NovelToon NovelToon
Kabur Ke Gunung Kawi Nyasar Ke Pelaminan Yang Di Dua Kan

Kabur Ke Gunung Kawi Nyasar Ke Pelaminan Yang Di Dua Kan

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Pernikahan Kilat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Satu jam kemudian, deru mesin mobil SUV hitam milik Ganda kembali terdengar memasuki halaman ndalem Pondok Pesantren Al Ikhlas.

Begitu mobil berhenti, Ganda dan Abah Kiai bergegas turun dan melangkah masuk ke dalam kediaman utama.

Namun, begitu melintasi pintu, suasana di dalam rumah terasa begitu senyap dan sepi.

Ganda mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan.

"Kemana semua orang, Abah? Kok sepi sekali, tidak ada siapa-siapa di rumah," tanya Ganda, keningnya mengkerut dalam, merasakan kejanggalan yang kian menebal.

Abah Kiai mencoba berprasangka baik. "Mungkin mereka sedang pergi jalan-jalan keluar, Ganda. Biarkan saja, itu bagus agar mereka berdua bisa saling akur."

Ganda sempat menganggukkan kepalanya pelan, mencoba menerima ucapan sang ayah.

Namun, saat langkah kakinya hendak berbalik, matanya tidak sengaja menangkap sebuah benda yang tergeletak mengenaskan di atas lantai dekat meja sudut. Itu adalah ponsel milik Diaz.

Jantung Ganda mencelos seketika. Ia memungut ponsel itu dengan tangan gemetar.

"Abah, tidak mungkin Diaz pergi keluar... ponselnya tertinggal di lantai seperti ini," ucap Ganda dengan suara yang mulai meninggi panik. Diaz tidak akan pernah meninggalkan rumah tanpa membawa ponsel pribadinya.

Abah Kiai yang melihat hal itu mulai ikut merasa tidak enak.

Beliau segera merogoh jubahnya, mencoba menghubungi ponsel Umi Maryam beberapa kali, namun panggilan itu terus berdering tanpa pernah diangkat.

"Umi tidak mengangkat teleponnya, Ganda," ucap Abah dengan guratan cemas di wajah sepuhnya.

Tanpa membuang waktu, Ganda melangkah lebar keluar teras ndalem.

Dengan suara baritonnya yang menggelegar, ia memanggil para santri yang sedang beraktivitas di sekitar halaman.

"Zainal! Lukman! Tolong kemari!"

Mendengar suara Ganda yang menggelegar, Zainal dan Lukman tersentak hebat.

Tubuh mereka gemetar mendapati fakta bahwa sang ustaz dan Abah Kiai sudah kembali secepat ini.

Dengan langkah lunglai dan wajah pucat pasi, kedua santri senior itu berjalan mendekat.

Bukannya berdiri menjawab, mereka langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam dan duduk bersimpuh di lantai teras sembari menangis ketakutan.

"Nyuwun sewu, Ustaz... Abah... Mohon maaf, kami salah... Mohon maaf..." ratap mereka bergantian.

Ganda menatap mereka dengan tatapan mata yang tajam dan dada yang kembang kempis.

"Ada apa, Zainal?! Ada apa, Lukman?! Kenapa kalian duduk bersimpuh dan meminta maaf seperti ini? Katakan yang jelas!" bentak Ganda, kehilangan kesabarannya.

Dengan suara bergetar, Zainal akhirnya membuka suara.

"Tadi... tadi pagi setelah Ustaz dan Abah berangkat... Umi Maryam memaksa kami. Umi meminta saya dan Lukman untuk mengikat istri pertama Anda, Mbak Diaz, lalu memasukkannya ke dalam gudang belakang..."

"L-lalu... Umi dan Mbak Laura sekarang sedang pergi berbelanja ke pasar dari tadi dan belum pulang, Ustaz..." sambung Lukman dengan tubuh yang semakin menggigil.

"APA?!!"

Bagai disambar petir di siang bolong, wajah Ganda seketika memerah padam menahan amarah yang luar biasa.

Ia tahu betul trauma masa lalu Diaz yang takut setengah mati dengan ruang gelap dan sempit.

Tanpa memedulikan apa pun lagi, Ganda berbalik dan bergegas berlari sekencang-kencangnya menuju gudang belakang pondok, diikuti oleh Abah Kiai yang berjalan cepat dengan wajah syok.

