NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Putri Mahkota

Transmigrasi Menjadi Putri Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jeje Jennifer

Eloise Morgan, mantan tentara yang dikhianati, terbangun menjadi Bellatrix Alexandra Volkov putri Duke Volkov yang sombong, terobsesi, dan memaksakan pertunangan dengan Putra Mahkota Thiago Felipe Albarado. Awalnya Thiago sangat tidak menyukainya dan merasa terganggu. Namun setelah jiwa baru hadir, Bellatrix membuang segala sifatnya yang dulu, menguasai sihir air, memiliki cincin dimensi dan bertekad hidup mandiri. Ia bahkan berniat memutuskan pertunangan itu. Tapi justru saat Bellatrix mulai menjauh dan tidak lagi mengejarnya, Thiago malah merasa tidak senang dan tidak terima. Sikap dingin dan percaya diri Bellatrix membuatnya penasaran, hingga sang pangeran yang menguasai sihir api itu justru berusaha mempertahankan ikatan yang dulunya ia benci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Meluruskan

Suasana semakin memanas. Tuduhan demi tuduhan mulai dilontarkan secara tidak langsung, namun terasa sangat tajam. Bellatrix menjadi pusat perhatian, namun bukan sebagai sosok yang dihormati, melainkan sebagai sosok yang dicurigai dan dikutuk dalam hati banyak orang.

Namun Bellatrix tidak terlihat gugup sedikit pun. Ia hanya menatap Eleanor dengan tatapan yang tenang, seolah sedang menunggu sampai gadis itu selesai memainkan perannya. Dan saat ia merasa waktunya sudah tepat, ia menoleh sedikit ke arah tempat Thiago berdiri, masih berbicara dengan Raja Selatan, namun sudah mulai terlihat memperhatikan keributan yang mulai terbentuk.

Dengan gerakan anggun dan tenang, Bellatrix melangkah mendekat, lalu tanpa ragu berjalan menuju ke sisi Thiago. Begitu sampai, ia merangkul lengan kanan Thiago dengan lembut namun erat, menempelkan tubuhnya sedikit ke sisi lelaki itu, dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat mesra, penuh kelembutan yang jarang ia tunjukkan.

Gerakan itu membuat Thiago terkejut sejenak, namun seketika itu juga ia merasakan kehangatan yang menjalar dari lengan yang dirangkul itu. Sebelum ia sempat bertanya, Bellatrix menoleh ke arahnya, menatap matanya dengan pandangan yang sangat lembut, suaranya terdengar pelan namun cukup jelas untuk didengar oleh orang-orang di sekitarnya, bahkan terdengar sangat manja dan akrab:

“Thiago sayang… maaf mengganggu pembicaraanmu sebentar. Ada hal yang ingin aku tanyakan secara langsung, agar tidak ada kesalahpahaman yang terus menyebar di antara tamu kita.”

Begitu panggilan itu keluar, jantung Thiago terasa berhenti berdetak sesaat, lalu berpacu dua kali lebih cepat dari biasanya. Panggilan “sayang” yang terdengar begitu alami, lembut, dan penuh keakraban membuat seluruh perhatiannya seketika terpusat hanya pada Bellatrix.

Wajahnya yang biasanya tenang dan tegas kini sedikit memerah di bagian telinga, dan matanya menatap gadis itu dengan pandangan yang penuh kekaguman dan rasa ingin melindungi yang meluap-luap. Ia bahkan lupa sejenak bahwa Raja Selatan masih berdiri di hadapannya.

“Tentu saja, Sayang. Katakan saja apa yang ingin kau tanyakan,” jawab Thiago, suaranya juga terdengar lebih lembut dan hangat dari biasanya, membuat siapa pun yang mendengarnya merasa jelas bahwa hubungan mereka bukan sekadar pertunangan biasa.

Bellatrix tersenyum tipis, senyum yang terlihat tulus dan penuh keyakinan, lalu ia menoleh kembali ke arah Eleanor dan kerumunan yang mulai memadati tempat itu. Tangannya tetap melingkar erat di lengan Thiago, seolah tidak ingin melepaskannya bahkan sedetik pun.

