal suami.
Dari buruh pabrik tekstil biasa, Bu Yati naik menjadi ketua serikat pekerja wanita. Dia mendirikan asrama perlindungan untuk pekerja perempuan korban kekerasan. Dia menemukan kakak kandung yang terpisah sejak kecil. Dan satu per satu, perempuan-perempuan di sekitarnya — Wulandari si anak yang dikorbankan untuk adik laki-laki, Ayu yang dijual untuk dinikahkan, Ningsih yang tertipu laki-laki brengsek — bangun dari tidur panjang mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3: Ke Rumah Mertua
Dan seluruh kampung melihat Bu Yati berdiri dengan satu tangan mencengkeram rambut Watini.
Pagi yang semula biasa saja langsung pecah seperti piring jatuh.
Ibu-ibu yang tadi membeli bayam berhenti di tengah jalan. Tukang sayur mematikan suara klakson kecilnya. Dari warung depan gang, dua orang keluar sambil mengelap tangan ke celemek. Mata mereka membesar melihat Watini, menantu yang biasanya paling nyaring bicara, kini setengah terseret dengan rambut dalam genggaman ibu mertuanya.
"Bu Yati?" salah satu tetangga berseru ragu. "Ya Allah, ada apa ini?"
Watini menutup wajah dengan kedua tangan. "Lihat, Bu! Ibu mertuaku gila! Aku dipukul!"
Bu Yati menarik rambutnya sedikit lebih kuat. Watini langsung meringis.
"Tadi waktu tanganmu menampar pipiku, kamu tidak teriak gila," kata Bu Yati lantang. "Sekarang baru malu?"
Suara itu cukup keras untuk membuat pintu-pintu rumah lain terbuka.
Anto keluar tergesa, pipinya merah sebelah. Pak Tono berdiri di belakangnya dengan wajah pucat. Bagus tidak ikut mendekat. Ia hanya muncul di ambang pintu, matanya menghitung jumlah tetangga yang mulai berkumpul.
"Bu'e, masuk dulu," desis Pak Tono. "Jangan bikin tontonan."
Bu Yati menoleh pelan. "Tontonan? Waktu istrimu disuruh jadi pembantu di rumah besan, itu bukan tontonan? Waktu menantumu menampar ibu mertua di dalam rumah, itu bukan aib?"
Beberapa ibu langsung saling pandang.
"Menantu mukul mertua?"
"Serius?"
"Kok bisa?"
Satu ponsel terangkat. Lalu satu lagi. Dalam hitungan detik, kamera-kamera kecil itu seperti mata baru yang tidak bisa dipaksa tutup.
Watini makin panik. "Jangan rekam! Jangan rekam!"
"Rekam saja," ujar Bu Yati. "Biar kalau nanti ada yang memutar cerita, videonya sudah ada."
Kalimat itu membuat Watini terdiam.
Dulu Bu Yati takut sekali pada omongan tetangga. Ia menyapu halaman lebih pagi agar tidak disebut malas. Ia menahan lapar agar anak-anak tetap terlihat terurus. Ia tersenyum pada orang yang menyindir, karena Pak Tono selalu berkata keluarga baik-baik tidak membuka aib.
Hari ini, aib itu ia angkat sendiri ke tengah gang.
"Jalan," perintah Bu Yati.
"Ke mana?" Watini menangis kesal.
"Ke rumah orang tuamu."
Wajah Watini berubah. "Apa?"
"Katanya ibumu butuh orang bantu masak dan cuci. Katanya bapakmu keluarga terhormat. Ayo. Kita tanya langsung, menantu seperti apa yang mereka ajari sampai berani memukul ibu mertuanya."
Anto langsung maju. "Bu, jangan ke sana. Ini urusan rumah kita."
Bu Yati menatapnya. "Kamu baru ingat ini rumah kita setelah istrimu mau kuantar pulang?"
Anto tercekat.
