Tujuh tahun lalu, Kirana Ayu Pradipta ditinggalkan tanpa penjelasan oleh kekasihnya, Raditya Alamsyah Wibowo. Kirana pergi tanpa tahu kebenaran, membangun hidup dan kariernya dari nol, tumbuh jadi perempuan tegar yang tak lagi percaya cinta. Tujuh tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai rival bisnis dalam tender proyek properti terbesar di Jakarta. Radit yang dingin berusaha merebut kembali hati Kirana, sementara Kirana harus memilih antara membalas dendam, melindungi perusahaannya, atau membuka hatinya lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
XXX - Sorotan Tajam
Pukul 06.45, Kirana sudah sampai di kantornya, ia duduk di ruang kerjanya dengan lima tab berita terbuka sekaligus di laptopnya. Nadia masuk membawa setumpuk cetakan artikel, wajahnya tampak tegang saat memasuki ruangan Kirana.
"Kir, ini udah bukan cuma soal rumor Cipta Prada Land lagi," Nadia berkata, meletakkan tumpukan kertas itu di meja. "Semalam, salah satu media nasional nurunin berita soal konflik Radit sama Hartono. Judulnya 'Perpecahan di Tubuh Wibowo Group: CEO Muda Lawan Sang Patriarki'."
Kirana mengambil salah satu cetakan itu, ia membacanya dengan cepat. "Dari mana mereka dapet info detail kayak gini? Soal ancaman hak waris, soal pertunangan Radit sama Valerie yang terancam batal?"
"Nggak tau," Nadia menjawab. "Tapi begitu satu media nurunin ini, yang lain langsung ikut-ikutan. Sekarang bukan cuma media ekonomi, media hiburan sama media gosip juga mulai angkat cerita ini."
"Ada yang nyebut nama gua?" Kirana bertanya, menggeser layar laptopnya untuk melihat artikel berikutnya.
"Beberapa," Nadia menjawab, agak ragu. "Ada yang nulis lu sebagai 'CEO muda yang jadi pemicu konflik keluarga Wibowo'. Ada juga yang lebih milih nulis soal gimana lu jadi korban dari rumor yang sengaja disebar."
Kirana menghela napas, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Ini makin nggak terkendali, Nad. Gua nggak bisa bayangin gimana beratnya buat Radit sekarang."
"Lu udah kabarin dia?" Nadia bertanya.
"Belum," Kirana menjawab. "Tapi kayaknya dia yang bakal duluan kabarin gua."
Nadia menuang kopi ke cangkir Kirana yang masih kosong. "Terus, gimana sama proyek pesisir, Kir? Ada investor yang nanya soal kelanjutannya di tengah situasi kayak gini?"
"Belum ada yang narik diri secara resmi," Kirana menjawab, "Mereka bilang mau tunggu situasi jadi lebih jelas dulu.”
“Itu bisa jadi masalah kalau berlarut-larut,” Nadia berkata.
“Gua tau,” Kirana menjawab, menutup laptopnya sejenak. “Tapi sekarang gua nggak bisa engah apa yang terjadi di keluarga Wibowo. Yang bisa gua engah Cuma gimana Cipta Prada Land tetap jalan normal di tengah semua ini.”
Ponsel Kirana bergetar. Pesan dari Radit.
Kamu udah lihat berita pagi ini? Ini di luar kendali aku.
Kirana mengetik balasan cepat.
Udah. Kamu baik-baik aja, kan?
Jujur… Nggak baik-baik aja.
Kirana menatap layar itu, sesuatu di dadanya terasa berat memikirkan apa yang sedang Radit hadapi karena keputusan yang ia ambil demi membelanya.
...****************...
Di kantor Wibowo Group, suasana lantai eksekutif jauh lebih tegang dari hari-hari sebelumnya. Farrel berjalan cepat menuju ruang kerja Radit, membawa tablet yang menampilkan grafik saham yang terus menurun sejak pembukaan pasar.
