Sejak lahir, Varren Kaelor tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.
Di balik wajah tampan yang dikagumi banyak orang, tersembunyi sebuah rahasia yang bahkan tidak boleh ia akui pada dirinya sendiri. Setiap langkah, setiap senyum, bahkan setiap hubungan yang ia jalani hanyalah bagian dari sandiwara yang dipaksakan oleh seseorang.
Ketika harus memasuki sekolah paling bergengsi di negeri itu, Varren yakin ia hanya perlu bertahan seperti biasanya.
Namun, semuanya berubah saat seseorang mulai menembus tembok yang selama ini ia bangun.
Semakin dekat orang itu, semakin sulit Varren membedakan mana kebohongan yang harus dipertahankan, dan mana perasaan yang tidak seharusnya pernah tumbuh.
Lalu... apa yang sebenarnya disembunyikan oleh keluarga Kaelor?
"Aku tidak takut jika dunia membenciku. Aku hanya takut... saat dunia mengetahui siapa diriku sebenarnya." — Varren
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Pertama..
Varren seharian di kamarnya hari ini usai pulang sekolah, jadi karenanya ia berniat ke pasar saja membeli bahan masak. Besok hari libur dan ia akan menyelesaikan misi pertamanya. Harusnya Varren bisa pulang ke mansion, tapi ia memilih tidak pulang untuk menghindari Shena. Ia harus mengumpulkan uang dahulu agar bisa menjemput Ferdinand dan Mbak Rini.
Memang benar kemarin tawaran dari Alvino itu sudah sangat bagus dan menjamin. Tapi di hidup Varren, tidak ada utang dan ia tidak ingin berutang. Jadi ia akan usaha sendiri dalam misi mendapatkan uang dan rumah untuk orang-orang yang ia sayangi.
"Mau kemana Ren? Pulang kampung kah?" tanya Reja melihat Varren sudah menggunakan celana pendek dan baju putih keluar dari kamar dan mengunci kamarnya.
Ia sendiri di sana ada Tavian dan Sylas yang duduk sembari bermain HP masing-masing.
Varren menoleh dan tersenyum. "Oh gue mau ke pasar beli bahan makanan. Gue mau masak soto deh kayaknya besok. Besok gue nggak pulang ke rumah soalnya." jelas Varren tenang kepada ketiga teman sekamarnya.
"Serius? Wah.." Reja berteriak menatap Varren berbinar indah.
Varren mengangguk melihatnya. "Kita juga nggak ada yang pulang sih, dan malam nanti kita ada acara. Loe mau ikut ngga—" Lengannya digeplak oleh Tavian meliriknya tajam lalu melirik Sylas yang diam saja menatap HP-nya dingin.
Reja mengusap lengannya pelan menatap Sylas tak berani. Dirinya salah ucap tadi. Ia menatap Varren yang diam saja.
"Oh kalian mau pergi nanti malam? Pergi aja nggak apa-apa, soalnya gue juga ada acara nanti malem." ujar Varren tenang.
Reja meringis melirik Varren. Varren menunjuk pintu. "Gue duluan." ujarnya segera menutup pintu santai, meninggalkan Reja yang diam saja.
Reja melirik Tavian yang juga diam menatap Sylas. "Kalian sih. Emang kenapa kalo kita ajak Varren. Dia pasti nggak ngapa-ngapain juga." gumam Reja kepada kedua temannya mendengus. Padahal baginya Varren itu sangat keren dan juga bisa mereka bawa ke markas dan acara mereka.
Tavian melirik Sylas yang diam saja. "Jangan macam-macam deh." ujarnya.
Reja memutar bola mata malas, segera berdiri dan pergi ke kamarnya meninggalkan Tavian dan Sylas. Reja merasa tidak enak kepada Varren, sebab karenanya Varren jadi tidak enakan pergi begitu saja. Sedangkan Sylas hanya diam dengan pikirannya sendiri.
---
Varren keluar menutup kepalanya menggunakan tudung, tatapannya menelisik sekitar lalu kembali melangkah menuju belakang pohon. Ia diam di sana mengeluarkan pisaunya dari saku. Berdehem melirik sekitar yang sepi.
"Ren..!"
Varren melirik si pemilik motor berhenti di depannya. Segera Varren menaiki motor dan motor melaju dengan cepat menjauh dari sana. Varren mengeratkan masker dan juga hoodie di kepalanya menatap tajam sekeliling.
"Itu Ren.." ujar dari orang di depannya menunjuk seseorang. Haikal.
Varren menelisik tajam siapa yang mereka incar. "Anak dari pak Hakim Lie, dia bernama Ikhsan. Salah satu murid sekolah sama loe, kelas dua. Dan targetnya dia. Kita disuruh buat bikin dia cacat, karena Hakim Lie udah mau disogok sama keluarga Menhua atas kasus koruptor padahal keluarga Ralen tidak korupsi sama sekali. Mereka menggunakan nama keluarga Ralen untuk menutupi kebusukan mereka sendiri." ujar Haikal kepada Varren tenang. Mereka mendapatkan misi pertama.
"Tapi dari Hakim Lie terbukti mendapatkan sogokan dari mana?" tanya Varren mengangguk pelan.
Haikal menggeleng. "Kita udah selidikin kok. Dan yang minta kita buat bikin dia cacat itu adalah anak dari pak Ralen yang papanya masuk penjara selama dua puluh tahun, berakhir bunuh diri karena malu saat dua tahun yang lalu." jelas Haikal tenang.
Varren mengangguk pelan menatap incarannya sedang jogging di dekat jalan. Menghela napas pelan Varren mengangguk.
