Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.
Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.
Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.
Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.
Seorang penegak hukum menikahi penjahat?
Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Jejak Kebenaran dan Sebuah Lamaran
Enzo tak segera menjawab. Tatapannya justru semakin dalam, seolah sedang mempertimbangkan seberapa banyak yang harus ia ungkapkan.
"Ada sesuatu yang perlu kamu tahu."
"Apa?" tanya Chantika. Keseriusan di mata Enzo membuatnya ikut memasang raut serius.
"Bryan itu investor playboy." Nada suara Enzo terdengar datar, tetapi tegas. "Dia tidak ragu menggelontorkan dana dalam jumlah besar jika tertarik pada seorang wanita."
Enzo menatap Chantika lekat-lekat. "Jangan gegabah menemuinya sendirian."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Kalau kamu butuh bantuan... katakan padaku."
Sebenarnya Enzo sama sekali tidak tenang membayangkan Chantika berhadapan dengan Bryan. Namun, ia juga tidak ingin melarang wanita itu. Ia tidak ingin Chantika merasa diremehkan, apalagi dikekang.
Chantika mengangguk pelan. "Tenang aja. Aku akan berhati-hati."
Enzo menggeleng. "Aku gak bisa tenang."
Alis Chantika sedikit berkerut.
"Kamu pernah berhasil diracuni orang." Rahang Enzo mengeras. Tangannya mengepal tanpa sadar. "Untung malam itu kamu bertemu denganku."
Tatapannya berubah semakin tajam. "Kalau yang menemukanmu pria lain..."
Kalimatnya menggantung. Namun Chantika mengerti maksudnya.
"Terima kasih..." ucap Chantika pelan. "Sudah mengkhawatirkanku."
Enzo menatapnya tanpa berkedip. "Kamu istriku." Senyum tipis terukir di bibirnya. "Tentu saja aku khawatir kalau terjadi sesuatu padamu."
Entah mengapa, kalimat sederhana itu membuat dada Chantika terasa hangat.
Tak lama kemudian, Enzo membuka laci meja di sampingnya.
"Oh ya."
Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna hitam, lalu membukanya di hadapan Chantika.
"Aku ingin kamu memakai ini."
Tatapan Chantika langsung tertuju ke dalam kotak itu.
Di sana tersusun satu set perhiasan dari emas putih dengan desain sederhana, tetapi begitu elegan.
Sepasang anting mungil berbentuk tetesan embun yang berkilau lembut.
Sebuah kalung tipis dengan liontin bunga melati berkelopak lima, lambang kesucian, ketulusan, dan kesetiaan.
Lalu sebuah cincin polos beraksen garis halus dengan sebuah berlian kecil yang tertanam di tengahnya.
Serta jam tangan berwarna perak dengan desain sederhana.
Tak ada ukiran berlebihan. Tak ada kemewahan yang mencolok. Justru kesederhanaannya membuat perhiasan itu terlihat anggun.
Chantika terdiam beberapa saat.
"Ini..."
Enzo meletakkan kotak itu perlahan, lalu mengambil kalung tersebut.
"Boleh?"
Chantika tak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan.
Dengan gerakan hati-hati, Enzo melingkarkan kalung itu di leher Chantika, lalu mengaitkan pengunci kalung di tengkuknya.
Jemarinya sempat menyentuh kulit leher wanita itu. Seketika Chantika merasakan bulu kuduknya meremang tipis.
Enzo mundur selangkah, memerhatikan hasilnya. "Pas. Bagus sekali di kamu."
Tanpa sadar, senyum kecil menghiasi wajah Chantika. "Terima kasih."
"Jangan dilepas."
Chantika mengangkat alis. "Kenapa?"
Enzo menatap liontin yang kini menghiasi leher wanita itu.
"Supaya setiap kali kamu melihatnya..." Tatapannya kembali bertemu dengan mata Chantika. "...kamu ingat kalau ada seseorang yang selalu menunggumu pulang dengan selamat."