“Terima kasih, Thiago. Begini saja, ada banyak hal yang terdengar hari ini, dan ada juga yang dikatakan oleh Lady Eleanor tadi. Ia bilang bahwa kalian pernah memiliki hubungan yang dekat, bahwa posisi ini seharusnya menjadi miliknya, dan aku dianggap sebagai orang yang merebut apa yang bukan hakku. Jadi aku ingin bertanya secara langsung di hadapan semua orang ini, agar tidak ada lagi keraguan atau tuduhan yang tidak jelas. Apakah benar, kau pernah memiliki hubungan asmara atau ikatan janji dengan Lady Eleanor dari keluarga Count Valdo?”

Suasana seketika menjadi hening. Semua mata tertuju pada Thiago, menunggu jawaban dari mulutnya sendiri. Bahkan Eleanor menahan napas, berharap lelaki itu setidaknya mengakui bahwa mereka pernah dekat, meskipun tidak ada janji resmi.

Namun sebelum Thiago sempat membuka mulutnya, Bellatrix melanjutkan ucapannya dengan nada yang tetap tenang, namun penuh ketegasan yang membuat suasana semakin terasa berat:

“Jika memang jawabannya ya, jika memang benar dia yang seharusnya berdiri di sini, maka aku dengan senang hati akan melepaskan lengan ini sekarang juga. Aku bahkan sudah memikirkan hal ini sejak lama. Memang benar awalnya aku yang mengejar lelaki ini, tapi aku juga sudah mengajukan pembatalan. Sesungguhnya, aku sudah mengajukan permohonan pembatalan pertunangan ini berkali-kali kepada Kaisar, kepada Permaisuri, dan juga kepada lelaki ini yang berdiri di sampingku. Aku tidak ingin memaksakan diri menjadi calon permaisuri jika itu hanya akan membuatku terikat dalam posisi yang tidak diinginkan, dan jika itu membuat orang lain merasa terluka. Tapi lihatlah… justru dia yang terus-menerus menolak permohonanku. Dia yang terus mendesak, yang terus memohon, bahkan yang memaksaku untuk tetap menerima posisi ini, dengan alasan bahwa tidak ada orang lain yang bisa mendampinginya selain aku.”

Ucapan itu membuat semua orang tertegun. Walaupun awalnya memang dia yang menyukai Pangeran, tapi memang terlihat jelas kalau sekarang sang Pangeran yang terlihat tidak mau berpisah.

Bellatrix menoleh lagi ke arah Thiago, tatapannya masih lembut namun penuh makna. “Jadi, jawablah, Thiago. Apakah dia benar-benar pernah menjadi bagian dari masa lalumu? Jika ya, ambillah dia, dan biarkan aku pergi dengan tenang. Aku tidak akan memegang apa yang tidak ingin dipegang dengan hati yang tulus.”

Jantung Thiago yang sudah berdebar kencang kini terasa semakin hangat melihat cara Bellatrix berbicara dan bertindak. Ia mengerti apa yang sedang dilakukan gadis itu, dan ia menyukainya bahkan sangat menyukainya. Dengan tenang, ia meluruskan tubuhnya, menatap ke arah Eleanor dengan tatapan yang datar, dingin, dan sama sekali tidak mengenali sosok gadis itu.

“Lady… Saya bahkan tidak ingat pernah mengobrol lebih dari dua kali denganmu seumur hidup. Apalagi memiliki hubungan dekat, apalagi membuat janji apa pun. Jika ada yang mengira kami pernah terlihat bersama, itu hanya kebetulan semata atau hanya kesalahpahaman belaka. Saya tidak pernah memiliki perasaan apa pun, dan tidak pernah menganggapmu sebagai seseorang yang istimewa. Saya bahkan tidak mengingat anda. Anda saja yang terlalu berkhayal dan mengaku-ngaku”

Suara Thiago terdengar jelas dan tegas, tanpa ragu sedikit pun. Ia melanjutkan sambil memandang ke arah seluruh kerumunan yang menyaksikan kejadian itu.

