Kaelus Danurwenda terkejut ketika mendapati dirinya di pagi hari tanpa mengenakan pakaian. Dia mengumpat marah ketika mengingat kejadian tadi malam.
Kaelus mencari jejak si wanita namun nihil. Pencarian Kael berlangsung selama 4 tahun lamanya, tapi tak menghasilkan apapun.
Ketika harapannya pupus, dan hendak menerima perjodohan yang diatur orang tuanya, tiba-tiba seorang bocah dengan mata coklat kekuningan menabrak tubuhnya.
"Maap Om, Al nda senaja."
Debaran aneh memenuhi hati Kaelus Wajah bocah itu sangat tidak asing di matanya.
"Kamu ... ."
"Maaf Tuan, anak saya berlari tanpa arah. Permisi."
Melihat ibu dari anak itu, Kaelus samar-samar mengingat tentang wanita di malam yang salah itu.
Apa yang akan dilakukan Kaelus? Apa dia akan melanjutkan perjodohan yang diatur, atau malah mencari ibu dan anak tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ATSP 23
"Kak Kael! Kak tunggu! Kak siapa wanita itu! Kaeeeeel!!!"
Iras terus mengejar Kael. Dia tak peduli meski Rowan menghalangi jalannya. Ira juga mendorong tubuh Rowan yang terus berada di depannya.
"Dasar cewek nggak tahu malu, udah juga ditolak tapi masih nggak tahu diri. Geuleuh!" ucap Rowan sengit.
"Brisik, minggir. Aku mau bicara sama Kak Kael," sahut Iras tak kalah sengitnya.
"Dia nya nggak mau tuh ngomong sama kamu. Udah apa, jangan ganggu orang mau pergi. Dan jangan buat keributan di sini semakin besar. Kalau nggak, aku bakalan panggil keamanan buat ngusir kamu secara tidak hormat, lalu aku viralin di media sosial. Silakan lakukan apa yang mau kamu lakukan."
Ucapan Rowan kali ini berhasil membuat Iras berhenti mengejar Kael. Wanita itu juga langsung diam, dan tak memberontak.
"Nah sekarang sana pergi," ucap Rowan lagi setelah memastikan bahwa Kael meninggalkan perusahaan. Rowan tak ingin usahanya gagal. Dia sudah berusaha membujuk Kael dan meyakinkan sang tuan untuk mendekati calon istri dan anaknya. Rowan tak ingin jadi sia-sia hanya karena ulah wanita ini.
"Brengsek, kamu ini apa sih? Kenapa selalu jadi penghalang hubungan ku degan Kak Kael? Apa untungnya kamu ngelarang aku bisa deket sama dia?" tanya Iras. Ia sangat menggebu-gebu saat bertanya demikian kepada Rowan.
Bagi Iras, Rowan benar-benar pengganggu dan penghalang. Dia kiga berpikir bahwa mungkin saja jika tidak ada Rowan, saat ini Kael sudah berhasil di dapatkannya.
"Kenapa ya? Ah ya, aku nggak pengen punya nyonya bos kayak kamu. Soalnya kamu bukan orang yang layak buat jadi istri bos ku. So, aku akan berusaha melakukan apapun agar kamu nggak jadi nyonya di kediaman Danurwenda. Puas!"
Grrrrtttt
Iras mengeratkan gigi-giginya, tatapannya tajam ke arah Rowan. Dia merasa terhina dengan ucapan asisten Kael tersebut.
Bagiamana bisa seorang pembantu berani berkata demikian, begitulah yang ada di kepala Iras. Dia menganggap bahwa Rowan tak lebih dari seorang pembantu di matanya karena memang dia hanya asisten pribadi Kael.
Iras tidak tahu saja bahwa Rowan adalah tangan kanan bag Kael dimana banyak hal diurusnya bahkan sesuatu yang rahasia pun diketahui olehnya.
"Brengsek, dasar jongos sialan," umpat Iras.
"Bodoo, meksi aku jongos tapi aku jongos terhormat yang punya otak encer. Bukannya kamu, cewek yang ngejar-ngejar cowok, dimana tuh cowok sama sekali nggak suka. Idih malu seharusnya. Sudah sana pergi, tempat ini bukan tempat bermain atau nongkrong. Ini adalah tempat bagi orang yang mau bekerja."
Iras melangkah sambil menghentakkan kakinya. Mulutnya tak berhenti mengumpat. Dadanya naik turun karena nafasnya tersengal-sengal mengingat perlakuan Rowan.
"Sialan, brengsek, ughhh dasar jongos brengsek. Tenang Iras, tenang. Kael, aku harus nyusul Kael. Aku perlu tahu siapa wanita yang disukainya itu. Siapa dia? Apa lebihnya dia? dan kenapa Kael lebih memilih wanita itu dari pada aku? Aku nggak bisa diam kayak gini sebelum dapat jawaban dari dia."
Iras bergegas mengemudikan mobilnya. Dia pikir Kael pulang ke kediaman, sehingga Iras pun menyusul ke kediaman Danurwenda. Tanpa diketahuinya, bahwa rumah itu saat ini sama sekali tidak ada orang.
