Dijodohkan karena darah keraton yang mengalir dalam tubuh mereka, Raden Danendra Adipati dan Raden Ayu Kirana Ayodya menerima pernikahan tanpa protes. Satu tahun berlalu dalam ketenangan yang nyaris membosankan. Tidak ada pertengkaran, tidak ada pengkhianatan, bahkan tidak ada cinta. Mereka hidup layaknya dua orang asing yang kebetulan berbagi rumah dan nama belakang yang sama. Namun ketika keadaan memaksa mereka untuk saling mengenal lebih dekat, Kirana mulai menyadari bahwa di balik sikap dingin Danendra tersimpan perhatian yang tak pernah ia tunjukkan. Sementara Danendra perlahan memahami bahwa perempuan yang selama ini selalu berada di sisinya telah menjadi bagian paling penting dalam hidupnya. Di antara tradisi keluarga, tuntutan sebagai keturunan keraton, dan perasaan yang tumbuh terlambat, keduanya harus belajar bahwa cinta tidak selalu hadir sebelum pernikahan. Terkadang cinta justru datang setelah dua hati yang asing memilih untuk saling tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SenandikaMaret, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTANYAAN YANG MENGUSIK
Seminggu setelah kejadian teh melati, sambal yang dipisah, dan segelas jahe hangat yang masih sesekali melintas di kepalanya, kehidupan Kirana kembali berjalan seperti biasa. Pekerjaan di yayasan sedang cukup padat karena mereka tengah mempersiapkan pameran budaya yang akan digelar bulan depan. Hampir setiap hari Kirana terpaksa pulang sedikit lebih larut dari biasanya.
Namun siang itu, untuk pertama kalinya setelah beberapa bulan, Kirana meluangkan waktu untuk bertemu sahabat lamanya, Laras. Mereka berteman sejak bangku kuliah dan masih menjaga hubungan baik hingga sekarang, meski kesibukan masing-masing sering membuat jadwal temu mereka sulit disatukan.
Kafe yang mereka pilih berada di kawasan Menteng. Tempatnya tidak terlalu ramai, dengan jendela kaca besar yang menghadap langsung ke taman kecil di depan bangunan. Begitu Kirana melangkah masuk, Laras langsung berdiri dari kursinya.
"Kirana!" panggil Laras heboh.
Kirana tersenyum lebar. "Laras."
Mereka berpelukan singkat sebelum duduk berhadapan.
"Ya ampun, kamu makin susah sekali ditemui sekarang," keluh Laras sembari mengerucutkan bibir.
"Kamu juga sama saja, Las."
"Aku masih lebih mending daripada kamu."
Kirana tertawa kecil. Obrolan mereka kemudian mengalir begitu saja tanpa sekat. Membahas seputar pekerjaan, keluarga, kabar teman-teman lama yang sudah menikah, bahkan dosen-dosen kampus yang masih sering mereka bahas meski sudah bertahun-tahun lulus.
"Kemarin aku tidak sengaja bertemu Dimas," celetuk Laras.
Kirana langsung tertawa renyah. "Dimas yang dulu selalu tertidur di kelas?"
"Iya, siapa lagi."
"Masih sama seperti dulu?"
"Masih."
Keduanya kembali tertawa bersama. Suasana siang itu terasa begitu ringan dan menyenangkan. Sampai akhirnya, Laras menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi sambil memperhatikan wajah Kirana dengan saksama.
"Kamu kelihatan berbeda, Ran," ucap Laras pelan.
Kirana mengangkat sebelah alisnya. "Berbeda bagaimana?"
"Lebih tenang."
"Bukannya dari dulu aku memang tenang?"
"Bukan." Laras menggeleng pelan. "Dulu kamu tenang karena menahan banyak hal di dalam kepala. Sekarang kamu kelihatan... nyaman."
Kirana tidak langsung menjawab. Ia hanya meraih gelas minumnya dan menyesap isinya sedikit untuk meredam kecanggungan. "Aku baik-baik saja."
"Aku tahu." Laras tersenyum hangat. "Tapi aku juga tahu ada sesuatu yang berubah di hidupmu."
Kirana menghela napas kecil, meletakkan kembali gelasnya. "Tidak ada yang berubah, Laras."
"Kamu yakin?"
"Iya."
Laras memandangnya selama beberapa detik sebelum akhirnya menyunggingkan senyum tipis. "Kalau begitu, aku boleh tanya sesuatu?"
"Tanya saja."
"Kamu... bahagia?"
Pertanyaan itu sempat membuat Kirana sedikit terkejut. Namun, ia masih bisa menjawabnya dengan mudah. "Iya."
Jawaban itu keluar tanpa keraguan sedikit pun dari bibirnya. Karena memang begitulah kenyataannya. Ia tidak merasa menderita, tidak merasa terjebak, dan tidak pernah menyesal telah menikah dengan Danendra.
