NovelToon NovelToon
Saat Asa Berkahir Duka

Saat Asa Berkahir Duka

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:235
Nilai: 5
Nama Author: TastyTeaTime Time

Sebelumya, bunga ini sempat kehilangan pesonanya, dengan kelopak menunduk, bahkan warnanya pudar. Namun, begitu air menyentuhnya, bunga itu pun mekar kembali, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang jika mau mengusahakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TastyTeaTime Time, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31

Tidak ada yang benar-benar siap ketika dihadapkan dengan pilihan menyakitkan. Apakah tetap mempertahankan dalam derita atau melepaskan dengan penuh luka. Lisan mungkin berkata ikhlas, tapi hati tetap saja menjerit, meminta sesuatu yang tidak mungkin kembali.

Dua hari telah berlalu, dan dilalui penuh air mata. Tubuh yang mereka pertahankan entah sudah berapa kali memberikan reaksi tak terduga. Rengekan kecil yang keluar terdengar begitu menyakitkan. Mata tertutup, tapi air mata terus mengalir. Seakan rasa sakit terlalu dalam untuk diungkapkan. Setiap kali monster di tubuhnya menyerang, Valeska meremas selimut dengan lemah. Urat di lehernyamenonjol kala oksigen tinggi dipompa.

Sejak satu jam yang lalu, tatapan gadis itu kosong, lurus ke arah langit-langit, seolah kelelahan melawan rasa sakit. Di ruangan rawat biasa, Delina hanya bisa duduk dengan tangan yang tertancap infus. Pikirannya itu kacau dan tangisannya pun tak berhenti sejak kemarin, seolah air mata tak lagi punya batas.

Di dalam, Girga dan Kaivandra menemani putri kecil mereka. Girga membelai lembut pipi putrinya sambil berbisik.

"Adek kuat, ya, cantik,"

"Semangat, cantiknya abang," Kaivandra menambahkan, mencoba menahan suara yang mulai bergetar.

Secara bersamaan, air mata keduanya pun jatuh. Mereka tidak bisa melupakan pesan terakhir putrinya saat prom night dua hari lalu. Di sisi lain, tiga teman Valeska, Prisha, Laksha, dan Anaya, mereka sedang menemani Delina. Namun, hati mereka sama-sama hancur, karena merasa bersalah belum menjadi teman yang benar-benar selalu ada.

"Kalian bisa anterin Tante, ke ruangan Valeska?" suara Delina yang lirih mengejutkan mereka.

Prisha meraih tangan Delina, mencoba menenangkan. "Tante, kata dokter, Tante perlu istirahat dulu. Kalau sudah lebih baik, kita ke sana, ya?"

Namun Delina menggeleng pelan.

"Tidak, Nak. Tante mau ke sana sekarang."

Melihat tekad itu, Laksha pun berkata lagi, "Antar saja. Daripada makin parah."

Tanpa banyak berfikir, Anaya pun mengambil kursi roda di sudut ruangan.

"Pelan-pelan, Tante," katanya, sambil membantu Delina turun dari ranjang.

Setibanya di ICU, Delina melihat Girga dan Kaivandra dari balik kaca. Penampilan keduanya berantakan, dengan kondisi wajah lelah dan penuh kesedihan.

"Adek, ini Mama, Sayang. Tolong kuat, ya, Nak," ucap Delina dengan suara bergetar, air matanya jatuh lagi.

"Tante, jangan begini. Valeska nggak suka kalau Mamanya menyakiti diri sendiri," Prisha mencoba mencegah Delina, yang mulai melukai dirinya sendiri. Setelah berhasil ditenangkan, Delina masuk ke ruangan, didampingi perawat yang kebetulan lewat ruang ICU. Melihat itu, Girga segera mendekat, memberikan ruang agar istrinya bisa lebih dekat dengan putrinya.

"Cantiknya Mama, kenapa harus di sini lagi? Pasti nggak nyaman, ya, Nak? Mama tahu, kamu capek. Kalau Mama bisa, Mama rela menanggung semua rasa sakit mu. Tapi Mama nggak tahu caranya," lirih Delina sambil mengelus tangan putrinya yang dingin.