Brak!

Ganda menendang engsel pintu kayu gudang yang berdebu itu hingga terbuka lebar, membiarkan cahaya matahari menerobos masuk ke dalam ruangan yang pengap.

Begitu pandangannya beradaptasi dengan keremangan di dalam, separuh jiwa Ganda seolah tercerabut dari tubuhnya melihat pemandangan di depannya.

Diaz tergeletak lemas di atas lantai semen yang kotor.

Tubuhnya melengkung kaku, tangannya terikat erat ke belakang dengan tali tambang, dan mulutnya dibekap rapat oleh lakban hitam tebal. Wajahnya yang pucat pasi dipenuhi sisa air mata yang telah mengering, dan ia berada dalam kondisi tidak sadarkan diri—pingsan akibat serangan panik dan sesak napas yang hebat.

"Astaghfirullahaladzim... Diaz!!" teriak Ganda histeris. Suaranya pecah oleh rasa sakit dan murka yang teramat dalam.

"Kenapa mereka tega melakukan ini semua kepadamu, Dik?!"

Ganda langsung berlutut di lantai yang kotor, merengkuh tubuh ringkih Diaz ke dalam pelukannya.

Dengan tangan yang gemetar hebat dan air mata yang tanpa sadar meluncur di pipinya, Ganda membuka ikatan tali di tangan Diaz dengan tergesa-gesa.

Setelah terlepas, ia menarik pelan namun cepat lakban hitam yang menyumbat mulut istrinya.

Ganda mendekatkan telinganya ke dada Diaz, deru napas istrinya terdengar sangat lemah dan pendek.

"Abah, napasnya lemah sekali! Ganda harus bawa Diaz ke rumah sakit sekarang juga!" ucap Ganda panik, langsung menggendong tubuh pingsan Diaz ala bridal style ke dalam dekapan dadanya yang kokoh.

Sembari berjalan cepat keluar dari area gudang menuju mobil, Ganda menatap tajam ke arah Zainal dan Lukman yang masih berlutut ketakutan di lorong.

"Kalian berdua, dengarkan perintah saya! Tetap rahasiakan dari Umi dan Laura kalau saya dan Abah sudah pulang ke pondok! Jangan ada yang berani membuka mulut satu kata pun sampai saya kembali!" bentak Ganda dengan kilat amarah dingin yang membuat bulu kuduk merinding.

Para santri yang sudah terlanjur ketakutan itu langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat.

"Nggih, Ustaz... nggih, kami janji akan bungkam..."

Ganda langsung memasukkan Diaz ke kursi belakang mobil SUV-nya, menyelimutinya dengan jubahnya sendiri, lalu melesat pergi meninggalkan pondok menuju rumah sakit dengan kecepatan penuh, membiarkan badai kemarahannya bersiap menggulung Umi Maryam dan Laura saat mereka pulang nanti.

Di dalam kabin mobil SUV yang melesat membelah jalanan, suasana terasa begitu mencekam.

Di kursi belakang, napas Diaz terdengar semakin tersengal-sengal, pendek, dan berat.

Wajahnya yang semula pucat kini mulai membiru karena kekurangan pasokan oksigen ke otak, sementara tubuhnya sesekali kejang kecil akibat trauma psikologis dan fisik yang menghimpitnya.

Melihat kondisi istrinya melalui kaca spion tengah, rahang Ganda mengeras.

Setir mobil ia cengkeram erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Ganda melajukan mobilnya sekencang mungkin, menerobos beberapa lampu lalu lintas dan menyalip kendaraan lain tanpa memedulikan bahaya, demi mengejar waktu yang kian menipis untuk menyelamatkan nyawa Diaz.

Sesampainya di area drop-off rumah sakit, Ganda langsung membuka pintu belakang dan kembali menggendong tubuh lemah Diaz masuk ke dalam ruang kegawatdaruratan.

Beruntung, Dokter Fahmi—dokter spesialis yang juga merupakan kerabat dekat keluarga pondok—sedang berjaga.

Melihat Ganda yang masuk dengan wajah panik dan menggendong Diaz yang tak sadarkan diri, Dokter Fahmi langsung mengomando tim medis ke UGD.