"Gue udah kasih persyaratan buat kalian. Gue nggak mau ambil job membunuh orang yang nggak bersalah. Gue mau ambil job lain aja. Selain buat dia cacat ataupun bunuh orang. Gue mau job yang lain aja." ujar Varren tenang.
Haikal menggeleng melirik Varren. "Alvino bohong sama lo."
Varren menatap Haikal tajam. "Maksud lo?"
"Sekali lo masuk kelompok inti, lo nggak bakal bisa keluar."
"Kenapa?"
"Karena orang yang tahu identitas mereka cuma punya dua pilihan. Tetap hidup sebagai anggota... atau mati." jelas Haikal tegas.
Varren di sana mendengarnya agak terkejut kepada Haikal. Haikal mengangguk pelan.
"Karena itu gue narik loe buat loe jadi tim gue sama Hiro. Alvino mungkin kelihatan baik nawarin loe ini itu, tapi kalo loe masuk ke dunia dia, loe nggak akan bisa keluar lagi. Gue nggak rela orang sebaik loe masuk perangkap licik Alvino." jelasnya di sana sinis.
Varren menghela napas pelan, mengangguk tenang. "Buat misi kita bagi aja. Kalo semisal loe keberatan bunuh orang biar gue aja. Loe bisa tumpang nama sama gue." ujar Haikal.
Cih. Varren berdecik mendengarnya. Haikal melirik Varren dari spion. "Menurut loe gue sebanci itu?" tanya Varren.
Haikal tersenyum miring mendengarnya. "Toh gue tau loe nggak sesuci itu." jelasnya.
Varren segera turun dari motornya dan tersenyum miring. Ia berjalan mendekati bundaran pohon tempat Ikhsan duduk sendirian.
"Oh, lo Varren?" Ikhsan menyapa lebih dulu begitu melihatnya. "Anak baru yang juara debat itu kan?"
Varren mengangguk pelan. "Iya."
"Pantes. Temen-temen banyak yang ngomongin lo. Katanya lo keren banget." Ikhsan tersenyum ramah.
Varren duduk di sebelahnya. "Loe sendiri anak kelas dua kan?"
Ikhsan mengangguk. "Iya. Gue Ikhsan. Tapi kok lo sendirian di sini?" tanyanya penasaran.
"Gue nyari taksi, tapi nggak ada." Varren mengangkat bahu.
Ikhsan mengerutkan kening. "Di sini emang jarang banget ada taksi atau pun kendaraan. Mau mampir ke apartemen gue nggak? Nggak jauh dari sini."
Varren tersenyum tipis. Orang ini terlalu mudah percaya.
"Lo gampang percaya ya." ujar Varren santai.
Ikhsan tertawa. "Kalo sama lo gue percaya kok."
Varren menggeleng pelan. "Harusnya jangan."
Ikhsan masih tersenyum, tidak menyadari maksud di balik kata-kata itu. "Kenapa? Lo bakal nyerang gue?"
Varren hanya tersenyum, tidak menjawab. Ia merangkul bahu Ikhsan akrab. "Mungkin nggak."
Di luar, langkah kaki seseorang mendekat dari kejauhan. Varren menoleh. Seorang wanita tua berjalan perlahan membawa tas belanjaan. Varren menahan napas.
Tunggu sampai dia lewat.
Wanita itu berjalan pelan. Varren tetap merangkul Ikhsan, berbicara santai. "Apartemen loe di mana emang?" tanyanya, berusaha mengalihkan perhatian.
"Di belokan sana, tiga blok lagi." Ikhsan menunjuk.
Wanita itu akhirnya lewat. Varren menunggu beberapa detik lagi, memastikan tidak ada orang lain. Kemudian dengan gerakan cepat dan halus, jarum di tangannya menusuk leher Ikhsan.
"Au!" Ikhsan mendesis, tangannya refleks memegang leher. "Eh, ada semut?"
Varren mengangkat semut kecil dari leher Ikhsan. "Eh semut."
Ikhsan meringis mengusap lehernya yang terasa perih. "Ini semut api emang sakit banget."
Varren mengeluarkan handiplas. "Sini gue kasih handiplas."
"Nggak usah Ren. Gue bisa kok sendiri." Ikhsan menolak, suaranya mulai melemah.
Tapi Varren sudah menempelkan handiplas di lehernya. "Udah."
Ikhsan tersenyum lelah. Matanya mulai berat. "Makasih yah... Ren..."
Tak sampai lima detik, Ikhsan tersandar di bangku, tertidur. Varren memeriksa denyut nadinya—masih normal. Hanya pingsan.
Ia berdiri, menatap Ikhsan sejenak. "Maaf, bro. Cuma sementara."
Varren melangkah pergi tanpa menoleh.
---
Di jalan menuju pasar, Varren merenung.
Misi pertama berhasil. Ikhsan tidak mati—hanya pingsan. Cukup untuk membuatnya tidak bisa hadir di persidangan besok. Cukup untuk menggagalkan rencana Hakim Lie.
Tapi di sisi lain, Varren sadar ini baru awal. Misi-misi berikutnya mungkin tidak semudah ini. Dan jika Alvino benar-benar licik seperti yang Haikal katakan, ia harus lebih berhati-hati.
Ia menatap langit malam yang gelap.
Untuk Ferdinand. Untuk Mbak Rini. Untuk kebebasan.
Varren menghela napas, lalu melangkah ke pasar membeli bahan masak seperti yang ia katakan. Seolah-olah tidak ada yang terjadi.
Bersambung...