"Dit, saham kita anjlok tujuh persen dalam satu jam terakhir," Farrel berkata, meletakkan tablet itu di meja Radit. "Banyak investor besar yang mulai jual saham mereka. Mereka baca berita soal konflik internal keluarga, terus mikir Wibowo Group nggak stabil buat jangka panjang."
Radit menatap grafik itu, rahangnya mengeras. "Tim humas udah keluarin pernyataan resmi?"
"Udah, tapi belum ada efek," Farrel menjawab. "Pasar lebih percaya sama apa yang mereka baca di media dibanding pernyataan resmi perusahaan sekarang."
"Dewan direksi udah tau soal ini?" Radit bertanya.
"Mereka minta rapat darurat siang ini," Farrel berkata. "Beberapa dari mereka nanya soal stabilitas kepemimpinan lu, Dit. Mereka khawatir konflik sama Hartono bisa ganggu keputusan bisnis kedepannya."
Radit menghela napas, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Gua nggak nyesel sama keputusan gua kemarin, Rel. Tapi gua nggak nyangka efeknya bakal secepat dan sebesar ini."
"Gua tau," Farrel menjawab, duduk di kursi seberang meja. "Tapi lu harus siap-siap buat ngadepin rapat direksi siang ini. Mereka bakal nanya banyak, dan sebagian mungkin mulai ragu sama kepemimpinan lu."
"Biarin aja kalau mereka ragu," Radit berkata, suaranya tegas. "Gua tetep nggak akan mundur dari apa yang udah gua omongin di depan publik."
"Gua nggak nyuruh lu mundur," Farrel berkata, nadanya lebih pelan. "Gua cuma mau lu siap. Ada beberapa direksi yang deket sama Hartono, mereka mungkin bakal manfaatin momen ini buat dorong lu keluar dari posisi CEO."
Radit menatap Farrel lama, informasi itu terasa lebih berat dari yang ia duga. "Lu denger dari mana soal itu?"
"Sekretaris salah satu direksi cerita ke gua," Farrel menjawab. "Katanya mereka udah mulai bahas soal opsi lain buat kepemimpinan Wibowo Group, kalau situasi ini terus memburuk."
"Biarin, deh," Radit berkata, berdiri dari kursinya. "Gua tetep bakal hadir di rapat itu, dan gua nggak akan mundur cuma karena mereka takut."
...****************...
Pukul 13.00, ruang rapat dewan direksi Wibowo Group dipenuhi oleh para anggota direksi, sebagian besar terlihat tegang, beberapa lainnya berbisik-bisik sebelum Radit memasuki ruangan. Radit duduk di kepala meja, Farrel di sampingnya membawa berkas laporan keuangan terbaru.
"Terima kasih sudah hadir dalam waktu singkat ini," Radit membuka rapat, suaranya tetap tenang meski suasana di ruangan terasa berat. "Saya tau semua orang di sini khawatir soal penurunan saham kita beberapa jam terakhir."
Salah satu direksi senior, Pak Wijoyo, mengangkat tangan. "Pak Radit, dengan segala hormat, kondisi ini muncul setelah konflik Anda dengan Pak Hartono. Beberapa dari kami mempertanyakan apakah keputusan Anda membela Cipta Prada Land secara publik sepadan dengan risiko yang sekarang kita tanggung."
"Saya paham akan kekhawatiran itu," Radit menjawab. "Tapi keputusan itu dibuat berdasarkan data yang jelas. Cipta Prada Land adalah mitra yang sehat secara finansial, dan tuduhan sebaliknya adalah rumor yang sengaja disebar untuk merusak reputasi mereka. Kalau Wibowo Group diam saja, kita justru kehilangan kredibilitas jangka panjang di mata investor yang menghargai integritas perusahaan."
"Tapi harga yang harus dibayar sekarang terlalu besar," direksi lain menimpali. "Saham anjlok, keluarga Anda terpecah di mata publik. Bagaimana Anda bisa yakinkan kami bahwa Anda masih bisa memimpin perusahaan ini dengan baik?"