"Bawa ke bed satu! Siapkan tabung oksigen dan rontgen sekarang!" seru Dokter Fahmi tegas sebelum ikut menghilang di balik tirai putih UGD.

Di luar ruangan, Ganda berjalan mondar-mandir di selasar rumah sakit.

Langkah kakinya terdengar berat dan cepat. Sorot matanya memancarkan kilat amarah yang luar biasa pekat—amarah kepada ibunya, amarah kepada Laura, dan yang terbesar adalah amarah kepada dirinya sendiri. Dadanya kembang kempis menahan sesak.

Abah Kiai yang sejak tadi menyertai putranya hanya bisa mengembus napas berat.

Beliau berjalan mendekat, lalu menepuk pundak Ganda dengan lembut.

"Putraku, duduklah dulu. Tenangkan dirimu, perbanyak istighfar. Marahmu tidak akan menyelesaikan masalah saat ini. Doakan batin Diaz kuat."

Ganda akhirnya terduduk lemas di kursi tunggu, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan yang gemetar.

Hampir setengah jam berlalu dalam keheningan yang menyiksa, tirai UGD akhirnya tersingkap.

Dokter Fahmi keluar dengan gurat wajah yang tampak sangat lelah dan serius.

Ia melepas stetoskopnya, lalu menatap Abah Kiai dan Ganda bergantian.

"Kiai, Ustaz, mari ikut ke ruangan saya sebentar. Ada hal krusial yang harus saya jelaskan," ajak Dokter Fahmi dengan nada suara yang sengaja direndahkan.

Ganda dan Abah Kiai segera bangkit dan mengekor masuk ke dalam ruang kerja dokter yang sunyi.

Begitu pintu ditutup, Dokter Fahmi menghela napas panjang sebelum membuka rekam medis elektronik di layarnya.

"Ustaz Ganda, kondisi Mbak Diaz saat ini bisa dikatakan sangat kritis," ujar Dokter Fahmi membuka penjelasan secara blak-blakan.

"Beliau mengalami panic attack atau serangan panik ekstrem di ambang batas tertinggi yang memicu terjadinya hiperventilasi parah. Karena mulutnya disumbat rapat oleh lakban tebal sampai hidung dan di dalam ruangan yang minim oksigen, jalur pernapasannya tersumbat parah. Hal ini mengakibatkan asfiksia—kondisi di mana tubuh kekurangan oksigen secara radikal. Akibatnya, terjadi penurunan kesadaran yang sangat dalam, dan detak jantungnya sempat tidak stabil karena syok neurogenik akibat ketakutan yang teramat luar biasa."

Dokter Fahmi menatap Ganda dengan pandangan prihatin.

"Trauma psikologisnya mendadak aktif beruntun, Ustaz. Saat ini kami terpaksa memasang alat bantu napas intensif dan menyuntikkan obat penenang dosis tinggi agar otaknya bisa beristirahat dari syok. Jika dalam dua puluh empat jam ke depan pasokan oksigen ke otaknya tidak membaik, kami khawatir akan terjadi komplikasi yang lebih fatal pada organ dalamnya. Kita hanya bisa berserah dan menunggu masa kritis ini lewat."

Mendengar penjelasan panjang lebar dari Dokter Fahmi yang begitu mengerikan, pertahanan Ganda runtuh seketika.

Pertanyaan demi pertanyaan yang menyudutkan batinnya langsung menghantam kepalanya bertubi-tubi.

Ganda menundukkan kepalanya dalam-dalam di atas meja dokter.

Air matanya luruh tanpa bisa dibendung lagi. Bahunya berguncang hebat, mengeluarkan suara tangisan pilu yang sarat akan penyesalan yang teramat mendalam.

"Astaghfirullahaladzim... Diaz... Maafkan aku, Dik..." ratap Ganda dengan suara serak yang tertahan.

Ia merasa telah menjadi suami yang paling munafik dan tidak berguna.

Di saat ia sibuk memikirkan bagaimana cara bertindak adil di hadapan hukum agama dan mendengarkan wejangan tentang poligami, ia justru membiarkan istri pertamanya disiksa dengan kejam oleh keluarganya sendiri.

Ganda menangis sejadi-jadinya, meratapi kegagalannya yang teramat telak dalam melindungi wanita yang semalam baru saja menyerahkan seutuhnya jiwa dan raganya ke dalam dekapannya.