Pak Tono mencoba meraih lengan Bu Yati, tapi ia menepis tangan itu. "Kalau kamu malu, tutup saja mukamu pakai sarung. Aku tidak malu lagi."
Mereka berjalan melewati gang.
Bukan berjalan sebenarnya. Watini terseret, kadang tersandung sandal sendiri, kadang memaki pelan, kadang memohon pada Anto agar menolong. Anto mengikuti dengan wajah kusut. Pak Tono berjalan di belakang sambil berkali-kali meminta tetangga bubar, tetapi tidak ada yang benar-benar pergi. Beberapa ibu-ibu mengikuti dari jarak aman. Ada yang mengirim voice note ke grup RT. Ada yang mengetik cepat di WhatsApp arisan.
Kabar di Kampung Sumber bergerak lebih cepat daripada angin.
Saat mereka tiba di rumah orang tua Watini, halaman depan sudah ada beberapa tamu. Sebuah motor matic baru terparkir rapi. Di ruang tamu, tampak keluarga lain sedang duduk, mungkin membicarakan perjodohan adik laki-laki Watini. Ada piring kue kering di meja, gelas teh manis, dan senyum sopan yang langsung beku saat Bu Yati masuk ke halaman sambil menyeret anak perempuan tuan rumah.
Ibu Watini keluar lebih dulu.
"Astaghfirullah! Tin!" jeritnya. "Apa-apaan ini, Bu Yati? Lepaskan anak saya!"
Bu Yati melepaskan rambut Watini begitu saja. Watini jatuh terduduk di ubin teras.
Namun sebelum siapa pun sempat bicara lagi, Bu Yati menepuk dadanya sendiri lalu menangis keras.
Tangisnya pecah, panjang, menyayat, sampai semua orang yang tadi siap memarahinya justru mundur setengah langkah.
"Ya Allah, lihatlah nasibku!" ratap Bu Yati sambil duduk di teras. "Aku membesarkan anak lelaki sampai besar, menikahkan dia baik-baik, tapi apa balasannya? Menantuku menampar aku di rumahku sendiri!"
Ibu Watini kaget. "Jangan sembarangan bicara!"
"Sembarangan?" Bu Yati mengangkat wajah, air matanya masih jatuh, tapi matanya tajam. "Pipiku masih panas. Kalau tidak percaya, tanya tetangga. Banyak yang lihat aku keluar setelah dipukul. Videonya juga ada."
Ibu-ibu yang mengikuti dari Kampung Sumber langsung mengangguk-angguk.
"Saya lihat sendiri Bu Yati keluar sambil pipinya merah."
"Mbak Tin juga teriak jangan direkam."
"Kalau tidak salah, ada urusan kerja tetap itu."
Wajah ibu Watini berubah merah. Ia menoleh ke anaknya. "Tin?"
Watini menangis. "Mak, aku cuma emosi. Ibu itu tidak adil. Lowongan kerja dikasih ke Gus, Mas Anto tidak dapat apa-apa."
Ayah Watini keluar dari ruang tamu. Laki-laki itu berusaha terlihat tenang, tetapi matanya gelisah melihat tamu-tamu yang mulai berdiri.
"Bu Yati," katanya dengan suara ditahan. "Masuk dulu. Jangan ribut di depan orang."
Bu Yati memukul lantai teras dengan telapak tangan.
"Justru di depan orang aku mau bicara. Anak perempuanmu memukul aku. Suamiku malah menyuruh aku datang ke rumah ini untuk masak dan cuci sebagai ganti dua juta rupiah. Aku ini ibu mertua atau pembantu gratis?"
Tamu perempuan di ruang tamu saling pandang. Salah satunya, perempuan berkerudung krem yang duduk paling dekat pintu, menatap adik laki-laki Watini dengan ragu.
Bu Yati melihat itu.