“Dan mengenai apa yang baru saja dikatakan Bellatrix itu semuanya benar. Dia yang sejak awal ingin mundur, dia menolak saya dengan keras karena sudah tidak menyukai saya. Tapi sayalah yang menolak. Saya lah yang meminta Kaisar agar pertunangan ini tetap berlaku. Saya lah yang mengejar dia, yang meyakinkannya, yang tidak mau melepaskannya begitu saja. Jika ada yang memaksa, maka akulah yang memaksa dia untuk tetap berada di sisi saya, bukan sebaliknya.”

Pernyataan itu meledak bagaikan petir di tengah ruangan. Semua orang tertegun, mulut mereka terbuka lebar tidak percaya. Cerita yang selama ini beredar, yang sudah menjadi keyakinan banyak orang, ternyata dibalikkan sepenuhnya oleh kenyataan yang diucapkan langsung oleh Putra Mahkota sendiri.

Eleanor berdiri membeku, air matanya terhenti di pipi, wajahnya berubah pucat pasi, lalu perlahan memerah karena malu dan terpojok. Ia tidak menyangka Thiago akan menjawab sejelas dan seketegas itu, bahkan mengakui bahwa dialah yang justru mendesak Bellatrix.

“Tapi… tapi banyak orang melihatnya… kita pernah berbicara, kita pernah hadir di acara yang sama…” gumam Eleanor terbata-bata, suaranya sudah tidak lagi terdengar meyakinkan.

Thiago menatapnya sekilas, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke Bellatrix, mengabaikan Eleanor seolah ia tidak lebih dari orang asing yang lewat.

“Berada di tempat yang sama bukan berarti memiliki hubungan. Jangan terlalu melebih-lebihkan sesuatu, Lady. Anda yang berharap bukan orang lain. Tidak ada hubungan apa pun antara saya dan anda. Satu-satunya wanita yang berdiri di sisi saya, satu-satunya yang saya inginkan, dan satu-satunya yang akan menjadi pendamping takhta bersama saya hanyalah Bellatrix.”

Bellatrix merasakan lengan yang ia rangkul itu kini digenggam balik oleh Thiago dengan erat dan hangat, seolah memberi dukungan penuh. Ia menoleh kembali ke arah Eleanor dan kerumunan yang mulai terdiam malu.

“Sudah dengar semuanya, bukan? Jadi sekarang, siapa yang sebenarnya merebut, dan siapa yang sebenarnya dikejar? Jika ada yang merasa dirugikan, tanyalah kepada orang yang memiliki hak untuk menentukan pilihannya sendiri. Jangan menuduh tanpa bukti, hanya karena mendengar cerita yang belum tentu benar. Dan mulai hari ini, ingatlah baik-baik. Aku tidak berdiri di sini karena aku memaksa, tapi karena lelaki di samping ini tidak mau melepaskanku. Jika dia sendiri yang memilihku, maka tidak ada satu pun dari kalian yang berhak mempertanyakannya.”

Suasana yang tadinya memanas dan penuh provokasi kini berubah menjadi hening yang penuh rasa malu. Para penuduh, para penyebar kabar buruk, dan para pendukung Eleanor kini terdiam, tidak berani lagi membuka mulut. Semua tuduhan yang mereka lontarkan hancur berkeping-keping hanya dalam waktu singkat.

Eleanor berdiri terpaku, tidak tahu harus berkata apa lagi. Wajahnya terasa terbakar oleh tatapan banyak orang yang kini berubah menjadi pandangan kasihan atau bahkan penghakiman baru tapi kali ini pada dirinya sendiri. Ia merasa terjebak, terpojok, dan tidak memiliki jalan keluar lagi. Dengan kepala tertunduk dalam, ia akhirnya mundur perlahan, lalu berbalik dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu, diikuti oleh kerabatnya yang juga merasa malu atas kelakuan mereka.