Dada Chantika menghangat. Ia menggenggam tangan Enzo pelan.
"Aku senang kamu mau mengkhawatirkanku," gumam Chantika pelan.
Enzo membalas genggaman itu. "Aku bukan cuma mengkhawatirkanmu," balas Enzo lirih. "Aku ingin memastikan kamu selalu bisa pulang dengan selamat."
Chantika tak menyadari bahwa di balik liontin sederhana itu tersembunyi sebuah alat pelacak berukuran sangat kecil.
Enzo tidak memasangnya untuk mengawasi setiap langkah wanita itu. Ia hanya ingin memiliki satu kesempatan lagi...
Jika suatu hari Chantika menghilang, terluka, atau tak mampu meminta pertolongan, ia tahu harus mencarinya ke mana dan menjadi orang pertama yang menemukannya.
Enzo kembali mengambil kotak beludru itu.
"Anting, cincin, dan jam tangan ini... aku ingin kamu juga memakainya."
Chantika menatapnya bingung. "Harus?"
Enzo mengangguk. "Harus. Ini untuk melindungi diri."
Ia mengangkat sepasang anting emas putih itu. "Kalau suatu saat kamu benar-benar terdesak, anting ini bisa kamu lepaskan lalu lemparkan."
"Memangnya kenapa?"
Enzo menekan bagian belakang salah satu anting. Seketika terdengar dengungan bernada tinggi. Tapi langsung dimatikan Enzo.
"Di dalamnya ada alarm ultrasonik mini. Suaranya memang tidak terlalu keras buat orang di sekitarnya, tapi cukup mengganggu pendengaran orang yang berada sangat dekat. Efeknya hanya beberapa detik, tapi cukup untuk mengalihkan perhatian lawan."
Mata Chantika membulat.
Enzo lalu mengambil cincin itu. "Cincin ini juga memiliki fungsi yang sama."
Ia menekan sisi bagian dalam cincin. Dengungan tinggi kembali terdengar, sebelum akhirnya ia matikan.
"Kalau anting hilang atau tidak sempat kamu gunakan, masih ada cadangannya."
Terakhir, Enzo mengangkat jam tangan.
"Kalau ini..."
Ia menekan sebuah tombol kecil yang hampir tak terlihat.
Klik.
Dari sisi jam tangan keluar bilah tipis sepanjang beberapa sentimeter.
"Pisau kecil?"
"Bukan untuk menyerang." Enzo menggeleng. "Ini pemotong darurat. Kalau suatu hari tanganmu diikat tali, cable tie, atau sabuk plastik, alat ini bisa membantumu melepaskan diri."
Ia kemudian melipat kembali bilah kecil itu hingga menghilang ke dalam jam.
Chantika mengambil jam tersebut lalu mengamatinya dari dekat.
"Kalau tidak tahu, orang pasti mengira ini cuma jam tangan biasa."
"Itu memang tujuannya."
Chantika kembali menatap Enzo. "Kamu... benar-benar memikirkan semuanya."
Enzo tersenyum tipis. "Kamu seorang polisi. Aku tahu aku tidak bisa selalu berada di sisimu."
Tatapannya berubah lebih lembut.
"Karena itu, aku hanya ingin memastikan kalau suatu hari aku terlambat datang... kamu tetap punya kesempatan untuk menyelamatkan dirimu sendiri."
Tanpa sadar, Chantika melangkah maju lalu memeluk Enzo. "Terima kasih."
Enzo sempat terkejut. Namun beberapa detik kemudian, senyum hangat mengembang di bibirnya. Perlahan ia membalas pelukan itu, lalu mengecup lembut puncak kepala Chantika.
"Jangan berterima kasih."
"Kenapa?"
"Karena tugasku sebagai suamimu..." senyum tipis kembali terukir di bibirnya, "...adalah memastikan istriku selalu pulang dengan selamat."
