NovelToon NovelToon
Pegasus From Diamond Planet

Pegasus From Diamond Planet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Saat Planet Diamond runtuh menjadi abu akibat amukan monster legendaris Typhon, sebuah pengorbanan darah terakhir mengirim dua benih harapan ke Planet Bumi. Namun, badai dimensi memisahkan takdir mereka secara kejam.
Alan, bocah Pegasus berusia tujuh tahun yang cerdas, terdampar di danau sebuah kastil kuno. Ia ditemukan oleh Jacob, sang Raja Vampir penguasa malam yang mematikan. Di dunia yang dipenuhi predator berdarah dingin, Alan harus bertahan hidup, menyembunyikan sayapnya, dan tumbuh bersama seorang Pangeran Vampir misterius.
Sementara itu, di belahan kota seberang, seorang bayi perempuan berambut seputih salju terlahir dari kristal pualam ajaib di tengah hutan. Dirawat oleh sepasang petani miskin yang menamainya White Crystal, bayi itu menyembunyikan rahasia besar: setiap kali kulitnya menyentuh air, udara musim panas mendadak membeku menjadi es.
Dua penyintas terakhir. Dua klan bumi yang saling bertolak belakang—Vampir yang dingin dan Petani yang naif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34. Kedatangan Jacob ke Moon Island

"Aku memendam bakat bawaan lahir untuk menguasai dan memanipulasi seluruh spektrum elemen dasar semesta, Bibi Nerissa. Dan di luar kapasitas itu, aku juga memendam kemampuan supranatural untuk membaca dan melihat kilasan rekaman masa lalu dari riwayat hidup seseorang, hanya dengan modal menurunkan telapak tanganku untuk menyentuh benda mati apa pun yang pernah disentuh atau diinjak oleh target subjekku," jawab Alan dengan nada suara yang kaku namun mantap.

Untuk yang kesekian kalinya dalam fajar ini, tubuh Nerissa Marine kembali terpaku kaku di tempatnya berdiri, jantungnya mencelos di dalam dada.

Bagaimana mungkin bisa masuk ke dalam hukum akal sehat dunia fana, seorang anak kecil yang dimensinya belum genap berusia sepuluh tahun sudah sanggup memendam sepasang kapasitas magis absolut yang tingkat kedahsyatannya berada jauh di atas level pencapaian seorang ksatria penyihir agung berpangkat Archmage?

"Aku... aku sejujurnya masih memendam benteng keraguan yang besar untuk bisa mempercayai seluruh penuturan gila ini secara utuh, Nak," bisik Nerissa Marine sembari memijit pelan pelipis dahinya, kepalanya mendadak didera rasa pening yang hebat akibat dipaksa mencerna seluruh pasokan pasokan informasi supranatural lintas dimensi yang teramat padat tersebut.

Alan hanya bisa menghela napas panjang yang sarat akan rasa pasrah di tenggorokan. Dia sadar betul bahwa sekadar menjelaskan untaian kosakata teoritis saja tidak akan pernah berjalan efektif untuk meruntuhkan keraguan sang Nyonya klan Marine, namun di sisi lain, kondisi biologis tubuh kecilnya saat ini sudah berada di dalam fase yang teramat payah dan kritis untuk bisa memberikan sebaris demonstrasi bukti sihir baru.

Seluruh cadangan sisa energi mana sihir di dalam jantungnya telah benar-benar terkuras habis tanpa sisa, pasca-dipaksa bertarung habis-habisan membinasakan koloni Siren di tengah laut Azure dan mengerahkan sisa jatah hidupnya untuk terbang horizontal melintasi jarak ratusan mil dari benteng Kastil Luminara demi melacak keberadaan Justin.

"Mohon maafkan kelancanganku, Bibi Nerissa Marine... apakah... apakah aku diberikan izin protokol untuk merebahkan diri beristirahat sebentar di ruangan ini? Aku... aku didera kelelahan fisik yang teramat sangat ekstrem... seluruh pasokan tenagaku telah habis total digunakan untuk mencari keberadaan teman baikku dan mengesekusi monster ikan—maksud dari lisanku kawanan Siren—tadi..."

Belum sempat untaian kalimat penjelasannya terselesaikan secara utuh, sistem saraf motorik Alan mendadak padam total. Tubuh kecil bocah berambut putih itu ambruk jatuh tersungkur ke atas permukaan lantai papan kayu toko suvenir.

Dia meringkuk kaku, melipat sepasang lengan kecilnya, dan memejamkan sepasang kelopak mata ungunya rapat-rapat, instan jatuh terlelap ke dalam tidur abadi akibat didera kelelahan magis yang luar biasa masif.

Nerissa Marine terperanjat hebat, refleks mengambil langkah maju. Dia menatap lurus penuh dengan pancaran rasa iba yang teramat mendalam pada siluet tubuh bocah asing berambut putih yang tergeletak berantakan di dekat kakinya tersebut. Seumur hidupnya menjalani takhta sekunder samudra, baru fajar kali ini dia berkesempatan menyaksikan secara nyata eksistensi mahluk imortal penyintas dari dimensi Planet Diamond yang hancur.

"Anak ini... dia benar-benar telah menguras habis seluruh sisa jatah energi kehidupannya demi melindungi nyawa kalian. Ibu akan segera mengangkat tubuhnya untuk dipindahkan ke atas permukaan sofa kain empuk ini," ujar Nerissa Marine dengan nada suara yang teramat lembut dan beraura keibuan.

"Moana, Helios... cepat tolong kalian berdua melangkah bergegas mengambil selembar kain selimut rajut tebal di dalam lemari kamar tidur belakang untuk membungkus tubuh kecilnya!"