Ia mengusap air mata, lalu menatap pemuda itu dari kepala sampai kaki. Dalam ingatannya, laki-laki itu kelak membuat banyak masalah. Tabiatnya kasar, mulutnya manis hanya saat ada calon mertua. Bu Yati tidak perlu menyebut masa depan. Cukup menusuk bagian yang sekarang terlihat.
"Dan kamu," katanya pada adik Watini. "Kalau keluargamu menganggap perempuan tua bisa disuruh-suruh dan ditampar, bagaimana nanti kamu memperlakukan istrimu? Baru calon saja sudah duduk seperti raja, teh diambilkan, kue disodorkan. Jangan-jangan setelah menikah, perempuan juga kamu anggap barang rumah."
Pemuda itu berdiri tersinggung. "Lho, kok saya dibawa-bawa?"
Perempuan berkerudung krem langsung menunduk. Ibunya berbisik sesuatu, lalu berdiri dengan wajah kaku.
"Sepertinya kami pulang dulu," kata sang ibu. "Urusan keluarga ini... kami tidak enak ikut mendengar."
Ayah Watini tercekat. "Lho, Bu, tunggu dulu. Ini salah paham."
Namun keluarga tamu itu sudah berjalan keluar. Pemuda tadi ingin mengejar, tetapi ibunya sendiri menahan lengannya dengan tajam.
Wajah ibu Watini berubah makin buruk.
"Bu Yati!" bentaknya. "Kamu sengaja merusak acara anak saya?"
Bu Yati berhenti menangis. Tangisnya hilang secepat kompor dimatikan.
"Anakmu merusak wajahku dulu."
Anto yang sejak tadi diam akhirnya bersuara lemah, "Mak, sudah. Kita pulang saja."
Watini menoleh padanya, marah. "Pulang? Setelah aku dipermalukan begini?"
Ibu Watini menunjuk Anto. "Kalau keluargamu memang tidak bisa menghargai anak saya, lebih baik cerai saja! Anak saya masih bisa hidup tanpa kamu."
Pak Tono langsung panik. "Jangan sampai begitu. Kita keluarga. Jangan bicara cerai."
Bu Yati tertawa pendek.
Semua orang menoleh.
"Cerai?" Ia berdiri pelan. "Silakan."
Watini membeku.
Anto seperti kehilangan tulang.
Pak Tono melotot. "Bu'e!"
Bu Yati tidak memedulikannya. "Kalau anak perempuanmu mau cerai, bawa pulang. Aku malah lega. Tapi sebelum itu, tamparan tadi harus dibayar."
Ayah Watini menyipit. "Maksudnya?"
"Ganti rugi."
"Berapa?"
"Delapan juta rupiah."
Halaman langsung riuh.
"Delapan juta?"
"Bu Yati, itu kebanyakan."
"Tamparan kok mahal amat."
Bu Yati menoleh pada para ibu yang berbisik. "Murah. Kalau aku lapor ke Polres, visum, pakai UU PKDRT, urusannya bisa lebih mahal. Belum lagi video ini masuk grup RT, grup arisan, sampai saudara-saudara mereka tahu anak perempuan rumah ini memukul mertua."
Ayah Watini menelan ludah. Ibu Watini masih ingin memaki, tapi suaminya mengangkat tangan memberi isyarat diam.
Orang seperti mereka paling takut bukan pada salah, melainkan pada malu yang menyebar.
"Empat juta," kata ayah Watini akhirnya. "Saya kasih empat juta. Selesai sampai sini."
Bu Yati menggeleng. "Empat juta uang, satu informasi kerja."
"Kerja apa lagi?"
"Aku dengar keluarga kalian punya kenalan di mal. Ada toko pakaian yang butuh pegawai perempuan lulusan SMA. Beri alamat dan nomor kontaknya."
Watini mendongak curiga. "Buat siapa?"
"Bukan urusanmu."
Tentu saja untuk Tari.
