Empat belas hari.
Hanya selama itu Ghazi Farhan dan Adzra Hanum saling mengenal sebelum akhirnya menikah melalui proses ta'aruf.
Siapa sangka, pernikahan yang awalnya dipenuhi ketenangan justru berakhir dengan satu talak setelah sepuluh bulan bersama.
Sejak hari itu, Adzra meyakini bahwa dirinya hanyalah perempuan yang pernah gagal menjadi istri.
Sementara Ghazi memilih memikul penyesalan yang bahkan tidak pernah berani ia jelaskan.
Sepuluh tahun berlalu.
Mereka sama-sama belum menikah.
Bukan karena belum ada yang datang, tetapi karena ada luka yang belum benar-benar selesai.
Ketika sakit sang ibu mempertemukan mereka kembali, Ghazi tidak meminta Adzra kembali menjadi istrinya.
Ia hanya meminta satu kesempatan.
"Bolehkah... kita mengulang empat belas hari itu?"
Namun, apakah ta'aruf kedua mampu menyembuhkan luka yang ditinggalkan oleh satu talak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duyung Indahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Harus Diucapkan
Malam itu, Ghazi tidak langsung tidur.
Lampu ruang kerjanya masih menyala ketika jam dinding telah melewati pukul sebelas.
Di atas meja terdapat selembar kertas putih.
Kosong.
Sebuah pena tergeletak di sampingnya.
Ghazi telah duduk hampir setengah jam, tetapi tidak satu pun kata berhasil ia tuliskan.
Ia mengusap wajahnya.
Menghela napas.
Kemudian kembali menatap kertas tersebut.
Ia tahu apa yang ingin ia lakukan.
Namun ketika harus mengubahnya menjadi kata-kata, semuanya terasa begitu berat.
Bagaimana seseorang meminta maaf kepada perempuan yang pernah menjadi istrinya setelah sepuluh tahun berlalu?
Haruskah ia menjelaskan?
Haruskah ia menceritakan apa yang dahulu ada dalam pikirannya?
Haruskah ia mengatakan bahwa dirinya juga terluka?
Ghazi menggeleng.
"Tidak."
Suara itu keluar lirih.
"Bukan itu yang harus kulakukan."
Ia mengambil pena.
Kali ini tangannya mulai bergerak.
Maaf.
Ia berhenti.
Memandang satu kata itu cukup lama.
Kemudian mencoretnya.
Terlalu sederhana.
Ia menulis lagi.
Aku minta maaf karena...
Tangannya berhenti.
Lagi-lagi ia menghapusnya.
Bukan karena kalimat itu salah.
Tetapi karena setelah sepuluh tahun, ia sadar bahwa setiap alasan yang mengiringi permintaan maaf bisa terdengar seperti pembelaan.
Ia meletakkan pena.
Bersandar ke kursi.
Tatapannya kosong menembus jendela.
***
Ingatan lama datang tanpa diminta.
Hari ketika Adzra pergi.
Pintu yang tertutup.
Suara langkah kaki yang semakin menjauh.
Dan dirinya yang memilih diam.
Sepuluh bulan yang indah, lalu harus hancur dan menimbulkan kesalahpahaman yang besar diantara keduanya.
Dulu ia berpikir waktu akan membuat semuanya lebih mudah.
Ternyata waktu hanya membuat luka itu semakin jauh dari pandangan.
Bukan berarti sembuh.
Ghazi menundukkan kepala.
Ia baru memahami satu hal:
Selama ini ia menyebut dirinya menyesal.
Tetapi mungkin sebagian dari penyesalan itu masih berpusat pada dirinya sendiri.
Ia menyesal kehilangan Adzra.
Menyesal kehilangan rumah tangganya.
Menyesal karena hidupnya tidak lagi sama.
Namun...
Apakah ia pernah benar-benar memikirkan apa yang dirasakan Adzra?
Pertanyaan itu membuat dadanya sesak.
Mungkin itulah alasan ia harus datang.
Bukan untuk menceritakan betapa sakitnya dirinya.
Tetapi untuk mengakui betapa besar sakit yang pernah ia sebabkan.
***
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Ja'far.
Mas, besok siang saya ada urusan di dekat Arafah Medika. Ada dokumen yang harus diserahkan ke Rini.
Ghazi membaca pesan tersebut.
Jarinya berhenti di atas layar.
Beberapa detik kemudian ia mengetik.
Tidak perlu. Aku yang antar.
Pesan terkirim.
Ja'far membalas hampir seketika.
Mas sendiri?
Ghazi tersenyum kecil.
Iya.
Tidak ada balasan lagi.
Namun ia tahu Ja'far pasti memahami sesuatu.
***
Keesokan paginya, aktivitas Klinik Arafah Medika berjalan seperti biasa.
Adzra datang lebih awal.
Sebagai pemilik klinik sekaligus dokter yang masih aktif menangani pasien, ia terbiasa memulai hari dengan memeriksa laporan operasional sebelum masuk ke ruang praktik.
Rini menyerahkan beberapa berkas.
"Dok, ini laporan pemasukan dan pengeluaran kemarin."
Adzra membukanya.
"Lalu ini?"
"Data pasien program sosial."
Adzra mengangguk.
"Yang obatnya masih kurang, pastikan jangan tertunda."
"Sudah saya koordinasikan."
"Terima kasih, Rin."
Rini tersenyum.
"Sama-sama, Dok."
Nabila masuk beberapa saat kemudian.