Kalimat sederhana itu membuat jantung Chantika berdetak sedikit lebih cepat.
"Masih saja bilang aku istrimu," gumamnya pelan sambil melepaskan pelukannya. "Kita belum menikah."
Enzo tersenyum tipis. "Kamu sudah mengajukan izin menikah ke institusimu?"
"Sudah."
"Kalau begitu..." Enzo menatapnya mantap. "Aku pulang bersamamu."
Chantika mengernyit. "Pulang bersamaku?"
"Iya."
"Buat apa?"
"Melamarmu."
Chantika berkedip.
"Masa aku langsung menikahimu tanpa melamarmu?" Enzo menggeleng pelan. "Harga diriku sebagai pria, sekaligus CEO, mau kutaruh di mana?"
Chantika melepaskan pelukannya. Sudut bibirnya terangkat. Ia menatap Enzo dengan senyum jail. "Gimana kalau nanti kamu ditolak?"
Enzo menyipitkan mata seolah sedang berpikir. "Kalau begitu..." katanya santai, "aku akan bilang, mungkin benihku sudah berkembang di sini."
Ia mengulurkan tangan, lalu dengan iseng menyentuh pelan perut Chantika.
Plak!
Chantika langsung menepuk punggung tangannya.
"Jangan berani ngomong yang aneh-aneh!" protesnya. "Papaku bisa menghajarmu."
Enzo justru tertawa pelan. "Gak apa-apa. Asal setelah itu beliau tetap menyerahkan putri kesayangannya buat aku."
"Dasar!"
Chantika memutar bola matanya, berusaha terlihat kesal. Namun senyum yang terus tertahan di sudut bibirnya membuat usaha itu sia-sia.
Enzo menatapnya lekat-lekat. "Nanti... aku datang sebagai laki-laki yang meminta izin kepada ayahmu."
Chantika tersenyum jail. "Lalu... mas kawin apa yang akan diberikan Tuan CEO pada Bu Polisi?"
Enzo balas tersenyum. "Mas kawinnya sudah kusiapkan."
"Apa?"
Enzo tersenyum tipis. "Besok malam kamu juga akan tahu."
Chantika berdecak kecil. "Nggak seru."
Enzo menatapnya lekat-lekat. "Sesuatu yang mungkin akan membuat seluruh keluargamu terkejut."
Tatapannya begitu yakin. "Dan setelah itu... tidak akan ada jalan lagi untuk membiarkanmu lepas dariku."
...🔸🔸🔸...
..."Orang yang benar-benar mencintaimu tidak akan mengurung langkahmu. Karena cinta sejati bukan tentang mengikat seseorang agar tetap di sisi kita, melainkan memastikan ia selalu memiliki jalan untuk kembali dengan selamat."...
..."Kepercayaan dibangun oleh ketulusan, sedangkan kebenaran ditemukan oleh keberanian untuk mencari jawabannya."...
..."Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Saras di bawa Mamanya ke rumah sakit.
Hasil pemeriksaan sementara, kondisi janin tampak baik.
Saras bodoh tak mengenal dosa. Anak dalam kandungannya baik-baik saja malah tidak senang. Berharapnya buruk.
Ya jelas Sarah saja yang kesakitan itu kan ulahmu. Bayinya baik-baik saja, bayi itu tidak bersalah.
Tidak berpikir jauh waktu punya rencana menjebak Chantika demi investasi menuju keinginannya jadi manager. Akhirnya malah terjebak sendiri.
Karma itu ada Saras. Itu buah dari yang kamu tanam. Kamu menderita, malunya berkepanjangan.
Chantika itu anak yang baik. Keberuntungannya jelas. Akibat ulah Saras yang jahat, Chantika malah bertemu Enzo pria yang baik, menghormati Chantika sebagai perempuan. Tidak mempermainkan perempuan.