"Adek, semangat sembuh, ya. Di luar, ada teman-teman Adek menunggu. Sebentar lagi, Adek bakal jadi kakak. Masa Adek nggak kangen sama kita? Papa, Abang, semuanya selalu di sini nemenin kamu."

Girga dan Kaivandra memalingkan wajah. Mereka tak sanggup melihat Delina terus merayu Valeska agar bertahan. Namun, harapan mereka bertentangan dengan takdir. Tubuh Valeska tiba-tiba kejang. Rintihan nya terdengar amat memilukan, dadanya membusung entah karena apa.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba alarm code blue di ICU memecah kesunyian.

"Code blue di ICU, kamar 304. Tim medis segera menuju kamar 304!"

Suara tegas terdengar dari interkom.Tiga perawat dan dua dokter bergegas melintasi lorong ICU. Sepatu mereka beradu dengan lantai, menciptakan ritme yang penuh urgensi. Wajah anggota keluarga menegang, sementara para tenaga medis berjalan penuh keseriusan.

Saat mereka tiba di kamar 304, tubuh Valeska sudah terbaring lemah. Satu perawat menyuruh anggota keluarga untuk segera keluar karena mereka akan melakukan tindakan.

"Status pasien?" tanya dokter Fahru.

"Pasien sudah kehilangan kesadaran. Detak jantungnya fibrilasi ventrikular. Dan saturasi oksigen menurun drastis, dok." Jawab seorang perawat.

Dokter Fahru segera mengambil alih situasi. "Siapkan defibrillator! Kita mulai resusitasi," ujarnya dengan tegas.

Dengan cepat, perawat sudah mempersiapkan semuanya, dan CPR segera dimulai. Tangan mereka begitu mahir dalam bekerja seiring waktu yang terasa berjalan lambat. Defibrillator berbunyi saat kejut pertama diberikan.

"Clear!" seru dokter Rijal. Tubuh Valeska sedikit terangkat efek dari kejutan listrik. Semua mata tertuju pada monitor. Tapi layar itu tetap menunjukkan garis lurus.

"Tidak ada perubahan, dokter." Ucap perawat.

"Coba lagi, sekarang siapkan untuk kejutan kedua!" dokter Fahru berkata tegas.

"Clear!" Kejut listrik yang kedua telah diberikan, tapi monitor tidak memberikan tanda kehidupan.

"Dok, kali ini flatline ..." ujar perawat, suaranya terdengar sangat bergetar.

Dokter Fahru menghentikan tim dengan gerakan tangannya. Waktu terasa berhenti sesaat.

"Hentikan, kita sudah cukup untuk memperjuangkan anak ini," suara dokter Fahru semakin rendah namun tetap terdengarj elas.

Sementara itu, dokter Rijal melirik jam dinding yang berada di depannya. "Waktu kematian, 10:40. Tolong dicatat."

Ruangan mendadak senyap, hanya terdengar helaan napas berat dan detak jam dinding. Dokter Rijal menghapus air mata yang mulai mengalir, bagaimana pun juga, Valeska adalah pasien termuda yang diatangani selama ini. Sementara dokter Fahru dan 3 orang perawat, mereka menatap tubuh Valeska, dengan wajah penuh penyesalan. Tim medis pun keluar, kedatangan mereka disambut oleh wajah cemas dari anggota keluarga dan ketiga teman Valeska. Tanpa diucapkan saja, mereka sudah tahu kabar apa yang akan mereka terima.

"Kami sudah berusaha sebisa mungkin," ujar dokter Rijal begitu pelan.

"Valeska telah pergi meninggalkan kita semua." Delina menjerit, isak tangisnya memenuhi lorong.

"Nggak! Ini pasti salah, putri saya masih hidup, dia akan sehat kembali. Kenapa harus dia?"

Sementara Kaivandra, dia memeluk tubuh mamanya, kini air mata yang dia tahan sudah mengalir deras membasahi kedua pipinya.

"Adek sudah bebas dari sakitnya, Ma. Kita harus ikhlas, biar adek tenang di sana."

Mereka semua langsung masuk ke dalam ruangan, tubuh Valeska terbaring tenang dengan alat medis yang sudah terlepas dari tubuhnya. Wajahnya seperti orang yang lepas dari penderitaan, mesin medis sudah dihentikan dari beberapa waktu yang lalu dan meninggalkan keheningan yang begitu menyayat hati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!