Hari itu seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Alea. Namun, sebelum ijab kabul dimulai, calon suaminya menghilang bersama uang mahar dan meninggalkan utang miliaran rupiah atas nama keluarga Alea. Di tengah kekacauan itu, muncul seorang pria asing bernama Raka Arvin. Dengan tenang ia menawarkan bantuan. "Aku akan menikahimu. Sebagai gantinya, kau harus menandatangani satu perjanjian." Tak punya pilihan lain, Alea menerima. Selama setahun, mereka hidup sebagai suami istri tanpa cinta. Raka terlihat seperti pria biasa yang bekerja sebagai konsultan hukum. Padahal... Ia adalah penyidik khusus yang sedang menyamar untuk membongkar kasus korupsi dan pencucian uang terbesar dalam satu dekade. Target utamanya? Ayah Alea. Semakin lama tinggal serumah, Raka justru menemukan sisi Alea yang berbeda dari bayangannya. Perempuan itu tidak pernah menikmati harta keluarganya. Ia bahkan diam-diam membantu para korban perusahaan milik ayahnya. Saat cinta mulai tumbuh, sebuah bukti baru muncul. Semua kejahatan yang dituduhkan kepada ayah Alea ternyata hanyalah lapisan pertama. Dalang sebenarnya justru seseorang yang selama ini paling dipercaya Alea. Kini Raka harus memilih. Menjalankan tugasnya sebagai penyidik... atau melindungi wanita yang telah mengubah hidupnya. Dan Alea harus menentukan satu keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Menyelamatkan ayahnya... atau membantu suaminya mengungkap kebenaran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32 - Arsip yang Terbakar
Suasana di rumah persembunyian berubah mencekam.
Semua mata tertuju pada layar ponsel Kirana.
Foto ruang arsip yang hangus terbakar memenuhi layar.
Di bagian bawahnya tertulis sebuah pesan singkat.
> **Register Nomor 47 sudah kami musnahkan. Sekarang, giliran kalian.**
Alea memejamkan mata.
"Mereka selalu selangkah lebih cepat."
Raka justru menggeleng.
"Tidak."
"Kalau mereka mengirim pesan ini..."
"...berarti mereka ingin kita percaya bahwa arsip itu benar-benar hilang."
Adrian mengangkat alis.
"Maksudmu?"
"Kalau arsipnya benar-benar musnah, mereka tidak perlu repot memberi tahu kita."
Ruangan mendadak hening.
Semua mulai menyadari kemungkinan itu.
Musuh sedang bermain dengan psikologi mereka.
---
Pagi berikutnya.
Adrian menerima laporan resmi dari kepolisian.
"Ada yang aneh."
Ia meletakkan berkas di atas meja.
"Ruang arsip memang terbakar."
"Tapi..."
"Api hanya menghanguskan ruang depan."
"Bagian bawah tanah tidak tersentuh."
Raka langsung berdiri.
"Berarti masih ada kemungkinan arsipnya selamat."
Adrian mengangguk.
"Masalahnya..."
"Seluruh area sudah disegel."
"Tidak ada yang boleh masuk."
Darma tersenyum tipis.
"Kalau melalui pintu depan memang tidak bisa."
Semua menoleh kepadanya.
"Tapi gedung tua itu punya akses lain."
---
Siang harinya...
Mereka berkumpul di depan sebuah denah bangunan tua.
Darma menunjuk bagian belakang gedung.
"Dulu, saat gedung ini masih digunakan pada masa kolonial, ada lorong servis yang menghubungkan ruang arsip dengan ruang bawah tanah."
"Aksesnya?"
"Sudah ditutup."
"Tapi tidak pernah benar-benar dihancurkan."
Adrian mengangguk.
"Aku bisa membuka segelnya."
"Tidak."
Darma menggeleng.
"Kalau polisi masuk secara resmi..."
"...orang-orang Leonard akan langsung tahu."
Raka memahami maksudnya.
Mereka harus bergerak diam-diam.
---
Malam itu...
Empat orang bergerak menuju gedung arsip lama.
Raka.
Alea.