Uang di tangan, jalan kerja di depan mata. Kali ini anak perempuannya tidak akan dibiarkan tenggelam di kampung orang.
Perundingan berlangsung alot hampir satu jam. Ibu Watini berkali-kali mengumpat, Watini menangis seolah ia korban terbesar, Anto hanya berdiri seperti suami tanpa suara. Pak Tono beberapa kali mencoba menurunkan angka, tetapi setiap kali ia bicara, Bu Yati menatapnya sampai ia diam sendiri.
Akhirnya sebuah amplop cokelat dikeluarkan dari lemari. Empat juta rupiah dihitung di atas meja teras, lembar demi lembar. Setelah itu, ayah Watini menulis alamat toko di sebuah pusat perbelanjaan kecil Cirebon dan nomor pemiliknya di kertas sobekan kalender.
Bu Yati menghitung uang itu dua kali.
Lalu ia memasukkannya ke dalam tas kain lusuh yang ia bawa dari rumah.
"Mulai hari ini," katanya pada Watini, "kalau tanganmu gatal mau menampar orang tua, ingat harga satu tamparanmu."
Ibu Watini mendorong Anto dan Watini ke arah jalan. "Pergi! Gara-gara kalian, acara adikmu bubar!"
Watini menangis makin keras. Anto ikut terseret, kali ini bukan oleh Bu Yati, melainkan oleh kemarahan keluarganya sendiri.
"Mak, aku ini anakmu!" Watini memekik.
"Justru karena kamu anakku, aku malu!" balas ibunya. "Apa kurang ajarku mengajarimu sampai kamu berani mengangkat tangan ke mertua? Kamu pikir orang-orang akan menyalahkan siapa? Mereka akan bilang rumah ini tidak bisa mendidik anak perempuan!"
Ayah Watini juga tidak lagi memakai suara halus. Ia menunjuk Anto tepat di dada.
"Dan kamu. Laki-laki macam apa membiarkan istrimu bikin rusuh sampai calon besan adik iparmu kabur? Kamu mau uang dua juta, kan? Lihat sekarang. Uang empat juta keluar dari lemari saya karena kalian berdua tidak bisa menahan mulut dan tangan."
Anto menunduk, wajahnya makin merah. "Pak, saya..."
"Jangan panggil saya Pak kalau cuma mau bawa rugi."
Kalimat itu membuat ibu-ibu yang menonton berdesis pelan. Watini yang tadi masih berani menangis mendadak terisak tanpa suara. Selama ini ia selalu pulang ke rumah orang tuanya dengan dada tegak, yakin keluarganya akan membela apa pun yang ia lakukan. Hari ini, untuk pertama kalinya, pintu rumah itu juga terasa seperti menolaknya.
Bu Yati melihat pemandangan itu tanpa berkedip.
Dulu ia yang selalu dipojokkan dua keluarga sekaligus. Hari ini, Anto dan Watini berdiri di tengah halaman seperti anak kecil yang ketahuan mencuri uang warung.
Rasanya tidak manis.
Rasanya panas, tajam, dan membuat napasnya lebih lega.
Bu Yati berjalan pulang tanpa menoleh. Di belakangnya, ibu-ibu masih berbisik. Beberapa menatapnya dengan takut, beberapa dengan kagum. Bu Yati tidak peduli.
Di ujung gang, ia berhenti di bawah pohon mangga kecil. Tangannya meraba tas kain, memastikan amplop itu masih ada. Empat juta rupiah. Satu alamat kerja. Dua benda yang dulu tidak ia pertahankan, kini terasa seperti nyawa baru untuk Tari.
Ponsel murahnya bergetar.
Bu Yati mengeluarkannya.
Di layar retak itu, nama Tari muncul.
Pesan WhatsApp baru masuk.
Mama, aku mau nikah sama dia. Nggak apa-apa kan?
Jari Bu Yati langsung dingin.
Amplop empat juta di tasnya terasa mendadak berat seperti batu.