Pernikahan yang terlihat harmonis, ternyata penuh penghianatan. Celsi memilih pergi saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan sepupunya sendiri.
"Aku pergi, Mas!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31
"Yuk, kita lihat yang ini dulu," ajak Aska sambil membuka pintu sebuah rumah tipe standar.
"Ini harganya pas di budget kamu, Cel. Sekitar 200 sampai 220 juta. Standar perumahan sih. Kamar ada dua, halaman juga cukup."
Celsi berjalan keliling, mengangguk-angguk. "Hmm, lumayan lah Ko. Cukup buat aku tinggal sendiri."
"Tapi..." Aska menggeleng pelan. "Kurang mewah buat owner Geprek Cinta. Ayo lihat yang sebelah."
Mereka pindah ke rumah berikutnya. Suasana langsung berubah lebih luas dan megah.
"Nah, ini harganya sekitar 300 jutaan. Lihat deh, materialnya beda kelas. Lantainya granit, dapurnya luas, halamannya juga lebih lega. Lingkungannya juga lebih tenang."
"Wah, ini bagus ya Ko," Celsi tersenyum kagum menyentuh kusen pintu yang kokoh. "Tapi ya itu... agak mepet sama tabungan aku."
"Masih ada yang lebih bagus lho," goda Aska.
Aska mengajak Celsi masuk ke unit berikutnya. Mata Celsi langsung membelalak takjub. Rumah ini benar-benar berbeda.
"Ya ampun Ko... ini rumahnya..."
"Bagus kan? Ini harganya sekitar 400 juta. Lihat deh detailnya," tunjuk Aska bangga. "Desainnya modern minimalis tapi elegan. Ruang tamunya tinggi jadi lega banget. Kamar utama ada walk-in closet dan kamar mandi dalam yang luas banget. Halamannya bisa buat taman atau kolam ikan kecil. Parkirannya muat dua mobil. Posisi juga strategis, dekat sama pasar dan sekolah."
Celsi berjalan memutari ruangan dengan hati berdebar. "Indah banget... Rasanya kayak tinggal di istana. Tapi 400 juta... itu jauh banget di atas kemampuan aku Ko."
"Belum lihat yang terbaik kok," ucap Aska misterius.
"Janganlah Ko. Nanti aku makin ngiler tapi nggak kebeli," rengek Celsi.
"Udah ayo. Lihat-lihat doang kan nggak bayar."
Aska membawa Celsi masuk ke sebuah gerbang yang lebih besar dan eksklusif. Ini adalah unit tipe premium. Saat pintu dibuka, Celsi seakan berhenti bernapas.
"Ini... ini harganya berapa Ko?" tanya Celsi pelan.
"Satu Miliar," jawab Aska santai.
"HAH?!" Celsi langsung mundur selangkah. "Satu Miliar?! Ya ampun! Ngawur aja! Mana ada uang segitu! Aku kan cuma pedagang geprek! Udah ah, balik ke yang 300 juta tadi aja deh. Itu aja aku mikir keras."
Celsi berbalik badan ingin keluar, tapi langkahnya terhenti saat suara Aska terdengar lembut dari belakang.
"Kenapa buru-buru mau pergi?"
"Ya jelas dong! Harganya selangit! Aku mana mampu!" seru Celsi tanpa menoleh.
"Siapa bilang kamu harus bayar pake uang kamu?"
Celsi menoleh bingung. "Maksudnya?"
Aska berjalan mendekat, memutar tubuh Celsi agar berhadapan dengannya. Ia lalu menggiring wanita itu ke arah balkon yang sangat luas dan nyaman.
"Lihat deh pemandangannya," ucap Aska lembut.
Celsi menatap ke luar. Jantungnya serasa copot. Dari balkon yang tinggi ini, mereka bisa melihat jelas ke arah Masjid Agung yang megah, taman kota yang hijau, dan hiruk pikuk kota yang indah dari ketinggian. Angin sepoi-sepoi bertiup sangat nyaman.
"Bagus kan?" tanya Aska.
"Bagus banget Ko... Tapi..."
"Rumah ini bisa jadi milik kamu," potong Aska cepat.
"Gratis."
Celsi melongo. "Gratis? Mimpi apa aku semalam?"
"Bukan mimpi," Aska tersenyum lebar, matanya menatap dalam ke manik mata Celsi. "Rumah seharga satu miliar ini... jadinya mahar pernikahan buat kamu. Gimana? Mau terima nggak?"
"Ma... mahar?" Celsi terbata-bata, wajahnya memerah padam. "Ko... Koh Aska ngomong serius?"
"Serius sekali. Daripada kamu pusing mikirin cicilan atau tabungan, mending kamu terima aja. Jadi istri aku, rumah ini jadi hadiah pernikahan kita. Kita tinggal di sini bareng-bareng. Gimana?"