NovelToon NovelToon
The Last Crown

The Last Crown

Status: tamat
Genre:Fantasi / Drama / Tamat
Popularitas:652
Nilai: 5
Nama Author: Inkbound

The Last Crown adalah buku pertama dari The Hollow Thorne Trilogy. Bercerita tentang perjalanan Pangeran Kal Valdyr, pewaris takhta Izengard yang kehilangan segalanya setelah istana jatuh dalam pengkhianatan berdarah. Dari seorang pangeran yang dibesarkan untuk memerintah, Kal berubah menjadi buronan yang hanya membawa satu hal, nama keluarganya yang hampir musnah.

Dengan petunjuk terakhir dari ayahnya, Kal mencari Marlow Renad, Nightingale terakhir yang pernah bergerak di balik bayangan mahkota. Bersamanya, Kal mulai menempuh jalan gelap untuk merebut kembali apa yang dirampas darinya.

📢 Visualisasi karakter atau hal penting lainnya dapat dilihat pada postingan di profil saya, Visualisasi itu saya buat dengan bantuan AI berdasarkan gambaran saya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hampir

Kapal tentara Izengard terus membesar di atas permukaan Blue Lake.

Lambungnya dibuat dari kayu ek tua yang dipernis hitam sampai permukaannya memantulkan cahaya seperti batu basah. Garis-garis logam melapisi bagian luar kapal dari haluan sampai buritan, memperkuat rusuk-rusuk kayunya dan membuat tubuh kapal tampak lebih berat daripada kapal dagang mana pun yang pernah kulihat. Beberapa meriam menonjol dari lubang-lubang persegi pada kedua sisinya. Moncong besi mereka mengikuti gerakan lambung, sesekali menangkap cahaya matahari sebelum kembali menjadi hitam.

Layarnya berwarna biru tua, warna kerajaan Izengard.

Seekor elang emas terbentang di tengah layar utama, sayapnya terbuka lebar dan cakarnya terangkat. Dahulu lambang itu terlihat di atas gerbang istana, pada jubah para penjaga, di belakang kursi Dad, dan pada bendera yang dikibarkan ketika keluarga kerajaan melewati kota. Aku dibesarkan untuk memandangnya sebagai jaminan bahwa seluruh Asterra berada di bawah perlindungan keluarga Valdyr.

Kini elang itu datang untuk memburuku.

Kapal perang tersebut hampir dua kali lebih besar daripada The Greymere. Deknya lebih tinggi, layarnya lebih lebar, dan haluannya memecah air dengan kekuatan yang membuat buih putih menyebar jauh ke samping. Ketika mendekat, aku mulai dapat membedakan para tentara yang berdiri di sepanjang pagar kapal. Sebagian mengenakan zirah logam, sebagian memakai mantel biru kerajaan. Busur, tombak, dan pedang terlihat di antara mereka.

Aku memperkirakan ada lima puluh orang di kapal itu.

Jika terjadi pertempuran, kami akan mati.

Tidak ada ruang untuk berpura-pura sebaliknya. Marlow mungkin dapat membunuh beberapa orang sebelum mereka mengepungnya. Ia mungkin mampu menembus sepuluh tentara bila memiliki ruang yang cukup dan keberuntungan memihak. Namun lima puluh orang, ditambah pemanah, meriam, dan kapal yang lebih besar, bukan sesuatu yang dapat dikalahkan oleh satu Nightingale.

Ini bukan cerita para penyanyi istana, ketika seorang kesatria menghabisi seratus musuh tanpa kehabisan napas dan pulang dengan satu goresan indah di pipi. Tubuh manusia memiliki batas. Tangan melemah. Napas memendek. Darah mengalir. Satu orang hanya perlu membuat satu kesalahan untuk mati.

Marlow juga manusia.

Aku melihatnya mengukur kapal perang dengan tatapan yang tidak memperlihatkan kepanikan, tetapi wajahnya menjadi semakin kaku. Matanya bergerak dari jumlah tentara ke posisi meriam, lalu pada tali-tali yang menghubungkan kedua kapal. Ia tidak sedang memikirkan cara mengalahkan mereka. Ia sedang menghitung apakah masih ada cara agar kami tidak perlu melawan.

Kapten The Greymere mendatangi kami dengan langkah cepat. Wajahnya memerah, entah karena marah atau takut.

“Ke bawah,” katanya. “Sekarang.”

Tatapannya berhenti pada pedangku.

“Dan jangan membuat suara apa pun. Kalau mereka menemukan kalian, aku tidak pernah melihat wajah kalian sebelum hari ini.”