Sampai Papanya mengatakan sulit memaafkan anak yang terus berbohong, bahkan setelah semua kebenaran terbuka.
Ternyata Rahardja memilih menikahkan Saras dengan Bryan.
Salahmu sendiri Saras. Sudah tahu Bryan tua, playboy, dan kamu tidak cinta sama Bryan. Tapi kamu tetap menerjang badai demi menjadi manajer.
Beda jauh sama Enzo.
Bryan siap bertanggung jawab menikahi Saras. Saras kan mudah dibodohi.
Namun sepertinya Rahardja tidak menginginkan Bryan menikahi putrinya. Saras.
Raih prestasi dengan baik Saras, bukan sensasi. Laaah, jalanmu yang ditempuh menjijikan kok ingin Papanya percaya. Ingin Papanya tidak membandingkan sama Chantika.
Mamamu menguatkanmu. Jalani saja hidupmu yang sudah hancur itu. Tata kembali hidupmu yang banyak tidak benarnya.
Saras bicara dari awal sudah tidak jujur. Sampai Rahardja mau menemui Bryan dilarang.
Benar-benar sama saja tega melempar kotoran di muka Papanya ini Saras.
Coba Saras tidak hamil, masih getol ngejar Enzo. Rasain sekarang menuai taburannya sendiri.
Sebenarnya juga tidak diperkosa sih. Itu konsekuensi Saras yang telah menjebak Chantika, tapi berakhir Saras sendiri yang terjebak.
Papa Rahardja ini orang tua yang sangat bijaksana. Tidak pakai marah-marah. Kecewa pasti. Dan dia hanya ingin mencari orang yang harus bertanggung jawab.
Saras bilang tidak sanggup kalau semua orang tahu. Jelas malu sekali kalau tahu penyebabnya apa. Mencari investasi dengan cara yang sangat tidak bisa dibenarkan.
Saras si bodoh benar-benar bodoh karena ambisinya ingin menjadi manajer.
Rahardja membaca hasil pemeriksaan medis, usia kehamilan menurut hitungannya jadi teringat saat Chantika hampir dilecehkan Bryan di saat malam bertemu dengan dalih membahas investasi.
Ingat pula tentang Saras yang baru pulang esok paginya dengan kondisinya saat itu.
Dikuatkan oleh Chantika memperlihatkan rekaman CCTV hotel terlihat Saras masuk kamar Bryan malam hari dan baru keluar di pagi hari.
Rahardja kini jelas sudah tahu sesungguhnya apa yang terjadi pada Saras. Rahardja sudah tahu Bryan itu terkenal sebagai playboy.
Pikiran Saras jadi kebayang Papanya yang bakal kasih tahu Mamanya. Betapa sangat kecewa mamanya mendengar itu.
Kakaknya juga pasti akan mengetahui semuanya.
Kalau Enzo mengetahui Saras hamil, ia pasti bakal jijik sama dirinya. Itu kemungkinan yang dirasakan Saras.
Papanya sedang mengambil kertas yang paling atas.
Rupanya Saras hafal sepatu Papanya. Betapa terkejutnya Saras. Papanya sudah memegang kertas hasil pemeriksaan.
Rahasia Saras, bagaimanapun jalannya, saat inilah tersingkap.
Rahardja ke rumah sakit untuk menjenguk sahabat lamanya, melihat berkas berserakan di lantai hanya berniat membantu memungut. Matanya tanpa sengaja membaca tulisan diatas lembar itu.
Rahardja walau terlihat tenang, tentunya merasa terpukul mengetahui kenyataan yang ada pada Saras.
Dokter tetap tidak bisa membantu sesuai keinginan Saras.
Saras keluar dari ruang pemeriksaan, pikirannya kacau.
Ia berjalan tersenggol seorang wanita yang sedang buru-buru. Perempuan yang tidak bertanggung jawab bantuin Saras untuk memunguti lembar kertas-kertas hasil pemeriksaan yang berserakan.