Laras mengangguk pelan, tampak lega. "Baguslah."
Kirana tersenyum. Namun beberapa detik kemudian, Laras kembali bersuara dengan nada yang lebih rendah. "Kamu mencintai suamimu?"
Seketika itu juga, senyum di wajah Kirana perlahan memudar. Suara bising kepungan kafe di sekitar mereka seolah mendadak menjauh. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang mendadak pekat. Namun, tidak ada satu patah kata pun yang sanggup keluar dari bibir Kirana.
Laras yang menyadari perubahan drastis pada ekspresi sahabatnya langsung menunjukkan raut penyesalan. "Maaf, Kirana."
Kirana menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak apa-apa."
"Kalau kamu tidak mau menjawab juga tidak masalah, kok. Aku tidak bermaksud mendesak."
"Bukan begitu, Las..." Kirana menunduk, menatap kosong pada permukaan meja kayu di hadapannya.
Entah kenapa, pertanyaan itu terasa jauh lebih sulit untuk dijawab daripada yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Karena sebenarnya, jawabannya bukan "ya", tetapi juga bukan "tidak". Yang membuatnya gelisah bukan karena ia memiliki jawaban yang buruk. Justru karena ia tidak menemukan jawaban apa pun.
"Aku belum pernah memikirkannya," ucap Kirana jujur.
Laras terlihat terkejut. "Serius?"
Kirana mengangguk pelan. "Serius."
"Setahun menikah dan kamu belum pernah memikirkan hal sepenting itu?"
Kirana menyunggingkan senyum kecut. "Kedengarannya sangat aneh, ya?"
"Sedikit," aku Laras pelan.
Mereka sempat sama-sama tertawa kecil untuk mencairkan suasana. Namun setelah itu, Kirana kembali tenggelam dalam diamnya sendiri. Karena semakin dipikirkan, semakin ia menyadari bahwa apa yang dikatakannya memang benar. Ia tidak pernah sekali pun bertanya pada dirinya sendiri apakah ia mencintai Danendra. Tidak pernah.
Selama ini, ia hanya menjalani pernikahan mereka layaknya sebuah rutinitas otomatis. Bangun pagi, sarapan bersama, pergi bekerja, pulang ke rumah, lalu menghadiri acara keluarga besar jika memang dijadwalkan. Menjalani hari demi hari begitu saja, seolah pernikahan mereka adalah sebuah jalan lurus yang sudah digariskan dan tinggal dijalani tanpa perlu dipertanyakan maknanya.
"Kalau aku boleh jujur," ujar Laras memecah keheningan.
"Hm?"
"Aku dulu sempat merasa sangat khawatir."
"Khawatir tentang apa?"
"Tentang perjodohan kalian. Waktu itu kamu bahkan tidak mengenal siapa Danendra."
Kirana tersenyum tipis. "Aku tahu."
"Dan kamu tetap setuju untuk menikah."
Kirana mengangguk pelan. "Itu keputusan keluarga besar."
"Tapi sekarang?" Laras menatapnya lurus, mencari kejujuran di sepasang mata Kirana. "Kalau kamu diberi kesempatan untuk memilih ulang, apakah kamu masih akan tetap memilih untuk menikah dengannya?"
Kali ini, jawaban Kirana datang jauh lebih cepat dari yang ia duga. "Iya."
Laras berkedip, sedikit terperangah. "Yakin?"
"Iya, yakin."
"Kenapa?"
Pertanyaan susulan dari Laras itu kembali membuat Kirana terdiam. Namun kali ini, alasannya sama sekali berbeda. Keheningan itu tercipta karena serentak jawaban-jawaban kecil mulai bermunculan satu per satu di dalam kepalanya, membentuk antrean memori.
Wajah Danendra yang diam-diam memastikan ketersediaan teh melati merek favoritnya di rak dapur. Tulisan tangan pendek di atas meja nakas saat ia terbangun dalam kondisi sakit. Telepon singkat di sela jam makan siang yang bising. Kantong vitamin yang dibawa pulang dari apotek malam hari. Lampu balkon yang selalu dimatikan sebelum tidur. Sambal yang dipisahkan di mangkuk kecil. Hingga segelas jahe hangat yang mengepulkan uap.
Hal-hal sederhana yang teramat remeh, namun entah kenapa selalu sukses membuat ulu hatinya terasa menghangat setiap kali diingat.
"Kami baik-baik saja, Las," ujar Kirana berulang.
Laras smiled kecil, tahu sahabatnya sedang menghindar. "Itu bukan jawaban untuk pertanyaanku tadi, Kirana."
Kirana ikut tersenyum pasrah. "Aku tahu."
"Kalau begitu?"