Marlow tidak membuang waktu dengan menjawab. Ia meraih salah satu tas, lalu memberi isyarat agar Ishar bergerak lebih dahulu menuju pintu palka di tengah kapal.

Kami menuruni tangga sempit satu per satu.

Udara di bagian bawah The Greymere lebih pengap daripada di geladak. Bau kayu lembap, minyak, apel, kulit hewan, dan ikan asin bercampur begitu pekat sampai tenggorokanku terasa kering. Cahaya hanya masuk melalui beberapa celah papan serta sebuah lampu minyak kecil yang digantung dekat tangga.

Peti-peti memenuhi hampir seluruh ruang penyimpanan. Sebagian ditumpuk sampai mendekati langit-langit, diikat dengan tali agar tidak bergeser saat kapal diguncang ombak. Tong-tong besar berdiri di sepanjang sisi lambung. Ada karung tepung, keranjang apel, gulungan kain, dan beberapa peti panjang yang tidak kutahu isinya.

Marlow membawa kami ke bagian paling belakang, di antara dua tumpukan peti yang hanya menyisakan celah sempit. Kami harus bergerak menyamping untuk masuk. Ishar berjongkok lebih dahulu, menarik gaunnya agar tidak tersangkut paku yang menonjol. Aku masuk setelahnya. Marlow menempati posisi terluar, cukup dekat dengan jalan sempit agar dapat melihat siapa pun yang turun.

Ia menarik selembar kain penutup muatan dan menggantungkannya pada sisi peti, menyamarkan keberadaan kami tanpa menutup seluruh udara.

Ruang itu hampir gelap.

Bahu Ishar berada dekat lenganku, tetapi kami tidak bersentuhan. Lututku menekan lantai keras. Pedang berada di pinggang, sarungnya terjepit di antara tubuh dan peti. Aku memindahkannya perlahan agar logam tidak membentur kayu.

Marlow mengangkat satu jari ke bibir.

Tidak ada seorang pun yang perlu diingatkan.

Suara kapal perang semakin dekat. Mula-mula hanya derak layar dan air yang terbelah. Kemudian terdengar teriakan dari atas, disusul jawaban kapten The Greymere. Tali dilempar. Kait besi menghantam sisi kapal dengan bunyi yang membuat seluruh lambung bergetar.

Ishar tersentak kecil.

Aku menoleh kepadanya. Cahaya yang masuk dari celah peti hanya cukup untuk memperlihatkan garis wajah dan kilatan matanya. Tangannya meremas kain gaun pada lutut. Ia tidak mengatakan apa pun.

Kedua kapal saling merapat.

Kayu bergesekan di luar dengan bunyi panjang yang membuat gigi terasa ngilu. Para awak bergerak di atas kepala kami. Ada langkah kaki cepat, perintah pendek, lalu bunyi papan penghubung dijatuhkan dari kapal tentara ke dek The Greymere.

Langkah pertama tentara Izengard terdengar beberapa detik kemudian.

Berat.

Teratur.

Sol sepatu bot menghantam papan geladak tepat di atas kami. Satu pasang menjadi tiga, kemudian lima atau enam. Suara logam pada zirah mereka berdenting mengikuti setiap gerakan.

Tanganku bergerak menuju gagang pedang tanpa kusadari.

Marlow langsung menangkap pergelangan tanganku.

Genggamannya tidak keras, tetapi cukup untuk menghentikan gerak. Dalam kegelapan, matanya tertuju lurus kepadaku. Tidak ada ancaman di sana. Hanya peringatan yang telah ia berikan sebelumnya.

Jangan menarik pedang tanpa perintah.

Aku melepaskan gagangnya.

Marlow tidak segera menarik tangan. Ia menunggu sampai jemariku benar-benar terbuka, lalu kembali menghadap celah di antara peti.

Suara percakapan terdengar samar dari geladak.

Kapten The Greymere berbicara dengan seseorang yang memiliki suara lebih muda, tetapi terbiasa memberi perintah. Sebagian kata tenggelam oleh derit tali dan langkah para awak. Aku harus menahan napas agar dapat mendengar.

“Dokumen kapal.”

Ada bunyi kertas dikeluarkan dari tabung atau kotak.

“Pelabuhan asal?”

“Evergreen, Sir.”

“Tujuan akhir?”

“Kirren. Kami membawa barang untuk pasar timur dan gudang pelabuhan.”

Hening sejenak. Kertas dibalik. Seseorang berjalan beberapa langkah di atas kami.

“Daftar muatan?”

Kapten menjawab dengan menyebut ikan asin, apel, rempah, kulit, minyak lampu, dan beberapa jenis kain. Suaranya sopan, tetapi tidak gemetar. Entah ia memang terbiasa diperiksa tentara atau sangat pandai menyembunyikan rasa takut.

