NovelToon NovelToon
Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Romansa Fantasi / Transmigrasi
Popularitas:892
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Anggit

"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat

Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.

Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.

Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.

Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 6. jalan menuju istana dan hutan tulisan

Pagi itu matahari bersinar terang, sinarnya yang keemasan menyelimuti seluruh desa hingga pemandangannya tampak seperti lukisan yang indah. Warga desa yang kini merasa bangga menyandang gelar Penjaga Kenangan berkumpul di pinggir jalan untuk mengantar kepergian kami. Mereka membawa bekal makanan, buah-buahan yang bentuknya seperti huruf abjad, serta botol air yang rasanya segar seperti sari buah asli.

“Terima kasih banyak, Tuan Penulis! Tuan Putri! Ksatria Gagah!” seru Kepala Desa sambil menunduk memberi hormat, matanya berbinar penuh rasa syukur. “Kalian akan selalu menjadi cerita pertama yang akan kami simpan dan sampaikan kepada siapa saja yang lewat di sini!”

Dada Zarek terasa membusung, senyumnya melebar hingga ke telinga. “Siap! Kalau ada apa-apa, panggil saja aku! Aku Zarek, ksatria terkuat, siap sedia kapan saja!”

Liora tersenyum ramah sambil melambaikan tangan kepada seluruh warga. “Jagalah diri kalian baik-baik ya. Kami pasti akan melewati tempat ini lagi suatu hari nanti.”

Leon hanya membalas dengan senyum dan anggukan. Hatinya terasa hangat sekali. Dulu mereka hanyalah rangkaian kata yang diketik asal-asalan, kini menjadi manusia yang nyata, bahagia, dan berterima kasih padanya. Jujur saja, rasanya… sangat membanggakan.

Di belakang kami, terdengar langkah berat yang mendekat. Valgus berdiri tegak, jubah hitamnya kini tidak lagi terlihat menakutkan, melainkan tampak gagah dan berwibawa. Tingginya yang menjulang membuatnya terlihat bagaikan menara yang bisa berjalan.

“Lama sekali kalian berpamitan,” katanya dengan nada datar, namun tidak ada lagi nada kebencian dalam suaranya. “Istana masih sangat jauh, dan di sepanjang jalan tidak hanya terdapat hal-hal aneh, tetapi juga bahaya yang lupa kau tuliskan penjelasannya.”

“Baiklah, baiklah, Tuan Penjaga Dunia,” jawab Leon sambil tertawa kecil. “Kita berangkat sekarang juga, Kapten!”

Valgus hanya mendengus pelan, namun di sudut bibirnya terlihat samar-samar tersenyum kecil yang berusaha ia tahan.

Kami berlima. aku, Liora, Zarek, Valgus, serta kumbang raksasa yang sejak kemarin terus menempel mengikuti Zarek . mulai melangkah lagi menuju utara, arah Istana Kerajaan Cahaya.

Semakin jauh kami meninggalkan desa, pemandangan di sekeliling pun berubah. Hutan yang tadinya berisi pohon-pohon biasa kini berganti menjadi Hutan Tulisan. Batang pohonnya berwarna krem seperti kertas tua, kulit kayunya tertutup tulisan-tulisan kecil, ada yang bisa dibaca ada pula yang tidak. Daunnya berbentuk seperti lembaran buku, dan saat tertiup angin, suaranya berdesir persis seperti halaman buku yang dibalik.

“Wah… tempat apa lagi ini?” tanya Zarek sambil menyentuh batang pohon yang tertulis kalimat: “Dulu di sini ada sungai, tapi lupa mau diapakan, jadi dihapus saja.”

Leon menepuk dahinya sendiri. “Ini Hutan Tulisan. Tempat di mana semua draf yang terbuang, tulisan yang tidak terpakai, atau kalimat yang belum selesai ditulis menjadi wujud nyata.”

Liora mengamati sekeliling dengan saksama. Matanya bersinar, ia mampu merasakan energi yang melayang di udara. “Rasanya… tempat ini adalah yang paling dekat denganmu, Leon. Di sini energi penciptaan terasa sangat kental. Segala sesuatu bisa berubah menjadi apa saja, tergantung apa yang terlintas di dalam pikiran.”

