Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.
Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7 - Selamat
Adnan memaksa Liza menjauh beberapa meter dari area kebakaran.
"Liz, jangan ke sana! Berbahaya!" katanya sambil menahan bahu gadis itu.
"Tapi itu rumahku, Ad! Papa sama Mama mungkin masih di dalam!" teriak Liza dengan suara serak karena menangis.
"Aku tahu. Tapi kamu nggak bisa bantu apa-apa kalau mendekat ke api."
Liza berusaha melepaskan diri, namun tenaganya perlahan habis. Kakinya terasa lemas. Tangisnya pecah semakin keras saat melihat rumah megah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya kini berubah menjadi lautan api.
Adnan akhirnya mengajak Liza duduk di pinggir jalan. Di sana sudah ada beberapa warga yang ikut menyaksikan proses pemadaman. Suara sirene pemadam kebakaran terus bersahutan. Semburan air bertekanan tinggi menghantam kobaran api tanpa henti. Namun api yang terlanjur besar membuat proses pemadaman berlangsung lama.
Liza duduk memeluk lututnya. Air matanya tak berhenti mengalir. Pandangannya kosong menatap rumah yang perlahan runtuh sedikit demi sedikit.
Adnan duduk di sampingnya. Biasanya dia selalu punya sesuatu untuk dikatakan. Namun kali ini tidak. Ia sama-sama berharap. Berharap Wildan dan Glenda tidak berada di rumah saat ledakan terjadi.
"Liz..." ucap Adnan pelan.
Liza tidak menjawab.
"Papamu tadi nggak bilang mau ke mana?"
Liza menggeleng. "Pagi tadi Papa berangkat kerja seperti biasa."
"Mamamu?"
"Mama juga di rumah..."
Jawaban itu membuat hati Adnan semakin berat. Ia menatap kobaran api yang mulai mengecil. Firasat buruk dalam dadanya semakin kuat.
Waktu berjalan sangat lambat. Matahari mulai condong ke barat. Akhirnya kobaran api berhasil dikendalikan. Asap hitam masih mengepul dari sisa-sisa bangunan yang hangus.
Rumah keluarga Narendra kini nyaris tidak berbentuk lagi. Yang tersisa hanyalah kerangka bangunan yang menghitam. Petugas pemadam dan kepolisian mulai memasuki area rumah. Mereka melakukan penyisiran. Mencari kemungkinan korban yang terjebak.
Liza langsung berdiri. "Ayo, Ad!"
Namun Adnan menahan tangannya. "Kita tunggu saja."
"Tapi—"
"Kita hanya akan mengganggu pekerjaan mereka."
Liza menggigit bibirnya kuat-kuat. Tangannya gemetar. Matanya tidak pernah lepas dari rumah itu. Setiap detik terasa seperti penyiksaan. Hingga akhirnya terdengar suara teriakan dari dalam bangunan.
"Pak! Ada korban di sini!"
Suasana langsung berubah. Beberapa petugas berlari menuju sumber suara. Jantung Liza seakan berhenti berdetak.
"Ada korban?" bisiknya.
Adnan ikut membeku. Tak lama kemudian, para petugas keluar sambil membawa tandu. Di atas tandu itu terdapat sosok yang sudah tidak bisa dikenali lagi. Tubuhnya hangus terbakar. Bahkan bentuk wajahnya hampir tak tersisa.
Liza langsung menutup mulutnya. Tubuhnya bergetar hebat. Namun kejutan belum berakhir.
Beberapa menit kemudian petugas lain kembali keluar..Mereka membawa tandu kedua. Kali ini kondisinya sama mengenaskannya..Tubuh korban juga hangus terbakar.
"L-lagi..." gumam Liza.
Kedua kakinya hampir tak mampu menopang tubuhnya.
"Tidak..."
Tangisnya kembali pecah.
"TIDAK!"
Ia berlari mendekati garis pembatas.
"Pak! Siapa mereka?!"
Salah satu petugas mencoba menenangkannya.
"Maaf, Mbak. Kami belum bisa memastikan identitas korban."