Aku merasakan napas yang sejak tadi tertahan keluar perlahan.

Mereka hanya memeriksa dokumen.

Mungkin kapal perang itu memang menghentikan semua kapal yang melintasi Blue Lake. Mungkin mereka tidak mencari kami secara khusus. Bila kapten tetap tenang dan tidak ada tentara turun ke ruang penyimpanan, kami bisa melewati pemeriksaan tanpa melakukan apa pun.

Aku melihat Ishar.

Ia masih menatap kain penutup di hadapan kami. Bahunya turun sedikit, tetapi kedua tangannya tetap terkunci di pangkuan.

Di luar tempat persembunyian, lambung kapal bergoyang ringan. Peti-peti berderit pada tali pengikatnya. Bau minyak kamelia dari kain yang kusimpan di tas bercampur dengan aroma muatan.

Percakapan di atas hampir selesai. Tentara itu mengembalikan dokumen, lalu mengatakan sesuatu tentang ketentuan pelabuhan Kirren. Kapten menjawab singkat.

Kemudian nada tentara tersebut berubah.

Tidak lagi seperti orang yang membaca daftar.

“Hei, kau melihat tiga orang bepergian bersama akhir-akhir ini?”

Tubuhku langsung menegang.

Marlow tidak bergerak, tetapi kepalanya sedikit terangkat.

Kapten The Greymere membutuhkan waktu sesaat sebelum menjawab.

“Dua pria dan seorang wanita,” lanjut tentara itu.

“Tidak, Sir,” kata kapten. “Kami tidak mengangkut penumpang. Kapal ini hanya membawa barang.”

Suara langkah terdengar tepat di atas tempat kami bersembunyi.

Debu halus jatuh dari sela-sela papan dan menempel pada rambut serta bahuku.

“Kau yakin tidak melihat mereka di Evergreen atau Kirren?”

“Tidak, Sir.”

“Satu pria kira-kira seusiamu. Rambut pirang, mulai berwarna kelabu. Tubuhnya tinggi, kemungkinan membawa pedang.”

Aku melirik Marlow.

Wajahnya tetap tidak berubah. Namun satu tangannya sudah berada dekat pinggang, bukan menggenggam pedang, melainkan pisau pendek yang disembunyikan di balik mantel. Bila seseorang turun dan membuka kain penutup, ia mungkin akan menyerang sebelum kami sempat terlihat jelas.

“Pria kedua lebih muda,” lanjut tentara di atas. “Seumuranku atau sedikit lebih muda. Rambut cokelat.”

Jantungku menghantam tulang rusuk.

“Kami diberi tahu perempuan itu berasal dari Arlenville,” kata tentara tersebut. “Kami tidak punya gambaran lengkap tentang wajahnya. Tiga prajurit yang mendatangi rumahnya ditemukan tewas.”

Ishar mengisap napas pelan.

Bunyi itu nyaris tidak terdengar, tetapi dalam ruang sempit terasa terlalu keras. Aku menoleh cepat. Ia menutup mulut menggunakan satu tangan, matanya melebar. Kata-kata tentara itu pasti mengembalikannya pada rumah Danmer, tubuh Rosh, dan tiga mayat yang kami tinggalkan.

Aku menggeser tubuh sedikit, cukup agar bahuku menutupinya dari celah peti. Tidak ada yang bisa kulakukan selain itu.

“Tidak, Sir,” jawab kapten lagi. “Aku tidak melihat mereka.”

Keheningan di atas berlangsung terlalu lama.

Aku membayangkan tentara itu menatap wajah kapten. Mencari perubahan kecil pada matanya. Melihat keringat di pelipis atau cara jemarinya mencengkeram dokumen.

Seseorang berjalan melintasi geladak, lalu berhenti dekat pintu palka.

Marlow menarik pisau pendeknya keluar beberapa inci. Gerakannya tidak menghasilkan suara.

Tanganku kembali menyentuh gagang pedang, kali ini dengan lebih hati-hati. Aku tidak menariknya. Hanya memastikan senjata itu dapat keluar bila palka dibuka dan sepatu tentara mulai menuruni tangga.

Ishar menurunkan tangan dari mulut. Ia meraih sesuatu di balik gaunnya. Ujung sebuah pisau kecil terlihat di antara jemarinya. Aku tidak tahu kapan ia mendapatkannya, mungkin dari dapur kapal ketika membantu menyiapkan makan siang. Cara memegangnya masih kaku, tetapi tidak ada keraguan pada wajahnya.