“Benar sekali,” jawab Leon dengan hati-hati. “Makanya kita harus berjalan dengan waspada. Jika ada yang memikirkan hal aneh, bisa saja pohon ini berubah menjadi kue raksasa lagi, atau tanahnya kembali menjadi permen karet lengket.”

Belum sempat Leon menyelesaikan ucapannya, Zarek tiba-tiba berhenti dan tampak berpikir. “Eh… aku jadi penasaran… bagaimana kalau ada hewan yang badannya terbuat dari kertas, tapi gigitannya setajam gunting?”

Seketika itu juga, dari balik semak-semak melompat puluhan makhluk kecil. Bentuknya mirip serigala, namun seluruh tubuhnya terbuat dari tumpukan kertas tebal, dan giginya yang tajam berkilau seperti mata pisau gunting. Suaranya terdengar seperti kertas yang disobek-sobek.

“GUK! GUK! SOBEK! SOBEK!”

“YA AMPUN, ZAREK!” teriak Leon terkejut. “Apa yang baru saja kau ucapkan?!”

Zarek melongo tidak percaya. “Lah… aku hanya bertanya saja kok! Aku tidak menyangka hal itu akan benar-benar muncul!”

Makhluk-makhluk kertas itu langsung menyerang, berlari dengan cepat dan berusaha menggigit kaki serta pakaian kami. Jika terkena gigitannya, kain atau kulit seolah terpotong rapi seperti dikerjakan penjahit.

“Minggir!” seru Valgus. Ia melangkah maju selangkah, lalu mengayunkan tangannya perlahan. Gelombang energi yang tadinya berwarna hitam kini berubah menjadi abu-abu lembut, menyedot seluruh makhluk kertas itu hingga larut menjadi tinta cair dan hilang meresap ke dalam tanah. “Jangan sembarangan berpikir atau berbicara di sini. Dunia ini mendengar setiap keinginanmu, sekecil apa pun itu.”

Zarek menggaruk kepalanya sambil tersenyum malu. “Hehehe… maaf deh. Namanya juga penasaran.”

Kami melanjutkan perjalanan dengan lebih berhati-hati. Di sepanjang jalan, kami melihat banyak sekali sisa-sisa tulisan Leon yang masih berantakan. Ada sungai yang airnya berupa tinta berwarna biru, ada bukit yang permukaannya berlubang-lubang karena pernah dihapus saat proses penulisan, bahkan ada jembatan yang hanya jadi setengahnya karena tertulis: “Di sini ada jembatan, panjangnya… nanti dihitung lagi.”

Liora berjalan di samping Leon, matanya terus meneliti setiap tulisan yang ada di pohon maupun batu. “Leon, mengapa banyak tulisan yang dicoret atau diberi tanda tanya?”

Leon menunduk memandang tanah, merasa sedikit malu. “Itu… itu bagian yang aku ragukan. Aku menulisnya, lalu merasa tidak yakin, jadi aku coret atau beri tanda tanya. Namun ternyata di sini, keraguan itu berwujud nyata. Makanya banyak tempat yang bentuk atau fungsinya menjadi tidak jelas.”

“Keraguanmu menjadi kenyataan…” gumam Liora pelan, lalu menatap Leon dengan pandangan yang dalam. “Berarti keyakinanmu juga bisa menciptakan hal-hal yang luar biasa, Leon. Jika kau yakin sepenuh hati, dunia ini akan berubah menjadi apa yang kau inginkan, tanpa cacat dan tanpa keraguan.”

Kalimat itu menyentuh hati Leon. Selama ini ia menulis secara asal-asalan karena merasa ragu, karena menganggap ini hanyalah imajinasi belaka. Namun jika ia menulis dengan keyakinan, tujuan yang baik, dan rasa tanggung jawab… mungkin ia benar-benar bisa menjadikan dunia ini tempat yang sempurna.

Tiba-tiba dari arah depan terdengar suara kegaduhan, teriakan orang-orang bercampur dengan suara benda yang jatuh dan hancur.

“WOI! JANGAN DORONG! BATASNYA BELUM JELAS!”

“YANG BAGIAN KANAN DIPERLEBAR SEDIKIT! YANG KIRI DIPERSEMPIT! ADUH, KOK MALAH HILANG SEMUA?!”

