Tan Keira bukan orang bodoh. Dia tahu dirinya bukan cucu kandung Engkong Budiman -- hasil tes DNA di tangannya sudah membuktikan itu. Dia juga tahu bahwa suatu hari, cucu asli keluarga Tan akan muncul dan merebut segalanya: rumah, warisan, nama keluarga, bahkan kasih sayang satu-satunya orang yang pernah mencintainya.
Tapi Keira tidak akan duduk diam menunggu kehancuran.
Di sebuah lounge mewah di SCBD Jakarta, dia mengeksekusi rencana pertamanya: menjebak Lim Renata -- mantan jenderal, CEO Lim Group, sahabat mendiang papanya, dan satu-satunya pria yang cukup berkuasa untuk melindunginya dari badai yang akan datang.
Renata dingin. Renata menakutkan. Seluruh Jakarta tunduk padanya.
Tapi di depan Keira yang gemetar (pura-pura) dan bermata basah (juga pura-pura), pria itu... lembek.
"Om, saya takut."
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Yang Keira tidak tahu: Renata bukan pria yang bisa dijebak. Dia pria yang *memilih* untuk masuk ke jebakan. Dan alasannya... jauh lebih dalam dari yang Keira bayangkan.
Saat cucu asli keluarga Tan akhirnya muncul, saat kebohongan Keira mulai terbongkar satu per satu, saat seluruh dunianya runtuh -- hanya ada satu pertanyaan yang tersisa:
*Apakah Renata akan tetap memilihnya, setelah tahu semuanya palsu?*
Jawabannya ada di dua kata yang akan menghancurkan dan menyembuhkan Keira sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Kevin menghubungi Keira tiga hari setelah kasus plagiat Vanya masuk sidang etik fakultas.
Nada pesannya masih sama seperti biasa, seolah dunia tidak baru saja melihat asisten kesayangannya mencuri skripsi orang.
Kita bicara malam ini. Aku tunggu di lounge Kemang. Jangan bawa siapa-siapa.
Keira membaca pesan itu sambil duduk di meja rias. Di depannya ada ponsel kedua yang sudah ia atur untuk merekam suara secara otomatis. Ia menekan tombol tes, memastikan lampu indikator menyala, lalu memasukkannya ke kompartemen kecil di tas.
Kevin ingin bicara.
Keira ingin senjata.
Lounge di Kemang malam itu tidak semewah The Jade Lounge, tetapi cukup gelap untuk orang-orang yang ingin menyembunyikan sesuatu. Musik jazz mengalun pelan. Meja-meja kecil dipisahkan tanaman tinggi. Di sudut ruangan, Kevin sudah duduk dengan wajah buruk.
"Kamu puas?" tanyanya bahkan sebelum Keira duduk.
Keira meletakkan tas di kursi sebelah. "Puas soal apa?"
"Jangan pura-pura bodoh. Vanya sekarang hampir dikeluarkan dari kampus."
"Karena dia mencuri skripsiku."
"Dia panik!"
Keira menatap Kevin. "Dan karena panik, dia boleh menjebakku?"
Kevin mengusap wajah kasar. "Kamu selalu membuat semuanya terlihat besar. Harusnya kamu bisa menyelesaikan ini diam-diam. Sekarang nama Ong ikut terseret."
"Yang menyeret nama Ong bukan aku."
"Kamu calon istriku!" Suara Kevin naik, lalu ia sadar beberapa orang menoleh. Ia menurunkannya lagi. "Kamu harusnya menjaga aku."
Keira hampir tertawa. "Menjaga kamu atau menutup kesalahan Vanya?"
Kevin membungkuk mendekat. "Dengar. Pertunangan kita belum batal. Selama kamu masih terikat denganku, jangan seenaknya mencari dukungan ke Lim Richard."
Nama Richard keluar dari mulut Kevin dengan rasa iri yang buruk.
"Om Lim hanya membantu proses akademik berjalan adil."
"Om Lim," ulang Kevin sinis. "Kamu pikir orang buta? Dia datang ke kampus, berdiri di sampingmu, semua orang langsung menunduk. Kamu menikmati itu, kan?"
Keira menurunkan pandangan. "Kevin, aku lelah."
"Kamu lelah?" Kevin tertawa pendek. "Aku yang harus menghadapi Papa karena kerja sama dengan Lim Group hampir ditinjau ulang. Vanya menangis setiap hari. Felicia marah karena kamu mempermalukan keluarga kami. Tapi kamu lelah?"
Ponsel di tas Keira merekam setiap kata.
Ia sengaja menggeser tas sedikit lebih dekat ke arah Kevin. Bukan gerakan besar. Hanya cukup agar mikrofon kecil di kompartemen dalam menangkap suaranya tanpa gangguan musik. Di layar ponsel utama, ia mengetik pesan kosong kepada Mira, lalu menghapusnya lagi. Gerakan itu membuatnya tampak gelisah.
Kevin melihat dan salah paham.
"Mau mengadu lagi?" tanyanya sinis. "Ke siapa sekarang? Richard?"
Keira mengangkat wajah perlahan. "Aku tidak mengadu."
"Semua yang kamu lakukan itu mengadu. Kamu cuma pintar membuat diri sendiri terlihat seperti korban."