Sembari menggendong tubuh kecil Alan yang bobotnya terasa teramat ringan akibat terkurasnya energi mana, Nerissa Marine memindahkan posisi tidur anak itu dengan tingkat kehati-hatian yang sangat tinggi ke atas sofa. Moana dan Helios Marine segera bergerak gesit memotong tirai, berlari cepat menuju ke arah koridor belakang untuk mengambil selimut, sementara di sudut ruangan tamu, Justin hanya memilih untuk tetap duduk diam seribu bahasa sembari mulut kecilnya sibuk mengunyah remahan kue kering mentega, menatap lurus ke arah siluet sahabatnya yang kini telah berkelana jauh menjelajahi alam mimpi.

****

Sementara itu, jauh di belahan wilayah terisolasi di tengah samudra luas, berdirilah sebuah pulau misterius berselimut kabut sihir abadi—Moon Island.

"Apa gerangan motif fundamental yang mendasari langkah kakimu nekat datang jauh-jauh berkunjung ke pulau terisolasi ini, Jacob Salvatore?"

Suara vokal itu terdengar datar, dingin, namun memancarkan wibawa kepemimpinan yang teramat kaku dari seorang pria dewasa yang secara kronologis sejarah telah menjalani sisa usia hidupnya selama hampir lima abad penuh di semesta.

Jason, penguasa tertinggi klan vampir bayangan yang memegang kedaulatan di teritori Moon Island, melayangkan tatapan mata merah redupnya penuh rasa heran menatap kedatangan sepupu jauhnya, Raja Jacob, yang secara mendadak muncul tanpa konfirmasi di dalam ruang kerja pribadinya di lantai tiga bangunan mansion megah berstruktur batu marmer hitam.

"Aku datang ke tempat ini karena didorong oleh keinginan mendalam untuk menemui keberadaan William. Apakah kapasitas informan klanmu mengetahui secara pasti di mana titik koordinat persembunyian pria tua itu saat ini, Jason?" jawab Jacob tak kalah dingin, jubah beludru hitamnya berkibar ditiup angin jendela.

Jason bangkit berdiri dari kursi kerja kayunya, mengayunkan langkah kaki panjangnya berjalan mendekati sebilah jendela kaca raksasa yang menyajikan panorama keindahan tata kota Moon Island yang tampak berkilauan indah di bawah siraman cahaya malam. Dia mengembuskan napas panjang ke udara tanpa repot-repot memutar wajahnya untuk menatap Jacob.

"Untuk apa kau masih sibuk menanyakan keberadaan eksistensi orang itu, Jacob? Dia sudah tidak lagi menapakkan kakinya di dalam batas geografi kota pulau ini. Sudah hampir genap enam tahun lamanya dia pergi melangkah entah ke belahan dimensi mana, dan seluruh radar mata-mata klan bayanganku pun telah kehilangan jejak sihirnya sejak tahun pertama kepergiannya."

Jacob mengerutkan dahinya yang tegas, sepasang matanya menyipit penuh rasa tidak puas. Dia memang tercatat sudah hampir tujuh tahun lamanya tidak pernah menginjakkan kakinya kembali ke teritori pulau ini karena sibuk mengisolasi diri menjaga Justin di kastil Luminara, jadi sangat wajar jika kapasitas otaknya mengalami keterlambatan berita mengenai misteri menghilangnya sang sahabat lamanya.

"Aku nekat mendatangi tempatmu ini karena aku teramat butuh untuk bertanya secara detail mengenai sebaris kalimat isi ramuan ramalan masa depan yang pernah William katakan secara lantang tepat sepuluh tahun yang lalu," tutur Jacob dengan nada suara yang sengaja ditekan berat.

Mendengar kata 'ramalan', tubuh tegap Jason seketika itu juga berputar secepat kilat. Tatapan sepasang mata merah darahnya mendadak menajam menembus batin sepupunya. "Rentetan isi ramalan kuno spesifik apa yang kau maksudkan, Jacob?"

Dia melangkah tegap mendekat kembali, lalu menduduki kursi di hadapan poros mata Jacob, seluruh rasa penasarannya kini telah terusik secara masif.

"Apakah kapasitas memori tuamu telah melupakan agenda tersebut, Jason? William melontarkan kalimat nubuat itu secara resmi saat kita semua sedang menghadiri rapat besar dewan petinggi ras lintas dimensi di Kota Vespera. Kau juga tercatat duduk di dalam barisan kursi meja bundar waktu itu."

Jason terdiam seribu bahasa selama beberapa saat, menopang dagu pucatnya menggunakan jemari tangan sembari mengerutkan dahi, memilah-milah kembali jutaan lembar memori tua sejarah di dalam kepalanya hingga akhirnya seberkas ingatan magis masa lalu mencuat muncul ke permukaan kesadarannya.

"Apakah... apakah maksud dari lisanmu adalah sebaris bait ramalan kuno mengenai eksistensi sesosok mahluk yang disebut sebagai Orakel Bintang, anak penyintas dari langit yang ditakdirkan kelak akan menghancurkan dan membunuh Raja Demon licik penguasa kegelapan dimensi bawah?"

"Tepat sekali seperti apa yang diingat oleh otakmu, Jason," Jacob menganggukkan kepalanya secara mantap, memberikan konfirmasi mutlak.

"Lalu... apa korelasi fundamental antara ramalan kuno sepuluh tahun lalu itu dengan urgensi kedatangan mendadakmu ke pulauku saat ini, Jacob?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!