Kami berlari mendekati sumber suara. Di balik rimbunan pohon tulisan, kami melihat pemandangan yang membuat Leon hampir tertawa sekaligus merasa pusing tujuh keliling.

Di depan sana terdapat sekelompok orang yang mengenakan seragam berwarna putih keabu-abuan, membawa penggaris berukuran raksasa, peta yang sangat besar, serta pena sebesar tiang bendera. Mereka terlihat sibuk dan saling berdebat sambil mengukur, menggambar, serta mengubah bentuk tanah dan hutan di sekitarnya.

Itu adalah Tim Pengukur Wilayah Kerajaan! Sekali lagi ciptaan Leon. Dulu ia menulis: “Terdapat tim yang bertugas mengatur batas wilayah, mereka bekerja dengan giat namun sering merasa bingung karena instruksi yang diberikan tidak jelas.”

Pemimpin mereka, seorang pria berkacamata tebal dengan rambut yang sudah acak-acakan dan pakaian yang kotor terkena noda tinta, langsung berlari menghampiri kami begitu melihat kedatangan kami.

“TUAN-TUAN! SYUKURLAH KALIAN DATANG!” serunya dengan nada panik. “Kami sangat kacau di sini! Batas antara Kerajaan Cahaya dan Kerajaan Bayangan tertukar tempat! Padahal di peta tertulis ‘berbatasan hutan’, namun kenyataannya menjadi ‘berbatasan sungai’, sekarang malah berubah menjadi ‘berbatasan gunung es’! Kami benar-benar bingung harus berbuat apa lagi!”

Ia menyerahkan peta besar itu kepada Leon. Peta itu penuh dengan coretan, tulisan tambahan, tanda tanya, serta catatan kecil khasnya: “Nanti diperbaiki lagi.”

Zarek menatap peta itu, lalu menoleh ke sekeliling. “Wah… berantakan sekali ya. Terus bagaimana cara memperbaikinya?”

Semua mata langsung tertuju kepada Leon. Ia merasa menjadi pusat perhatian. Valgus berdiri di sampingnya sambil bersandar pada sebatang pohon, lalu berkata dengan santai. “Nah, ini bagian tugasmu, Penulis. Perbaiki kekacauan yang kau buat sendiri.”

Leon menarik napas panjang, lalu membuka buku catatan yang selalu ia bawa. Kali ini ia tidak akan menulis sembarangan. Ia harus teliti, harus yakin, dan harus berlaku adil.

Leon menatap peta itu, mengamati keadaan tanah di sekelilingnya, memperhatikan posisi matahari, serta mempertimbangkan kebutuhan seluruh makhluk yang hidup di dunia ini.

“Dengarkan semuanya!” seru Leon dengan suara yang lantang dan tegas. Suaranya bergema, dan semua orang mulai dari Tim Pengukur, Liora, Zarek, hingga Valgus terdiam dan mendengarkan dengan saksama.

“Tetapkan batas Kerajaan Cahaya dengan hutan lebat yang selalu diterangi sinar matahari, tempat tinggal makhluk yang berhati baik. Batas Kerajaan Bayangan ditandai dengan tebing tinggi yang indah, tempat bagi makhluk yang menyukai ketenangan dan misteri. Di tengah keduanya, ciptakan dataran luas yang menjadi pusat perdagangan dan tempat berkumpul. Semua batas tertulis dengan jelas, bersifat tetap, dan tidak akan berubah kecuali atas kesepakatan bersama. Dunia ini memiliki aturan yang adil, jelas, dan melindungi seluruh makhluk yang ada di dalamnya!”

Saat Leon berbicara sambil menuliskan kalimat tersebut di dalam bukunya, terasa getaran halus namun mantap menyebar ke segala arah. Tulisan-tulisan yang ada di pohon berubah menjadi rapi dan terbaca jelas. Tanah bergeser perlahan, membentuk batas wilayah yang tepat dan indah. Peta yang ada di tangan pemimpin tim pun berubah seketika semua coretan hilang, tulisannya menjadi rapi dan bersinar terang.

Pemandangan di depan mata kami berubah drastis menjadi tertata rapi, indah, dan masuk akal. Tidak ada lagi batas yang tertukar, hilang, atau terasa aneh.

