"Dulu Ku tulis takdirmu untuk menderita, sekarang malah..aku yang harus bertarung nyawa merubah takdir itu." Ling Xie seorang penulis novel kolosal, tidak sengaja terjebak ke dalam cerita novelnya sendiri. Ia terbangun ke dalam cerita nya sendiri. Ia terkejut mendapati dirinya terbangun dari tidur, dan masuk ke dalam tubuh putri Jin Ling Xie. Seorang protagonis, yang ia ciptakan untuk hidup sengsara, seorang putri yang terbuang, dan di fitnah sebagai wanita murahan, oleh Putri Li Mei Feng seorang putri palsu dari kerajaan Feng Ling. Di dunia yang kejam ini, ia harus bertahan hidup dengan bantuan Sistem. Misinya sungguh berat dan tidak main-main. Ia harus mengembalikan takdir putri yang terbuang itu, untuk merebut posisi putri mahkota Kerajaan Feng Ling yang asli, dari tangan Li Mei Feng si putri palsu itu. Serta merebut kembali jodoh sejatinya yaitu seorang pangeran Zhong Yang. Dan membersihkan nama baik Ibu kandung nya, Selir Agung Ling Mei Rong dari fitnahan Yan Shi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUSTIKA DEWI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketenangan Sementara Dan Rencana Gelap Yan Shi
Ling Xie sangat ingin memulai tugas tersebut, tapi bingung dari mana harus memulai. Tugas dari sistem adalah membantu Selir Agung Ling Mei Rong untuk mengungkapkan kebenaran bahwa Pangeran kembar Jin Ling Jian dan Jin Lim Jian adalah anak kandung Kaisar Jin Feng, bukan anak Kaisar Jin Feng dengan Mantan Permaisuri Yan Shi.
"Aku harus mulai dari mana dulu? Aku benar-benar bingung harus memulainya dari mana," gumam Ling Xie sambil menggigit jari telunjuk kanannya.
Ling Xie pun keluar kamar, berharap berjalan-jalan di Paviliun Tamu Agung dan Paviliun Dingin bisa meluruhkan kebingungannya. Kedua tempat ini memang berdekatan, hanya berjarak sekitar delapan puluh meter satu sama lain, dipisahkan oleh deretan bunga melati yang sedang mekar.
Baru saja ia berjalan santai di sela-sela rimbunnya melati, matanya menangkap sosok seorang dayang istana yang bergerak mengendap-endap di sekitar Paviliun Dingin. Perilakunya sangat mencurigakan, ia baru saja menyuguhkan kue kepada para penjaga, seolah berniat membuat mereka tertidur. Benar saja, para penjaga itu kini tertidur pulas sambil memegang kue di tangan mereka.
Tak lama, dayang itu menyelinap masuk ke Paviliun Dingin. Ling Xie pun menyusul di belakangnya, melangkah sehalus mungkin agar jejaknya sama sekali tidak terdeteksi. Ia berhenti tepat di depan pintu kamar tempat Mantan Permaisuri Yan Shi dikurung. Saat ia membuka penutup kepalanya, Ling Xie tertegun.Ternyata itu adalah Dayang Yu Lan, dayang yang memang bertugas melayani dan mengantar makanan untuk Yan Shi setiap hari.
"Yang Mulia, hamba datang mengantar makanan," ujar Yu Lan sambil menyodorkan keranjang.
"Yu Lan, aku butuh bantuanmu," pinta Yan Shi.
"Hamba siap melaksanakan perintah Yang Mulia," jawab Yu Lan sambil menunduk hormat.
"Carikan aku wanita yang sangat mirip denganku. Untuk dijadikan penggantiku sementara di sini," perintah Yan Shi dengan suara rendah namun berwibawa.
"Segera hamba laksanakan, Yang Mulia. Secepatnya hamba akan membawanya ke sini," sahut Dayang Yu Lan sambil membungkuk memberi salam penghormatan.
"Astaga, apa yang direncanakan mereka? Aku harus mencari tahu lebih lanjut," gumam Ling Xie dalam hati.
"Besok pagi, bawalah wanita itu ke sini," ujar Yan Shi menegaskan.
"Baik, Yang Mulia," sahut Dayang Yu Lan.
Ling Xie pun bergegas kembali ke Paviliun Tamu Agung, melangkah senyap tanpa jejak. Sepanjang jalan, tangannya saling meremas gelisah. Apakah rencana licik Mantan Permaisuri Yan Shi ini berkaitan dengan Selir Agung Ling Mei Rong? Apakah Yan Shi sudah tahu bahwa rahasia tentang Pangeran kembar itu mulai terbongkar?
Sementara itu, di Paviliun Utama, tempat kediaman Pangeran Jin Ling Jian dan Jin Lim Jian, terlihat Pangeran Jin Ling Jian sedang duduk di kursi sambil menyeruput secangkir teh.