Rasa bersalah itu kini mencengkeram dadanya, berubah menjadi bara api dendam yang siap ia tumpahkan kepada siapa saja yang telah membuat Diaz terbaring sekarat di ranjang rumah sakit.

1
merry yuliana
hmmmmm jangan bolak balik kak
sri hastuti
akhirnya ketemu, ayo diaz, pelan2 hilangkan trauma mu, ganda mencintaimu sungguh2 itu, ayo bangkit lg diaz, raih kebahagiaanmu kembali, umi yg kyk iblis sdh pergi, dan madumu jg sdh dicerai 🙏
sri hastuti
waduuh diaz, kenapa km buru2 keluar rumah sakit, ayo km hrs kuat hadapu semua, ganda sdh mencintaimu , 😭😭 ayo thor pertemukan kembali dng ganda ,kasihan diaz ,msh trauma dng umi yg kyk iblis kelakuannya 😡😡

😡😡😡😡😡😡😡😡
Elia Rosa
syukurin buat kalian berdua.. ibu mertua Dan menantu durjana🤭
sri hastuti
lanjuuttt thor sdh gak sabar topeng istri pemilik pondok yg spt iblis dibuka dan istri durhaka yg dengki di libas 😡😡😡
Elia Rosa
tambah seru NIH.. di tunggu kelanjutannya Thor 💪👍
sri hastuti
istri pemilik pondok kyk iblis ya, kelakuan nya , hiiihhh ngeri juga ,penuh tipu muslihat dan kejam , 😡😡😡😡
sri hastuti
ayo ganda kmnhrs tegas ,meski itu umi mu yg kelakuannya spt iblis, kyai jg hrs tegakkan keadilan ,meski itu istrimu ,yg sdh kyk iblis
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
sri hastuti
kelakuan umi kok kyk iblis 😡😡😡
Ana Yasrotin
Serius tanya..memang dipondok ada kelakuan se orang yg disebut umi dan dihormati py watak yg tdk manusiawi begitu 🤔
Ana Yasrotin
Terus terang thor dr awal novel saya br koment ini..saya bukan tipe orang yg suka dg novel genre poligami..tp sejauh ini saya ikuti alur cerita krn aktor pria tegas..semoga akhirx Ganda bisa memilih salah satu antara Diaz dan Laura krn mmg si Laura tdk pantas bersanding dg Ganda..mdhn diakhir cerita bs memuaskan pembaca 🙏
sri hastuti
bagus diaz, buka semua kedok kemunafikan mereka, terutama umi yg jd orang tua gak tau diri, cm ego saja yg dibesar besarkan, dan umi yg gak jd contoh baik 👍👍😡😡😡
sri hastuti
ahh lama2 pengen tak huhhh ,umi sm menantu laknat semua , thor , bikin jengkel aja, orang kok gak punya belas kasih, apalagi katanya umi , tp kelakuan e kyk 😡😡😡🤭
merry yuliana
💪💪💪😍👍🙏
Asra
Cerita kamu bagus, Kak. Bintang 5 nih, kayak kurang hhuhu, kamu berhasil bikin orang (terutama aku) bisa mendalami ceritamu, dibikin kesel, dibikin sedih, dan seterusnya^^✨

Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰🥰
total 1 replies
sri hastuti
thor, aku kok jd jengkel dan mual dng kelakuan umi , gitu kok istri pemilik pondok to ??, trus anak didik e spt apa itu, ???? arogan ,apalagi laura itu. wanita yg bikin jengkel 😡😡😡
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
merry yuliana
ganda pdhl peluk obat termanjur buat diaz...ga salah sebuah pelukan utk hati yang patah...semangat crazy upnya kak...please crazy up banyakkan dikit boleh ya😍💪💪💪🙏👍
sri hastuti
bagus Abah,hrs tegas , umi nya juga ternyata spt itu, bikin 😡😡
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
sri hastuti
blm tentu ganda bisa adil dng 2 istri, kasihan biar lepas dari Ganda, kecuali Ganda bisa melindungi dng baik, kl tdk pendreritaannya semakin menjadi nanti 🙏🙏
sri hastuti
kasihan diaz thor, blm nanti menghadapi nyai nya ganda dan laura yg sdh punya rencana jahat, biarkan diaz bahagia thor, 🙏🙏🙏
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!