Anggota Tim Pengukur terdiam tertegun, lalu serentak mereka bertepuk tangan dengan riuh. “LUAR BIASA! AKHIRNYA JELAS! TERIMA KASIH, TUAN PENULIS! SEKARANG PEKERJAAN KAMI MENJADI SANGAT MUDAH!”

Mereka segera kembali bekerja dengan semangat baru, tersenyum dan saling membantu satu sama lain.

Liora menatap Leon dengan mata yang berbinar, terlihat jelas rasa bangga di dalam pandangannya. “Kau lihat kan, Leon? Jika kau yakin dan tulus, hasilnya selalu menjadi indah.”

Zarek menepuk pundak Leon hingga terasa agak sakit. “Hebat sekali dirimu, Leon! Setiap ada masalah, kau tinggal berbicara sebentar, semuanya selesai! Sebenarnya kau jenius, hanya dulu saja malas berpikir ya? Hahaha!”

Valgus melangkah maju selangkah, memandangi perubahan yang terjadi di sekeliling kami, lalu menatap Leon. Wajahnya tetap serius, namun matanya terlihat puas. “Kau mulai memahami tugasmu yang sesungguhnya. Bukan hanya menciptakan cerita yang seru, melainkan membangun dunia yang layak untuk dihuni. Teruskanlah. Di depan sana, gerbang istana sudah mulai terlihat. Dan di sana… tersimpan rahasia terbesar yang bahkan kau sembunyikan dari dirimu sendiri.”

Jantung Leon berdebar kencang. Rahasia terbesar? Apa lagi yang pernah ia tulis dan lupakan?

Leon menatap ke arah depan, melewati hutan yang kini tampak rapi dan asri. Di kejauhan, di atas bukit yang paling tinggi, terlihat puncak-puncak menara Istana Kerajaan Cahaya yang berkilau terkena sinar matahari. Bentuknya sangat megah dan indah, namun samar-samar terlihat bayangan gelap yang menyelimuti bagian belakangnya.

Leon menggenggam erat buku catatannya.

“Baiklah,” gumamnya dengan penuh keyakinan. “Apa pun rahasianya, apa pun masalahnya, aku siap. Aku akan memperbaiki semuanya, hingga cerita ini menjadi yang paling membahagiakan untuk kalian semua.”

Kami berlima berjalan beriringan, langkah kami mantap dan penuh semangat. Perjalanan semakin seru dan tantangan yang dihadapi pun semakin besar, namun Leon tidak lagi merasa takut. Ia tidak berjalan sendirian. Ia bersama Liora, Zarek, Valgus, serta seluruh ciptaannya yang kini telah menjadi keluarga baginya.

Istana di kejauhan seolah menanti kedatangan kami. Dan Leon tahu, bab selanjutnya akan menjadi bagian terpenting dari seluruh cerita ini.

1
Rafi Hafizh
bagus ceritanya 👍
Ananda Anggit
🤭🤭
Ananda Anggit
siap ka, terimakasih saran nya 😁🙏
Sarah
Ya kalau dateng... kalau gak ada yang dateng? Basi dong. /Sweat/
Sarah
Aku juga sudah menduganya. 😂
Sarah
Aduhhh, Leon dipuji mulu tiap bab sama heroine nya ini. 😁
Sarah
Ceritanya lucu banget. 😁
Sarah
Kalau nama awalannya harus huruf kapital yah, “Leon”
Sarah
Ketika catatan penulis yang biasa ada di dalam kurung di tengah-tengah cerita jalan... beneran masuk ke cerita. 😂
Sarah
Bagus, cuma... ini pov orang ketiga (narator) sama pov orang pertama (Leon alias MC) yang konsisten yah. Kalau mau ganti pov tandain dulu. Biar gak bikin bingung. Atau tandain kata kayak “Pikirnya”, “Batinnya”, “Ucapnya dalam hati” untuk nunjukkin apa yang ada di otak Leon.
Ananda Anggit: iya sekali lagi makasih ya kak 😁
total 3 replies
Ananda Anggit
😍💪💪
Rafi Hafizh
semangat author 😍
Ananda Anggit
🥳🥳
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!