"Kak Ling, bagaimana ini? Jika benar kita adalah anak dari Selir Agung Ling Mei Rong, lalu apa yang harus kita lakukan? Aku sangat bingung. Bukti kalung giok putih itu terasa sangat kuat kebenarannya," ucap Pangeran Jin Lim Jian kepada kakaknya.
"Entahlah. Aku juga tidak tahu harus berbuat apa. Yang kita rasakan, Selir Agung Ling Mei Rong memang wanita yang baik hati, tidak pendendam seperti Ibu Yan Shi. Selir Agung Ling Mei Rong sangat cantik, kecantikannya itu murni dari hati," ujar Pangeran Jin Ling Jian.
"Selir Agung Ling Mei Rong... dialah satu-satunya wanita yang sangat dicintai Ayahanda Kaisar," sahut Pangeran Jin Ling Jian lagi.
* * * * *
Keesokan paginya, Ling Xie menemani Selir Agung Ling Mei Rong berjalan-jalan menikmati keindahan suasana pagi, sekaligus berjemur di bawah sinar matahari pagi. Keakraban di antara mereka terjalin begitu alami.
"Aku penasaran dengan gadis, tabib bercadar ini. Sepertinya aku merasa sangat akrab dengannya, lebih dari sekadar hubungan majikan dan pelayan. Ada sesuatu yang lebih dari itu... namun sulit sekali untuk menjelaskannya," gumam Selir Agung Ling Mei Rong dalam hati, saat menatap Ling Xie.
"Yang Mulia, bagaimana perasaan Anda saat ini?" tanya Ling Xie sambil mengajaknya berjalan ke arah Jembatan Merah.
"Perasaanku sangat senang. Kesedihan di hatiku pun perlahan mulai berkurang. Terima kasih banyak sudah merawat ku," ucap Selir Agung Ling Mei Rong dengan lembut.
Ling Xie menuntun Selir Agung Ling Mei Rong menuju sebuah taman hijau yang penuh dengan kelinci-kelinci yang sangat menggemaskan.
"Eh, kau ingin membawaku ke mana?" tanya Selir Agung Ling Mei Rong sambil membiarkan tangannya dituntun oleh Ling Xie.
"Tenang saja, Yang Mulia. Hamba akan mengajak ke suatu tempat yang tak akan Yang Mulia sangka-sangka," ucap Ling Xie dengan nada gembira dan penuh keyakinan.
Tak lama kemudian, sampailah mereka di taman belakang Istana Kerajaan Feng Ling. Di sana terbentang hamparan taman hijau yang dipenuhi kelinci-kelinci kecil.
"Tara... kita sudah sampai!" seru Ling Xie sambil memperlihatkan tempat itu.
"Wow... ini sungguh indah, begitu damai dan menenangkan. Waw, di sini banyak sekali kelincinya?" tanya Selir Agung Ling Mei Rong takjub.
Selir Agung Ling Mei Rong pun segera menghampiri mereka, lalu duduk perlahan di tengah-tengah kawanan kelinci itu. Beliau memang sangat menyukai hewan berbulu ini, terlihat jelas dari cara beliau membelai dan memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang.
Ling Xie tersenyum melihatnya. Ia menyimpulkan, sifat Selir Agung Ling Mei Rong yang lemah lembut dan penuh kasih sayang itulah alasan mengapa Kaisar Jin Feng sangat mencintainya.
Sementara itu, di Paviliun Dingin... Dayang Yu Lan datang membawa seorang wanita yang wajahnya sangat mirip dengan Yan Shi. Wanita itu menutup wajahnya dengan cadar, sambil membawa nampan berisi teko dan cangkir porselen berwarna emas.
Kali ini, mereka tidak dihalangi lagi oleh para penjaga. Keduanya pun langsung melangkah masuk ke dalam Paviliun Dingin, dan tak lama kemudian tiba di kamar tempat Mantan Permaisuri Yan Shi dikurung.
"Yang Mulia, hamba membawa wanita yang Yang Mulia minta kemarin," lapor Dayang Yu Lan sambil menunduk hormat.
Wanita itu pun maju ke depan. Sementara itu, Dayang Yu Lan mengeluarkan sebuah kunci yang ia peroleh dari Kasim Han, kekasih Yan Shi, lalu mulai membuka rantai besi yang membelenggu kaki Yan Shi. Tak lama kemudian, mereka bertukar pakaian dan saling bertukar posisi.
Entah bagaimana caranya, Kasim Han berhasil mendapatkan kunci pengikat rantai besi itu. Setelah itu, Dayang Yu Lan mengeluarkan sebuah topeng perak yang berwarna hitam keemasan.
"Ini topengnya, Yang Mulia," ujar Dayang Yu Lan sambil menyodorkannya kepada Yan Shi.
Kini Yan Shi sudah siap melangkah ke luar dengan penyamarannya. Ia pun bergegas meninggalkan Paviliun Dingin, berjalan beriringan dengan Dayang Yu Lan. Pakaian yang ia kenakan membuat para penjaga sama sekali tidak curiga.