Bagi Bara Mahendra, lima belas tahun lalu adalah malam jahanam yang merenggut segalanya. Di bawah guyuran hujan lebat, ia dipaksa menyaksikan kematian tragis kedua orang tuanya akibat sabotase keji.
Sebuah nama yang dibisikkan sang ibu sebelum mengembuskan napas terakhir melekat abadi di kepala Bara: Darma Amartya. Sejak detik itu, Bara bersumpah akan menukar masa mudanya demi satu tujuan tunggal—balas dendam.
Kini, Bara kembali sebagai pengusaha muda yang dingin, genius, dan penuh taktik. Baginya, kematian terlalu instan dan mudah untuk seorang Darma.
Pria tua itu harus merasakan penderitaan yang jauh lebih menyiksa, yaitu melihat permata paling berharga dalam hidupnya hancur berkeping-keping: Senja Amartya, putri tunggalnya.
Senja adalah perwujudan dari namanya sendiri, hangat, tulus, dan murni. Ia tidak tahu-menahu tentang dosa masa lalu sang ayah. Ketika perusahaan ayahnya berada di ambang kebangkrutan, Bara hadir layaknya seorang kesatria penyelamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafsienaff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hancurnya Kenangan Terakhir
Suasana pagi di penthouse terasa lebih mencekam dari biasanya. Di atas meja rias kecil di dalam kamar mandi luar, terdapat sebuah kotak musik kayu usang berukir bunga melati. Benda itu adalah satu-satunya barang pribadi milik Senja peninggalan mendiang ibunya yang berhasil ia bawa sebelum rumah keluarganya disita.
Bagi Senja, melodi instrumen dari kotak musik itu adalah satu-satunya obat penenang saat jiwanya nyaris mati menghadapi siksaan Bara.
Namun, ketenangan itu terusik saat Olivia Wijaya melangkah masuk ke area dapur dengan langkah angkuh, membawa kotak musik tersebut di tangan kanannya.
"Bara, lihat benda usang apa yang aku temukan di kamar mandi luar," cetus Olivia dengan nada jijik saat melihat Bara sedang duduk di meja makan membaca berkasnya.
"Benda murahan ini merusak estetika apartemen mewahmu. Benar-benar sampah."
Senja yang baru saja selesai menyeduh kopi langsung membalikkan badan. Jantungnya berdegup kencang saat melihat kotak musik ibunya berada di tangan wanita itu.
"Nona Olivia, saya mohon kembalikan benda itu. Itu milik saya," ucap Senja, suaranya bergetar menahan cemas.
Olivia justru tersenyum remeh. "Oh, jadi ini milikmu? Pantas saja seleranya sangat rendah."
Dengan sengaja, Olivia melonggarkan genggaman tangannya.
Prang!
Kotak musik kayu itu jatuh menghantam lantai marmer yang keras. Bagian sudutnya retak, dan engsel kuningan di dalamnya patah, membuat tabung pemutar melodi di dalamnya terlempar keluar. Bunyi dentingan rusak terdengar sesaat sebelum benar-benar mati.
Melihat benda paling berharga dalam hidupnya dihancurkan begitu saja, sesuatu di dalam diri Senja patah. Rasa takut yang selama ini mengungkungnya mendadak lenyap, digantikan oleh gelombang kemarahan yang membakar dada.
"Apa yang kau lakukan?!" teriak Senja histeris. Ia berlari maju dan mendorong bahu Olivia hingga wanita itu mundur beberapa langkah karena terkejut.
"Kau keterlaluan! Itu barang peninggalan ibuku! Kau tidak punya hak untuk merusaknya!"
Olivia memekik manja, berpura-pura hampir terjatuh lalu segera berlari ke belakang tubuh Bara yang kini sudah berdiri dari kursinya.
"Bara! Lihat pelayanmu ini! Dia berani berteriak dan mendorongku hanya karena barang rongsokan itu!" rengek Olivia dengan wajah yang dibuat ketakutan.
Bara menatap Senja dengan mata elang yang menggelap. Rahangnya mengeras melihat keberanian Senja yang berani menaikkan nada bicara di rumahnya, terlebih lagi mendorong Olivia yang merupakan bagian dari rencananya.
"Senja! Jaga sopan santunmu!" bentak Bara, suaranya menggelegar memenuhi ruangan, sanggup menghentikan napas Senja seketika.
"Tapi dia merusak kotak musik ibuku, Bara!" air mata Senja tumpah ruah, ia menunjuk serpihan kayu di lantai dengan tangan yang gemetar hebat.
"Hanya itu yang tersisa dari Ibuku! Kenapa kau selalu diam saat dia menginjak-injak harga diriku? Aku istrimu, Bara! Bukan budak!"
Bara melangkah maju, mengikis jarak hingga bayangan tubuh tegapnya mengunci pergerakan Senja. Sudut bibirnya terangkat samar, memancarkan senyuman yang teramat dingin dan kejam.
"Istri?" ucap Bara dengan nada berbisik namun sarat akan racun. Ia tertawa sinis di depan wajah Senja yang basah oleh air mata.
"Jangan bermimpi terlalu tinggi, Senja. Aku menikahimu hanya untuk melunasi utang materi keluargamu, bukan untuk memberikanmu hak sebagai nyonya di rumah ini. Bagi diriku dan bagi Olivia, kau tidak lebih dari sekadar pajangan pemenuh kewajiban pranikah."
Bara menoleh ke arah Olivia, lalu kembali menatap Senja dengan pandangan yang merendahkan.
"Olivia jauh lebih berharga daripada ratusan kotak musik usang milik ibumu. Jangankan barang rongsokan itu, bahkan jika Olivia ingin membuang seluruh pakaianmu keluar dari rumah ini, kau tidak punya hak untuk melarangnya. Kau di sini untuk melayani, bukan untuk mengatur tamu-tamuku."
Olivia yang berdiri di belakang Bara tersenyum penuh kemenangan, menatap Senja dengan pandangan mengejek yang begitu kentara.
"Dengar itu? Sadar posisimu, Senja," timpal Olivia dengan nada angkuh.Bara mencengkeram dagu Senja, memaksa gadis itu menatap matanya yang tidak memancarkan sedikit pun rasa iba.
"Bersihkan lantai ini sekarang. Minta maaf pada Olivia karena kelancanganmu, lalu masuk ke kamarmu dan jangan keluar sampai aku mengizinkanmu. Jika aku melihatmu berteriak lagi pada Olivia, aku pastikan kabar buruk dari rumah sakit akan sampai ke telingamu sore ini juga."
Ancaman tentang ayahnya seketika memadamkan seluruh sisa keberanian di hati Senja. Tubuhnya mendadak lemas layaknya boneka tali yang diputus. Dengan dada yang sesak menahan tangis yang kian hebat, Senja perlahan berlutut di lantai marmer. Di depan mata suaminya dan wanita selingkuhannya, ia mengumpulkan serpihan kayu kotak musik ibunya dengan tangan kosong, membiarkan ujung-ujung jarinya tertusuk serat kayu tajam hingga berdarah, mengiringi hancurnya seluruh harga diri yang ia miliki.
Bersambung