Tidak takut berbuat dosa nih Saras.
Enzo mau jujur bicara tentang Saras yang beberapa kali berusaha mendekatinya.
Mendengar semua itu betapa sedihnya hati Chantika.
Rahardja setuju ngga tuh bermenantukan Bryan.
Rasakan akibatnya dari menjebak kakaknya, akhirnya terjebak sendiri oleh permainannya.
punya rasa malu. Seperti itu kok mau jadi manajer. Harusnya malu tadi malam kelakuannya sudah ditelanjangi Papanya.
Di saat sarapan masih di buka lagi.
Malunya Saras dah gak ketulungan. Tapi mana tahu dia apa itu malu. Tahunya pingin mendapatkan Enzo bagaimanapun caranya. Sudah punya sekutu sih dia. Yang dipikirnya bakal berhasil.
Enzo laki-laki baik. Dia bicaranya baik, sangat menjaga perasaan Papa mertuanya.
Ranti ini Ibu yang gagal mendidik putrinya. Bukan Rahardja. Malah dipikirannya menuduh Rahardja lebih sayang sama Chantika. Saras saja yang banyak tidak tahu diri. Masih berkobar keinginannya.
Ranti mesti dicariin lobang untuk ngumpetin mukanya. Anak dan Ibu sama saja.
Rahardja tahu Saras mulai mendeka0ti suami kakaknya sendiri setelah tahu Enzo bukan karyawan biasa.
Rahardja bicara semua yang dia tahu tentang Saras dalam mencari perhatian dari pria yang sudah menjadi suami kakaknya.
Ranti ini serasa buta dan tuli masih belain anaknya yang gak bener kelakuannya.
Saras juga, bukannya malu sudah serasa ditelanjangi Papanya, semua kelakuannya sudah diketahui. Masih tidak tahu diri.
Masih punya pikiran kalau Enzo dan Chantika pindah rumah tidak akan memiliki kesempatan untuk mendekati Enzo. Niat banget nih mau jadi pelakor.
Setan Saras bersekutu dengan setan Bryan uuupppsss
Kran wastafel di kamar mandinya dibikin bocor.
Minta tolong Enzo dengan sengaja memakai baju basah tanpa bra. Enzo sempat melirik sekilas.
Saras sudah senang bakal berhasil. Enzo mau menolong.
Senyumnya memudar ketika tahu yang datang ke kamarnya bukan hanya Enzo.
CEO disuruh betulin kran.
Pak Joko yang betulin.
Lagi Saras mencari celah untuk mendekati Enzo.
Sayangnya Enzo tahu trik murahan Saras untuk mencari perhatiannya.
Pura-pura terpeleset ketika menuruni tangga.
Kenapa Saras tidak dibiarkan jatuh saja. Biar tahu rasa.
Keduanya sudah berbaring di atas ranjang. Chantika memeluk Enzo, lengan Enzo dijadikan sebagai bantal.
Rasa capeknya langsung hilang begitu sampai rumah, dan tidur memeluk Enzo.
Enzo sangat pengertian sama Chantika. Menghargai keputusan Chantika mau tidaknya tinggal di apartemennya
Harapan Enzo memutuskan pindah ke apartemen dapat melindungi keluarganya.
Semoga saja Chantika segera setuju dengan usulnya Enzo itu.
Posisi duduknya Saras langsung menarik perhatian Rahardja.
Enzo sadar kalau Saras mulai mendekat.
Posisi duduknya dikomentari Papa dan Mamanya, Saras tak punya rasa malu. Ada saja alasannya. Sudah terkontaminasi omongan Bryan.
Rahardja tahu ada sesuatu yang sedang Saras rencanakan.
Mulai berlagak menjadi perhatian mengambilkan nasi, ikan bakar, tapi ditolak Enzo dengan ramah, dan juga menjaga jarak.