Begitu keributan itu mereda dan suasana kembali tenang, Bellatrix baru melepaskan sedikit rangkulannya, namun tetap tidak menjauh dari sisi Thiago. Ia menoleh ke arah lelaki itu, dan mendapati Thiago sedang menatapnya dengan pandangan yang begitu dalam, penuh rasa sayang dan kekaguman yang meluap-luap.

“Kau berani sekali membalikkan keadaan begitu saja,” bisik Thiago, suaranya hanya terdengar oleh Bellatrix.

Bellatrix tersenyum miring, sedikit menyeringai bangga, namun matanya tetap lembut. “Aku hanya ingin menyelesaikannya dengan cara yang paling tepat. Lagipula, jika kau memang memaksaku, maka biarkan semua orang tahu hal itu, bukan sebaliknya. Dan… panggilan itu hanya untuk membuat mereka percaya, bukan?”

Thiago mendekatkan wajahnya sedikit, suaranya menjadi lebih rendah dan penuh makna. “Mulai sekarang, panggil saja begitu sesering mungkin. Aku tidak akan keberatan sedikit pun, bahkan aku akan sangat menyukainya.”

Bellatrix mendengus dan sedikit mendorong Thiago menjauh.

Setelah suasana di aula utama perlahan mereda dan keributan akibat tuduhan Eleanor sudah berakhir, malam semakin larut. Para tamu undangan satu per satu mulai berpamitan dan meninggalkan istana, meninggalkan ruangan yang tadinya penuh sesak kini menjadi lebih lengang dan tenang. Hanya tersisa sejumlah kecil pejabat tinggi, keluarga bangsawan inti, serta kerabat dekat yang masih bertukar kata atau bersiap untuk pulang.

Bellatrix berdiri sejenak di dekat tiang penyangga, menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya yang sempat berpacu kencang. Meskipun ia sudah memenangkan perdebatan tadi, rasa lelah dan muak mendengar segala tuduhan yang tidak berdasar itu masih terasa membekas di hatinya. Ia merasa butuh udara segar dan ketenangan sejenak, jauh dari pandangan mata serta bisikan yang masih terasa mengikuti di belakangnya.

Tanpa banyak bicara, ia melangkah perlahan menjauh dari keramaian, menuju lorong samping yang mengarah ke balkon luas di sisi barat istana. Tempat yang sering dikunjungi orang-orang yang ingin menenangkan pikiran, menghadap langsung ke taman istana yang gelap namun indah diterangi cahaya rembulan.

Ia baru saja membuka pintu kaca balkon dan melangkah setengah badan ke luar, ketika suara langkah kaki cepat dan berat terdengar menyusul dari belakang.

“Jangan pergi dulu, Bellatrix! Kita belum selesai bicara!”

Suara itu menusuk telinga, membuat Bellatrix berhenti melangkah. Ia menoleh perlahan, dan mendapati sosok Eleanor berdiri di sana dengan wajah yang sudah tidak lagi terlihat sedih atau menangis seperti tadi. Sebaliknya, wajahnya kini memerah menahan amarah, matanya melotot tajam penuh kebencian, dan tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. Ia tidak menerima kekalahan yang begitu menyakitkan di depan banyak orang, dan rasa malu yang ia rasakan berubah menjadi api yang membakar pikirannya. Ia tidak mau mengakui bahwa posisinya memang tidak pernah ada, dan ia menyalahkan Bellatrix atas segala rasa sakit yang ia alami malam itu.

Bellatrix hanya menatapnya dengan tatapan datar, dingin, tanpa sedikit pun rasa takut atau terkejut. “Kita sudah bicara cukup banyak tadi. Semua orang sudah mendengar jawabannya. Apa lagi yang ingin kau katakan?”