Untuk pertama kalinya hari itu, Kirana benar-benar tidak tahu harus menjelaskan apa lagi. Perasaannya sendiri masih terlalu samar untuk diterjemahkan menjadi kalimat yang utuh.
Saat pertemuan mereka berakhir, matahari sudah mulai turun ke ufuk barat. Kirana berjalan menuju area parkir dengan isi kepala yang jauh lebih ramai dibanding saat ia pertama kali datang. Sepanjang perjalanan pulang di dalam mobil, pertanyaan Laras seolah menolak pergi dari benaknya.
Kamu mencintai suamimu?
Ia mencoba mengabaikannya, namun gagal. Ia mencoba memikirkan tenggat waktu pekerjaan di yayasan, tetap tidak berhasil. Pertanyaan itu terus kembali, seolah sengaja menunggu di setiap sudut pikirannya.
Malam harinya, rumah mereka terasa setenang biasanya. Danendra sudah pulang lebih dulu. Laki-laki itu sedang duduk di ruang kerja kecil dekat kamar mereka ketika Kirana melangkah masuk.
"Kamu sudah makan?" tanya Danendra tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop yang menyala.
"Sudah, Mas."
"Hm."
"Kamu sendiri sudah?"
"Nanti."
Percakapan sederhana yang super pendek itu berakhir begitu saja, sama seperti ratusan percakapan sejenis yang pernah mereka lakukan selama setahun ini. Namun malam ini, rasanya ada yang berbeda di hati Kirana.
Ia mendapati dirinya berdiri lebih lama di ambang pintu, menyempatkan diri untuk memperhatikan garis wajah suaminya. Garis rahangnya yang tegas. Cara fokus pria itu saat membaca dokumen. Cara jemarinya mengetuk permukaan meja kayu saat sedang berpikir keras. Hingga cara alis tebal itu sedikit berkerut ketika menemukan sesuatu yang tidak sesuai di layar. Hal-hal yang selama ini selalu ada di depan matanya, tetapi tidak pernah benar-benar ia lihat dengan cara seperti sekarang.
"Kirana?" suara bariton Danendra memecah lamunannya.
Kirana tersentak pelan. "Hm?"
"Kamu kenapa?" tanya Danendra, kini pandangan matanya sudah tertuju lurus pada istrinya.
Kirana langsung menggelengkan kepala cepat, mencoba bersikap biasa. "Tidak apa-apa, Mas."
Danendra menatapnya beberapa saat, seolah ingin memastikan sesuatu di balik wajah istrinya, namun akhirnya pria itu kembali mengalihkan fokusnya pada pekerjaan.
Larut malam, setelah seluruh lampu utama rumah dipadamkan, Kirana berdiri sendirian di balkon kamar mereka. Udara malam Jakarta terasa lebih sejuk dari biasanya, bertiup lembut menerpa wajahnya. Di kejauhan, lampu-lampu kota berpendar layaknya kunang-kunang raksasa.
Ia menyandarkan kedua tangannya pada pagar besi balkon, lalu tanpa sadar kembali mengingat pertanyaan yang sama dari Laras.
Kamu mencintai suamimu?
Kirana mengembuskan napas panjang ke udara malam. Dari balik jendela kaca yang buram, Danendra masih duduk di meja kerjanya. Sesekali pria itu mengangkat cangkir kopi yang hampir kosong di tangan kanannya.
Entah kenapa, Kirana mendadak teringat bagaimana Danendra hafal di luar kepala merek teh melati yang ia sukai sejak sebelum menikah. Suaminya tahu detail-detail kecil tentang dirinya tanpa pernah ia beri tahu. Sementara Kirana sendiri baru menyadari dengan dada sedikit sesak, bahwa ia bahkan tidak tahu biji kopi seperti apa yang paling disukai suaminya.
Lampu gantung di atas meja kerja Danendra membingkai siluet pria itu dalam ketenangan yang bisu. Tenang, diam, persis seperti biasanya. Namun untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Kirana memandang sosok itu dengan perasaan yang berbeda. Bukan lagi sekadar sebagai seorang suami yang dijodohkan untuknya, bukan juga sekadar sebagai pasangan legal yang kebetulan hidup satu atap dengannya. Melainkan sebagai seorang laki-laki yang perlahan mulai memenuhi seluruh ruang di dalam pikirannya.
Dan yang paling mengganggu adalah kenyataan bahwa Kirana tidak tahu sejak kapan semua itu dimulai.
Mungkin pertanyaan Laras belum memiliki jawaban malam ini. Namun satu hal terasa semakin jelas bagi Kirana. Jika seseorang terus muncul di pikiranmu, bahkan saat orang itu tidak sedang berada tepat di hadapannya, mungkin dia sudah menjadi jauh lebih penting daripada yang berani kamu akui sendiri.