Kalimat itu menarik senyum kecil dari Keira, tetapi ia cepat menunduk agar Kevin tidak melihat.
Tuduhan yang tepat, dari orang yang salah, tetap bisa menjadi bahan bakar.
Ia membiarkan matanya memerah. Kali ini caranya sederhana. Ia menggosok sudut mata sebelum datang, cukup untuk membuatnya tampak seperti menahan tangis.
"Apa yang kamu mau?"
"Berperilakulah." Kevin menekankan kata itu. "Jangan dekat-dekat dengan Richard. Jangan membuat Vanya terlihat buruk lagi. Dan kalau Engkong bertanya, bilang semua hanya salah paham."
"Kalau aku tidak mau?"
Tatapan Kevin menjadi dingin. "Jangan lupa, Keira. Kamu hidup dari nama Tan. Kalau hubungan kita rusak, aku bisa membuat orang bertanya apakah kamu pantas membawa nama itu."
Dada Keira seperti ditusuk.
Ancaman itu terlalu dekat dengan kebenaran.
Kevin tidak tahu, tetapi tebakannya menyentuh luka yang paling tersembunyi.
Keira berdiri pelan. "Aku pulang."
"Aku belum selesai."
"Aku sudah."
Kevin menatapnya beberapa detik, lalu mendengus. "Terserah. Drama terus. Kalau nanti semua orang capek dengan sikapmu, jangan salahkan aku."
Ia pergi lebih dulu, meninggalkan Keira sendirian di meja.
Keira duduk kembali.
Ia memesan satu gelas wine, tetapi hanya menyentuhkan bibir ke tepi gelas. Setelah itu, ia menunggu sepuluh menit. Cukup lama agar Kevin benar-benar pergi. Cukup lama agar rekamannya punya jeda sunyi yang natural.
Lalu ia menelepon Richard.
Panggilan tersambung pada dering kedua.
"Keira?"
Di seberang sana, suara Richard terdengar rendah. Ada ketukan keyboard samar. Pria itu masih bekerja.
Keira membuat suaranya lebih lambat. "Om..."
Richard langsung diam. "Kamu minum?"
"Sedikit."
"Di mana?"
"Kemang."
"Alamat."
Keira menyebutkan nama lounge dengan suara yang sengaja dibuat kabur. Richard tidak bertanya kedua kali.
"Duduk di tempatmu. Jangan pergi dengan siapa pun."
Panggilan terputus.
Dua puluh menit kemudian, Richard masuk ke lounge.
Ia tidak memakai jas. Hanya kemeja putih dengan lengan digulung sampai siku. Wajahnya lebih dingin daripada malam di The Jade Lounge. Beberapa orang menoleh saat ia berjalan, lalu cepat-cepat kembali ke meja masing-masing.
Keira duduk di sudut, kepala sedikit menunduk, mata merah.
"Keira."
Ia mengangkat wajah, lalu tersenyum lemah. "Om datang."
Richard mengambil gelas wine di depannya, mencium aromanya sebentar, lalu meletakkannya kembali. "Kamu baru minum sedikit."
Keira berkedip.
Pria ini terlalu teliti.
"Saya pusing."
Richard tidak membantah. Ia mengambil tas Keira, lalu membantunya berdiri. "Pulang."
Saat tangannya menyentuh tali tas, Keira hampir menahan napas. Ponsel kedua ada di dalam. Kalau Richard membuka tas itu, rencananya akan terbongkar terlalu cepat. Namun Richard tidak memeriksa apa pun. Ia hanya menggantungkan tas itu di lengannya seperti benda rapuh yang harus dibawa dengan hati-hati.
Di pintu lounge, seorang pelayan berkata, "Tagihannya, Pak..."
Richard tidak menoleh. "Kirim ke meja saya."
Pelayan itu langsung menunduk. Keira melihat dari sudut mata bagaimana nama Richard bekerja bahkan di tempat yang bukan miliknya.
Di mobil, Keira duduk di kursi penumpang. Richard mengemudi sendiri. Jalan Kemang malam itu lengang, lampu toko dan kafe memantul di kaca mobil. Keira membiarkan kepalanya pelan-pelan jatuh ke bahu Richard saat mobil berhenti di lampu merah.
Tubuh Richard langsung kaku.
"Keira."
"Sebentar saja, Om."
Suaranya terdengar kecil. Kali ini ia tidak perlu terlalu banyak berpura-pura. Aroma Richard, cedarwood dan leather, memenuhi napasnya. Bahunya keras, hangat, dan sangat berbeda dari semua hal rapuh yang selama ini ia pegang.
Richard tidak mendorongnya.
Tangannya tetap di setir, tetapi napasnya berubah sedikit lebih berat.
Keira memejamkan mata.
Langkah lain berhasil.
Ketika sampai di Rumah Keluarga Tan, Pak Hasan sudah menunggu di pintu samping. Richard memastikan Keira masuk sebelum kembali ke mobil.
Di kamarnya, Keira mengunci pintu, lalu mengeluarkan ponsel kedua dari tas.
Rekaman suara Kevin tersimpan sempurna.
Keira memutarnya sekali. Ancaman itu terdengar jernih di speaker kecil.
Ia menatap wajahnya di cermin, mata masih merah, bibir sedikit pucat.
"Senjata untuk nanti," bisiknya.