Eleanor melangkah mendekat, suaranya meninggi sedikit namun masih berusaha dikendalikan agar terdengar seperti sedang berdebat, bukan berteriak. “Cukup dengan kata-kata manismu dan aktingmu yang memukau itu! Kau pikir semua orang akan percaya begitu saja? Kau memutarbalikkan fakta, memanipulasi situasi, dan memikat hati Putra Mahkota dengan cara yang licik! Kau hanya gadis yang tidak tahu diri, yang berani mengambil tempat yang bukan hakmu!”

“Sudah kubilang, jika itu bukan hakku, maka aku tidak akan mempertahankannya,” jawab Bellatrix tenang, namun nada bicaranya terasa sangat tegas. “Tapi kenyataannya, bukan aku yang meminta dia untuk memilihku. Jika ada yang merasa dirugikan, itu bukan salahku, tapi salah pemahamanmu sendiri yang terlalu berharap pada sesuatu yang tidak pernah dijanjikan.”

Ucapan itu justru membuat Eleanor semakin marah. Ia mendekat lagi, hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa langkah saja, lalu mulai melontarkan kata-kata yang semakin kasar dan menyakitkan, berusaha memancing emosi Bellatrix agar kehilangan kendali.

Ia berharap gadis itu akan terbawa perasaan, berteriak, bahkan sampai menampar atau memukulnya sehingga ia bisa berteriak minta tolong, memutarbalikkan keadaan lagi, dan membuat Bellatrix terlihat sebagai wanita yang kasar dan tidak beradab.

“Kau pikir kau hebat begitu? Kau hanyalah putri Duke Volkov yang beruntung semata! Tanpa nama ayahmu, kau tidak akan pernah bisa berdiri setinggi ini! Kau tidak punya kehalusan, tidak punya kesopanan, dan hanya tahu menggunakan akal licik! Dulu kau mengejar-ngejar dia seperti anjing yang lapar, dan sekarang kau berpura-pura menjadi wanita yang dihormati? Dasar wanita rendahan!”

Kata-kata itu dilontarkan satu per satu, semakin tajam, semakin menyakitkan, dengan harapan pasti akan membuat Bellatrix meledak. Namun Bellatrix hanya menatapnya dengan tatapan dingin, lalu menggeleng pelan. “Kau sudah kehabisan alasan, sampai harus melontarkan kata-kata kotor seperti itu? Sungguh memalukan. Lagipula ayahku seorang Duke. Dibandingkan ayahmu yang hanya seorang Count rendahan sama sepertimu.”

Setelah berkata begitu, Bellatrix berniat melangkah melewatinya untuk benar-benar masuk ke balkon dan menutup pintu, namun Eleanor tidak membiarkannya pergi begitu saja. Ia menghalangi jalan Bellatrix, tangannya terangkat seolah ingin mendorong, namun justru mengubah arah gerakannya dengan cepat ia berniat menampar pipinya sendiri dengan keras untuk memancing simpati dan menjebak Bellatrix.

Namun belum sampai telapak tangan Eleanor menyentuh kulit pipinya sendiri, sebuah kejadian yang jauh lebih mengerikan terjadi lebih dulu.

Tanpa jeda, tanpa berpikir panjang, seakan tubuhnya sudah bereaksi lebih cepat daripada akal sehatnya Bellatrix memutar tubuhnya sedikit, lalu dengan gerakan yang sangat keras ia membenturkan sisi kepalanya ke dinding batu yang kokoh di sebelahnya, seolah-olah ia baru saja didorong dan dibenturkan paksa oleh orang lain.

BRAK!

Suara benturan itu terdengar sangat keras dan menyayat hati, bergema di seluruh lorong yang sepi. Darah seketika memancar keluar dari pelipis Bellatrix, mengalir deras membasahi wajah, leher, dan bahu gaunnya yang berwarna biru gelap. Ia terhuyung mundur beberapa langkah, hampir jatuh, namun tetap berusaha berdiri tegak meskipun matanya sedikit meredup karena rasa sakit yang menyengat.

1
Dewiendahsetiowati
hadir thor
khemjira
lnjt ka, cium aja udh🤭🤭🤭
Noveni Lawasti Munte
hahhaha si sbella tidak sadar masuk perangkap🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!