"Dra."
"Hm?"
"Pasien pertama sudah menunggu."
Adzra menutup berkas.
"Baik."
Ia berdiri dan mengambil stetoskop.
Tidak ada yang berbeda dari pagi-pagi sebelumnya.
Tidak ada yang memberi tahu bahwa beberapa jam lagi seseorang dari masa lalunya akan kembali melewati pintu klinik itu.
***
Menjelang siang, sebuah mobil berhenti di depan Arafah Medika.
Ghazi turun seorang diri.
Ia membawa satu map.
Tidak ada bunga.
Tidak ada hadiah.
Tidak ada sesuatu yang bisa memberi kesan bahwa ia datang untuk merayu.
Hanya beberapa dokumen kerja sama yang memang harus diserahkan.
Dan sebuah niat yang telah ia bawa sejak semalam.
Ghazi berdiri beberapa detik di depan pintu masuk.
Pandangannya jatuh pada papan nama klinik.
Klinik Arafah Medika.
Tempat yang dahulu tidak pernah ia bayangkan akan menjadi bagian penting dalam hidup Adzra.
Ia menarik napas.
Kemudian masuk.
***
"Assalamu'alaikum."
Rini yang berada di meja administrasi mengangkat kepala.
Wajahnya tampak sedikit terkejut.
"Wa'alaikumussalam."
"Pak Ghazi?"
Ghazi mengangguk.
"Saya ingin menyerahkan beberapa dokumen."
"Oh..."
Rini berdiri.
"Untuk kerja sama pemeriksaan jamaah?"
"Iya."
"Kalau begitu bisa saya terima."
Ghazi menyerahkan map.
Namun sebelum Rini mengambilnya, pandangan Ghazi bergerak sekilas ke arah lorong ruang praktik.
Tidak ada siapa-siapa.
"Dokter Adzra ada?"
Rini terdiam sepersekian detik.
"Ada, Pak."
Ghazi mengangguk.
"Apakah sedang memeriksa pasien?"
"Iya."
"Kalau begitu tidak perlu diganggu."
Rini menatapnya.
Entah mengapa, ada sesuatu yang berbeda pada wajah pria itu.
Lebih tenang.
Namun juga lebih berat.
"Pak Ghazi..."
"Iya?"
"Kalau ada yang ingin disampaikan kepada Dokter Adzra, nanti saya bisa..."
Ghazi menggeleng pelan.
"Jangan."
Ia tersenyum tipis.
"Biarkan dia menyelesaikan pekerjaannya."
Rini mengangguk.
Ghazi berbalik hendak pergi.
Namun langkahnya berhenti.
Ia menoleh lagi.
"Rini."
"Iya, Pak?"
"Kalau nanti Dokter Adzra bertanya..."
Rini menunggu.
"Katakan saja saya datang menyerahkan dokumen."
"Hanya itu."
Rini mengangguk.
"Baik."
Ghazi melangkah keluar.
***
Di dalam ruang praktik, Adzra baru saja menyelesaikan pemeriksaan seorang pasien.
Ia membuka pintu.
"Rini."
"Iya, Dok?"
"Pasien berikutnya?"
Rini memandang ke arah pintu yang baru saja ditutup Ghazi.
Kemudian kembali menatap Adzra.
"Tadi Pak Ghazi datang."
Langkah Adzra berhenti.
"Pak Ghazi?"
"Iya."
"Untuk menyerahkan dokumen kerja sama."
Adzra mengangguk pelan.
"Lalu?"
"Beliau sudah pulang."
Ada jeda singkat.
Entah mengapa, nama itu terasa berbeda ketika disebut di dalam kliniknya sendiri.
Adzra tidak bertanya lebih jauh.
Ia hanya berkata,
"Baik."
Lalu kembali ke ruang praktik.
Namun beberapa langkah kemudian, ia berhenti.
Satu pertanyaan kecil muncul di benaknya.
Mengapa Ghazi datang sendiri?
***
Di dalam mobil, Ghazi belum menyalakan mesin.
Ia duduk diam.
Tangannya masih berada di atas kemudi.
Ia sebenarnya bisa menunggu.
Bisa meminta Adzra keluar.
Bisa mengatakan semua yang telah ia persiapkan.
Namun ia tidak melakukannya.
Belum.
Karena hari ini ia menyadari sesuatu.
Permintaan maaf bukan hanya tentang keberanian mengucapkan kata-kata.
Tetapi juga tentang menghormati waktu orang yang hendak kita mintai maaf.
Adzra sedang bekerja.
Ia sedang menjalankan amanahnya.
Dan Ghazi tidak berhak mengacaukan itu hanya karena dirinya akhirnya memiliki keberanian.
Ia tersenyum kecil.
Mungkin...
Inilah bentuk pertama dari perubahan dirinya.
Dulu ia selalu ingin semuanya berjalan sesuai keinginannya.
Sekarang ia belajar menunggu.
Ghazi menyalakan mesin.
Mobil perlahan meninggalkan halaman Arafah Medika.
Namun kali ini, ia tidak pergi dengan rasa takut seperti sebelumnya.
Ia pergi dengan sebuah keyakinan sederhana:
Suatu hari nanti, ia akan mengucapkannya.
Bukan untuk meminta masa lalu kembali.
Bukan untuk memaksa hati Adzra terbuka.
Hanya untuk mengatakan sesuatu yang seharusnya telah ia katakan sepuluh tahun lalu.
Maaf.
―Bersambung―