Dominic Enzo Salvatore terus mencari kekasih nya yang menghilang sudah 6 tahun lebih ini. Akibat salah paham dimana waktu itu kekasihnya Isabella Laurent.
Halo semua nya...ini adalah karya pertama yang yang saya buat. Saya sangat berharap kalian para readers suka dengan cerita yang saya buat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mel R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Sesuai arahan Dominic tadi malam, Damian benar-benar homescooling sekarang. Para Guru bergantian berdatangan. Damian pun bersemangat semangat saja. Karena memang pada dasarnya ia suka belajar.
Sedangkan Dominic kini sedang berada di markas nya. Membahas kejadian kemarin. Yaitu tentang Daddynya Antonio.
Sungguh ia tidak menteledori sikap Daddy nya kemarin.
Dominic duduk di kursi kebesaran nya. Ia menatap Darius dan Jeremy dengan tajam. Seolah tatapannya itu bisa membelah kedua orang itu dengan sekejap.
"Aku mau kalian pantau terus dia." Ucap Dominic dengan dingin.
"Dua hari lagi Tuan Salvatore akan mengirimkan barangnya ke negeri sebelah Tuan. di pelabuhan xxx sekitar jam dua malam. " Cerita jeremy dengan sopan tapi tegas.
Dominic menyipitkan matanya, mengetukkan jari telunjuknya ke atas meja kayu ek yang tebal secara berirama. Setiap ketukan terdengar seperti detik bom waktu yang siap meledak di keheningan ruang rapat markas bawah tanah tersebut.
Darius dan Jeremy tetap berdiri tegap, menahan napas, tahu betul bahwa ketenangan Dominic saat ini jauh lebih berbahaya daripada kemarahannya yang meledak-ledak.
"Pelabuhan xxx..." Dominic mengulangi ucapan Jeremy dengan nada suara yang nyaris berbisik, namun sarat akan ancaman. "Antonio benar-benar menguji kesabaranku. Setelah kekacauan yang dia buat kemarin hingga memaksa belahan jiwaku dan putraku terkurung di rumah, sekarang dia mengira bisa berbisnis dengan tenang di wilayahku?"
"Kami sudah memastikan informasinya, Tuan," sahut Darius, membuka suara setelah sejak tadi mengamati reaksi Tuan nya. "Salvatore sengaja memilih jam dua malam karena mengira pada jam-jam itu pengawasan kita di pelabuhan akan mengendur. Mereka membawa pasokan besar."
Dominic menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran, senyum sinis terukir di sudut bibirnya.
Sikap keteledoran dan kesombongan Antonio kemarin adalah kesalahan terbesar yang pernah dibuat pria tua itu. Dominic tidak akan pernah memaafkan siapa pun yang berani mengusik ketenangan Isabella dan Damian, bahkan jika orang itu memiliki hubungan darah sekalipun.
"Dia pikir dia masih memegang kendali," ucap Dominic dingin. Tatapannya beralih dari Darius ke Jeremy. "Jeremy, siapkan tim terbaik. Kita tidak akan membiarkan barang itu menyentuh kapal, apalagi sampai menyeberang ke negeri sebelah."
"Baik, Tuan. Apakah kita akan langsung menghancurkannya di tempat?" tanya Jeremy meminta instruksi lebih lanjut.
"Tidak, itu terlalu mudah," potong Dominic dengan kejam. "Sita seluruh barangnya. Biarkan Antonio kehilangan muka di hadapan para pembelinya dan menanggung kerugian yang sangat besar. Dan Darius..."
"Ya, Tuan?"
"Pastikan saat penyerbuan itu terjadi, Antonio tahu persis bahwa akulah yang melakukannya. Berikan dia pesan, jika dia berani melangkah satu senti saja mendekati rumahku lagi, bukan hanya barang dagangannya yang akan kulenyapkan, tapi seluruh dinasti Salvatore yang dia banggakan."
Darius dan Jeremy mengangguk patuh secara bersamaan. "Dimengerti, Tuan."
Dominic melambaikan tangan, memberi isyarat agar kedua orang kepercayaannya itu segera keluar dan melaksanakan perintah. Setelah pintu ruang rapat tertutup, Dominic memutar kursinya menghadap jendela besar yang langsung memperlihatkan monitor-monitor pengawas di seluruh penjuru wilayahnya.
Pikirannya mendadak melayang pada Damian yang saat ini pasti sedang fokus belajar di rumah, dan Isabella yang harus beristirahat di ranjang karena kondisinya. Demi senyum mereka, Dominic bersumpah akan meratakan siapa saja yang berani menjadi ancaman.