Aku ingin mengatakan bahwa ia tidak perlu melawan.

Namun bila tentara menemukan kami, kata-kata itu akan menjadi kebohongan.

Di atas, suara kapten terdengar lagi.

“Kami berangkat dari Evergreen pagi-pagi sekali. Tidak ada penumpang lain selain awak. Anda bisa memeriksa daftarnya.”

Tentara itu tidak segera menjawab.

Langkah di dekat palka bergerak satu kali.

Lalu menjauh.

“Tidak perlu.”

Aku hampir mengembuskan napas, tetapi menahannya.

“Banyak buronan mencoba menyeberang melalui Blue Lake,” kata tentara tersebut. “Kalau kau melihat ketiganya, laporkan ke garnisun terdekat. Jangan coba menolong. Mereka membunuh tentara kerajaan dan dianggap berbahaya.”

“Baik, Sir.”

“Akan ada imbalan.”

Kapten tidak menanggapi tawaran itu.

Tentara tersebut memberikan perintah kepada orang-orangnya. Langkah-langkah mulai bergerak menuju sisi kapal. Satu per satu, mereka menyeberangi papan penghubung kembali ke kapal perang. Suara zirah dan sepatu semakin jauh.

Namun kami tidak bergerak.

Marlow tetap mengawasi celah peti. Pisau pendeknya masih berada di tangan. Ia menunggu sampai papan penghubung diangkat, tali dilepaskan, dan kedua lambung tidak lagi bergesekan.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara layar kapal tentara dibuka kembali. Tali-tali menegang. Air bergolak saat kapal besar itu berbelok menjauh dari The Greymere.

Langkah awak kami mulai bergerak lebih bebas di atas kepala.

Kapten meneriakkan perintah agar layar dinaikkan kembali.

Baru setelah kapal kami mulai melaju, Marlow memasukkan pisau ke balik mantel.

Aku melepaskan gagang pedang.

Udara keluar dari paru-paruku dalam satu embusan panjang. Rasanya seperti baru menyadari aku menahan napas sejak kapal tentara mendekat.

Ishar masih memegang pisau kecilnya. Jarinya gemetar.

“Mereka tahu tentang rumahku,” katanya sangat pelan.

Aku tidak memiliki jawaban yang dapat memperbaiki apa pun.

"Semoga warga desa memberikan pemakaman yang layak untuk kakek".

Suaranya hampir tidak terdengar. Tatapannya turun pada pisau di tangan, lalu ia menyembunyikannya kembali di balik kain gaun.

Marlow menarik kain penutup dari celah peti, tetapi belum menyuruh kami keluar.

Ishar memejamkan mata sesaat.

Aku ingin menyentuh tangannya, tetapi urung. Kedekatan di gudang Evergreen tidak memberiku hak untuk memutuskan kapan ia ingin disentuh. Jadi aku tetap duduk di sebelahnya, cukup dekat agar ia tidak sendirian, tetapi tidak memaksakan apa pun.

Di atas, salah seorang awak membuka palka.

Cahaya masuk ke ruang penyimpanan.

“Kalian bisa keluar,” katanya. “Kapalnya sudah pergi.”

Marlow berdiri lebih dahulu. Ia memeriksa tangga, kemudian memberi isyarat kepada Ishar. Gadis itu menyelipkan rambut ke belakang telinga dan bangkit tanpa menerima bantuan.

Aku keluar terakhir.

Ketika kepalaku muncul di atas geladak, kapal perang Izengard sudah berada cukup jauh. Lambung hitamnya bergerak menuju timur, sementara layar biru dan elang emas tetap terlihat di atas air.

Para awak The Greymere mengawasi kepergiannya dengan wajah tegang. Kapten berdiri dekat kemudi. Saat melihat kami, ia tidak mengatakan apa pun. Hanya memandang Marlow cukup lama, lalu memalingkan wajah ke arah Kirren.

Aku berdiri di sisi kapal dan mengikuti kapal perang itu dengan mata sampai ukurannya mengecil.

Baru beberapa hari lalu, tentara Izengard akan berlutut ketika melihatku.

Sekarang mereka berlayar di seluruh Blue Lake, bertanya dari kapal ke kapal, membawa ciri-ciri wajahku seperti sedang memburu pembunuh biasa.

Mungkin itulah diriku sekarang.

Seorang pangeran tanpa mahkota, bersembunyi di antara peti-peti barang, menunggu lambang kerajaannya sendiri berlalu.

1
Annabelle
Oke lah
Annabelle
Numpang mampir
Nomnom Yumyum
ceritanya seru, serasa baca novel translate an luar. ditunggu eps selanjutnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!