Adrian.
Dan Kirana.
Melati bersikeras tinggal bersama Pram dan Darma di rumah persembunyian.
"Aku tidak ingin kehilangan anak-anakku lagi," katanya sebelum mereka berangkat.
Kalimat itu membuat Raka terdiam cukup lama.
Dua puluh tahun lalu mereka terpisah.
Kini, ibunya mulai berani memanggil mereka dengan sebutan yang selama ini terkubur.
**Anak-anakku.**
---
Gedung Pengadilan Negeri Batavia tampak gelap.
Garis polisi masih membentang di pintu utama.
Bau asap kebakaran masih terasa.
"Kita lewat belakang."
bisik Adrian.
Mereka menyusuri lorong sempit hingga tiba di sebuah sumur tua yang tertutup semak.
"Inilah jalannya."
Darma ternyata benar.
Di balik penutup besi sumur terdapat tangga spiral yang menuju ke bawah tanah.
---
Udara di bawah terasa dingin.
Senter Kirana menyapu lorong batu yang dipenuhi debu.
Langkah mereka bergema pelan.
Sesekali terdengar tetesan air dari langit-langit.
Setelah berjalan sekitar lima menit...
Mereka tiba di sebuah pintu besi tua.
Di atasnya masih terpasang papan kecil.
**RUANG PENYIMPANAN KHUSUS**
Adrian mencoba memutar gagangnya.
Terkunci.
"Kirana."
Perempuan itu mengeluarkan seperangkat alat pembuka kunci.
Kurang dari satu menit...
**Klik.**
Pintu terbuka.
"Masuk."
---
Ruangan di balik pintu jauh lebih utuh daripada dugaan mereka.
Rak-rak besi masih berdiri.
Puluhan boks arsip tersusun rapi.
"Mereka tidak sempat sampai ke sini."
gumam Alea.
Raka segera mencari label.
"A... B... C..."
Lalu...
Ia berhenti.
Di sudut ruangan terdapat lemari baja dengan tulisan:
**REGISTER 40–50**
Jantungnya berdegup kencang.
"Ketemu."
Adrian membuka lemari itu.
Register nomor 47 masih ada.
Buku tebal berwarna cokelat tua.
Sampulnya berdebu, tetapi utuh.
Alea tersenyum lega.
"Kita berhasil."
Namun ketika Raka membuka halaman pertama...
Senyumnya perlahan menghilang.
Semua halaman...
Kosong.
Tak ada satu pun tulisan.
Tak ada tinta.
Tak ada cap.
Hanya lembaran putih.
"Bagaimana bisa?" bisik Alea.
"Itu bukan buku arsip."
Suara Kirana terdengar pelan.
"Itu buku umpan."
Tiba-tiba...
Sebuah suara tepuk tangan menggema dari ujung lorong.
**Tepuk... Tepuk... Tepuk...**
Empat orang itu langsung menoleh.
Dari balik bayangan muncul seorang pria tua mengenakan jas abu-abu.
Rambutnya memutih.
Tongkat kayu hitam berada di tangan kirinya.
Ia tersenyum tenang, seolah sudah menunggu mereka sejak lama.
"Akhirnya..."
"...kalian sampai juga."
Raka menatapnya tajam.
"Siapa kamu?"
Pria itu tertawa pelan.
"Aku sudah menggunakan banyak nama."
"Leonard mengenalku dengan nama yang berbeda."
"Pram mengenalku sebagai investor."
"Dunia mengenalku sebagai orang yang sudah meninggal."
Ia melangkah keluar dari bayangan.
Sorot matanya berhenti tepat pada Raka.
"Tapi untukmu..."
"...aku adalah orang yang seharusnya tidak pernah kamu temui."
Jantung Raka berdetak semakin cepat.
Pria tua itu mengangkat tongkatnya perlahan.
Di jari manis tangan kanannya terpasang cincin bergambar burung garuda.
Cincin yang sama...
Dengan yang ada di foto lama para pendiri Garuda Capital.
Pria itu tersenyum.
"Lama tidak bertemu..."
"...Anakku."
**Bersambung...**