Sementara itu, di kediaman mewah Dominic, suasana terasa jauh lebih tenang namun tetap terasa asing bagi Damian. Jam dinding besar di ruang belajar baru saja berdentang, menandakan sesi pelajaran sejarah dunia dengan guru privat ketiganya hari ini telah selesai.
"Terima kasih atas kerja kerasnya hari ini, Tuan Muda Damian," ucap sang guru sembari membungkuk hormat sebelum merapikan buku-bukunya.
"Terima kasih kembali, Pak. Hati-hati di jalan," jawab Damian dengan senyum sopan khasnya.
Begitu pintu ruang belajar tertutup, Damian menghela napas panjang. Ia menutup buku tebal di hadapannya, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Kepalanya memang dipenuhi dengan ilmu baru yang ia sukai, tetapi hatinya tidak bisa tenang. Sejak pagi, pengawasan di sekitar rumah terasa dua kali lipat lebih ketat dari biasanya. Jumlah pengawal berjas hitam yang berlalu-lalang di halaman rumah meningkat drastis.
Damian berdiri, lalu melangkah keluar kamar menuju dapur. Ia berniat membuatkan secangkir teh chamomile hangat untuk ibunya, Isabella.
Saat melewati lorong menuju kamar utama, Damian berpapasan dengan kepala pelayan yang sedang membawa nampan berisi obat-obatan Mommynya.
"Biar aku saja yang membawanya ke dalam," ucap Damian dingin sembari mengambil alih nampan tersebut.
"Baik, Tuan Muda. Terima kasih," balas pelayan itu dengan patuh.
Damian mengetuk pintu kamar perlahan, lalu mendorongnya dengan siku. Di dalam kamar yang sejuk itu, Isabella sedang bersandar di tumpukan bantal, mencoba membaca sebuah buku untuk mengusir rasa bosan karena kakinya yang belum bisa digerakkan.
"Mom," panggil Damian hangat, memamerkan senyum terbaiknya.
Wajah Isabella seketika cerah. "Damian putra kesayangan mommy, bagaimana hari pertama homeschooling-mu Sayang? Apa guru-gurunya membosankan?"
Damian tertawa kecil sambil meletakkan nampan di meja nakas di samping ranjang ibunya. "Sama sekali tidak, Mom. Mereka sangat kompeten. Aku bahkan bisa belajar dua bab lebih cepat dari kurikulum sekolah biasa."
Isabella tersenyum lega, mengusap lengan putranya yang kini duduk di tepi ranjang. Namun, tatapan keibuan Isabella tidak bisa dibohongi. Ia melihat ada guratan rasa ingin tahu yang besar di mata Damian.
"Ada yang mengganggu pikiranmu, Nak?" tanya Isabella lembut.
Damian sempat ragu, namun ia akhirnya bersuara, "Mom... ini tentang Antonio. Kemarin... apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Daddy sampai setegas ini mengurung kita di rumah?" Damian bertanya dengan nada yang polos. Tapi tersirat sesuatu yang ingin Damian ketahui.
Mendengar nama Antonio disebut, senyum di wajah Isabella perlahan memudar. Ada kilat kecemasan yang melintas di m, ia tahu betul seberapa kejam dunianya Dominic. Karena memang Dominic tidak menutupi apapun darinya dan ia tahu betul bahwa Antonio—ayah mertuanya sendiri—adalah sosok yang sangat ambisius dan tak segan menghalalkan segala cara, bahkan jika harus mengorbankan menantu dan cucunya sendiri.
Tapi kenapa Damian tahu tentang Antonio Ayah mertua nya? apa jangan-jangan kemarin ulah Antonio?
Dari dulu Antonio atau ibu nya Dominic tidak menyukai nya. Entah kenapa, dirinya juga tidak tahu hal itu.
"Damian," Isabella menggenggam tangan putranya, suaranya terdengar bergetar namun berusaha tegap. "Daddy mu melakukan semua ini karena dia sangat mencintai kita. Ada hal-hal di luar sana yang belum saatnya kamu hadapi dan ketahui. Tugasmu sekarang hanya belajar dengan aman di sini"
Damian menatap mata Mommynya yang menyiratkan ketakutan mendalam, ketakutan yang sengaja disembunyikan di balik selimut kemewahan ini. Damian mengangguk pelan, tidak ingin membuat ibunya semakin stres. "Mommy tidak perlu khawatir. Dami akan tetap di sini."
"Mommy sangat mencintai Damian" Peluk Isabella dengan penuh cinta kasih sayang.
"Dami juga mencintai Mommy dan akan menjaga Mommy." Isabella langsung tertawa mendengar nya.
Dirinya bersyukur mempunyai anak seperti Damian.