Kael tidak pulang ke rumah tersebut, dia pulang ke villa dimana Rosa dan anaknya berada.
Sebelum sampai di villa, lebih dulu Kael mampir ke sebuah toko mainan. Karena dia tak tahu apa mainan yang cocok untuk anak usia 3 tahun, Kael pun meminta rekomendasi kepada pegawai toko. Dan dia memberikan semua yang pegawai toko itu rekomendasikan.
"Bapak beli untuk dijual lagi?" tanya pegawai tok tersebut. Dia heran karena Kael benar-benar membeli dalam jumlah yang tidak wajar bagi seorang yang katanya hanya memiliki satu anak.
"Nggak, buat anak aku kok. Terimakasih untuk rekomendasinya," jawab Kael sambil membawa semua mainan yang dibelinya ke mobil. Pegawai toko juga membantu, pasalnya tak mungkin Kael membawanya seorang diri.
Setelah dari toko mainan, Kael berhenti di sebuah toko bunga. Namun kali ini dia tidak bingung saat untuk memutuskan untuk membeli bunga.
"Saya mau membeli buket bunga mawar dengan semua warna yang ada di sini," begitulah permintaan Kael kepada si penjual bunga.
Dengan mengingat nama Rosalina, Kael langsung memutuskan untuk memberi wanita yang telah memberinya satu anak itu buket bunga mawar. Nama Rosa sudah cukup membuat Kael yakin untuk memberi bunga mawar kepada ibu dari Al.
Kael tersenyum lebar saat bunga yang diinginkannya sudah jad sebuah buket. Warna merah, merah muda, jingga, putih dan juga baby blue, sungguh tampak indah di mata.
"Aku harap Rosa dan Al menyukainya. Meski sungguh aku sangat takut untuk menemui mereka," ucapnya lirih.
Kael menggenggam setir kemudinya dengan sangat erat. Dia juga mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan saat hendak kembali menjalankan mobilnya.
"Tuhan, bantu aku untuk bisa dekat dengan anak dan wanita itu," doanya sungguh-sungguh.
Bruuuummmm
Mobil melaju dengan cepat, Kael begitu fokus di dengan perjalannya, hingga pada akhirnya dirinya pun sampai di villa milik keluarganya.
Degh!
Dada Kael berdegup dengan sangat hebat. Jantungnya juga berpacu dengan begitu cepatnya ketika melihat Al dan Rosa yang tengah bermain di taman. Cuaca yang mendung dan tidak panas, sangat cocok untuk melakukan aktivitas luar ruangan.
"Jangan cepat-cepat larinya, Nak!" pekik Griz yang muncul dari dalam rumah.
Meski masih berada di dalam mobil, tapi Kael bisa melihat ibunya yang tersenyum lebar ke arah Al. Pun dengan ayahnya, Ben bahkan ikut bermain dengan Al.
Klak!
Kael keluar dari mobil sambil membawa buket bunga mawar yang tadi dibelinya dan juga sebuah mobil mainan. Dia tidak mungkin bisa membawa semua mainan dengan sekali angkut, tapi Kael ingin segera memberikan mainan yang dibeli tadi untuk Al.
"Halo Nak, Ayah punya mainan untuk kamu. Apa Al mau membantu Ayah untuk membawanya. Tangan Ayah penuh, sedikit sulit untuk membawanya sendiri,"ucap Kael saat Al ternyata berlari ke arahnya.
"Ayah? Apa benel Om ini adalah ayahku? Tapi kata Ibu, ayah uda menindal?"
Degh!
Kael tersentak, namun dia kemudian tersenyum. Tentu dirinya cukup paham mengapa Rosa berkata demikian kepada putranya.
Sedangkan Ben, dia juga hanya tersenyum kecut. Ungkapan yang diberikan Rosa tidak salah, dan Ben maklum akan hal tersebut.
"Ibu salah, Ayah belum meninggal kok. Ini buktinya Ayah ada di sini. Ayah minta maaf, karena nggak segera nemuin Al dan Ibu. Apa Al mau memaafkan Ayah?"
Bocah tu terdiam, agaknya Al bingung.
Tak ingin membuat Al semakin bingung, Kael pun mengubah pertanyaannya.
"Baiklah, bisakan Al bantu Ayah untuk membawa mainan ini? Ini adalah mainan untuk Al dari Ayah. Apa Al mau menerimanya?"
"Baiklah, Al telima. Terlimakasih banyak."
Kael tersenyum, setidaknya Al tidak menghindari dirinya. Dan setidaknya Al mau menerima apa yang diberikannya.
Sungguh sangat berbeda dengan Al, Rosa bahkan sudah menghilang dari kursinya. Wanita itu segera masuk ke rumah sebelum Kael bisa menatap wajahnya.
TBC
n faham
semangat n sehat sehat author🩷🩷
teman nya si kael gk d kasih pelajaran,,karna dia mereka jd sengsara