Pulang dari rumah sakit sehabis melahirkan, Alena di kejutkan sebuah Lingerie Merah yang tergeletak di atas ranjang adiknya. Alena terkejut bukan tanpa alasan. Sementara Tiyas - adiknya itu masih lajang. Lalu, Tiyas gunakan untuk apa pakaian vulgar itu.
Setelah Alena menyelidiki, ternyata Lingerie itu Tiyas gunakan untuk memuaskan....????
Tak hanya hati Alena yang hancur. Masa depan putranya juga ikut terpatah. Di tengah himpitan masalah ekonomi, datanglah sosok Juragan cukup matang bernama~Danu Albiru. Pria berusia 38 tahun itu tidak hanya menawarkan pernikahan KONTRAK. Tapi membantu Alena bangkit, menjamin masa depan putranya.
Akankah Alena tetap mempertahankan pernikahannya dengan Dewantara? Ataukan bersedia cerai, dan memilih tawaran menggiurkan Juragan Danu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Maya mundur, tanpa sengaja lenganya menyenggol pot bunga yang berjejer di atas rak.
Prak!
Melihat itu, Maya segera berlari keluar dan bersembunyi. Ia meninggalkan cake tadi yang sudah rusak akibat jatuh.
Di dalam, Alena dan Fauzan reflek menatap depan. Fauzan bangkit di ikuti Alena berjalan menuju teras. Di sana, di antara pecahnya pot bunga, ada sebuah plastik yang berisikan sebuah kardus. Alena menunduk dan mengambil kardus tadi. Dan ketika ia membukanya, cake tadi sedikit ada yang rusak sisinya.
Namun tulisan Aniversary itu masih dapat terbaca.
MAYA DAN FAUZAN
Alena syok, ia menatap Fauzan dengan tatapan cemas. "Mas Fauzan... Ini cake buat kamu. Maya pasti tadi ke sini. Apa dia mendengar semua ucapan kamu tadi?"
Fauzan hanya mempu terdiam. Tatapanya kosong ke arah cake tadi. Namun entah mengapa tiada gairah dalam jiwanya meskipun hanya sekedar prihatin atau ikut mengejar mencari di mana kekasihnya itu.
Alena sudah tak sabar. Ia tak ingin ada kesalah pahaman di antara hubungan Fauzan dan Maya. Setelah meletakan cake tadi di atas meja, Alena segera keluar, sedikit berlari sambil memekik-
"Maya...." panggil Alena sambil mengedarkan mata ketika di luar gerbang.
Di luar tak ada siapa pun. Alena berjalan maju ke arah timur. Dan kebetulan ada tetangganya yang baru lewat. "Mbak, lihat wanita seusia Mbak, lari lewat sini?"
Wanita berusia 30 tahun itu menggelengkan kepala, "Nggak ada, Len! Orang tadi aku habis belanja di rumah Mbak Yayuk, nggak ada kok perempuan lewat," katanya.
Alena hanya mengangguk, tetangganya sudah berlalu. Ia merasa salah sekali, takut jika Maya akan salah paham. Sementara dari belakang, Fauzan datang menghampiri Kakak Iparnya.
"Maya nggk ada," Alena menggelengkan kepala lemah.
Fauzan mengangguk kaku, matanya juga ikut mengedar namun kekasihnya itu tak ada di sekeliling rumah warga. Lalu tatapanya jatuh pada Alena.
"Kamu masuk saja. Delan menangis. Urusan Maya biar aku yang jelasin," Fauzan hendak mengusap bahu Alena, tapi Kakak Iparnya itu sudah terlebih dulu melenggang menuju rumahnya.
Tangan Fauzan menggantung. Dan semua itu masih berada dalam pandangan mata Maya yang kini bersembunyi dibalik pohon mangga pinggir jalan.
Air mata itu kembali berlinang. "Kamu kenapa nggak jujur sama perasaanmu sendiri, Fauzan?! Kamu cinta 'kan sama Alena? Kenapa kamu jahat banget sama aku
Fauzan juga ikut kembali masuk ke dalam. Setelah berpamitan dengan Alena, Iparnya itu bergegas pergi. Ada sedikit perasaan cemas, karena memang Maya juga selalu baik padanya.
Mobil Fauzan melaju cukup pelan. Melihat Maya berjalan cukup jauh di depanya, Fauzan segera menekan gasnya lalu menghadang langkah sang Kekasih.
Maya cukup tersentak. Langkahnya menggantung.
"Maya... Apa yang kamu lakukan tadi? Kamu bilang katanya mau langsung ke rumah sakit, tapi ngapain ke sini segala?"
Ada kekecewaan yang menyelinap di balik irish hitamnya. Wajah Maya menegak, napasnya kembali terengah pelan.
"Kenapa kamu nggak pernah jujur sama aku selama ini? Kenapa kamu harus menyakiti perasaanmu sendiri? Katakan sama aku... Kamu nggak cinta 'kan sama aku, Fauzan? Jika yang kamu cinta bukan aku... Kenapa kita harus berjalan sejauh ini?" Air mata Maya menetes sekali kedip.