"Itu Papa dan Mama saya ya?!"
"Kami belum tahu."
"Jawab saya!"
Petugas itu menghela napas berat.
"Kondisi korban sangat sulit diidentifikasi secara visual."
Liza terisak semakin keras. Seluruh harapan yang sejak tadi dia pertahankan perlahan runtuh. Adnan hanya bisa berdiri di belakangnya. Tatapannya tertuju pada kedua jenazah yang telah ditutup kain. Dadanya terasa sesak.
Meski belum ada konfirmasi resmi, nalurinya mengatakan sesuatu. Perawakan dan ukuran tubuhnya mirip Wildan. Korban satunya bertubuh lebih kecil, mirip Glenda.
Adnan mengenal keduanya setiap hari. Sulit baginya untuk tidak memikirkan kemungkinan itu. Akan tetapi dia memilih diam. Belum ada bukti pasti. Ia tidak ingin menambah penderitaan Liza.
Saat suasana masih dipenuhi kesedihan, sebuah sepeda motor berhenti mendadak di dekat lokasi. Seorang anak laki-laki berseragam SMP turun tergesa-gesa. Tas sekolahnya masih tergantung di bahu. Wajahnya penuh kebingungan.
"Kak Liza!"
Liza menoleh. Pupil matanya langsung membesar.
"Fajar!"
Anak itu berlari menghampiri. Begitu melihat kondisi rumah mereka, langkahnya melambat. Ekspresi bingung berubah menjadi syok.
"T-tunggu..."
Matanya menatap bangunan yang telah hancur. Rumahnya kini sudah menjadi puing-puing hitam.
"Kak..."
Suaranya bergetar.
"Apa yang terjadi?"
Liza tidak mampu menjawab. Ia langsung memeluk adiknya erat-erat. Tangis keduanya pecah bersamaan.
Fajar yang sejak tadi berusaha kuat akhirnya ikut menangis. "Kak... Papa sama Mama di mana?"
Pertanyaan itu membuat Liza semakin hancur. Ia hanya menggeleng sambil menangis.
"Aku nggak tahu..."
Fajar menatap ke arah dua tandu yang berada tidak jauh dari sana. Wajahnya perlahan memucat.
"Itu..."
Liza langsung memeluk kepala Namun semuanya sudah terlambat. Fajar sudah memahami kemungkinan terburuk yang sedang terjadi.
"Kak..." isaknya.
Liza mengusap rambut adiknya. Meski dirinya sendiri hancur, dia mencoba tetap tegar untuk Fajar. Sementara itu Adnan menjauh beberapa langkah. Ia kembali memperhatikan dua jenazah yang terbaring.
Beberapa petugas forensik mulai berdatangan. Mereka mendokumentasikan lokasi. Mengumpulkan bukti. Mencatat setiap detail.
Adnan mengingat percakapannya dengan Wildan beberapa hari lalu. Pria itu masih sehat. Bahkan pagi tadi semuanya terasa normal.
Kini kemungkinan besar pria itu sudah tiada. Adnan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ada rasa kehilangan yang sulit dijelaskan.
Wildan bukan sekadar majikan. Pria itu telah memberinya pekerjaan saat dirinya membutuhkan. Memberinya kepercayaan. Memperlakukan dirinya dan mendiang ayahnya dengan baik. Sedangkan Glenda selalu ramah setiap kali mereka bertemu. Bayangan senyum keduanya terus muncul dalam pikirannya. Membuat dadanya semakin sesak.
Tak jauh dari sana, seorang petugas polisi berbicara dengan rekannya. Mereka menduga ledakan menjadi penyebab utama kebakaran. Namun penyelidikan masih akan dilakukan lebih lanjut. Belum ada kesimpulan resmi.
Langit mulai berubah jingga. Matahari perlahan tenggelam. Tak ada satu pun anggota keluarga Narendra yang memedulikan itu.
Liza dan Fajar masih berpelukan. Keduanya menangis tanpa suara sekarang. Seolah air mata mereka sudah hampir habis. Adnan hanya bisa menatap mereka dari kejauhan.