Radit menatap satu per satu wajah di ruangan itu sebelum menjawab. "Saya nggak bisa janjikan situasi ini akan tenang dalam semalam. Tapi saya bisa janjikan, setiap keputusan yang saya ambil akan selalu berdasarkan data dan integritas, bukan tekanan sesaat dari pasar atau opini publik. Saham bisa naik turun, tapi reputasi yang dibangun dengan kejujuran jauh lebih sulit untuk dihancurkan."
Ruangan itu hening sesaat. Beberapa direksi saling pandang, tidak sepenuhnya yakin tapi juga tidak punya bantahan.
"Kita evaluasi lagi dalam seminggu," Pak Wijoyo akhirnya berkata. "Kalau kondisi terus memburuk, kita perlu bahas opsi lain."
Radit mengangguk, meski ia tahu kalimat terakhir itu adalah peringatan yang tidak main-main.
...****************...
Di apartemennya, Valerie menatap layar televisi yang menampilkan berita tentang anjloknya saham Wibowo Group, disandingkan dengan cuplikan pernyataan pers Radit yang membela Kirana. Ponselnya berbunyi. Ibunya menelepon untuk ketiga kalinya hari ini.
"Val, kamu dengar soal saham Wibowo Group?" suara ibunya terdengar panik di ujung telepon. "Ayahmu mau tarik semua dukungan kita ke keluarga itu. Katanya, kalau Radit nggak bisa jaga stabilitas perusahaannya sendiri, kita nggak boleh ikut kena imbasnya."
"Aku tau, Ma," Valerie menjawab pelan, matanya masih terpaku ke layar televisi. "Aku lagi mikirin ini juga."
"Kamu harus bicara sama Radit," ibunya berkata. "Ingetin dia soal komitmen keluarga kita. Kalau perlu, tekan dia soal pertunangan kalian."
"Radit nggak akan dengerin aku, Ma," Valerie menjawab, suaranya mulai bergetar. "Dia bahkan nggak pernah bener-bener anggap aku serius sejak awal pertunangan ini diatur."
"Itu bukan alasan buat kamu diem aja," ibunya membalas tajam. "Kamu harus perjuangin posisi kamu, Val. Kalau nggak, kita semua yang bakal nanggung akibatnya."
Valerie tidak menjawab, hanya menutup telepon setelah menjanjikan akan segera bicara dengan Radit. Ia meletakkan ponselnya, menatap layar televisi yang masih memutar cuplikan konferensi pers itu berulang kali.
Setiap kali ia menonton potongan video itu, setiap kali ia melihat wajah Radit yang begitu yakin untuk membela Kirana di depan kamera, sesuatu di dalam dirinya semakin marah.
Rencana yang ia susun bersama Dimas seharusnya membuat Kirana terlihat lemah, membuat Radit ragu, membuat pertunangan mereka tetap berjalan sesuai rencana keluarga.
Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Rumor itu, ancaman keluarga Hartono, bahkan kehancuran saham Wibowo Group — semua itu hanya membuat Radit semakin gigih berdiri di sisi Kirana. Krisis ini, alih-alih memisahkan mereka berdua, justru menyatukan Radit dan Kirana lebih erat dari sebelumnya.
Valerie mengingat kembali percakapan terakhirnya dengan Dimas, dua hari sebelum semua ini terbongkar. Waktu itu, ia begitu yakin rencana mereka akan berhasil, bahwa dengan cukup tekanan, Kirana akan mundur dengan sendirinya demi menyelamatkan perusahaannya.
Ia tidak pernah membayangkan Radit akan sejauh ini mempertaruhkan segalanya, apalagi sampai rela kehilangan hak warisnya sendiri demi seorang perempuan yang bahkan belum tentu memilihnya kembali.
Valerie duduk di tepi sofanya, menatap kosong ke layar televisi yang masih menyala. Untuk pertama kalinya sejak rencana ini dimulai, ia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan untuk mendapatkan apa yang selama ini ia inginkan.
tapi orang yang pernah memberi luka justru masih selalu memenangkan ruang di hati.
para musuh 💪💪