Fauzan meraup napas dalam-dalam. Ia tak menjawab. Namun kini ia menarik lengan Maya cukup lembut, lalu di ajaknya masuk ke dalam mobil.
Tangisan Maya semakin deras. Dadanya bak di himpit batu besar. Fauzan yang sudah masuk, sebelum melajukan mobilnya, kini menatap Maya terlebih dulu.
Ada perasaan bersalah yang tak mampu ia ungkap dengan semestinya. Namun kini Fauzan langsung menarik tubuh Maya untuk masuk dalam dekapannya.
'Maafkan aku, Maya... Tapi yang kamu ucapkan memang benar. Aku jahat, tapi aku juga tak mampu mengendalikan perasaan ini,' batin Fauzan. Tangannya masih sibuk mengusap kepala Maya.
Dalam dekapan itu, tangisan Maya bak aliran anak sungai. Isakannya hanya mampu tertahan dalam diamnya. 'Kenapa kamu harus bersikap se lembut ini, Fauzan? Aku kalah dengan perasaan ini. Aku benci melihat sikap lembutmu ini.'
Fauzan melerai. Ia usap air mata kekasihnya tanpa sepatah kata. Memberikan ruang untuk Maya mengespresikan kesedihannya.
Lalu mobil kembali melaju. Maya masih terdiam menatap lurus ke depan. Bahkan, hanya untuk sekedar menjelaskan: Kekasihnya itu memilih diam.
****
Di rumah, Alena terduduk lesu di teras samping. Beberapa pekerjanya masih sibuk memilih cengkeh yang nantinya siap di kirim.
Sejenak, wanita cantik itu menghela napas dalam.
"Nggak, Len! Saya nggak setuju! Jika hanya karena masa depan Delan, lebih baik saya sendiri yang menikahi kamu! Saya yang akan melunasi semua hutang-hutang Mas Dewan!"
Kalimat Fauzan berputar dalam kepalanya. Bukan karena sebuah perasaan yang terperangkap, tapi ia tak menduga saja Iparnya akan nekad berkata seperti itu.
"Dokter Fauzan... Ini, cake pesanan Anda! Brownis panggang dengan sentuhan coklat belgia," Alena yang masih mengenakan apron masak, kini tampak antusias mengirimkan pesanan Dokter langganan tokonya.
Fauzan hanya terkekeh melihat sikap riang pegawai roti itu. Kini bangkit dari duduknya, berjalan ke depan dan menyandarkan pahanya pada pinggiran meja.
"Kamu tahu, kenapa saya selalu pesan brownis panggang?" Fauzan menaikan sebelah alisnya.
Alena sedikit berpikir, "Ya... Karena rendah kalori. Kan nggak di goreng, Dok?!"
Fauzan mengacak rambut Alena penuh rasa gemas. Dokter tampan itu sampai tersenyum sendiri melihat sikap absurd penjaga toko roti di depannya.
"Emang ada brownis goreng?"
Pada saat itu, Alena masih ingat ia dapat tertawa lepas tanpa rasa sakit sebuah tuntutan. Sebuah kenangan beberapa tahun itu seakan melekat dalam ingatannya.
"Apa aku terima saja tawaran Pak Danu ya? 2 minggu semakin dekat, sementara penghasilan cengkeh masih separuhnya. Itu aja belum termasuk para upah petani. Ya Allah...." Alena kini menatap kembali kartu nama milik Juragan Danu.
Alena bangkit, kini berjalan mondar mandir tampak mempertimbangkan semua keputusan yang akan dirinya ambil.
1 minggu setelah kejadian itu, Alena rasa keputusan yang akan dirinya ambil sudah tepat. Sebelumnya juga sudah berbicara empat mata dengan Mertuanya meskipun Fauzan menentang tak terima.
Pagi ini, Alena sudah dalam penampilan rapi. Sebelum bangkit dari duduknya di depan kaca rias. Tiba-tiba gawainya bergetar.
Ada sebuah nomor asing yang mengirimkan siaran video langsung dalam pesannya.
Hari ini, tepat pukul 09.00 wib.
Sebuah acara pernikahan siri yang di gelar secara sederhana dan di hadiri beberapa saksi saja tengah Alena saksikan dengan kedua mata terbuka. Suaminya sendiri~Dewantara Aksanjaya, kini mengucapkan janji sakral di depan penghulu, tanpa dosa menikahi Iparnya yang tak lain~Tiyas Miranti.
"Saya terima nikah dan kawinya Tiyas Miranti binti Almarhum Bapak Cahyono, dengan seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan di bayar tunai!"
emang mulutnya lemes banget
maka kamu harus melepaskan alena
aku bingung mau komen apa tentang Fauzan ini🤔🤔
jangan kecewakan perempuan lain,,
jika dihatimu masih ada Alena
maka buang jauh jauh yaa